Lingkungan Hidup
( 5820 )BENCANA ALAM : Banjir Mengepung Bumi Ewako
Sejumlah wilayah di Provinsi Sulawesi Selatan tengah dihadapkan pada bencana alam banjir. Data Badan Nasional Penganggulangan bencana (BNPB) menunjukkan bahwa setidaknya ada empat kabupaten yang tengah dihadapkan pada bencana banjir yakni Enrekang, Soppeng, Luwu, dan Wajo. Di Kabupaten Wajo, banjir bandang yang terjadi pada Jumat (3/5) sekitar pukul 00.13 WITA masih menggenangi ribuan hektare lahan dan beberapa fasilitas umum pada Senin (6/5). Adapun, wilayah yang masih terendam banjir di kabupaten ini yakni Desa Awo Awota, Jauh Pandang, dan beberapa wilayah sekitar lainnya.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Abdul Muhari menyampaikan bahwa hingga kini masih ada lahan yang terandam banjir seluas 1.818,5 hektare. Kemudian ada juga kebun warga seluas 443 hektare dan tambak 205 hektare.
Sementara itu, banjir dan longsor di Kabupaten Enrekang dipicu hujan dengan intensitas tinggi terjadi pukul 04.00 WITA pada Jumat (3/5). Laporan Pusat Pengendalian Operasi BNPB menunjukkan bahwa wilayah terdampak banjir dan longsor di kabupaten ini meliputi Kelurahan Lewaja, dan Galonta di Kecamatan Enrekang. Desa Lebang, Pinang, Taulan, dan Pundilemo di Kecamatan Cendana.
Sempat Terkendala, Bantuan Akhirnya Mendarat di Latimojong
Pemprov Sulsel berhasil mendistribusikan bantuan bagi warga korban banjir dan longsor di Kabupaten Luwu, Sulsel, Minggu (5/5). Bantuan diangkut dengan helikopter yang mendarat di Kecamatan Latimojong, Luwu. Sebelumnya, helicopter pengangkut bantuan beberapa kali gagal mendarat akibat cuaca buruk. Adapun jalur darat masih belum terbuka dan sulit diakses. Sepanjang Sabtu (4/5), helikopter tak dapat mendarat akibat cuaca buruk. Pada Minggu pagi hingga siang, tiga kali helikopter bolak-balik ke Latimojong dan tetap tidak bisa mendarat. Pendaratan helikopter baru bisa dilakukan saat seorang warga mengirim pesan melalui akun Instagram Humas Pemprov Sulsel dan mengabarkan cuaca sudah memungkinkan.
”Alhamdulillah bisa mendarat setelah tadi tiga kali dicoba, tetapi gagal terus. Untuk jalur darat tetap terus dicoba agar bisa tembus karena ada 3.000 warga di daerah itu (Kecamatan Latimojong) yang membutuhkan bantuan,” kata Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, Minggu siang. Banjir dan longsor yang terjadi di Luwu, Jumat (3/5), mengakibatkan 14 orang meninggal. Bahtiar menuturkan, Pemprov Sulsel dibantu TNI dan Polri terus berusaha membuka jalur agar lebih banyak bantuan yang bisa disalurkan. Namun, dibutuhkan alat berat berukuran kecil dan mobilisasi bahan bakar serta pekerja untuk memperbaiki jalan dan jembatan atau membuat jembatan darurat.
”Dengan kondisi ini, setidaknya butuh waktu seminggu untuk bisa membuka akses. Karena itu, sembari terus mencoba membuka jalur darat, kami berharap bantuan bisa tetap disalurkan menggunakan helikopter,” katanya. Di Latimojong, sebanyak 3.000 warga terisolasi. Mereka tersebar di 12 desa. Bantuan paling dibutuhkan adalah bahan makanan, seperti beras dan ikan kaleng, serta obat-obatan. Selama ini, warga memenuhi kebutuhan dengan berbelanja di Belopa, ibu kota Luwu. Namun, dengan sulitnya akses, hal ini tidak bisa dilakukan. Selain membawa bantuan, helikopter juga mengevakuasi sejumlah warga ke Belopa. Sebagian warga yang dievakuasi ini adalah mereka yang sebelumnya kehilangan rumah akibat kebakaran. (Yoga)
”Drama” Deflasi Beras
Setelah sepanjang delapan bulan episode mengisahkan inflasi, drama serial tersebut diakhiri dengan deflasi beras. Pada 1 Mei 2024, BPS merilis, beras mengalami deflasi 2,72 % secara bulanan pada April 2024. Setelah inflasi selama delapan bulan berturut-turut, Agustus 2023-Maret 2024, komoditas pangan pokok tersebut baru mengalami deflasi. Deflasi yang mencerminkan penurunan harga itu terjadi lantaran panen raya padi semakin meluas. Produksi beras pun terus meningkat dari 3,38 juta ton pada Maret 2024 menjadi 5,52 juta ton pada April 2024. Selain itu, Bapanas gencar menggelar program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan. Program itu dikombinasi dengan program Bantuan Pangan berupa 10 kg beras per bulan per keluarga bagi 22 juta keluarga berpenghasilan rendah. Namun, di balik deflasi beras secara bulanan itu, komponen harga bergejolak, termasuk beras, masih mengalami inflasi secara tahunan.
Artinya, harga beras masih lebih tinggi dibanding tahun lalu dan biasanya tidak akan turun senilai harga wajar tahun lalu. Tingkat inflasi tahunan kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau serta komponen harga bergejolak pada April 2024 memang mulai turun. Namun, tingkat inflasinya masih relatif tinggi. Begitu juga dengan beras. Tingkat inflasi tahunan beras pada April 2024 sebesar 15,9 % atau turun dibandingkan Maret 2024 di 20,07 %. Tingkat inflasi tahunan beras tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari 2024 dan April 2023 di 15,65 % dan 12,44 %. Di balik deflasi bulanan beras tersurat juga laju penurunan harga beras yang tidak setajam penurunan harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani. Secara bulanan, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat eceran per April 2024 turun 2,72 % menjadi Rp 15.109 per kg, sedangkan GKP di tingkat petani anjlok 15,58 % menjadi Rp 5.686 per kg.
Sementara secara tahunan, harga rerata nasional berbagai jenis beras di tingkat eceran naik 15,9 %, sedangkan GKP di tingkat petani naik 15,9 %. Anjloknya harga GKP menyebabkan nilai tukar petani tanaman pangan (NTP TP) turun signifikan sebesar 7,25 % secara bulanan menjadi 108,92. Per April 2024, harga rerata berbagai jenis beras di tingkat eceran naik 2,72 % secara bulanan dan naik 15,31 % secara tahunan. Mengutip pernyataan Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti pada Kamis (2/5) faktor yang memengaruhi anjloknya harga GKP petani adalah semakin masifnya panen raya padi pada Maret-April 2024. Sementara, harga beras masih mahal dan lambat turun dipengaruhi oleh sejumlah faktor.
Pertama, ada perbedaan pola tanam, panen, konsumsi, dan distribusi di setiap daerah di Indonesia yang membuat rantai pergerakan gabah dan beras dari daerah produsen ke daerah konsumen semakin lama dan panjang, menyebabkan kenaikan biaya angkut atau distribusi, terutama di daerah bukan produsen beras. Kedua, pembentukan harga beras dipengaruhi preferensi terhadap beras lokal. Misalnya, suku Minang di Riau dan sekitarnya condong memilih beras lokal varietas Solok sehingga pasokan dari luar wilayah tidak mampu menekan harga beras lokal tersebut. Ketiga, harga beras di penggilingan juga dipengaruhi biaya produksi. Di tengah hujan yang masih kerap terjadi dan banjir yang melanda sejumlah daerah, biaya penjemuran gabah pasti meningkat. (Yoga)
Menyikapi Kenaikan Harga Pangan
Inflasi harga pangan telah mendorong kenaikan harga eceran tertinggi (HET) sejumlah komoditas, seperti beras, jagung, telur, dan daging ayam. HET beras premium, misalnya, naik Rp 1.000 menjadi Rp 14.900 per kg. HET beras medium dari Rp 10.900 per kg menjadi Rp 12.500 per kg sesuai zonasi. Berikut kutipan warga, pedagang, hingga pengusaha warung makan, hotel, dan restoran menyikapi hal tersebut. “Saat ini harga komoditas masih lumayan tinggi, seperti cabai dan bawang putih. Saya suka diinfokan kalau harga sedang naik. Saya kurang tahu kalau ada kenaikan harga eceran tertinggi seperti beras. Yang jelas, diharapkan harga bahan-bahan pokok bisa turun lagi. Selama ini, mau enggak mau tetap dibeli karena kebutuhan. Jumlahnya tidak dikurangi, tetapi uang belanjanya jadi lebih,” ujar Leila (40), warga Bogor, Jabar.
Rodiyah (57), pedagang telur dan ungas di Pasar Kramat Jati, mengatakan, “Kenaikan harga ayam sudah terasa sejak Maret lalu. Pembeli eceran nyaris enggak ada sampai sekarang. Saat ini saya cuma mengandalkan penjualan dari 15 pelanggan tetap untuk dijual lagi. Keberadaan pelanggan membantu saya melanjutkan usaha. Hasil penjualan yang menipis harus mampu untuk membiayai kebutuhan harian, sewa lapak di pasar, hingga sewa rumah bulanan. Saya tetap berharap pemerintah membantu menurunkan harga telur”. “Harga bahan baku pangan, seperti beras, serta daging dan telur ayam, pada tahun ini lebih mahal dibanding tahun lalu. Hal itu membuat saya harus menaikkan modal usaha. Mau tidak mau, harga menu katering, nasi kotak, atau pesanan harian, saya naikkan sedikit agar tetap untung. Kalau ada yang menanyakan, saya jelaskan kepada pembeli terkait kenaikan harga itu,” ujar Puspita Cahyani (38) pelaku UKM katering, Bogor, Jabar. (Yoga)
Melonjaknya Harga Emas dan 'Senjakalaning' Dolar
Emas telah kembali ke sistem moneter internasional. Labih dari 50 tahun yang lalu, Presiden AS Richard Nixon "menutup jendela emas" (mengakhiri konvertibilitas dolar AS dengan nilai tukar tetap terhadap emas), dan obsesi dunia terhadap logam mulia tersebut akhirnya surut. Era baru mata uang fiat telah dimulai. namun kini, uang kertas ditantang oleh kekhawatiran fiskal dan teknologi baru (blokchains/distributed ledgers), dan harga emas telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di atas US$ 2.400 per ounce. Goldbugs tentu saja berpendapat bahwa logam mulia tetap merupakan investasi ideal untuk menjaga nilai aset dalam jangka panjang. Namun, salah jika kita percaya bahwa harga emas itu stabil secara unik. Sebaliknya, harga tersebut mengukur kurva tingkat keamanan global. kalau terjadi lonjakan harga emas, berarti dunia mengalami era ketidakamanan yang signifikan. (Yetede)
Harga Batubara Masih Bisa Terangkat Permintaan China
Harga batubara sedang dalam tren bullish. Bahkan harga batubara diperkirakan masih naik hingga akhir tahun. Berdasarkan data Bloomberg , harga batubara sempat berada berada di level US$ 148,25 per ton pada Kamis (2/5), atau tertinggi sejak Juni 2023. Dalam sepekan terakhir, harganya naik 5,74% dan dalam sebulan telah menguat 9,77% ke level US$ 145,40 per ton pada Jumat (3/5). Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan, kenaikan harga batubara belakangan ini karena peningkatan permintaan dari negara konsumen.
Ia menilai, peluang penguatan harga batubara masih akan berlanjut. Sutopo memproyeksikan, pada semester I ini harganya berpeluang menuju ke US$ 152 per ton. Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong juga menyebutkan, kenaikan harga batubara didorong dari permintaan China yang mendominasi. Sebab, Negeri Panda itu sedang menambahkan kapasitas pembangkit listrik batubara.
"Hal tersebut didukung oleh data-data manufaktur yang lebih baik," ujarnya, akhir pekan lalu.
Ia memproyeksikan, harga batubara di semester I-2024 berada dalam rentang US$ 135–US$ 140 per ton. Sementara pada akhir tahun 2024 akan sedikit lebih tinggi, di kisaran US$ 140–US$ 150 per ton, seiring dimulainya siklus pemangkasan suku bunga oleh bank-bank sentral dunia.
BANJIR DI SULAWESI, Sebanyak 14 Orang Tewas, Distribusi Bantuan Terkendala
Hingga Sabtu (4/5) distribusi bantuan ke sejumlah kabupaten yang diterjang banjir di Sulsel masih terkendala cuaca buruk dan medan yang sulit. Sebanyak 3.000 warga di Kecamatan Latimojong, Luwu, dilaporkan masih terisolasi sejak banjir dan longsor terjadi pada Jumat (3/5). Longsor di Kabupaten Luwu mengakibatkan 14 orang meninggal. Rinciannya, 8 korban meninggal di Kecamatan Latimojong dan 6 korban lainnya di Kecamatan Suli Barat. Sementara dua warga lain di Suli Barat masih dicari hingga Sabtu sore. Di Kabupaten Wajo, Sulsel, 12.000 warga masih kesulitan mengakses air bersih karena sumber air, termasuk sungai, tertutup lumpur. Guna mendistribusikan bantuan ke Latimojong dan lokasi lain, dua helikopter dari Polda Sulsel dan Lanud Hasanuddin telah disiapkan. Namun, tim masih kesulitan mencari lokasi pendaratan di daerah yang tertutup lumpur.
”Kami sudah memantau pesisir timur Sulsel yang terdampak banjir. Kami melihat bahwa seluruh daerah dan bantaran sungai masih terendam dan dipenuhi lumpur. Kami mencoba mencari titik untuk mendarat, tetapi belum ketemu karena tertutup air,” kata Kapolda Sulsel Irjen Andi Rian R Djajadi seusai pemantauan udara bersama Pj Gubernur Sulsel Bahtiar Baharuddin, Sabtu sore. Di darat, upaya menembus Kecamatan Latimojong yang terisolasi juga terkendala medan terjal dan kabut. Putusnya jalan dan jembatan ke wilayah ini membuat kendaraan roda empat dan roda dua sulit menembus lokasi. ”Dua helikopter sudah disiapkan. Namun, saat ini kondisi cuaca belum bagus. Tak hanya itu, ada kendala karena jalan tertutup longsor dan berkabut. Yang dikhawatirkan longsor susulan,” kata Kepala BPBD Sulsel Amson Padolo. (Yoga)
BAHAN BAKAR BIOETANOL : Peluang Subsidi Terbuka
Pemerintah tengah mengkaji kemungkinan pemberian subsidi anyar untuk produk bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dengan bauran bioetanol. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa kajian itu sejalan dengan usulan PT Pertamina (Persero) pada tahun lalu untuk menghapus atau meniadakan produk BBM dengan oktan paling rendah RON 90 atau Pertalite dalam beberapa tahun ke depan. Pertamina mendorong pengembangan bensin bauran etanol 7% (E7) atau Pertamax Green 92 untuk menggantikan posisi Pertalite sebagai jenis bahan bakar minyak khusus penugasan (JBKP).
Artinya, anggaran kompensasi atau subsidi diusulkan untuk dialihkan pada Pertamax Green 92. Luhut mengonfirmasi pemerintah tengah mematangkan usulan yang disampaikan Pertamina ihwal pencampuran Pertalite dengan bioetanol. Nantinya, pasokan etanol itu bisa diperoleh dari sejumlah bahan baku seperti tebu, jagung, hingga rumput laut.
Sebelumnya, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati berharap usulan pengalihan subsidi Pertalite dapat menjaga harga Pertamax Green 92 tetap sama dengan harga yang saat ini berlaku untuk Pertalite sebagai JBKP yang mendapat kompensasi dari pemerintah. Menurutnya, subsidi pada produk hijau itu lebih menguntungkan dari sisi pengembangan industri hulu bioenergi serta pengurangan emisi dari sektor transportasi ketimbang mesti mengalihkan subsidi pada bensin dengan kadar oktan rendah.
KETAHANAN PANGAN : Cadangan Beras Bulog Capai Rekor
Perum Bulog mencatatkan cadangan beras pemerintah mencapai rekor tertinggi sejak empat tahun terakhir di tengah panen raya yang berlangsung sepanjang April – Mei 2024. Direktur Utama Perum Bulog Bayu Krisnamurthi menyebutkan bahwa stok beras di gudang Bulog mencapai 1,63 juta ton. Jumlah ini tersebar di seluruh wilayah kerja Bulog untuk mendukung berbagai program pemerintah termasuk bantuan pangan dan program stabilisasi pasokan harga pangan (SPHP). Lebih lanjut dari total tersebut, 1,3 juta ton di antaranya berasal dari pengadaan luar negeri. Adapun untuk pengadaan dari dalam negeri tercatat sebanyak 560.000 ton gabah atau 273.000 ton setara beras per 2 Mei 2024. Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi mengaku bahwa pihaknya terus memantau kinerja Bulog dalam penyerapan gabah di berbagai daerah selama panen raya. Dia menegaskan, penyerapan Bulog saat ini merupakan upaya penting pemerintah memenuhi stok beras nasional untuk kebutuhan mendatang.
Adapun panen raya kali ini disebut bakal menyumbang hingga 70% dari total produksi beras nasional sepanjang tahun. Sejumlah wilayah sentra seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur menjadi fokus utama pemerintah dalam menyerap hasil gabah petani. Di sisi lain, pemerintah turut membeberkan penyebab harga beras masih mahal meskipun harga gabah petani anjlok saat panen raya. Bayu Krisnamurthi, Dirut Bulog kembali menilai bahwa ketidakpastian kondisi perberasan pascapanen raya membuat pelaku usaha di tingkat pengecer menjadi waspada terhadap penjualan beras. Menurutnya, hasil panen padi di paruh kedua tahun ini masih dibayangi risiko musim paceklik. Selain adanya risiko krisis beras di musim paceklik, Eks Wakil Menteri Perdagangan itu menjelaskan bahwa adanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah hingga penguatan kurs Dollar Amerika Serikat juga berdampak pada kenaikan harga beras di pasar global.
Inflasi Pangan Mulai Mereda
Tekanan inflasi tahunan komponen harga bergejolak,terutama pangan, mulai mereda pada April 2024. Meski begitu, tingkat inflasi tahunan komponen tersebut masih tinggi. BPS, Kamis (2/5) merilis, tingkat inflasi pada April 2024 sebesar 0,25 % secara bulanan dan 3 % secara tahunan. Tingkat inflasi bulanan dan tahunan itu lebih rendah dibandingkan Maret 2024. Plt Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, komoditas utama penyumbang inflasi bulanan pada April 2024 adalah tiket pesawat, bawang merah, dan emas perhiasan. Inflasi pada periode Lebaran itu cukup rendah karena harga pangan relatif terkendali. Beras, yang selama delapan bulan terakhir menyumbang inflasi secara berturut-turut, pada April 2024 justru mengalami deflasi 2,72 %, lantaran produksi beras terus meningkat seiring panen raya padi pada Maret dan April 2024 yang masing-masing 3,38 juta ton dan 5,52 juta ton.
”Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau pada April 2024 juga mengalami deflasi 0,03 % secara bulanan. Begitu juga dengan komponen harga bergejolak yang deflasi 0,31 % secara bulanan,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta. Kendati begitu, secara tahunan, kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau masih mengalami inflasi 7,04%. Andilnya terhadap inflasi tahunan juga masih besar, yakni 1,98 %. BPS mencatat, tingkat inflasi tahunan komponen harga bergejolak pada April 2024 sebesar 9,63 %, turun dari inflasi tahunan Maret 2024 di 10,33 %. Komoditas yang memberikan andil inflasi komponen tersebut, antara lain, beras, bawang merah, cabai, serta daging dan telur ayam ras. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









