Lingkungan Hidup
( 5820 )Dalam Sepekan Batu Bara Naik 6,89 Persen
Harga batu bara untuk kontrak pengiriman April 2021 menguat 4,22 persen menjadi US$ 93,8 per metrik ton, Jumat (19/3). Dalam sepekan, harga batu bara naik 6,89 persen dan secara year to date (ytd), menguat 15,59 persen. Harga batu bara ini merupakan harga tertinggi sejak 2018.
Menurut Founder Traderindo. com, Wahyu Tribowo Laksono, harga batu bara kembali memanas sebagai buntut dari kenaikan harga batu bara di Cina, sebagai konsumen batu bara terbesar di dunia.
Kebutuhan batu bara di Cina sedang naik seiring dengan kegiatan ekonomi yang kembali dimulai dan pemulihan industri yang sedang terjadi karena Cina berhasil mengatasi pandemi lebih dahulu dibandingkan dengan negara lain.
Untuk jangka pendek. wahyu memperkirakan, harga batu bara akan berada di angka US$90-US$95 per metrik ton. Untuk jangka menengah sampai jangka panjang, ia memperkirakan, harga batubara akan berada di kisaran US$80-US$100 per metrik ton.
Harga Karet Tinggi Stabil di Kalsel
Petani karet di Kalimantan Selatan tersenyum manis. Hal ini disebabkan semakin membaiknya harga karet bahkan pekan ini kenaikan harga pada K3 100 persen tembus antara Rp 21.500 - Rp 22. 000.
Dengan begitu, harga di tingkat petani karet menjadi Rp 8.700 hingga Rp 11.000 per kilogram tergantung Kadar Karet Kering (K3) yang dihasilkan.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalsel, Suparmi mengatakan, Disbunak selalu berupaya dan mendorong mutu karet petani Dumi Lambung Mangkurat terus meningkat melalui upaya memperkuat Kelembagaan Petani Karet untuk bergabung dalam Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB). Dengan luas karet di Kalsel 273.058 hektare dan 90.05 persen merupakan perkebunan karet rakyat.
Batubara Makin Memudar
Gelombang transisi energi tengah terjadi di dunia. Pemanfaatan batubara memudar seiring peralihan ke energi terbarukan. Industri batubara Indonesia mesti berperan dalam transisi ini.
JAKARTA, KOMPAS — Bisnis batubara diperkirakan melemah pada 2050 seiring semakin masifnya transisi energi dari fosilke energi terbarukan. Sejumlah proyeksi memperkirakan bahwa pada 2050 permintaan batubara global anjlok sampai 90 persen. Hilirisasi batubara menjadi dimetileter dan metanol adalah satu-satunya pilihan agar bisnis batubara berlanjut. Demikian yang mengemuka dalam webinar ”Transformasi Bisnis Sektor Batubara dalam Mendukung Transformasi Energi Indonesia”, yang diselenggarakan oleh Bima sena Society, Jumat (19/3/2021).Menurut Direktur Jenderal Mineral dan Batubara pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ridwan Djamaluddin, tahun 2014 adalah puncak permintaan batu-bara global. Saat itu, permintaannya 8 miliar ton. Seiring dengan ketatnya pengaturan emisi gas rumah kaca dan teknologi energi terbarukan yang kian efisien, permintaan batubara perlahan menyusut tajam.”Seiring dengan target menjaga kenaikan suhu bumi menjadi 1,5 derajat celsius, dampaknya adalah turunnya permintaan batubara global hingga 90 persen pada 2050,” kata Ridwan yang menjadi salah satu narasumber webinar.
(Oleh - HR1)
Dulu Liar Kini Diincar, Prospek Industri Porang Makin Cerah
Antusias dengan keunggulan komoditi porang ini, membuat Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur atau BI Jatim mengangkat tema “Porang : Dulu Liar Kini diincar” pada acara rutinitas talkshow ngopi virtualnya. Rabu (17/3). Hadir dalam acara tersebut Deputi KPw BI Jatim Harmanta, Kepala Desa Klangon - Lereng Gunung Pandan Didik Kuswandani, Akademisi Pertanian Universitas Brawijaya Doddyk Pranowo dan tentunya petani porang yang tengah viral yaitu Paidi.
Dalam kesempatan itu, Harmanta mengatakan, seiring tengah populer dibicarakan masyarakat, namun demikian, potensi porang memang sangat besar melihat kebutuhan dan manfaatnya pada beberapa industri. Sementara itu, Doddyk mengatakan, peluang bisnis berbahan baku porang yang memiliki potensi besar saat ini banyak menjadi produk olahan makanan, seperti mie shirataki, beras konyaku, mie shirataki instant, pasta porang, konyaku, boba dan turunan makanan lainnya yang dapat digolongkan sebagai healthy food. Bahkan, produk turunan porang juga dapat diolah sebagai bahan baku produk kecantikan, seperti butiran pembersih wajah, spons pembersih wajah, supplement diet, pengental alami, pembersih wajah, dsb.
Sengkarut Impor Beras
Bisnis, Jakarta - Rencana Pemerintah mengimpor beras masih menuai pro dan kontra. Namun, impor komoditas pokok itu seharusnya tidak tabu dilakukan apabila pasokan di dalam negeri terbukti tak mencukupi kebutuhan. Hingga saat ini tidak ada data yang pasti terkait dengan stok beras nasional. Namun, stok yang ada sekarang ini jauh di bawah kebutuhan masyarakat. Badan Urusan Logistik (Bulog) sendiri mengklaim impor beras tak diperlukan karena proyeksi serapan di dalam negeri masih dapat memenuhi konsumsi.
Wacana impor sudah diputuskan dalam rakortas, yang dihadiri oleh pemangku kepentingan terkait. Rencana impor tidak digulirkan untuk makin menekan harga beras di tingkat petani, mengingat Bulog telah ditugaskan untuk menyerap gabah atau beras dengan harga sesuai dengan acuan yang diatur dalam Permendag No. 24/2020. Intervensi pemerintah akan dilakukan saat terjadi anomali harga atau saat harga beras di pasaran naik ketika stok tersedia.
Rerata harga beras medium di tingkat nasional selama sepekan terakhir masih stabil di posisi Rp 10.600 per kilogram. Pergerakan harga beras ini tak semata-mata disebabkan oleh wacana impor. Panen raya yang bertepatan dengan cuaca dan curah hujan tinggi turut mengakibatkan kadar air dalam gabah tinggi, sehingga kualitasnya cenderung rendah. Beras impor harus masuk pada saat yang tepat, dan kanal tambahan penyaluran beras Bulog juga harus disiapkan. Kehadiran beras impor ini nyatanya tak diikuti dengan penyaluran yang lancar. Bulog melaporkan perusahaan harus mencampur beras impor dan beras lokal dengan komposisi 1:1 karena beras impor berjenis pera yang tak umum dikonsumsi masyarakat.
(Oleh - IDS)
Prioritas Serap Beras Lokal
Keputusan pemerintah mengimpor 1 juta ton beras menuai penolakan dari kalangan petani. Selain data produksi tahun 2019 dan 2020 menunjukkan surplus, potensi panen pada semester I-2021 berpeluang meningkat seiring meningkatnya luas tanam. Per 14 Maret 2021, stok beras yang dikelola oleh Bulog mencapai 883.585 ton. Sebanyak 859.877 ton di antaranya merupakan CBP dan sisanya adalah beras komersial. Pengadaan beras atau gabah dari dalam negeri mencapai 70.940 ton dengan alokasi 37.806 ton untuk CBP dan 33.134 ton sebagai beras komersial.
Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, produksi gabah kering giling (GKG) sepanjang Januari-April 2021 meningkat 26,88 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi 25,37 juta ton. Jumlah ini setara dengan 14,54 juta ton beras. Mengacu data tersebut, Budi menargetkan penyerapan beras produksi dalam negeri bisa lebih dari 500.000 ton hingga tiga bulan ke depan. Perusahaan berupaya stok yang dikelola Bulog pada akhir April 2021 lebih dari 1 juta ton. Oleh karena memprioritaskan produksi dalam negeri, kata Budi.
Semen Tonasa Mulai Manfaatkan Listrik PLN
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) melalui anak usahanya PT Semen Tonasa melakukan penandatanganan Suplemen Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (SPJBTL) program Progressive Incentive Captive. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Utama Semen Tonasa, Mufti Arimurti dan General Manager Wilayah Sulselrabar PLN, Awaluddin Hafidz di Kantor PLN Pusat, Selasa (16/3). Kerja sama tersebut meliputi pengalihan tenaga listrik PT Semen Tonasa dari pembangkit PT Semen Tonasa PLTU 1X25 MW menjadi layanan PLN melalui program Progressive Incentive Captive dengan memanfaatkan optimalisasi suplai tenaga listrik PLN.
Selain kerja sama penyediaan listrik, PLN akan memberikan FABA dari PLTU Punagaya secara cuma cuma selama 6 bulan kepada PT Semen Tonasa. Penandatangan disaksikan oleh Wakil Menteri BUMN I, Pahala Nugraha Mansury, Komisaris Utama SIG, Rudiantara, Komisaris Utama Semen Tonasa, Benny Wendry, Direktur Utama PLN Zulkifli Zaini.
Mentan Mau Minum Susu 17 Agustus
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dengan PT Cisarua Mountain Dairy (Cimory), memulai pembangunan medium scale farm atau inkubator sapi perah. Pembangunan ditandai dengan peletakan batu pertama dan penanaman rumput jenis odot sebanyak 1.000 stek dan indigofera 500 stek, di Eks Pabrik Markisa, Desa Tonasa, KecamatanTomboIopao, Selasa (16/3). Acara ini turut dihadiri langsung Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL).
Mantan Bupati Gowa dan Gubernur Sulsel ini berharap, rencana Pemkab Gowa dalam program ini bisa terwujud dan mampu merasakan hasilnya tepat pada tanggal 17 Agustus mendatang. Ia juga berharap perencanaan Cimory dalam membangun industri pengolahan susu dari skala kecil bisa menjadi besar, dengan mendapatkan bantuan berbagai pihak. Sementara Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan mengatakan, progres sangat cepat ini diakui Adnan karena terpacu dengan target diberikan oleh Mentan RI, yang ingin merasakan susunya pada 17 Agustus mendatang.
Stok Dinilai Cukup, Pemerintah Diminta Tidak Impor Beras
Kepala Bidang Kajian Strategis dan Advokasi Perhimpunan Organisasi Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian Indonesia (DPP Popmasepi), Sahabudin Letsoin menyebut saat ini sektor pertanian Indonesia mengalami perkembangan yang signifikan, yakni pertanian yang semakin maju, semakin mandiri dan semakin modern. Berdasarkan data yang ada, ia menyebut impor beras 1 juta ton sangat tidak masuk akal dan bukan merupakan sebuah solusi untuk memenuhi pangan dalam negeri. Impor hanya kebijakan yang nantinya akan menyakiti hati para petani. BPS bahkan memperkirakan produksi padi pada periode Januari-April 2021 mencapai 25,37 juta ton GKG, atau mengalami peningkatan sebesar 5,37 juta ton (26,88%) dibandingkan tingkat produksi padi tahun 2020 di periode yang sama, yakni 19,99 juta ton GKG.
Persediaan Beras Hingga April 2 Juta Ton
Perusahaan Umum Bulog (Perum Bulog) memperkirakan cadangan beras pemerintah atau CBP nasional akan menyentuh satu juta ton pada akhir April 2021. Direktur Utama Perum Bulog. Budi Waseso mengatakan, pihaknya akan melakukan optimalisasi menyerap hasil panen petani dalam negeri, meski Bulog juga mendapat penugasan impor.
Budi mengatakan, stok beras yang dimiliki Bulog sebanyak 863.585 ton hingga 14 Maret 2021. Dari jumlah tersebut, beras CBP sebanyak 859.877 ton dan beras komersial sebanyak 23.708 ton. “Stok cukup untuk penjualan Bulog sebagai Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga atau KPSH dan tanggap bencana sesuai kebutuhan Perum Bulog, “ kata Budi dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR, Senin (15/3). Budi berharap, pemerintah juga dapat menetapkan kebijakan pelepasan stok yang seimbang. Hal ini untuk menjaga kualitas beras serta ruang gudang untuk menampung produksi petani.
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









