Perusahaan
( 1082 )Smelter Baru Freeport di JIIPE Gresik Siap Beroperasi Mei 2024
Praktik ”Hijau” Jadi Kebutuhan Dunia Usaha
Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG semakin menjadi keharusan serta melekat dalam perencanaan jangka panjang perusahaan. Akumulasi komitmen dan realisasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk perusahaan-perusahaan, juga bakal mendukung tercapainya target Indonesia Emas 2045. Hal itu mengemuka dalam CEO Insight bertema ”Menjawab Tantangan melalui Pengembangan Bisnis Keberlanjutan”, yang juga rangkaian Kompas100 CEO Forum Powered by PLN di Jakarta, Senin (23/10). Hadir sebagai pembicara kunci adalah Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan.
Nurul mengatakan, gerakan bisnis global bertema hijau, biru, dan sirkular bukan hanya komitmen global, melainkan para pelaku usaha pun memiliki keinginan sama. Sebab, mereka pun memiliki kepentingan untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan. Paling penting bagi Indonesia adalah pengurangan jejak karbon dari sisi energi. ”Sebab ternyata bukan hanya karena komunitas global melakukannya, melainkan market (pasar) juga menginginkan itu. Ada survei menyebutkan generasi awal hingga generasi Z sepakat membeli produk-produk yang kontribusi karbonnya lebih rendah, sekalipun harganya lebih mahal,” ujar Nurul.
Presdir PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, penerapan ESG oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) bukan dianggap sebagai keharusan, melainkan menjadi keniscayaan dan kebutuhan, yang sudah melekat pada perencanaan bisnis jangka panjang perusahaan. Ia menambahkan, anggaran lingkungan dan sosial sudah masuk perencanaan bisnis PTFI. ”Tahun lalu (2022), biaya sosial kami Rp 2 triliun dan biaya lingkungan Rp 2,5 triliun. Ini bukan pengeluaran ekstra karena secara mendasar masuk bujet dan kami akan lakukan itu sampai dengan 2041 sesuai perencanaan jangka panjang kami,” ujarnya. (Yoga)
Stagnan, Tawaran Gaji di Iklan Lowongan Pekerjaan
Tawaran gaji di iklan lowongan pekerjaan di JobStreet sepanjang 2023 stagnan. Mayoritas industri yang memasang iklan di platform ketenagakerjaan itu tidak mencantumkan perubahan penawaran nominal gaji dibandingkan 2022. Berdasarkan laporan riset ”Paduan Gaji 2023” yang dirilis oleh JobStreet by Seek (JobStreet) akhir September 2023, 95,7 % industri yang memasang iklan lowongan pekerjaan di platform JobStreet menunjukkan tidak ada perubahan tawaran rata-rata gaji yang signifikan pada tahun ini dibandingkan 2022. Sebanyak 1,3 % industri memasang tawaran kenaikan gaji dan 1,4 % industri menunjukkan penawaran nominal gaji yang turun.
JobStreet menggunakan data gaji dari iklan lowongan pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan di laman JobStreet Indonesia pada periode April 2022-Maret 2023. Tujuan laporan adalah menganalisis dan melihat tren gaji yang ditawarkan di pasar tenaga kerja. ”Beberapa waktu lalu sempat terjadi fenomena PHK yang besar-besaran karena sejumlah perusahaan mematok nominal gaji yang tinggi dan ini memberatkan operasional perusahaan. Kalau sekarang (2023), mayoritas industri memasang tawaran gaji yang stabil, artinya (mungkin) mereka menginginkan bisnis tumbuh berkelanjutan,” ujar Country Marketing Manager JobStreet by SEEK untuk Indonesia (JobStreet) Sawitri saat temu media, Rabu (18/10) di Jakarta. (Yoga)
Cuaca Panas Memicu Penurunan Produktivitas
Dampak meningkatnya suhu yang masih berlangsung hingga saat
ini tak hanya memicu penurunan tingkat produktivitas pekerja di luar ruangan.
Cuaca panas juga menurunkan produktivitas para karyawan yang bekerja di dalam
kantor dengan penyejuk ruangan. Meski bekerja di dalam ruangan dengan penyejuk
ruangan (AC), Raya Maulazahra (28), karyawan swasta di Jakpus, masih sering merasa
gerah dan mudah lelah saat bekerja. Dampak cuaca panas ini membuatnya kurang
bersemangat. Bahkan, pernah ia tidak mampu mengerjakan laporan tepat waktu sehingga
mendapat teguran dari atasan. ”Mata saya terasa panas dan mudah lelah, tetapi
harus menghadap komputer sepanjang waktu,” ujar Raya yang kerja di bagian
digital marketing, Senin (16/10). ”Bahkan, saya pernah tidak bisa tidur hingga
pagi hari karena gerah. Itu membuat saya mudah mengantuk saat bekerja, terlebih
saat jam siang. Hal itu mengganggu kinerja saya,” katanya.
Karyawan swasta di Jakarta Barat, Aisy Safiyah (25), juga kurang
fokus dalam bekerja akhir-akhir ini. Selain mudah lelah, ia juga gampang haus. Bekerja di dalam ruangan tak lantas membuat
Aisy terbebas dari panasnya cuaca di luar. Saat jam makan siang, ia terkadang
keluar membeli makan. Peralihan suhu dari ruangan ber-AC ke luar ruangan yang
panas membuat kulit Aisy menjadi lebih kering. Untuk meminimalkan tingkat
penurunan produktivitas karyawan, pihak kantornya menyiapkan sejumlah vitamin dan
selalu memastikan ketersediaan air putih. Para atasan juga rutin bertanya
kondisi kesehatan karyawan untuk mengetahui apakah mereka dalam keadaan fit
atau tidak. Hasil riset dari Universitas Exeter, Inggris, yang dipublikasikan
dalam jurnal Environmental and Resource Economics pada 30 Agustus 2023 menunjukkan,
meski kondisi suhu di dalam pabrik terkendali dengan adanya penyejuk ruangan,
produktivitas pekerja di dalamnya turun 0,83 % setiap peningkatan 1 derajat
celsius di luar ruangan. (Yoga)
Hilirisasi Tambang Harita Nickel Bisa jadi Acuan Perusahaan Lain
OJK Dorong Penguatan Tata Kelola Perusahaan
Puluhan Perusahaan Tambang di Sultra Menunggak Pajak
Potensi pendapatan daerah Sultra dari pajak sektor pertambangan
di tiga kabupaten diperkirakan mencapai triliunan rupiah. Ironisnya, perusahaan
tambang terus menunggak meski berulang kali ditagih. Berdasarkan evaluasi
sementara BPKP di tiga kabupaten, potensi pendapatan dari sektor pertambangan
mencapai Rp 1 triliun. Potensi itu dari beberapa sampel pajak yang belum
terealisasi sampai saat ini. ”Kami melakukan kajian terhadap tiga wilayah,
yaitu Kolaka, Konawe, dan Buton, potensi PAD sektor pertambangannya triliunan
rupiah. Kajian itu kami ambil dari tahun 2017 hingga saat ini,” kata Kepala Perwakilan
BPKP Sultra Panut seusai Rapat Koordinasi Optimalisasi Pajak Daerah Sektor
Pertambangan, di Kendari, Senin (25/9).
Kegiatan ini diinisiasi
oleh Tim Koordinasi dan Supervisi KPK. Potensi pajak itu berasal dari Pajak Air
Permukaan, Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan (LBMB), serta Bea Perolehan Hak
atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Perhitungan potensi ini juga hanya mengambil
beberapa sampel dari setiap wilayah. Di Kolaka, misalnya, Pajak Air Permukaan
dari sektor pertambangan mencapai Rp 193 miliar. Di Konawe, Pajak Barang dan
Jasa Tertentu (PBJT) atas Tenaga Listrik senilai Rp 246 miliar. Di Buton, BPHTB
untuk aspal Rp 630 miliar. Nilainya lebih dari Rp 1 triliun. (Yoga)
Maskapai Tersibuk di Asia Tenggara
Multivition Plus Teken Kerja Sama dengan B-Universe, Laba Naik 30%
JAKARTA,ID-PT Tripar Multivitasion Plus Tbk (RAAM) atau MVP menempuh langkah penting dan signifikan dengan membangun kemitraan bersama PT Bersatu Universe Digital Indonesia (B-Universe). Kemitraan ini diresmikan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pada rabu (20/9/2023) di Multivision Tower, Kuningan Jakarta Selatan. Kerja sama tersebut diyakini mampu meningkatkan performa distribusi konten-konten kreatif MVP, dan diharapkan berkontribusi pada peningkatan laba kotor MVP hingga 30% (yoy). "Kami optimistis target tersebut tercapai. Kerja sama dengan B-Universe ini jadi salah satu pin point-nya. Namun kedepan, begitu kami mulai dengan konten segar, berapa jam dalam sehari, kami akan produksi untuk isi program-programnya disitu. Dengan demikian, sinetron, ftv, dan film untuk stasiun tv akan loncat beberapa persen," kata Direktur Utama Tripar Multivision Plus Whora Anita Raaghunath di Jakarta, Rabu (20/9/2023). Founder B-Universe merupakan suatu perusahaan yang menyelenggarakan aktivitas penyiaran jaringan televisi swasta digital yang dikenal dengan nama BTV. Sekaligus mengelola lini usaha koran Investor daily, Majalah Investor, Investor.id, Beritasatu.com, dan jakarta Globe. (Yetede)
Perusahaan Raksasa Energi Fosil Pun Mulai Bertransisi
Didirikan sejak 1907, Shell dikenal sebagai perusahaan eksplorasi dan produksi minyak di daratan Eropa dan Asia, termasuk sebagian di Benua Amerika. Sejarah panjang bisnis energi fosil perusahaan yang berkantor pusat di London, Inggris, itu diwarnai keputusan untuk merambah sektor energi terbarukan mulai 2016. Shell, yang juga menjadi pendukung salah satu tim balapan Formula 1, mulai berinovasi dengan mengembangkan bahan bakar rendah karbon bermerek Shell V-Power E10 pada tahun 2022, yang mengandung 10 % etanol generasi kedua atau hampir dua kali lipat dari bahan bakar musim balap 2021 yang sebesar 5,75 %. Shell akan menyediakan 100 % bahan bakar ramah lingkungan pada 2026. Mereka mendapat pasokan bioetanol tetes tebu dari mitra di Brasil. Dengan 46.000 titik stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang tersebar di 85 negara, Shell juga mulai merambah stasiun pengisian energy listrik untuk kendaraan listrik berbasis baterai (EV station).
China adalah salah satu negara yang menjadi pangsa pasar besar bagi Shell, yakni terdapat 2.000 SPBU dan 800 EV station. Di Indonesia, baru ada empat EV station milik Shell. ”Ini merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan kami untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang terus berkembang di China. China adalah salah satu pasar terpenting bagi Shell,” kata Global Executive Vice President for Mobility Shell Istvan Kapitany, Sabtu (16/9) di Marina Bay Sands, Singapura, dalam bincang media, termasuk harian Kompas. Di Indonesia, pemanfaatan sumber energi terbarukan oleh Shell diterapkan pada proyek perluasan pabrik pelumas yang ada di Bekasi, Jabar, pada November 2022. Di pabrik yang menaikkan kapasitas produksi pelumas menjadi 300 juta liter per tahun itu, Shell mengoperasikan panel tenaga surya dan sistem pemanenan air hujan untuk mengurangi konsumsi air. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









