Perusahaan
( 1080 )Reorganisasi yang Tak Kunjung Selesai
Walt Disney Co telah menjadi tempat reorganisasi
terus-menerus alias konstan selama beberapa tahun terakhir. Tantangan bisnis
baru, secara khusus pengaliran konten video, menjadi alasan mereka. Mereka
ingin menemukan bentuk organisasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar bisnis
konten ini. Perombakan terbaru terjadi pada Senin pekan ini ketika Disney
merekrut vice chairman dan chief financial officer (CFO) dari PepsiCo, yaitu
Hugh Johnston, untuk menggantikan CFO lama Christine McCarthy, yang
mengundurkan diri pada akhir Juni lalu. Christine sempat digantikan sementara
oleh Kevin Lansberry, CFO Disney Park. Langkah ini akan terus terjadi seiring
upaya Disney dan perusahaan hiburan lainnya untuk mendapatkan struktur
organisasi yang tepat dalam mengatasi perubahan industri yang disebabkan
meningkatnya bisnis pengaliran konten video. Februari lalu, Disney mengumumkan
rincian restrukturisasi strategisnya yang akan memfokuskan kembali organisasi
pada kreativitas, memberdayakan para pemimpin kreatif, dan memastikan mereka
bertanggung jawab atas semua aspek bisnis secara global.
Mereka ingin menempatkan bisnis pengaliran konten pada jalur
menuju pertumbuhan dan profitabilitas yang berkelanjutan. Perusahaan ini
kemudian memecah menjadi tiga segmen bisnis inti yang dalam pernyataannya
diharapkan menjadi lebih kolaboratif, yaitu Disney Entertainment, ESPN, dan Disney
Parks Experiences and Products. Para pemimpin di setiap segmen bisnis tersebut
akan memiliki kendali penuh atas operasi dan tanggung jawab keuangan untuk pengembangan kreativitas, pemasaran,
teknologi, penjualan, dan distribusi. Mereka juga bertanggung jawab mendorong
efisiensi bisnis secara global. Dengan maraknya platform seperti Netflix, Hulu
(sebagian sahamnya juga dimiliki Disney), dan Amazon Prime Video, konsumen kanal
pengaliran konten kini memiliki beragam pilihan dalam memilih tontonan. Lonjakan
popularitas ini juga menyebabkan meningkatnya persaingan antar layanan pengaliran
konten video. Dari sejumlah perkiraan, bisnis pengaliran konten pada tahun ini
bernilai 117 miliar USD dan akan naik menjadi 127 miliar USD pada tahun 2029. (Yoga)
Sebaiknya Penyelesaian Divestasi Vale Ditunda
Hidup Tak Layak Para Pekerja Pabrik Pembuat Baju Mahal
Setidaknya dua buruh
perempuan tewas dan beberapa orang cedera pada Rabu (8/11). Korban jatuh setelah
polisi melepas tembakan ke arah pekerja industri garmen yang berunjuk rasa di
Gazipur, Bangladesh. Pabrik-pabrik di Bangladesh memasok banyak jenama terkemuka,
seperti H&M, Gap Inc, Levi’s, Walmart, Zara, Marks and Spencer, Primark,
Aldi Inditex, Bestseller, Hugo Boss, dan Lululemon. Meski jenama itu mendapat
omzet besar, para pembuatnya hidup tak layak di Bangladesh. Karena itu, sepekan
terakhir ada pemogokan dan unjuk rasa. Pekerja minta naik gaji. Sejak 2019,
gaji pekerja industri garmen Bangladesh tidak naik. Pekan lalu, puluhan pabrik dijarah
para pekerja dan ratusan pabrik lain ditutup pemilik untuk menghindari
perusakan.
”Banyak pabrik besar memproduksi pakaian untuk hampir semua
jenama dan pengecer besar Barat,” kata Presiden Federasi Pekerja Garmen dan Industri
Bangladesh Kalpona Akter. Asosiasi Produsen dan Eksportir Garmen Bangladesh hanya
menawarkan kenaikan upah 25 %. Adapun Pemerintah Bangladesh setuju upah minimum
naik 56,25 % menjadi 114 % atau Rp 1,8 juta per bulan. Kenaikan berlaku mulai 1
Desember 2023. Pemerintahan PM Sheikh Hasina juga berjanji, gaji bisa naik 5 % setiap
tahun. Buruh menolak, sebab inflasi saja 9,5 %. Mereka minta upah minimum
menjadi 209 % per bulan. Sekarang, upah minimum industri itu hanya 75 dollar
AS. Studi biaya hidup komprehensif yang dilakukan Institut Studi Perburuhan
Bangladesh menunjukkan, pekerja membutuhkan minimum 23.000 taka atau Rp 4,3
juta untuk bisa hidup di atas garis kemiskinan. Sementara dalam laporan Center
for Policy Dialogue, sebagaimana dikutip Deutsche Welle (DW), disimpulkan bahwa
pekerja garmen Bangladesh mendapatkan upah paling rendah dibandingkan pekerja
industri sejenis di China, Kamboja, India, dan Vietnam. (Yoga)
Tingkat Partisipasi Kerja di Jakarta Naik
Adu Cepat Restrukturisasi Utang Wijaya Karya dan Waskita
Sanksi Rp 25 Miliar bagi Perusahaan Penyebab Karhutla Segera Dieksekusi
Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan segera mengeksekusi putusan peninjauan kembali
tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan dari PT KU sebesar Rp 25 miliar. Ini
merupakan kasus gugatan yang dilayangkan KLHK atas kejadian kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) pada 2015 di lokasi konsesi PT KU di Jambi. Eksekusi ini
dilakukan setelah majelis hakim Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan
peninjauan kembali (PK) dari PT KU pada 30 Oktober 2023. Majelis hakim kemudian
menghukum PT KU dengan denda Rp 25,5 miliar yang terdiri dari ganti rugi materiil
sebesar Rp 15,7 miliar dan tindakan pemulihan lingkungan senilai Rp 9,7 miliar.
Dirjen Penegakan Hukum
KLHK Rasio Ridho Sani menyampaikan, putusan PK ini telah menguatkan putusan
kasasi, putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dan putusan PN Jaksel yang telah
berpihak pada lingkungan hidup. Ketiga putusan pengadilan tersebut juga telah
inkrah atau berkekuatan hukum tetap. ”Komitmen KLHK untuk menghentikan karhutla
dan mengembalikan kerugian lingkungan hidup (negara) serta memulihkan
lingkungan hidup yang rusak akibat karhutla di areal perkebunan kelapa sawit milik
PT KU tidak berhenti,” tutur Rasio melalui keterangan tertulis, Kamis (2/11). Menurut
Rasio, penolakan permohonan PK oleh MA memberi pembelajaran kepada setiap
penanggung jawab usaha atau kegiatan untuk tidak melakukan pembakaran lahan.
Mereka juga tidak boleh membiarkan terjadinya kebakaran lahan di lokasi usaha atau
kegiatannya dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. (Yoga)
Chandra Asri Cetak Pendapatan Rp 26,41 T
Perusahaan Pakai Robot karena Sulit Cari Karyawan
Pelaku usaha di sejumlah negara terus menggantikan manusia dengan robot. Sebagian pekerja mendukung peralihan itu. Sebab, semakin sulit mencari karyawan untuk jenis pekerjaan tertentu. Raksasa lokapasar global, Amazon, memamerkan robot pekerja pada Oktober 2023. Robot-robot itu menggantikan 27.000 orang yang diberhentikan Amazon beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, Kepala Teknologi Amazon Tye Brady menyatakan, tidak mungkin manusia akan sepenuhnya digantikan robot di Amazon. ”Tidak ada bagian dalam diri saya yang berpikir bahwa itu akan pernah menjadi kenyataan,” katanya. Sementara itu, pada Jumat (27/10) Reuters melaporkan keluhan Kamar Dagang dan Industri Jerman. Separuh perusahaan Jerman kesulitan mencari pekerja. Pada Juni 2023 saja, 1,7 juta lowongan kerja di Jerman tidak terisi.
Hal itu merugikan perekonomian Jerman hingga 100 miliar euro per tahun. Badan Ketenagakerjaan Jerman menyebut, pelibatan perempuan dan migran tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja Jerman. Pada 2035, Jerman akan kekurangan hingga 7 juta pekerja. Kekurangan terjadi karena orang-orang kelahiran sebelum 1970 terus pensiun. Sementara jumlah penduduk lebih muda semakin sedikit. Kesulitan lain, dialami produsen suku cadang mesin, S&D Blech, yang kesulitan mencari kepala unit penghalusan logam. Akibatnya, posisi itu terpaksa diisi robot. ”Menemukan kepala unit baru sulit, tidak hanya karena pengalaman yang dimilikinya, tetapi juga karena itu pekerjaan yang sangat berat dan tidak ada yang ingin melakukannya lagi,” kata Direktur Utama S&D Blech Henning Schloede. (Yoga)
Smelter Baru Freeport di JIIPE Gresik Siap Beroperasi Mei 2024
Praktik ”Hijau” Jadi Kebutuhan Dunia Usaha
Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG semakin menjadi keharusan serta melekat dalam perencanaan jangka panjang perusahaan. Akumulasi komitmen dan realisasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk perusahaan-perusahaan, juga bakal mendukung tercapainya target Indonesia Emas 2045. Hal itu mengemuka dalam CEO Insight bertema ”Menjawab Tantangan melalui Pengembangan Bisnis Keberlanjutan”, yang juga rangkaian Kompas100 CEO Forum Powered by PLN di Jakarta, Senin (23/10). Hadir sebagai pembicara kunci adalah Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan.
Nurul mengatakan, gerakan bisnis global bertema hijau, biru, dan sirkular bukan hanya komitmen global, melainkan para pelaku usaha pun memiliki keinginan sama. Sebab, mereka pun memiliki kepentingan untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan. Paling penting bagi Indonesia adalah pengurangan jejak karbon dari sisi energi. ”Sebab ternyata bukan hanya karena komunitas global melakukannya, melainkan market (pasar) juga menginginkan itu. Ada survei menyebutkan generasi awal hingga generasi Z sepakat membeli produk-produk yang kontribusi karbonnya lebih rendah, sekalipun harganya lebih mahal,” ujar Nurul.
Presdir PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, penerapan ESG oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) bukan dianggap sebagai keharusan, melainkan menjadi keniscayaan dan kebutuhan, yang sudah melekat pada perencanaan bisnis jangka panjang perusahaan. Ia menambahkan, anggaran lingkungan dan sosial sudah masuk perencanaan bisnis PTFI. ”Tahun lalu (2022), biaya sosial kami Rp 2 triliun dan biaya lingkungan Rp 2,5 triliun. Ini bukan pengeluaran ekstra karena secara mendasar masuk bujet dan kami akan lakukan itu sampai dengan 2041 sesuai perencanaan jangka panjang kami,” ujarnya. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Pola Belanja Mainan anak selama pandemi
30 Jun 2020 -
Harga Bawang Merah Kian Tinggi
24 Jun 2020









