Teknologi Informasi
( 857 )Investasi Teknologi
Selama krisis karena pandemi, menurut CNBC, sejumlah perusahaan membuktikan, berinvestasi dalam teknologi bukanlah biaya, melainkan menjadi pendorong bisnis dan pembeda. Teknologi menjadi faktor pemecah masalah. Kini sejumlah perusahaan malah telah berani tidak menarik kembali dana yang dikucurkan dalam investasi teknologi terlepas dari prospek ekonomi yang tak menentu. Survei CNBC Technology Executive Council mengungkapkan tiga perempat pemimpin teknologi mengharapkan organisasi mereka membelanjakan lebih banyak untuk teknologi pada tahun 2022. Teknologi diyakini dapat membantu saat resesi, teknologi itu antara lain kecerdasan buatan, robot, dan keamanan siber.
Analisis Vijay Govindarajan dan Anup Srivastava di Harvard Business Review, Juni lalu, mengingatkan bahwa dalam sejarah usai resesi selalu akan diikuti dengan ekonomi baru yang cerah. Usai perang dunia kedua, banyak negara kembali menjadi makmur. Oleh karena itu, penurunan harga saham perusahaan digital saat ini bukan berarti akhir dari revolusi digital. Hampir setiap perusahaan memiliki strategi digital yang terbukti memungkinkan perusahaan untuk menjalankan operasinya senormal mungkin selama pandemi Covid-19.
Mereka menyebutkan, manfaat strategi digital yang dipikirkan dengan matang dan terdokumentasi dengan baik adalah peningkatan visibilitas sumber daya dan manajemen sumber daya yang lebih baik, peningkatan fleksibilitas dan kelincahan organisasi, biaya lebih rendah, manajemen rantai pasokan yang lebih lancar, pengalaman pelanggan yang lebih baik, peningkatan produktivitas, pengembangan produk yang lebih cepat, dan perencanaan SDM yang unggul. (Yoga)
Persaingan Ketat, Bank Sulit Mencari Talenta Digital
Hiruk pikuk transformasi digital yang terjadi di hampir seluruh sektor bisnis di Tanah Air membuat permintaan akan talenta digital semakin tinggi. Kebutuhan yang muncul belum sebanding dengan persediaan sumber daya manusia (SDM) di sektor digital yang tersedia.
Industri keuangan jadi salah satu sektor yang punya kebutuhan talenta digital tinggi. Sebab teknologi sudah menjadi bisnis inti pada perbankan, financial technology (fintech) dan perusahaan rintisan (startup). Persaingan berebut SDM yang piawai di sektor teknologi informasi semakin sengit. Sejumlah bank mengaku masih kesulitan mencari talenta digital saat ini.
OJK Terbitkan Aturan Baru soal Digital
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluarkan POJK No 11/2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum. ”Akselerasi digital memberi nilai tambah, tetapi juga berisiko adanya serangan siber yang berakibat pada kebocoran atau pencurian data nasabah. Ini yang perlu kita antisipasi,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, Kamis (4/8), di Jakarta. (Yoga)
Ekonomi Digital, Pintu Menuju Masa Depan
”Transaksi pakai dompet daring saja. Cepat dan gampang. Orang jarang pakai tunai”. ”Beli lewat daring saja. Tak perlu ke mana-mana, pesanan sampai rumah”. ”Kalau mau beli sayur atau telur, langsung dari petani, bisa lewat aplikasi”. Sejak tiba di Beijing, ibu kota China, Juni lalu, saran-saran seperti itu sering terdengar. Pesannya, segala urusan zaman sekarang lebih mudah selama ada telepon seluler dengan sinyal internet yang kuat. Di balik hidup serba daring ini, ada industri besar yang bermain teknologi kecerdasan buatan (AI). Jika di AS ada Facebook, Amazon, Apple, dan Google yang menjadi raksasa penguasa teknologi, di China ada Baidu, Alibaba, dan Tencent. Baidu adalah mesin pencari terbesar di China, sementara Alibaba adalah raja e-dagang, dan Tencent adalah bos media sosial dan gim. Mereka menguasai AI.
Berkat teknologi ini, ekonomi digital di kota Beijing naik 4,1 % mencapai 838,13 miliar RMB atau 124 miliar USD pada semester I-2022. Perolehan ini menyumbang 43,3 % PDB kota Beijing. Beijing menggenjot infrastruktur teknologi digital selama bertahun-tahun yang mengarah pada potensi besar konsumsi digital. Akhir Maret 2022, di Beijing terpasang 54.000 menara base transceiver station (BTS). Area perbelanjaan dan tempat wisata sudah tercakup jaringan internet supercepat. Harapannya, pada 2025, Beijing akan menggalang 500 miliar yuan atau 74 miliar USD dari konsumsi informasi. Ini semua berkat ekonomi digital yang merujuk pada transaksi dan layanan internet yang mencakup e-dagang, layanan daring, sistem pembayaran daring, gim, pendapatan iklan, dan signifikansi perusahaan media sosial besar.
Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi (MIIT) mencatat, ekonomi digital China bernilai lebih dari 6,72 triliun USD pada 2021. Terhitung 39,8 % PDB, ekonomi digital China melesat dan ada di peringkat ke-2 dunia. Pada akhir Mei, China meluncurkan 1,7 juta BTS 5G dengan 50 juta pengguna gigabit dan 420 juta pengguna ponsel 5G. Pada 2021 penjualan ritel daring barang melonjak 12 % mencapai 10 triliun yuan untuk pertama kalinya. Terdapat 151,23 miliar transaksi pembayaran mobile, naik 22,73 % dari tahun sebelumnya. China mempercepat integrasi data besar, komputasi awan, dan AI dengan sektor energi, perawatan medis, transportasi, pendidikan, dan pertanian. Pada 2021 output nilai tambah dari produsen informasi elektronik utama naik 15,7 %. Pendapatan perangkat lunak, layanan teknologi informasi, internet, dan layanan terkait juga tumbuh dua digit. Robin Li, salah satu pendiri dan CEO Baidu, mengatakan, teknologi AI membentuk kembali industri menjadi kekuatan transformatif yang merevolusi pembangunan manusia selama 40 tahun ke depan. (Yoga)
RI Tekankan Kesepahaman Tata Kelola Data
Kemenkominfo sebagai penggagas Digital Economy Working Group (DEWG) Presidensi G20 Indonesia mendorong negara anggota G20 untuk memperkuat kesepahaman tata kelola data. Hal itu disampaikan dalam pertemuan ke tiga DEWG G20 di Labuan Bajo, NTT. Pasalnya penggunaan ruang digital yang makin intensif saat ini membuat data mengalir lintas batas, bahkan penggunaan arus lalu lintas data global 2020-2026 diprediksi naik tiga kali lipat. Chair DEWG Presidensi G20 Indonesia Mira Tayyiba menyatakan, pemerintah Indonesia mendorong anggota G20 saling memperkuat tata kelola data. (Yoga)
Single Data Pajak Kendaraan
Pemerintah tengah merancang pengelolaan secara terpusat (single data). Langkah ini ditempuh demi meningkatkan kepatuhan pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB). Inisiatif single data kendaraan didorong dengan melibatkan pemangku kepentingan di Kantor Bersama Samsat antara lain, Polri, Kemendagri, Pemda dan Jasa Raharja. Berdasar data Ditjen Bina Keuangan Daerah Kemendagri, jumlah kendaraan bermotor tahun 2020 mencapai 110.445.615 unit, tapi yang membayar PKB baru 63.957.243 unit atau 58 %.
Adapun data PT Jasa Raharja (persero) seperti diungkapkan Dirut Rivan A Purwantoro menyebutkan terdapat 40 juta unit kendaraan atau 39 % total kendaraan belum membayar PKB, dengan potensi Rp 100 triliun yang belum tertagih. Kita sedang mengkonsepkan single data biar kita semua tahu,” kata Direktur Regident Koarlantas Polri, Brigjen Pol Yusri Yunus, Jumat (22/7). (Yoga)
Kreator Konten yang Mewarnai Kota
Hari sudah malam, tetapi hiruk-pikuk aktivitas masyarakat belum surut di halaman Istana Maimun, Medan, Sumut, Selasa (19/7). Di sebuah kafe, Ibrahim Umar (47) yang di medsos akrab dipanggil ”Ketua Limpol” asyik mengobrol dengan sejumlah kreator konten medsos yang belakangan tumbuh pesat di Kota Medan. Malam itu, para kreator konten di Medan membahas berbagai hal, mulai dari sejarah Kota Medan, pengalaman mendapat konten promosi atau endorse, ketemu pejabat, hingga harga-harga bahan pokok yang mencekik leher rakyat kecil. Di sela-sela obrolan, ide membuat konten di medsos pun muncul dan langsung dieksekusi dengan shooting di tempat. Konten-konten itu memotret langsung realitas warga kota.
Berangkat dari profesi sebagai penyanyi dan MC pesta pernikahan, ia boleh dibilang menjadi artis medsos yang sangat digandrungi belakangan ini. Konten-kontennya mengangkat realitas kehidupan dengan menggunakan bahasa Indonesia dialek ”Medan” dengan ribuan istilah yang unik. Ibrahim alias Ketua Limpol, yang juga dipanggil Jack India itu, meraup penggemar yang banyak dari konten yang dibungkus cerita humor. Tidak hanya dari Kota Medan, tetapi juga dari sejumlah daerah hingga luar negeri. Di akun Tiktok @jackindia75, Ibrahim mempunyai pengikut lebih dari 213.000 dengan setiap video ditonton 100.000 hingga 3 juta penonton.
Sejumlah pejabat mengundangnya untuk membuat konten bersama, mulai dari Gubernur Sumut Edy Rahmayadi, Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, bupati, sejumlah wakil rakyat, pejabat kepolisian dan TNI, hingga Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar. Malam itu, Ibrahim kedatangan tamu Profesor Umar Zein, guru besar di Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumut. Umar belakangan sangat produktif membuat video di Youtube, yang tidak hanya bertema kedokteran, tetapi juga sastra dan kebudayaan. Minat Umar di Youtube muncul setelah videonya tentang temuan cacing pita sepanjang 10,5 meter di Kabupaten Simalungun, 2018, viral di medsos. Ia pun mengulas berbagai topik keseharian yang kental dengan Sumut, mulai dari pantun Melayu, sastra, kapur barus, hingga kemenyan. (Yoga)
Jaga Akuntabilitas Penyaluran Bansos
Penyaluran bansos ke masyarakat mesti memenuhi sejumlah aspek, yaitu akuntabel, transparan, dan melibatkan partisipasi publik. Akuntabilitas bisa dicapai melalui mekanisme umpan balik dari penerima manfaat dan pemanfaatan teknologi informasi. Menurut Chief Executive Officer of Islamic Relief Indonesia Nanang Subana Dirja, akuntabilitas lembaga pengelola bansos dapat dibangun dengan membuat prosedur standar operasi. Hal ini mencakup kebijakan internal yang antisuap, antikorupsi, anti-penipuan, anti-pencucian uang, hingga anti-terorisme. Selain itu, lembaga juga perlu menyusun mekanisme pengaduan dan umpan balik dari penerima manfaat. ”Umpan balik akan menguatkan akuntabilitas (lembaga),” kata Nanang dalam diskusi daring berjudul ”Meningkatkan Kepercayaan, Transparansi, dan Akuntabilitas dalam Penyaluran Bantuan Sosial Kemanusian Melalui E-Bansos dan Mekanisme Umpan Balik”, Selasa (19/7).
Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI) Avianto Amri mengatakan, mekanisme umpan balik menyediakan ruang komunikasi dua arah antara penerima bantuan donor dan pihak lain. Mekanisme umpan balik juga berperan menghilangkan hambatan yang mungkin terjadi di lapangan. Menurut pimpinan Loop Indonesia, Daris Fauzan, lembaga kemanusiaan dapat menggunakan platform digital untuk menerapkan mekanisme umpan balik dari penerima manfaat bansos. Penerima manfaat bansos dapat menyampaikan umpan balik melalui pesan singkat, Whatsapp, Facebook Messenger, dan laman mereka. (Yoga)
Daftar Dahulu Berbisnis Kemudian
Menjelang batas akhir pendaftaran penyelenggara system elektronik (PSE) lingkup privat, platform teknologi raksasa global macam Facebook, Instagram, hingga Netflix telah mendaftarkan diri ke Kemenkominfo sebagai PSE lingkup privat pada Selasa (19/7). Terdaftarnya raksasa teknologi baik asing maupun lokal ke kemenkominfo tidak singkat, dimana kemenkominfo memperpanjang batas akhir pendaftaran PSE lingkup privat yang beroperasi di Indonesia dari paling lambat 24 Mei 2022 menjadi 20 Juli 2022.
Dirjen Aplikasi Informatika Kemenkominfo Samuel Abrijani mengatakan, PSE lingkup privat seperti Google hingga WhatsApp harus mengikuti Permenkominfo No 5 / 2020.Dalam Pasal 2 (1) beleid itu setiap PSE lingkup privat di Indonesia wajib mendaftarkan sebelum layanannya bisa digunakan oleh masyarakat Indonesia, bila tidak, kemenkominfo akan memberikan sanksi administratif berupa pemblokiran.(Yoga)
Visi China di Dunia Siber
China membuka World Internet Conference di Kota Wuzhen, Provinsi Zhejiang, Kamis lalu. Konferensi Internet Dunia ini menandai visi negara di dunia siber. Pada acara pembukaan, China mengumandangkan semangat agar internet bisa diakses semua orang dan dikembangkan bersama-sama. World Internet Conference (WIC) dibuka dengan pembacaan surat Presiden China sekaligus Sekjen Partai Komunis China Xi Jinping. ”Kita harus menciptakan internet beserta segala teknologi digital yang kita kembangkan bersama-sama. Internet yang bisa diakses oleh semua, untuk kesejahteraan seluruh umat manusia,” demikian pidato itu, seperti dikutip oleh kantor berita nasional China, Xinhua (Kompas.id, 15/7).
China dengan berbagai perusahaan raksasa di industri digital telah menguasai pasar dunia, mulai dari peralatan, infrastruktur, perangkat lunak, fasilitas pusat data, hingga berbagai aplikasi. Produk mereka sudah dikenal berbagai usia di seluruh dunia, tetapi semua itu tidak cukup. WIC menjadi sarana China menggapai tujuan lebih besar. Forum itu bertransformasi menjadi organisasi internasional meski baru diikuti 20 negara. Mereka juga mengundang sejumlah perusahaan dan lembaga internasional. intinya mereka akan menyosialisasikan visi China tentang dunia siber yang menekankan kerja sama global untuk pemanfaatan ruang siber dan juga peran masing-masing negara untuk pembangunan dunia siber. Upaya ini merupakan upaya alternatif setelah visi dunia maya global juga dikemukakan AS dan Uni Eropa. China ingin menempatkan diri menjadi bagian yang ikut mengedepankan visi global tentang ruang maya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Ekspor Pertanian Rp 451 T
09 Feb 2021 -
Warga Asing Bisa Punya Hak Milik Apartemen
08 Oct 2020









