Lingkungan Hidup
( 5820 )Permintaan Turun, Awal Harga CPO Turun ke Bawah RM 3.000
Tak seperti di tahun 2022, harga crude palm oil (CPO) alias minyak sawit mentah tahun ini diprediksi tak akan terlalu cemerlang. Harga CPO kembali bergerak di bawah RM 4.000 per ton dalam sepekan ini.
Per Senin (16/1), harga CPO kontrak pengiriman Maret di Bursa Derivatif Malaysia meningkat 0,23% ke RM 3.850 per ton. Sebelumnya, Jumat (13/1), harga CPO ditutup di RM 3.841, harga terendah dalam tiga minggu.
Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, kombinasi permintaan CPO yang turun tajam dan nilai ringgit Malaysia yang menguat membuat tren harga minyak kelapa sawit melandai. "Namun, sentimen utama masih ada pada permintaan global yang lemah dan produksi yang tinggi,” ujar dia, Senin (16/1).
Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi juga sepakat mengatakan, harga komoditas tahun 2023 tengah mengalami penurunan, termasuk CPO. Menurut dia, kenaikan harga CPO tahun lalu disebabkan pandemi Covid-19 dan adanya perang Ukraina, yang menyebabkan Rusia mengalami sanksi ekonomi.
Ibrahim memperkirakan, harga CPO akan bergerak di level fundamental, yakni di RM 4.000. "Kebijakan B35 memang punya potensi menguatkan harga CPO, tetapi tak akan bertahan lama dan akan kembali di bawah RM 4000 per ton tahun ini," kata dia.
Lukman pun sepakat menyebut jika realisasi B35 masih perlu pembuktian. Terlebih saat ini permintaan dari Eropa berpotensi terhenti. Dia memprediksi, harga CPO akan bergerak melemah di kisaran RM 2.800- RM 3.000 per ton di tahun ini.
Antam Finalisasi Proyek Baterai EV US$ 6 Miliar
JAKARTA, ID-PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM) atau Antam tengah memfinalisasi kesepakatan investasi pengembangkan industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan PT Ningbo Contemporary Brunp Lygend Co Ltd (CBL), anak usaha CATL, dan LG Energy Solution (LGES) senilai US$ 6 miliar atau setara Rp 90 triliun. Kesepakatan proyek ini ditargetkan diteken tahun ini. Direktur pegambangan Usaha Antam Dolok Robert Silaban menjelaskan, kerja sama antara Antam,CBL dan LGES fokus pada sisi hulu (upstream) dari industri baterai EV. Sampai sekarang, conditional shares purchase agreement (CSPA) kerja sama ini segera rampung. Sebab, kata dia, masih ada beberapa kondisi dalam transaksi yang harus dinilai, terutama menyangkut reserved atau cadangan nikel yang kadarnya perlu dinaikkan. Hal ini yang Antam negosiasikan dengan CBL dan LGES. Dia menambahkan, semua pihak sudah sepakat untuk menjalin kerja sama, yakni di sisi hulu baterai EV. Di sisi lain, ada complement date atau long stop date yang terus dikejar. Sebab, investasi ini bergantung pada Tiongkok, sehingga perlu mendapatkan persetujuan dari Overseas Direct Invesment (ODI). (Yetede)
Target Jumbo Bulog
JAKARTA-Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) mengantongi target anyar penyerapan beras pada 2023 yang lebih banyak dibanding tahun-tahun sebelumnya. Perseroan diminta menyerap beras sebanyak 2,4 juta ton sepanjang tahun ini. Sebanyak 1,4 juta ton akan digunakan untuk program ketersediaan pasokan dan stabilitas harga. Sedangkan untuk 1 juta ton lagi untuk stok cadangan beras pemerintah yang harus terus tersedia di gudang perseroaan. Target 2,4 juta ton ini jauh lebih besar dibanding realisasi penyerapan Bulog selama lima tahun terakhir. Berdasarkan data yang dihimpun Tempo, perom Bulog paling banyak menyerap beras didalam negeri sebanyak 1,5 juta ton pada 2018. "Kami punya gudang untuk menyerap 3,6 juta ton. Kalau hanya 2,4 juta ton, itu belum apa-apa." kata Buwas-begitu Direktur Utama Perum Bulo akrab disapa- kepada media,kemarin. (Yetede)
Tak Kunjung Turun Harga Beras
Harga beras di pasar tradisional terus merangkak naik ditengah impor beras yang dilakukan Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sejak akhir tahun lalu. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), Abdullah Mansuri, memperkirakan beras impor itu hanya untuk mengisi gudang cadangan beras beras pemerintah (CBP) yang pasokannya menipis dan tidak mengalir banyak ke pasar. "Impor ini tidak mempengaruhi harga beras di pasar. Impor ini kan hanya menguatkan stok yang tidak dimiliki Bulog," ujar Mansuri kepada Tempo, kemarin. Ia mengatakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga beras di pasar adalah pasokan yang cenderung terbatas dibandingkan kebutuhannya. Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Mujiburrohman, mengatakan kenaikan harga beras bukan kali ini saja terjadi, melainkan sudah sejak pertengahan 2022. Harga itu terus naik lantaran stok di pasar menipis akibat panen masih terbatas. "Belum musim panen raya dan memang biaya produksi serta ongkos angkut juga naik. Karena itu, harga ikut naik," tutur dia. (Yetede)
Ada Potensi Resesi, Ini Bisa Jadi Kesempatan Membeli Emas
Harga emas Antam terus mendaki tinggi. Investor dipersilakan untuk mengambil posisi beli karena potensi kenaikan masih berlanjut. Mengutip situs Logam Mulia, Sabtu (14/1), harga jual emas sebesar Rp 1.043.000 per gram. Sedang harga buyback Rp 951.000 per gram.
Kenaikan harga emas Antam ini sejalan dengan kenaikan harga emas di pasar spot yang mencapai US$ 1.920 per ons troi. Ini level tertinggi emas sejak April 2022.
Analis DCFX Futures Lukman Leong mengatakan, kenaikan harga emas belakangan ini disebabkan data ekonomi Amerika Serikat (AS) yang menunjukkan penurunan inflasi. Pekan lalu, AS mengumumkan inflasi Desember cuma 6,5% secara tahunan, lebih rendah dari posisi di November 2022, yakni 7,1%.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyebut, sepanjang kuartal III-2022 terjadi kenaikan permintaan emas dari bank sentral sebanyak 400 ton. Tren ini akan berlanjut. Bank sentral akan terus menambah cadangan emas sepanjang pemulihan ekonomi belum pasti.
Tapi Founder Traderindo Wahyu Tribowo Laksono menilai emas tetap menarik. Hitungan Wahyu, harga emas Antam bisa mencapai Rp 1,1 juta-Rp 1,2 juta per gram dengan potensi harga buyback di kisaran Rp 900.000-Rp 1,1 juta per gram. Dia menyarankan buy on weakness.
Kalau Lukman memproyeksikan harga emas buyback Antam bisa mencapai Rp 1,25 juta per gram tahun ini. Dia menyarankan investor yang sudah memiliki emas tetap mempertahankan posisi. Bagi yang belum, ini kesempatan untuk membeli emas.
Akhir 2024, Ekspor Konsentrat Tembaga Freeport 100% Setop
GRESIK, ID — Setelah pembangunan konstruksi rampung akhir tahun 2023, smelter atau pabrik pemurnian tembaga yang dibangun PT Freeport Indonesia (FI) di Kawasan Industri Java Integrated Industrial & Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur ditargetkan beroperasi Mei 2024. Dengan dana investasi US$ 3 miliar, setara Rp 45 triliun, pabrik smelter single line terbesar di dunia ini dijadwalkan berproduksi komersial akhir 2024. Saat itu, tidak ada lagi konsentrat tembaga yang diekspor PT FI. Pada akhir 2024, Freeport tidak lagi mengekspor konsentrat yang saat ini mencapai 3 juta ton (dry metric ton— Red) setahun,” kata Presiden Direktur PT FI Tony Wenas saat bersama sejumlah pemimpin redaksi nasional meninjau pembangunan smelter di JIIPE, Gresik, Jawa Timur, Jumat (13/01/2023). Hingga akhir Desember 2022, pembangunan smelter di atas lahan 100 hai tu sudah mencapai 51,7% dan investasi yang sudah digelontorkan US$ 1,6 miliar, setara Rp 25 triliun. Selama ini, 40% konsentrat yang dihasilkan PT FI sekitar 3 juta ton (dmt) setahun dikirim ke PT Smelting Gresik, 15% ke Jepang, 9% ke Tiongkok, 7% ke Korsel, 6% ke Taiwan, 6% ke India, 6% ke Malaysia, Filipina 2%, dan Bulgaria 2%. Sisanya, sekitar 7%, ke berbagai negara. Tidak ada ekspor konsentrat tembaga ke AS. (Yetede)
CADANGAN BERAS PEMERINTAH : Polri Ikut Pantau Penyaluran
“Perintahnya Bapak Presiden, stok CBP keluarkan untuk operasi pasar masif di seluruh Indonesia. Harganya Rp8.300, Rp 8.600, dan Rp 8.900 per kg sesuai pembagian zonasi. Teman-teman Satgas Pangan dititipkan pesan agar kawal harga dan delivery-nya,” kata Kepala NFA Arief Prasetyo Adi di Gudang Bulog, Jakarta, Jumat (13/1), seperti dikutip dari keterangan tertulisnya. Menurut Arief, untuk menjaga supaya tidak terjadi penyalahgunaan, proses penyaluran beras CBP terdaftar berdasarkan nama dan alamat. “Kalau ada list-nya di situ, kemudian berasnya tidak sampai, kasih tahu kami, satgas pangan ada di sini. Karena ini menggunakan uang negara jangan sampai ada penyalahgunaan,” tegasnya. Sebagai informasi, pada tahun ini, sampai dengan 11 Januari, Bulog telah merealisasikan penyaluran stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) sekitar 26.000 ton di seluruh Indonesia. Dalam perkembangan lain, Perum Bulog memastikan impor beras sebanyak 15.000 ton dari Vietnam tiba di Indonesia mulai minggu depan, sebagai bagian dari total 300.000 ton yang akan didatangkan dari luar negeri. Direktur Supply Chain dan Pelayanan Publik Bulog Mokhamad Suyamto mengatakan pengiriman impor tahap kedua akan dilakukan secara paralel dengan tahap pertama, lantaran beras yang masuk ke Indonesia belum genap 200.000 ton akibat faktor cuaca.
Jaga Keseimbangan Pangan dan Energi
Konferensi Perdagangan dan Pembangunan PBB (UNCTAD) menyebutkan, populasi dunia telah melewati 8 miliar orang per 15 November 2022 dan mencapai 9,7 miliar orang pada 2050. Selama 25 tahun terakhir, populasi di bumi telah meningkat sepertiga atau 2,1 miliar orang. Populasi di Indonesia, 275 juta orang per semester I-2022 menurut BPS akan meningkat menjadi 288 juta orang pada 2050. Seiring bertambahnya populasi, kebutuhan dan penyediaan pangan dan energi setiap negara, termasuk Indonesia, akan meningkat. Tanpa diimbangi peningkatan produksi, pertarungan pangan dan energi bakal terjadi. Kondisi itu dikhawatirkan sejumlah kalangan tatkala Pemerintah Indonesia akan meningkatkan mandatori biodiesel dari B30 ke B35, pencampuran 35 % produk turunan minyak sawit, metil ester asam lemak (fatty acid methyl esters/FAME), dengan solar akan dimulai 1 Februari 2023. Dengan mandatori B35 itu, kebutuhan biodiesel tahun ini sebesar 13,14 juta kiloliter (4,640 juta ton), naik dari tahun lalu di 11 juta kiloliter (3,89 juta ton). Untuk memenuhi produksi biodiesel sebanyak itu, dibutuhkan CPO 13,15 juta kiloliter (4,643 juta ton).
Sekjen Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, Jumat (13/1) mengatakan, sepanjang 2019-2022, produksi CPO dan minyak inti sawit (PKO) stagnan, sekitar 51 juta ton, sedang konsumsi di dalam negeri terus meningkat dari 17,35 juta ton pada 2020 menjadi 19,5 juta ton pada 2022. Sementara ekspornya relatif stagnan di kisaran 33,5 juta ton-34 juta ton akibat dampak pandemi Covid-19 dan larangan ekspor CPO dan sejumlah produk turunannya tahun lalu. ”Ke depan, permintaan domestik dan ekspor diperkirakan meningkat seiring pemulihan ekonomi, serta bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dan dunia. Jika produksi minyak sawit masih stagnan, persaingan mendapatkan bahan baku untuk pangan dan energi berpotensi terjadi,” kata Eddy. Peneliti Bidang Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Rusli Abdullah, berpendapat senada, ”Ditambah penerapan program B35 pada tahun ini, pertarungan pangan versus energi masih belum head to head. Produksinya masih mencukupi kebutuhan pangan dan energi, baik untuk pasar domestic maupun ekspor. Namun, jika tidak dibarengi peningkatan produksi, ke depan pertarungan pangan versus energy pasti bakal terjadi,” karena itu peningkatan produksi CPO dan PKO diperlukan untuk menjaga keseimbangan kebutuhan pangan dan energi. Salah satunya dengan meningkatkan program peremajaan sawit rakyat. (Yoga)
Menguji Manisnya Gula untuk Pangan dan Energi RI
Negara yang berkapasitas memproduksi gula pangan cenderung melebarkan sayap untuk menghasilkan bahan bakar nabati atau BBN berbasis bioetanol. Indonesia pun tak mau ketinggalan. Bedanya, negara lain sudah mampu mengekspor gula pangannya, sedang Indonesia masih mengimpor. Contoh negara eksportir gula adalah Brasil dan India. Brasil memiliki kebijakan lentur (flexing policy) yang membuat negara itu dapat mengatur proporsi produksi bioetanol dan gula pangan berdasar pergerakan harga kedua komoditas itu di pasar internasional. Adapun India dalam dokumen Peta Jalan Pencampuran Bioetanol di India 2020-2025 yang diterbitkan Juni 2021 menyebutkan adanya skema insentif harga untuk mendorong penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar. Dirut PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Mohammad Abdul Ghani melihat peluang mengembangkan BBN berbasis bioetanol berdasarkan efisiensinya.
”Berdasarkan penelitian kami, produktivitas bioetanol (dari tebu) bisa mencapai 6-7 kiloliter per hektar atau lebih efisien dari produksi biodiesel,” katanya saat berkunjung ke kantor harian Kompas, Jakarta, Selasa (10/1). Rencana memproduksi bioetanol butuh perluasan lahan tebu. Ghani optimistis pemerintah dapat memberi jaminan penyediaan lahan untuk pengembangan bioetanol melalui rancangan perpres yang tengah digodok. Sekretaris Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia Dwi Purnomo menyambut positif rancangan kebijakan tersebut. Dia menilai kebijakan itu perlu ditopang peta jalan yang melibatkan pelaku tebu/gula nasional dan kementerian/lembaga terkait. Kementerian ESDM menyiapkan rencana implementasi bioetanol E5 atau pencampuran etanol 5 % dan bensin 95 % mulai tahun ini. (Yoga)
Perbalahan Panjang Energi Versus Pangan
Pemakaian bahan bakar nabati, baik bioetanol dari jagung dan tebu maupun biodiesel dari minyak kelapa sawit dan kedelai, telah meningkatkan pasokan energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan dari bahan bakar fosil. Namun, tren yang berkembang itu beberapa kali dituding turut mendongkrak harga pangan. Penggunaan tanaman untuk energi mengundang perdebatan yang belum usai: prioritas untuk pangan atau bahan bakar? Ketika krisis pangan melanda dunia pada 2007-2008, pertumbuhan biofuel dinilai turut berkontribusi pada kenaikan harga pangan. Dewan Gandum Internasional melaporkan pertumbuhan 32 % penggunaan sereal untuk menghasilkan biofuel secara keseluruhan pada 2007-2008. Sebanyak 95 juta ton dari 100 juta ton jagung yang diperdagangkan dipakai untuk bahan bakar.
Institut Riset Kebijakan Pangan Internasional (IFPRI) memperkirakan, permintaan etanol yang meningkat menyebabkan kenaikan harga pangan 30 % selama 2000-2007. Wakil Direktur Institut Ekonomi di Akademi Ilmu Sosial China Ling Zhu, dalam artikel ”Where Food and Energy Compete” di laman PBB, menyebut, total produksi pangan dunia pada 2000-2007 yang lebih rendah dari permintaan global menyebabkan turunnya stok pangan. Di dalam negeri, situasi itu tecermin pada gejolak minyak goreng awal tahun lalu. Selain harga naik, minyak goring beringsut dari rak pedagang, sementara antrean pembeli minyak goreng bersubsidi makin panjang. Situasi itu terjadi di negeri penghasil minyak sawit terbesar di dunia! Ironi ini membuka lagi diskusi tentang urgensi pengembangan biodiesel. Perbalahan (perbantahan) tentang prioritas pangan atau energi bakal terus terjadi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









