Lingkungan Hidup
( 5781 )KOMODITAS BERAS, Harga Turun, tetapi Masih di Atas HET
Kantor Staf Presiden atau KSP mempertanyakan harga beras eceran yang sudah turun, tetapi masih di atas harga eceran tertinggi atau HET kendati sudah musim panen raya padi. Lembaga nonstruktural itu juga menilai penyesuaian harga acuan beberapa pangan pokok menyebabkan harga komoditas tersebut dalam status aman meski masih tinggi. Hal itu mengemuka dalam Rakor Pengendalian Inflasi Daerah yang digelar Kemendagri secara hibrida di Jakarta, Senin (6/5). Rapat yang dihadiri perwakilan pemda dan kementerian / lembaga terkait pangan itu dipimpin Irjen Kemendagri Tomsi Tohir Balaw.
Deputi III Bidang Perekonomian KSP Edy Priyono mengatakan, harga beras medium dan premium memang telah turun. Namun, harga kedua jenis beras itu masih di atas HET meski sudah panen raya padi. Beras medium, harga rerata nasional bulan lalu Rp 16.000 per kg) Per pekan pertama Mei 2024, harga rerata sudah turun menjadi Rp 15.250 per kg. Namun, harganya masih di atas HET sementara atau yang direlaksasi Bapanas, yakni Rp 12.500-Rp 13.500 per kg bergantung pada zonasi. Untuk itu, Edy meminta kementerian / lembaga terkait memonitor dan mencari solusi atas persoalan tersebut. Ia juga mengingatkan bahwa persoalan itu juga terkait dengan penegakan hukum yang dilakukan Satgas Pangan Kepolisian RI. (Yoga)
BBM Satu Harga Menjangkau 523 Lokasi 3T
Badan Pengaturan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) mengungkapkan Program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu Harga telah menjangkau sebanyak 523 lokasi hingga kuartal I 2024. Program yang bergulir sejak 2017 ini telah tersebar di 512 lokasi hingga 2023. Pada tahun ini ditargetkan sebanyak 71 wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang menikmati BBM Satu Harga. Adapun sebesar 523 lokasi BBM Satu Harga itu yakni sebesar 83 lokasi di Sumatera, 111 lokasi di Kalimantan, 179 lokasi Maluku dan Papua, 94 lokasi di Nusa Tenggara dan Maluku, 51 lokasi di Sulawesi, 2 lokasi di Bali, serta 3 lokasi di Jawa dan Madura. Anggota Komite BPH Migas Saleh Abdurrahman mengatakan pada tahun ini sebanyak 11 lokasi 3T telah menikmati program BBM Satu Harga. Artinya masih tersisa 60 lokasi lagi yang akan diselesaikan hingga akhir tahun ini sesuai dengan rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. "Kita fokus sesuai target RPJMN untuk 2024 ini 71 lokasi hingga total 583 lokasi selesai sejak 2017-2024," kata Saleh kepada Investor Daily. (Yetede)
Berharap Harga Bisa Menanjak Lagi
Kinerja emiten produsen batubara kurang mentereng pada periode kuartal pertama tahun ini. Meski tetap mampu meraup keuntungan, tapi pendapatan dan laba bersih mayoritas emiten batubara kompak merosot.
Beberapa emiten batubara
big caps
seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO), dan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) sama-sama harus menelan penurunan kinerja.
Secara operasional, sebenarnya produksi dan penjualan emiten masih naik. Tapi, harga jual rata-rata atau ASP batubara yang menciut lebih menekan kinerja emiten.
Analis Mirae Asset Sekuritas, Rizkia Darmawan mengatakan, nvestor sudah cenderung
priced in
terhadap katalis penurunan harga batubara yang menekan kinerja. Namun, Rizkia masih optimistis harga batubara tahun ini masih bisa berada dalam rentang US$ 101–US$ 150 per ton, dengan asumsi dasar di harga US$ 126 per ton.
Equity Research Analyst
Panin Sekuritas, Felix Darmawan juga menilai, ada sejumlah sentimen yang bisa mengangkat prospek emiten batubara, terutama dalam jangka pendek. Di samping eskalasi geopolitik, ada gelombang panas di Asia yang berpotensi mendorong penggunaan alat pendingin. Dus, situasi mendorong konsumsi listrik.
Research Analyst
Phintraco Sekuritas, Arsita Budi Rizqi menyarankan, agar pelaku pasar menerapkan
time frame
jangka pendek hingga menengah sebagai strategi mengoleksi saham batubara. Arsita menjagokan saham PTBA, ADRO dan ADMR.
Kemilau Emas Bikin HRTA Cemerlang
Permintaan dan harga emas yang semakin berkilau menyebabkan kinerja PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) cemerlang selama tiga bulan pertama 2024. Top line dan bottom line emiten perdagangan emas ini kompak tumbuh. Merujuk laporan keuangan, HRTA meraih laba bersih sebesar Rp 102,69 miliar pada kuartal I-2024. Keuntungan ini melonjak 47,05% dibandingkan hasil di periode yang sama tahun lalu. Kala itu sebesar Rp 69,83 miliar. Penjualan HRTA pada kuartal I-2024 hampir seluruhnya dari segmen perhiasan dan logam mulia senilai Rp 4 triliun, melonjak 90,47% secara tahunan.
Seiring lonjakan penjualan, beban pokok pendapatan HRTA melejit 96,33% secara tahunan menjadi Rp 3,75 triliun. Walhasil, laba bruto HRTA Rp 258,6 miliar, tumbuh 26,05% dari Rp 205,15 miliar pada Maret 2023.
Direktur Hubungan Investor Hartadinata Abadi, Thendra Crisnanda menerangkan, lonjakan pendapatan HRTA didorong lonjakan volume penjualan emas murni. Yakni meningkat 73,92% dari sebelumnya 2,16 ton menjadi 3,76 ton pada kuartal I-2024.
"Sebanyak 82,96% dari penjualan dilakukan grosir, termasuk ekspor. Diikuti penjualan ritel 16,66% dan bisnis pegadaian 0,32%," terangnya ke KONTAN, Senin (6/5).
DAYA SAING INDUSTRI : Sinyal Perpanjangan Harga Gas Khusus
Pemerintah memastikan bakal terus berupaya menjaga daya saing industri dalam negeri dengan memberikan harga gas khusus, meski pasokan komoditas tersebut kerap tersendat akibat penurunan produksi alamiah di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arifin Tasrif mengatakan bahwa pemerintah bakal melanjutkan program harga gas bumi tertentu atau HGBT pada tahun depan, sembari membangun dan memperkuat infrastruktur gas bumi di Tanah Air. Menurutnya, pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap daya saing industri nasional di tengah berbagai tantangan yang dihadapi pelaku usaha. Hal itu menjadi alasan bagi pemerintah untuk kembali memberikan insentif harga gas khusus untuk beberapa sektor industri seperti tahun ini.
Program HGBT belakangan memanas karena PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) harus mengatur pasokan gas untuk industri, karena penurunan produksi di sejumlah lapangan minyak dan gas bumi atau migas. Perusahaan kemudian meminta tambahan alokasi gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) untuk menambal kekurangan pasokan tersebut. Hanya saja, gas yang berasal dari LNG memiliki nilai jual yang lebih mahal, karena harganya mengikuti harga di pasar global dan membutuhkan proses regasifikasi untuk bisa dialirkan melalui pipa.
Persoalan mengenai pasokan gas bumi tersebut kemudian mendapatkan keluhan dari sejumlah pelaku industri, termasuk Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) yang mengaku produksi anggotanya mulai terancam akibat gangguan tersebut. Ketua Umum Asaki Edy Suyanto mengkhawatirkan gangguan pasokan gas bumi bakal berdampak kepada gangguan iklim investasi di Indonesia. Musababnya, Asaki telah menerima keluhan dari salah satu produsen sanitary ware terbesar di dunia yang telah membangun fasilitas produksinya di Indonesia.
Sekretaris Perusahaan PGAS Rachmat Hutama menerangkan, keputusan itu diambil untuk menjaga reliabilitas dan keselamatan jaringan gas yang berisiko tinggi. Di sisi lain, SKK Migas telah menyepakati penambahan dua kargo LNG untuk PGAS untuk tahun ini. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Hudi D. Suryodipuro mengatakan, tambahan dua kargo LNG tersebut rencananya berasal dari Tangguh Train 3.
BENCANA ALAM : Banjir Mengepung Bumi Ewako
Sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan tengah dihadapkan pada bencana alam banjir. Data Badan Nasional Penganggulangan bencana (BNPB) menunjukkan bahwa setidaknya ada empat kabupaten yang tengah dihadapkan pada bencana banjir yakni Enrekang, Soppeng, Luwu, dan Wajo. Di Kabupaten Wajo, banjir bandang yang terjadi pada Jumat (3/5) sekitar pukul 00.13 WITA masih menggenangi ribuan hektare lahan dan beberapa fasilitas umum pada Senin (6/5). Adapun, wilayah yang masih terendam banjir di kabupaten ini yakni Desa Awo Awota, Jauh Pandang, dan beberapa wilayah sekitar lainnya.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan bahwa hingga kini masih ada lahan yang terandam banjir seluas 1.818,5 hektare. Kemudian ada juga kebun warga seluas 443 hektare dan tambak 205 hektare.
Sementara itu, banjir dan longsor di Kabupaten Enrekang dipicu hujan dengan intensitas tinggi terjadi pukul 04.00 WITA pada Jumat (3/5). Laporan Pusat Pengendalian Operasi BNPB menunjukkan bahwa wilayah terdampak banjir dan longsor di kabupaten ini meliputi Kelurahan Lewaja, dan Galonta di Kecamatan Enrekang. Desa Lebang, Pinang, Taulan, dan Pundilemo di Kecamatan Cendana.
Sempat Terkendala, Bantuan Akhirnya Mendarat di Latimojong
Pemprov Sulsel berhasil mendistribusikan bantuan bagi warga korban banjir dan longsor di Kabupaten Luwu, Sulsel, Minggu (5/5). Bantuan diangkut dengan helikopter yang mendarat di Kecamatan Latimojong, Luwu. Sebelumnya, helicopter pengangkut bantuan beberapa kali gagal mendarat akibat cuaca buruk. Adapun jalur darat masih belum terbuka dan sulit diakses. Sepanjang Sabtu (4/5), helikopter tak dapat mendarat akibat cuaca buruk. Pada Minggu pagi hingga siang, tiga kali helikopter bolak-balik ke Latimojong dan tetap tidak bisa mendarat. Pendaratan helikopter baru bisa dilakukan saat seorang warga mengirim pesan melalui akun Instagram Humas Pemprov Sulsel dan mengabarkan cuaca sudah memungkinkan.
”Alhamdulillah bisa mendarat setelah tadi tiga kali dicoba, tetapi gagal terus. Untuk jalur darat tetap terus dicoba agar bisa tembus karena ada 3.000 warga di daerah itu (Kecamatan Latimojong) yang membutuhkan bantuan,” kata Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, Minggu siang. Banjir dan longsor yang terjadi di Luwu, Jumat (3/5), mengakibatkan 14 orang meninggal. Bahtiar menuturkan, Pemprov Sulsel dibantu TNI dan Polri terus berusaha membuka jalur agar lebih banyak bantuan yang bisa disalurkan. Namun, dibutuhkan alat berat berukuran kecil dan mobilisasi bahan bakar serta pekerja untuk memperbaiki jalan dan jembatan atau membuat jembatan darurat.
”Dengan kondisi ini, setidaknya butuh waktu seminggu untuk bisa membuka akses. Karena itu, sembari terus mencoba membuka jalur darat, kami berharap bantuan bisa tetap disalurkan menggunakan helikopter,” katanya. Di Latimojong, sebanyak 3.000 warga terisolasi. Mereka tersebar di 12 desa. Bantuan paling dibutuhkan adalah bahan makanan, seperti beras dan ikan kaleng, serta obat-obatan. Selama ini, warga memenuhi kebutuhan dengan berbelanja di Belopa, ibu kota Luwu. Namun, dengan sulitnya akses, hal ini tidak bisa dilakukan. Selain membawa bantuan, helikopter juga mengevakuasi sejumlah warga ke Belopa. Sebagian warga yang dievakuasi ini adalah mereka yang sebelumnya kehilangan rumah akibat kebakaran. (Yoga)
”Drama” Deflasi Beras
Setelah sepanjang delapan bulan episode mengisahkan inflasi, drama serial tersebut diakhiri dengan deflasi beras. Pada 1 Mei 2024, BPS merilis, beras mengalami deflasi 2,72 % secara bulanan pada April 2024. Setelah inflasi selama delapan bulan berturut-turut, Agustus 2023-Maret 2024, komoditas pangan pokok tersebut baru mengalami deflasi. Deflasi yang mencerminkan penurunan harga itu terjadi lantaran panen raya padi semakin meluas. Produksi beras pun terus meningkat dari 3,38 juta ton pada Maret 2024 menjadi 5,52 juta ton pada April 2024. Selain itu, Bapanas gencar menggelar program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Program itu dikombinasi dengan program Bantuan Pangan berupa 10 kg beras per bulan per keluarga bagi 22 juta keluarga berpenghasilan rendah. Namun, di balik deflasi beras secara bulanan itu, komponen harga bergejolak, termasuk beras, masih mengalami inflasi secara tahunan.
Artinya, harga beras masih lebih tinggi dibanding tahun lalu dan biasanya tidak akan turun senilai harga wajar tahun lalu. Tingkat inflasi tahunan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta komponen harga bergejolak pada April 2024 memang mulai turun. Namun, tingkat inflasinya masih relatif tinggi. Begitu juga dengan beras. Tingkat inflasi tahunan beras pada April 2024 sebesar 15,9 % atau turun dibandingkan Maret 2024 di 20,07 %. Tingkat inflasi tahunan beras tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari 2024 dan April 2023 di 15,65 % dan 12,44 %. Di balik deflasi bulanan beras tersurat juga laju penurunan harga beras yang tidak setajam penurunan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Secara bulanan, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat eceran per April 2024 turun 2,72 % menjadi Rp 15.109 per kg, sedangkan GKP di tingkat petani anjlok 15,58 % menjadi Rp 5.686 per kg.
Sementara secara tahunan, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat eceran naik 15,9 %, sedangkan GKP di tingkat petani naik 15,9 %. Anjloknya harga GKP menyebabkan nilai tukar petani tanaman pangan (NTP TP) turun signifikan sebesar 7,25 % secara bulanan menjadi 108,92. Per April 2024, harga rerata berbagai jenis beras di tingkat eceran naik 2,72 % secara bulanan dan naik 15,31 % secara tahunan. Mengutip pernyataan Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pada Kamis (2/5) faktor yang memengaruhi anjloknya harga GKP petani adalah semakin masifnya panen raya padi pada Maret-April 2024. Sementara, harga beras masih mahal dan lambat turun dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Pertama, ada perbedaan pola tanam, panen, konsumsi, dan distribusi di setiap daerah di Indonesia yang membuat rantai pergerakan gabah dan beras dari daerah produsen ke daerah konsumen semakin lama dan panjang, menyebabkan kenaikan biaya angkut atau distribusi, terutama di daerah bukan produsen beras. Kedua, pembentukan harga beras dipengaruhi preferensi terhadap beras lokal. Misalnya, suku Minang di Riau dan sekitarnya condong memilih beras lokal varietas Solok sehingga pasokan dari luar wilayah tidak mampu menekan harga beras lokal tersebut. Ketiga, harga beras di penggilingan juga dipengaruhi biaya produksi. Di tengah hujan yang masih kerap terjadi dan banjir yang melanda sejumlah daerah, biaya penjemuran gabah pasti meningkat. (Yoga)
Menyikapi Kenaikan Harga Pangan
Inflasi harga pangan telah mendorong kenaikan harga eceran tertinggi (HET) sejumlah komoditas, seperti beras, jagung, telur, dan daging ayam. HET beras premium, misalnya, naik Rp 1.000 menjadi Rp 14.900 per kg. HET beras medium dari Rp 10.900 per kg menjadi Rp 12.500 per kg sesuai zonasi. Berikut kutipan warga, pedagang, hingga pengusaha warung makan, hotel, dan restoran menyikapi hal tersebut. “Saat ini harga komoditas masih lumayan tinggi, seperti cabai dan bawang putih. Saya suka diinfokan kalau harga sedang naik. Saya kurang tahu kalau ada kenaikan harga eceran tertinggi seperti beras. Yang jelas, diharapkan harga bahan-bahan pokok bisa turun lagi. Selama ini, mau enggak mau tetap dibeli karena kebutuhan. Jumlahnya tidak dikurangi, tetapi uang belanjanya jadi lebih,” ujar Leila (40), warga Bogor, Jabar.
Rodiyah (57), pedagang telur dan ungas di Pasar Kramat Jati, mengatakan, “Kenaikan harga ayam sudah terasa sejak Maret lalu. Pembeli eceran nyaris enggak ada sampai sekarang. Saat ini saya cuma mengandalkan penjualan dari 15 pelanggan tetap untuk dijual lagi. Keberadaan pelanggan membantu saya melanjutkan usaha. Hasil penjualan yang menipis harus mampu untuk membiayai kebutuhan harian, sewa lapak di pasar, hingga sewa rumah bulanan. Saya tetap berharap pemerintah membantu menurunkan harga telur”. “Harga bahan baku pangan, seperti beras, serta daging dan telur ayam, pada tahun ini lebih mahal dibanding tahun lalu. Hal itu membuat saya harus menaikkan modal usaha. Mau tidak mau, harga menu katering, nasi kotak, atau pesanan harian, saya naikkan sedikit agar tetap untung. Kalau ada yang menanyakan, saya jelaskan kepada pembeli terkait kenaikan harga itu,” ujar Puspita Cahyani (38) pelaku UKM katering, Bogor, Jabar. (Yoga)
Melonjaknya Harga Emas dan 'Senjakalaning' Dolar
Emas telah kembali ke sistem moneter internasional. Labih dari 50 tahun yang lalu, Presiden AS Richard Nixon "menutup jendela emas" (mengakhiri konvertibilitas dolar AS dengan nilai tukar tetap terhadap emas), dan obsesi dunia terhadap logam mulia tersebut akhirnya surut. Era baru mata uang fiat telah dimulai. namun kini, uang kertas ditantang oleh kekhawatiran fiskal dan teknologi baru (blokchains/distributed ledgers), dan harga emas telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di atas US$ 2.400 per ounce. Goldbugs tentu saja berpendapat bahwa logam mulia tetap merupakan investasi ideal untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Namun, salah jika kita percaya bahwa harga emas itu stabil secara unik. Sebaliknya, harga tersebut mengukur kurva tingkat keamanan global. kalau terjadi lonjakan harga emas, berarti dunia mengalami era ketidakamanan yang signifikan. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









