Perusahaan
( 1089 )Tingkat Partisipasi Kerja di Jakarta Naik
Adu Cepat Restrukturisasi Utang Wijaya Karya dan Waskita
Sanksi Rp 25 Miliar bagi Perusahaan Penyebab Karhutla Segera Dieksekusi
Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan segera mengeksekusi putusan peninjauan kembali
tersangka kasus kebakaran hutan dan lahan dari PT KU sebesar Rp 25 miliar. Ini
merupakan kasus gugatan yang dilayangkan KLHK atas kejadian kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) pada 2015 di lokasi konsesi PT KU di Jambi. Eksekusi ini
dilakukan setelah majelis hakim Mahkamah Agung (MA) menolak permohonan
peninjauan kembali (PK) dari PT KU pada 30 Oktober 2023. Majelis hakim kemudian
menghukum PT KU dengan denda Rp 25,5 miliar yang terdiri dari ganti rugi materiil
sebesar Rp 15,7 miliar dan tindakan pemulihan lingkungan senilai Rp 9,7 miliar.
Dirjen Penegakan Hukum
KLHK Rasio Ridho Sani menyampaikan, putusan PK ini telah menguatkan putusan
kasasi, putusan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dan putusan PN Jaksel yang telah
berpihak pada lingkungan hidup. Ketiga putusan pengadilan tersebut juga telah
inkrah atau berkekuatan hukum tetap. ”Komitmen KLHK untuk menghentikan karhutla
dan mengembalikan kerugian lingkungan hidup (negara) serta memulihkan
lingkungan hidup yang rusak akibat karhutla di areal perkebunan kelapa sawit milik
PT KU tidak berhenti,” tutur Rasio melalui keterangan tertulis, Kamis (2/11). Menurut
Rasio, penolakan permohonan PK oleh MA memberi pembelajaran kepada setiap
penanggung jawab usaha atau kegiatan untuk tidak melakukan pembakaran lahan.
Mereka juga tidak boleh membiarkan terjadinya kebakaran lahan di lokasi usaha atau
kegiatannya dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian. (Yoga)
Chandra Asri Cetak Pendapatan Rp 26,41 T
Perusahaan Pakai Robot karena Sulit Cari Karyawan
Pelaku usaha di sejumlah negara terus menggantikan manusia dengan robot. Sebagian pekerja mendukung peralihan itu. Sebab, semakin sulit mencari karyawan untuk jenis pekerjaan tertentu. Raksasa lokapasar global, Amazon, memamerkan robot pekerja pada Oktober 2023. Robot-robot itu menggantikan 27.000 orang yang diberhentikan Amazon beberapa bulan sebelumnya. Meski demikian, Kepala Teknologi Amazon Tye Brady menyatakan, tidak mungkin manusia akan sepenuhnya digantikan robot di Amazon. ”Tidak ada bagian dalam diri saya yang berpikir bahwa itu akan pernah menjadi kenyataan,” katanya. Sementara itu, pada Jumat (27/10) Reuters melaporkan keluhan Kamar Dagang dan Industri Jerman. Separuh perusahaan Jerman kesulitan mencari pekerja. Pada Juni 2023 saja, 1,7 juta lowongan kerja di Jerman tidak terisi.
Hal itu merugikan perekonomian Jerman hingga 100 miliar euro per tahun. Badan Ketenagakerjaan Jerman menyebut, pelibatan perempuan dan migran tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja Jerman. Pada 2035, Jerman akan kekurangan hingga 7 juta pekerja. Kekurangan terjadi karena orang-orang kelahiran sebelum 1970 terus pensiun. Sementara jumlah penduduk lebih muda semakin sedikit. Kesulitan lain, dialami produsen suku cadang mesin, S&D Blech, yang kesulitan mencari kepala unit penghalusan logam. Akibatnya, posisi itu terpaksa diisi robot. ”Menemukan kepala unit baru sulit, tidak hanya karena pengalaman yang dimilikinya, tetapi juga karena itu pekerjaan yang sangat berat dan tidak ada yang ingin melakukannya lagi,” kata Direktur Utama S&D Blech Henning Schloede. (Yoga)
Smelter Baru Freeport di JIIPE Gresik Siap Beroperasi Mei 2024
Praktik ”Hijau” Jadi Kebutuhan Dunia Usaha
Prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola atau ESG semakin menjadi keharusan serta melekat dalam perencanaan jangka panjang perusahaan. Akumulasi komitmen dan realisasi dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk perusahaan-perusahaan, juga bakal mendukung tercapainya target Indonesia Emas 2045. Hal itu mengemuka dalam CEO Insight bertema ”Menjawab Tantangan melalui Pengembangan Bisnis Keberlanjutan”, yang juga rangkaian Kompas100 CEO Forum Powered by PLN di Jakarta, Senin (23/10). Hadir sebagai pembicara kunci adalah Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/BKPM Nurul Ichwan.
Nurul mengatakan, gerakan bisnis global bertema hijau, biru, dan sirkular bukan hanya komitmen global, melainkan para pelaku usaha pun memiliki keinginan sama. Sebab, mereka pun memiliki kepentingan untuk mengurangi emisi karbon yang dihasilkan. Paling penting bagi Indonesia adalah pengurangan jejak karbon dari sisi energi. ”Sebab ternyata bukan hanya karena komunitas global melakukannya, melainkan market (pasar) juga menginginkan itu. Ada survei menyebutkan generasi awal hingga generasi Z sepakat membeli produk-produk yang kontribusi karbonnya lebih rendah, sekalipun harganya lebih mahal,” ujar Nurul.
Presdir PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, penerapan ESG oleh PT Freeport Indonesia (PTFI) bukan dianggap sebagai keharusan, melainkan menjadi keniscayaan dan kebutuhan, yang sudah melekat pada perencanaan bisnis jangka panjang perusahaan. Ia menambahkan, anggaran lingkungan dan sosial sudah masuk perencanaan bisnis PTFI. ”Tahun lalu (2022), biaya sosial kami Rp 2 triliun dan biaya lingkungan Rp 2,5 triliun. Ini bukan pengeluaran ekstra karena secara mendasar masuk bujet dan kami akan lakukan itu sampai dengan 2041 sesuai perencanaan jangka panjang kami,” ujarnya. (Yoga)
Stagnan, Tawaran Gaji di Iklan Lowongan Pekerjaan
Tawaran gaji di iklan lowongan pekerjaan di JobStreet sepanjang 2023 stagnan. Mayoritas industri yang memasang iklan di platform ketenagakerjaan itu tidak mencantumkan perubahan penawaran nominal gaji dibandingkan 2022. Berdasarkan laporan riset ”Paduan Gaji 2023” yang dirilis oleh JobStreet by Seek (JobStreet) akhir September 2023, 95,7 % industri yang memasang iklan lowongan pekerjaan di platform JobStreet menunjukkan tidak ada perubahan tawaran rata-rata gaji yang signifikan pada tahun ini dibandingkan 2022. Sebanyak 1,3 % industri memasang tawaran kenaikan gaji dan 1,4 % industri menunjukkan penawaran nominal gaji yang turun.
JobStreet menggunakan data gaji dari iklan lowongan pekerjaan yang dipasang oleh perusahaan di laman JobStreet Indonesia pada periode April 2022-Maret 2023. Tujuan laporan adalah menganalisis dan melihat tren gaji yang ditawarkan di pasar tenaga kerja. ”Beberapa waktu lalu sempat terjadi fenomena PHK yang besar-besaran karena sejumlah perusahaan mematok nominal gaji yang tinggi dan ini memberatkan operasional perusahaan. Kalau sekarang (2023), mayoritas industri memasang tawaran gaji yang stabil, artinya (mungkin) mereka menginginkan bisnis tumbuh berkelanjutan,” ujar Country Marketing Manager JobStreet by SEEK untuk Indonesia (JobStreet) Sawitri saat temu media, Rabu (18/10) di Jakarta. (Yoga)
Cuaca Panas Memicu Penurunan Produktivitas
Dampak meningkatnya suhu yang masih berlangsung hingga saat
ini tak hanya memicu penurunan tingkat produktivitas pekerja di luar ruangan.
Cuaca panas juga menurunkan produktivitas para karyawan yang bekerja di dalam
kantor dengan penyejuk ruangan. Meski bekerja di dalam ruangan dengan penyejuk
ruangan (AC), Raya Maulazahra (28), karyawan swasta di Jakpus, masih sering merasa
gerah dan mudah lelah saat bekerja. Dampak cuaca panas ini membuatnya kurang
bersemangat. Bahkan, pernah ia tidak mampu mengerjakan laporan tepat waktu sehingga
mendapat teguran dari atasan. ”Mata saya terasa panas dan mudah lelah, tetapi
harus menghadap komputer sepanjang waktu,” ujar Raya yang kerja di bagian
digital marketing, Senin (16/10). ”Bahkan, saya pernah tidak bisa tidur hingga
pagi hari karena gerah. Itu membuat saya mudah mengantuk saat bekerja, terlebih
saat jam siang. Hal itu mengganggu kinerja saya,” katanya.
Karyawan swasta di Jakarta Barat, Aisy Safiyah (25), juga kurang
fokus dalam bekerja akhir-akhir ini. Selain mudah lelah, ia juga gampang haus. Bekerja di dalam ruangan tak lantas membuat
Aisy terbebas dari panasnya cuaca di luar. Saat jam makan siang, ia terkadang
keluar membeli makan. Peralihan suhu dari ruangan ber-AC ke luar ruangan yang
panas membuat kulit Aisy menjadi lebih kering. Untuk meminimalkan tingkat
penurunan produktivitas karyawan, pihak kantornya menyiapkan sejumlah vitamin dan
selalu memastikan ketersediaan air putih. Para atasan juga rutin bertanya
kondisi kesehatan karyawan untuk mengetahui apakah mereka dalam keadaan fit
atau tidak. Hasil riset dari Universitas Exeter, Inggris, yang dipublikasikan
dalam jurnal Environmental and Resource Economics pada 30 Agustus 2023 menunjukkan,
meski kondisi suhu di dalam pabrik terkendali dengan adanya penyejuk ruangan,
produktivitas pekerja di dalamnya turun 0,83 % setiap peningkatan 1 derajat
celsius di luar ruangan. (Yoga)
Hilirisasi Tambang Harita Nickel Bisa jadi Acuan Perusahaan Lain
Pilihan Editor
-
Perekonomian di Kota Penyangga Kembali Bergeliat
14 Jun 2020 -
Perhotelan Siapkan Standar Operasi Baru
14 Jun 2020 -
Kemenkeu akan Terbitkan Surat Utang Diaspora
07 Jun 2020 -
China Berkomitmen Bantu RI Hadapi Covid
07 Jun 2020 -
Inilah Konsekuensi Akibat Batal Berangakat Haji
07 Jun 2020









