;
Kategori

Lingkungan Hidup

( 5820 )

Pasar Domestik Kebagian 35 Persen- Volume Produksi Batu Bara Tetap Bertahan

30 Mar 2021

Pergerakan harga batu bara yang positif di awal 2021 membuat sejumlah perusahaan batu bara memilih untuk menjaga target kinerja di tahun ini.

Sekretaris Perusahaan PT United Tractors Tbk (UNTR). Sara K Loebis mengatakan, volume produksi batu bara hingga Februari 2021 mencapai 17,2 juta ton atau turun tipis dari raihan 2020 yang mencapai 18,2 juta ton.

Sementara, untuk overburden mencapai 120,2 juta bem atau turun 13,27 persen year on year (yoy). Pada Februari 2020 overburden mencapai 138,6 juta bem.

Adapun penjualan batu bara hingga Februari 2021 mencapai 2,60 juta ton atau meningkat 38,55 persen yoy. Pada periode yang sama di tahun sebelumnya penjualan batu bara mencapai 1,87 juta ton.

Dalam catatan tahun sebelumnya. UNTR membukukan volume produksi batu bara sebesar 114,6 juta ton, menurun 12,6 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 131,2 juta ton.

 


Salurkan 75.000 Ton Gula Impor

30 Mar 2021

PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau RNI siap menyalurkan sebanyak 75.000 ton gula kristal putih (GKP) secara bertahap ke pasar. Stok itu merupakan penugasan impor kepada RNI oleh pemerintah.

Direktur Utama RNI Arief Prasetyo Adi, Senin (29/3), penugasan impor gula ini sejalan dengan peran RNI sebagai Koordinator BUMN Klaster Pangan dalam menjaga stabilitas dan ketahanan pangan nasional.

Arief mengatakan, gula yang diimpor RNI didatangkan secara bertahap di sejumlah pelabuhan. Pengiriman pertama sebanyak 6.000 ton sudah tiba di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta pada 28 Maret 2021.

Kedatangan berikutnya akan terjadi di Pelabuhan Belawan Medan sekitar 15.000 ton dan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya sekitar 30.000 ton. Kemudian, akan datang lagi di Pelabuhan Tanjung Priok sebanyak 24.000 ton.


Jokowi Pastikan Tak Ada Impor Beras Sampai Juni

29 Mar 2021

Petani menyambut baik putusan Pesiden Joko Widodo (Jokowi) yang menunda pelaksanaan impor beras sampai Juni 2021 mendatang. Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Nasional Zulharman Djusman pada Mei nanti dipastikan akan ada panen raya.Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia faktanya dari tahun 2000-2019 tak pernah absen mengimpor beras. Dalam rentang waktu tersebut, pemerintah paling banyak mengimpor beras pada tahun 2018 lalu yakni hingga mencapai 2.253.824,5 ton atau setara US$ 1,03 miliar. Setelah itu, jumlah beras yang diimpor turun drastis menjadi hanya 444.508,8 ton beras dari sekitar 8 negara yakni Vietnam sebanyak 33 ribu ton beras, Thailand sebanyak 53 ribu ton, Tiongkok sebanyak 24,3 ton, India sebanyak 7 ribu ton, Pakistan sebanyak 182 ribu ton, Amerika Serikat sebanyak 740,9 ton, Myanmar sebanyak 166,7 ribu ton, dan lainnya sebanyak 93,7 ton.  Jumlah tersebut setara dengan US$ 184,2 juta.

(Oleh - HR1)

Cabai Rawit Setara Daging Sapi

29 Mar 2021

Harga cabai rawit merah di daerah di pantura barat Jateng tembus Rp 120.000 per kilogram atau setara dengan harga daging sapi. Masyarakat diminta menanam sendiri cabai untuk mengurangi ketergantungan pada pasar.

PEKALONGAN, KOMPAS — Dua pekan jelang Ramadhan, harga cabai rawit merah di sejumlah daerah di kawasan pesisir pantura barat Jawa Tengah melambung tinggi, setara dengan harga daging sapi. Masyarakat diminta menanam cabai di rumah untuk mencukupi kebutuhannya masing-masing.

Sejak sepuluh hari terakhir, harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisonal di Kota Tegal dan Kota Pekalongan tembus Rp 120.000 per kilogram dari harga sebelumnya, Rp 110.000 per kilogram. Harga tersebut setara dengan harga sekilo daging sapi.

Di Pasar Induk Banyurip, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, misalnya, harga cabai rawit merah bahkan pernah mencapai Rp 123.000 per kilogram. Hal itu terjadi pada dua pekan lalu.

Aminah (41), pedagang cabai di Pasar Induk Banyurip, menuturkan, peningkatan harga cabai rawit merah terjadi sejak dari tingkat petani. ”Dari tingkat petani sudah mahal, Rp 115.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 80.000 per kilogram. Katanya, stok cabai rawit merah di mereka memang sedikit karena banyak yang gagal panen akibat curah hujan tinggi,” kata Aminah, Minggu (28/3/2021).

Berdasarkan data Sistem Informasi Harga dan Produksi Komoditi Jawa Tengah, harga cabai rawit merah di wilayah pantura barat pada tiga bulan pertama 2021 stabil naik. Pada Januari, rata-rata harga cabai rawit merah di wilayah tersebut sebesar Rp 60.000 per kilogram.

(Oleh - HR1)

Integrasi untuk Menyangga Hulu-Hilir Perikanan

29 Mar 2021

Integrasi BUMN Perikanan, yakni Perum Perikanan Indonesia dan PT Perikanan Nusantara (Persero), diharapkan memperkuat usaha hulu-hilir perikanan dan sistem logistik ikan nasional. Selama ini, distribusi ikan dari sentra produksi ke industri pengolahan dan pasar masih timpang. 

Rencana pemerintah menggabungkan Perindo dan Perinus tertuang dalam surat arahan pemegang saham atau pemilik modal tentang pembentukan induk BUMN Industri Pangan Nomor S-1131/MBU/12/2020. Perum Perindo bakal menjadi induk BUMN Perikanan.

penggabungan Perindo dengan Perinus diharapkan memperkuat sektor penangkapan, pengolahan, dan distribusi ikan di Tanah Air. Selain itu, menjadi penyangga hasil tangkapan nelayan.

Persoalan utama perikanan pada serapan dan distribusi ikan. Produksi ikan diwarnai kesenjangan distribusi ikan antardaerah. Peran BUMN Perikanan perlu didorong menjadi operator sistem logistik ikan nasional yang dapat menyerap, mengolah, dan memasarkan hasil perikanan secara optimal sehingga menopang kinerja ekspor perikanan.

Menurut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Artati Widiarti, diperlukan upaya hulu-hilir untuk mendorong daya saing ekspor hasil perikanan. Upaya itu antara lain pemetaan peluang pasar, peningkatan produksi hilir, dan produk bernilai tambah. Peningkatan daya saing mesti ditopang logistik ikan nasional.

Harapannya, Perindo dapat lebih agresif mengubah paradigma sehingga tidak hanya menerima penugasan pemerintah, tetapi juga mengejar keuntungan untuk kinerja perusahaan.  Semua penugasan sejak Perindo berdiri berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 9/2013 dapat tetap melekat kendati telah berubah menjadi persero. Penguatan bisnis BUMN akan menghasilkan lini bisnis yang terintegrasi secara horizontal sehingga tidak ada lagi persaingan memperebutkan pasar yang sama.

Perindo menargetkan serapan produksi ikan tahun ini sebanyak 12.917 ton atau meningkat 151,51 persen dari 2020 yang sebanyak 5.143 ton. Peningkatan serapan, antara lain, melalui perluasan lahan dan kemitraan. Pada 2021, Perindo membidik 1.750 mitra perikanan budidaya atau bertambah dari 2020 yang sebanyak 551 mitra.

Hasil Komoditas Kabupaten Berau, Sinergi Memperkuat Kapasitas Produksi Kakao

26 Mar 2021

Kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang berpotensi besar untuk dikembangkan. Untuk mewujudkannya, perlu dukungan sinergi berbagai sektor untuk meningkatkan nilai tambah. Koperasi Berau Kakao Sejahtera mulai beroperasi sejak 2017. Tugasnya adalah membeli produk kakao basah dari petani yang berasal dari 12 kelompok tani yang tersebar pada delapan kampung di Kabupaten Berau.Tidak mudah untuk mendirikan koperasi yang memiliki peran yang hampir sama dengan tengkulak. Persoalannya adalah harga beli dari petani.

Namun, koperasi memberikan pemahaman kepada para tengkulak tersebut agar mau bersinergi meningkatkan nilai keekonomian dari hasil produksi tanaman kakao.Apalagi, potensi produksi kakao yang ditangani oleh koperasi masih cukup besar. Luas lahan saat ini sekitar 400 hektare (ha) dengan rata-rata produksi mencapai 1,2 ton per ha. Dari luasan itu, baru 70% yang berproduksi karena ada perawatan tanaman.Sementara itu, berdasarkan data Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, luas lahan tanaman kakao pada 2019 mencapai 1.625,55 ha yang tersebar di 10 kecamatan dari total 13 kecamatan di Bumi Batiwakkal.Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau Sumaryono mengatakan bahwa kakao merupakan salah satu dari lima produk unggulan perkebunan di Kabupaten Berau, di samping kelapa sawit, kelapa dalam, karet, dan lada.


(Oleh - HR1)

Emiten Nikel, Ifishdeco Pasang Target Agresif

26 Mar 2021

Bisnis, JAKARTA — Emiten pertambangan mineral, PT Ifishdeco Tbk. memasang target agresif pada tahun ini setelah membukukan kinerja loyo pada tahun lalu.Direktur Ifishdeco Muhammad Ishaq mengatakan perseroan menargetkan volume penjualan nikel pada 2021 sebesar 2 juta ton, naik 155,83% dibandingkan dengan perolehan 2020 yang hanya sebesar 781.767 ton.Adapun, perolehan penjualan 2020 itu anjlok 65% dari perolehan 2019 sebesar 2,26 juta ton.

Sejalan dengan target penjualan itu, maka pendapatan 2021 emiten berkode saham IFSH itu diproyeksi dapat mencapai Rp1,01 triliun. Lagi-lagi, pendapatan itu juga jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kinerja pendapatan (unaudited) pada 2020 yang hanya sebesar Rp395,01 miliar.Kinerja pendapatan 2020 itu, menyusut 63,5% dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp1,08 triliun.

fishdeco juga terus mengejar progres pengembangan proyek smelter nikel dengan menggunakan teknolo-gi Rotary Klin-Electric Furnace atau smelter RKEF.Sekretaris Perusahaan Ifishdeco Christo Pranoto mengatakan sampai saat ini perseroan masih dalam tahap penjajakan dengan calon mitra strategis dari China untuk mengembangakan proyek smelter RKEF.Proyek itu rencananya akan membangun dua tungku dengan target penyelesaian dan kapasitas produksi yang masih dalam tahap negosiasi dengan calon mitra stra-tegis. IFSH memperkirakan total investasi yang dibutuhkan sebesar US$1,1 juta.

(Oleh - HR1)

Yang Janggal dari Keputusan Impor Beras

26 Mar 2021

Dalam Rapat Kerja Nasional Kementerian Perdagangan, 4 Maret, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan keputusan pemerintah mengimpor beras 1 juta ton. Sebanyak 500.000 ton untuk cadangan beras pemerintah (CBP). Sisanya untuk kebutuhan Bulog. Tambahan diharapkan memperkuat CBP yang ditargetkan 1 juta-1,5 juta ton.

Badan Pusat Statistik (BPS) menyiarkan potensi produksi padi sepanjang Januari-April 2021 yang bisa lebih tinggi daripada periode yang sama tahun 2020 dan 2019. Sepanjang Januari-April 2021, potensi produksi diperkirakan mencapai 14,54 juta ton setara beras, sedangkan pada periode yang sama pada 2019 dan 2020 masing-masing 13,63 juta ton dan 11,46 juta ton.

Ironisnya, perkiraan peningkatan produksi ini dibarengi tren penurunan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. BPS mencatat, harga GKP pada Februari 2021 adalah Rp 4.758 per kilogram atau turun 3,31 persen dibandingkan dengan Januari 2021. Bahkan, dibandingkan dengan Februari 2020, turunnya mencapai 8,08 persen.

Menurut Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Said Abdullah, penurunan harga itu terimbas kabar keputusan impor beras oleh pemerintah. Harga gabah di tingkat petani disebutnya turun hingga Rp 1.000 per kg.

Kejanggalan keputusan impor beras tidak hanya terlihat dari perkiraan peningkatan produksi padi yang disampaikan BPS. Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian pun memproyeksikan, ketersediaan beras sepanjang Januari-Mei 2021 bisa mencapai 24,9 juta ton. Adapun kebutuhan beras pada periode itu hanya 12,33 juta ton. Artinya, ada potensi surplus dari neraca beras nasional.


Ombudsman RI : Ada Potensi Malaadministrasi

25 Mar 2021

Ombudsman RI menilai ada potensi malaadministrasi terkait keputusan pemerintah mengimpor 1 juta ton beras tahun ini. Sebab, segenap indikator tidak mendukung urgensi impor, khususnya dari sisi produksi dan harga beras di dalam negeri.

Paparan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam rapat kerja Kementerian Perdagangan 2021, Kamis (4/3/2021), mengonfirmasi rencana impor itu. Pemerintah memutuskan akan mengimpor 500.000 ton beras untuk cadangan beras pemerintah (CBP) dan 500.000 ton untuk kebutuhan Perum Bulog. Tambahan itu diharapkan memperkuat cadangan beras (iron stock) pemerintah yang ditargetkan setidaknya 1-1,5 juta ton.

Saat dihubungi, Rabu (24/3/2021), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi belum mau menanggapi penilaian Ombudsman RI yang menduga ada potensi malaadministrasi dalam keputusan impor beras.

Tambahan beras dianggap perlu karena stok yang dikuasai Perum Bulog dinilai kurang. Dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Senin (22/3/2021), Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebutkan, cadangan beras Perum Bulog dapat berada di bawah 500.000 ton tahun ini.


Ribuan Ton Daging Kerbau Akan Serbu RI

24 Mar 2021

Perum Bulog mendapatkan penugasan untuk mengimpor daging kerbau dari India sebanyak 80.000 ton. Impor dilakukan secara bertahap, untuk periode Maret-Juni ditetapkan kontrak pengadaan sebanyak 22.000 ton.

Sekretaris Perusahaan Bulog Awaludin Iqbal mengatakan, daging kerbau dari India itu sudah ada yang sampai di Tanah Air, dan sebagian masih dalam perjalanan.

Di bulan Maret ini, Bulog memperkirakan ada sekitar 10-20% dari kontrak pengadaan pertama yang akan masuk. Artinya, ada sekitar 2.200-4.400 ton daging kerbau impor dari India yang akan masuk.

Awaludin menegaskan, impor ini dilakukan untuk menyediakan pilihan bagi masyarakat dalam mengkonsumsi daging, dan juga stabilisasi harga daging dalam negeri. Pasalnya, harga daging sapi masih bertahan di level Rp 120.000/Kg. Harapannya, dengan kehadiran daging kerbau ini maka harga daging sapi di dalam negeri bisa turun.