Program Pengadaan Beras, Urgensi Impor Dipersoalkan
Bisnis, Jakarta - Pemerintah diminta meninjau ulang rencana importasi beras setelah panen raya berakhir. Volume dan waktu impor sebaiknya ditentukan pada Juli atau Agustus ketika potensi produksi sepanjang 2021 dapat diketahui. Di sisi lain, hasil proyeksi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan bahwa produksi padi nasional untuk periode Januari - April 2021 bakal lebih tinggi dibandingkan dengan periode sebelumnya akibat kenaikan potensi luas panen. Importasi beras bisa dilakukan bila memang kebutuhan di dalam negeri tidak memadai.
Wacana impor menjelang masa panen raya ini menjadi pukulan tersendiri bagi petani di tengah harga gabah kering panen (GKP) yang terus turun sejak September 2021. Importasi dengan alasan untuk menjaga stok cadangan beras pemerintah tidak bisa diterima karena Perum Bulog sebagai pengemban tugas seharusnya menyerap beras petani lebih banyak tahun ini. Impor yang berlebihan dapat merusak harga beras di pasaran karena Bulog tidak tidak bisa menyimpan beras dalam jumlah besar terlalu lama . Di sisi lain, potensi produksi beras yang naik seharusnya diiringi dengan peningkatan serapan beras lokal oleh perusahaan pelat merah tersebut, bukan penugasan impor.
Impor dilakukan untuk mengamankan iron stock atau cadangan yang harus ada dan tidak bergantung pada kondisi panen. Pemberian alokasi impor beras pada Perum Bulog tahun ini dilakukan sebagai antisipasi atas pandemi yang berkepanjangan. Importasi pun dilakukan untuk memastikan pemerintah bisa terus menyalurkan beras ketika ada gangguan pasokan dari dalam negeri.
(Oleh - IDS)
Tags :
#BerasPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023