Perusahaan
( 1080 )ESG untuk Bisnis Berkelanjutan
Usaha BUMN Karya Kurangi Beban Utang
Sejumlah emiten saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Karya tengah berupaya memperbaiki kinerja keuangan. Caranya, lewat restrukturisasi utang untuk melancarkan arus kas. Teranyar, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) baru menggelar empat rapat umum pemegang obligasi (RUPO) pada 21-22 Februari 2024.
Hasil RUPO itu menyetujui perpanjangan tanggal jatuh tempo dan besaran bunga utang, serta mekanisme pembayaran bunga untuk tiga obligasi yang diterbitkan WSKT. Yaitu, Obligasi Berkelanjutan III Tahap III Tahun 2018, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap I Tahun 2020, dan Obligasi Berkelanjutan III Tahap II Tahun 2018.
Sementara, peserta RUPO Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 tidak menyetujui usulan WSKT. Maka WSKT berencana menggelar kembali RUPO untuk Obligasi PUB III Tahap IV Tahun 2019 pada 22 Maret 2024.
Waskita menargetkan restrukturisasi utang akan efektif pada akhir kuartal I 2024 ini. Manajemen WSKT pun berupaya merealisasikan master restructuring agreement (MRA) dengan 21 kreditur. Namun, skemanya belum diketahui.
"Diterimanya usulan restrukturisasi dalam RUPO diharapkan bisa membuat WSKT melakukan
settlement
atas suspensi saham perseroan," ujar Wiwi Suprihatno, Direktur Keuangan WSKT kepada KONTAN, Senin (26/2).
Selain WSKT, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) dan 11 lembaga keuangan juga sudah menyepakati MRA dengan nilai outstanding Rp 20,58 triliun. Nilai ini setara 87,1% dari jumlah utang yang direstrukturisasi per 23 Januari 2024.
"Kami konsisten membayar kupon obligasi dan sukuk yang sudah jatuh tempo," kata Mahendra Vijaya, Sekretaris Perusahaan WIKA kepada KONTAN, Senin (26/2).
Sementara PT PP Tbk (PTPP) memilih mendivestasikan aset. Sekretaris Perusahaan PTPP Bakhtiyar Efendi menyatakan, PTPP berupaya menurunkan utang melalui divestasi aset senilai Rp 3 triliun di tahun ini. Divestasi dilakukan terhadap aset properti, pabrik precast, peralatan dan saham sejumlah cucu usaha.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia Budi Frensidy melihat, masih susah memprediksi apakah langkah restrukturisasi BUMN karya, khususnya WSKT, bisa memperbaiki kinerjanya. Sebab sulit mengukur kekuatan dan kemampuan WSKT dalam membayar utangnya tersebut.
Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menilai, kemampuan keuangan masing-masing emiten BUMN Karya dalam membayar utangnya berbeda-beda. Ia melihat, rasio utang ADHI lebih kecil dari WIKA. Rasio utang WIKA pun lebih kecil dari WSKT.
PR Mengatasi Pengangguran
Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka nasional menunjukkan
beratnya pekerjaan rumah dan tantangan kita dalam mengatasi problem
pengangguran. Menurut BPS, jumlah angkatan kerja nasional kita per Agustus 2023
sebanyak 147,71 juta orang, meningkat 3,99 juta dibandingkan Agustus 2022
(Kompas, 23/2). Sementara angka tingkat pengangguran terbuka 5,32 %, turun 0,54
% dibandingkan Agustus 2022. Meski tingkat pengangguran terbuka dua tahun
terakhir terus menurun, angkanya masih sangat besar, yakni 7,8 juta orang. Tingkat
pengangguran terbuka (TPT) 5,32 % saat ini juga masih jauh di atas target Rencana
Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024, yakni 3,6-4,3 %. Pemerintah
menargetkan TPT turun menjadi 4,74 % per Agustus 2024 dan 4,26 % per Agustus
2025.
Tingginya TPT menunjukkan penciptaan lapangan kerja tak bisa
mengimbangi laju pertumbuhan angkatan kerja (AK). Sulitnya menekan pengangguran
juga terkait problem pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Percepatan penurunan tingkat pengangguran hanya bisa dicapai melalui akselerasi
pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Dalam hal ini, selain meningkatkan kualitas AK
(melalui pendidikan dan pelatihan), mendorong sektor-sektor ekonomi dengan efek
pengganda besar juga penting untuk perluasan lapangan kerja, khususnya di
sektor formal. Penciptaan lapangan kerja merupakan isu krusial karena penduduk
usia kerja menyumbang 69,3 % populasi. Ini kekuatan penting bonus demografi
untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ironisnya, AK kita didominasi pekerja tak
terampil, dengan pendidikan SD ke bawah 39,76 %, SMP 18,24 %, SMA 19,18 %.
Kondisi ini menyebabkan mereka tak siap masuk pasar kerja
dengan upah layak sehingga sebagian besar terserap di sektor informal (59,11 %).
Tantangan yang kita hadapi dalam penciptaan lapangan kerja antara lain terus menurunnya
kemampuan perekonomian dalam menciptakan lapangan kerja baru karena investasi yang
ada lebih banyak padat modal. Problem lain, ada mismatch antara lulusan dan kebutuhan
industri. Upaya menjembatani melalui sekolah kejuruan dan vokasi guna mencetak lulusan
siap kerja justru ikut menyumbang angka pengangguran karena kompetensi lulusan
belum sesuai harapan. Bagaimana kita mampu membaca dan beradaptasi dengan kebutuhan
dan tuntutan baru ini akan menjadi kunci dalam menjawab pekerjaan rumah
mengatasi pengangguran. (Yoga)
Pola Rekrutan Tenaga Kerja Sektor Formal Bergeser
Model perekrutan tenaga kerja untuk pekerjaan formal mengalami pergeseran dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan semakin diandalkannya faktor jejaring dan sistem perekrutan hibrida. Pada saat bersamaan, perusahaan juga cenderung mencari tenaga kerja yang sudah memiliki paket keterampilan siap pakai. Sekjen Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI) Timboel Siregar saat dihubungi, Jumat (23/2) di Jakarta, berpendapat, tak semua perusahaan mau menyediakan program pelatihan kerja bagi karyawan baru. Perusahaan saat ini dituntut cepat beradaptasi dengan perubahan teknologi dan ketidakpastian kondisi perekonomian global.
”Perekrutan kandidat baru menggunakan faktor jejaring menitik beratkan pemberi rekomendasi harus bisa memastikan kandidat punya paket keterampilan siap kerja. Pemberi rekomendasi pasti mempertaruhkan kariernya,” ujar Timboel. Kendati pemerintah mewajibkan perusahaan-perusahaan melaporkan perkembangan ketenagakerjaannya, kenyataannya kebijakan ini tak berjalan optimal. Alasan pertama, adanya kecenderungan perusahaan mengandalkan perekrutan berbasis jejaring profesional ataupun agen. Alasan kedua, sistem basis data pasar ketenagakerjaan di Indonesia belum berkembang secara ideal. ”Situasinya berbeda dengan negara lain, di mana sistem informasi pasar kerja untuk lowongan pekerjaan sector formal selalu ter-update setiap minggu,” ucap Timboel. (Yoga)
Kerja Keras agar Mendapat Pekerjaan
Tingkat pengangguran terbuka pada Agustus 2023 mencapai 5,32
% atau 7,8 juta orang, turun 0,54 % dibanding pada Agustus 2022. Meski begitu,
angka itu tergolong besar. Sekalipun informasi bertebaran di dunia maya tentang
lowongan pekerjaan, nyatanya para pecari kerja tetap harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan pekerjaan. Masih ada jutaan
orang yang berjibaku melamar pekerjaan. Mereka harap-harap cemas untuk segera memperoleh
pekerjaan. Pukul 10.31. Pagu Ginting (24) setengah berlari menuju barisan
paling belakang antrean di Mega Career Expo, Smesco Exhibition Hall, Jakarta,
Kamis (22/2). Kedua tangannya cekatan mengeluarkan berkas lamaran kerja dan CV
(riwayat hidup) yang jumlahnya belasan. Satu per satu dimasukkannya ke amplop
berwarna coklat yang jumlahnya sama. ”Sudah setahun (cari kerja). Semoga
keterima,” ujar Pagu sembari menyeka peluh di keningnya.
Setahun yang lalu, Pagu meninggalkan Sumut dengan harapan
berdikari di Jakarta. ”Ternyata (itu) susah. (Saya) sudah memasukkan lamaran (kerja)
lewat Jobstreet, Linkedin, ikut job fair di TMII, enggak ada panggilan sama
sekali,” kata Pagu. Ratusan pencari kerja berdatangan sejak pagi ke Mega Career
Expo, di Smesco Exhibition Hall, yang berlangsung dua hari, yakni 21 dan 22
Februari 2024, dimana Setidaknya ada 40 perusahaan nasional dan multinasional dengan
ketersediaan lebih dari 200 lowongan kerja. Diantara pencari kerja, ada lulusan
SMA dan sederajat, sarjana, lulusan baru, hingga lulusan yang sudah lama
mencari kerja. Mereka mengantre dalam dua baris sambil menyiapkan berkas dan
amplop dengan satu harapan, segera mendapatkan pekerjaan.
Lena (29) celingak-celinguk sambil mengantre. Sebelumnya, dia
pernah mengikuti bursa kerja di Mangga Dua Square, Jakut, Oktober 2023, tetapi
apa daya belum ada panggilan kerja. ”Terakhir kerja tahun 2022. Selama ini
sudah cari sana-sini, cuma belum ada yang kecantol,” ucap Lena. Di kala banyak
pelamar menunggu panggilan, pertimbangan bagian SDM di perusahaan terhadap
calon pekerja ternyata cukup selektif. Mereka terutama mengharapkan kandidat
yang mempunyai keterampilan lunak (soft skill). Kebanyakan kandidat seperti ini
ditemukan dari rekomendasi sejawat ketimbang bursa kerja. (Yoga)
PT DI Perluas N129 di Singapore Airlines
Pilu Nasib Buruh di Hilirisasi Morowali
Puluhan ribu buruh industri hilirisasi nikel di Morowali
bertarung dengan mimpi setiap hari. Mereka memenuhi kamar sumpek di atas laut,
jalanan penuh sampah, hingga debu yang tiada habisnya. Kecelakaan kerja yang
mengancam nyawa membayangi tak kenal waktu. Di tengah rinai hujan yang
mengguyur Bahodopi, Morowali, Sulteng, Amin (40) beranjak pulang. Ia satu dari
puluhan ribu karyawan hilirisasi nikel di kawasan Indonesia Morowali Industrial
Park (IMIP) yang pada Rabu (7/2) sore itu telah selesai kerja. Sebagian lainnya
masih lembur atau baru masuk. Kamar kosnya berukuran sekitar 4x7meter dengan
satu sekat ruangan serupa ruang tamu dan satu kamar tidur dengan sewa Rp
700.000 per bulan. Ia menetap di tempat ini sejak dua tahun lalu setiba dari
Palopo, Sulsel, untuk mengadu nasib di Morowali. Industri pemurnian dan
pengolahan nikel PT IMIP menjadi tujuan utamanya. Bertani di kampung dianggapnya
tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.
Sebelum berangkat, Amin kursus dan membuat SIM B2 untuk alat
berat. Ia menghabiskan modal sekitar Rp 10 juta. Amin langsung diterima sebagai
operator yunior dengan gaji pokok Rp 2,9 juta. Ditambah uang perumahan, bonus
produksi, tunjangan, dan lembur, ia mendapatkan Rp 6 juta. Tak lama, ia jadi
operator permanen dengan upah Rp 7,9 juta. Upah itu jauh dari harapan Amin,
sebesar Rp 10 juta. Irsan (27), buruh lainnya, punya pengalaman pahit saat bekerja.
Pada 2021, ia terkena pelat baja di perut saat bekerja di mesin pengemasan.
Pemuda asal Sulsel ini mendapatkan 18 belas jahitan akibat kejadian itu. ”Saya
harus istirahat sebulan. Yang lebih heran, saya kena surat peringatan (SP) 1.
Di dalam (perusahaan) begitu, yang korban dan yang terlibat kena sanksi semua,”
tuturnya.
Kawasan IMIP adalah daerah hilirisasi nikel dengan tenaga kerja
mencapai 80.000 orang. Perusahaan yang mengelola 6.000 hektar lahan ini
mengolah bahan baku nikel menjadi tiga kluster besar, yaitu baja nirkarat, baja
karbon, dan komponen baterai. Investasi di kawasan ini mencapai 21 miliar USD
pada 2022. Hasil ekspor triliunan yang sebagian besar dikirim ke China itu
menjadi bagian nilai tambah nikel yang rutin disampaikan pemerintah. Akan
tetapi, kecelakaan kerja memang menjadi momok di kawasan ini. Dalam penelitian
Trend Asia, sepanjang 2015-2022, kecelakaan kerja telah memakan 53 korban jiwa dan
76 korban luka di 15 lokasi smelter nikel di Sulawesi dan Maluku. Di IMIP saja
telah terjadi 18 insiden kecelakaan yang memakan 15 korban jiwa dan 41 korban
luka. Direktur Program Trend Asia Ahmad Ashof Birry mengatakan, nasib buruh di
program hilirisasi nikel pemerintah sangat miris. Mereka terancam dalam
keselamatan kerja, upah, dan kecelakaan berulang. Situasi ini, ia melanjutkan, terjadi
akibat struktur kerja sama yang cenderung potong ongkos sana-sini. (Yoga)
Kekuatan Serikat Pekerja
Sejarah panjang telah membuktikan, buruh menjadi elemen
penting dalam memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan, sebelum kemerdekaan, di
kalangan serikat buruh sudah muncul keyakinan kuat bahwa Indonesia harus
meninggalkan perekonomian ekstraktif dengan upah buruh murah plus rendah
keterampilan menuju masyarakat industri dengan peningkatan kualitas SDM. Dalam
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045, Indonesia
ditargetkan memiliki pendapatan per kapita setara negara maju, sekitar 30.300 USD
pada 2045. Untuk masuk ke dalam golongan negara berpendapatan tinggi, Bank
Dunia mematok gross national income (GNI) per kapita Indonesia harus di atas
13.205 USD, atau PDB per kapita 14.000 dollar AS. Gaji minimal pekerja di Tanah
Air harus setara Rp 10 juta per bulan. Padahal, rata-rata UMP buruh tahun 2023
baru Rp 2,96 juta per bulan.
Dengan formulasi penghitungan kenaikan UMP tahun 2023 dan
tren kenaikan upah sejak 1997, simulasi yang dilakukan Litbang Kompas menunjukkan
pada 2045 rata-rata UMP buruh baru mencapai Rp 6 jutaan. Untuk itulah, peran
serikat pekerja menjadi penting dalam hubungan industrial. Liputan Kompas
terkait kesejahteraan buruh pekan lalu menemukan banyak serikat pekerja
perusahaan yang memiliki kekuatan dan menjadi pilar yang sangat penting pada
hidup perusahaan. Mereka terus melakukan penguatan dan pendampingan kepada
anggotanya, meningkatkan produktivitas anggotanya, memberikan solusi masalah
anggotanya, bahkan mengurus kebutuhan keseharian anggotanya, mulai dari problem
keluarga hingga urusan kematian. Serikat juga menjadi penjaga utama budaya
perusahaan berbasis pada nilai-nilai yang dianut para pendirinya.
”Direktur bisa datang dan pergi, kamilah yang bekerja dan mengawal
perusahaan terus-menerus. Maka, kalau ada manajemen yang langkahnya tidak
sesuai dengan kultur perusahaan, kami bisa memecatnya,” ujar Presiden Federasi
Serikat Pekerja Panasonic Gobel (FSPPG) Djoko Wahyudi, yang berkali-kali
memecat direktur SDM perusahaan. Karena mampu membangun kapasitas anggotanya, serikat
pekerja sangat dipandang dan dihargai oleh manajemen. Serikat menjadi mitra setara
dalam bahu-membahu membangun perusahaan. Pendanaan mereka setiap bulan diambil
dari potongan 1 % gaji anggotanya. Salah satu yang berhasil mereka lakukan
adalah tetap berproduksi di masa pandemi Covid-19, dengan menetapkan standar
yang sangat ketat pada proses produksi di saat perusahaan yang lain tutup. (Yoga)
Magang Kerja, Bikin Traumatis atau Optimistis?
Program magang kerja bisa memberi hasil yang berbeda bagi
peserta yang menjalaninya. Ada yang merasa mendapat tambahan pengetahuan dan
keterampilan. Ada pula yang malah trauma dan akhirnya memutuskan tidak akan menggeluti
bidang di mana ia magang. Aisha Ferkin (22) mahasiswa Antropologi Sosial UI,
yang magang di sebuah organisasi LSM terkaget-kaget saat mendapat tugas turun
ke lapangan untuk mencari data dalam waktu singkat. Akibatnya, ia harus
uber-uberan dengan waktu dan terpaksa mengorbankan waktu libur demi lembur menyelesaikan
tugas. ”Selama kuliah, aku menangkap kalau antrop (antropologi) berkaitan
dengan turun langsung ke masyarakat adat, tinggal bersama mereka, dan
mempelajari kehidupan mereka,” ujarnya pada Rabu (31/1) di Kampus UI, Depok, Jabar.
Awalnya ia mengira, ketika turun lapangan selama magang lima bulan di LSM yang
berfokus pada advokasi masyarakat adat, ia akan punya cukup waktu untuk tinggal
dan mempelajari kelompok masyarakat adat yang jadi sasaran pendataan. Ternyata
ia salah.
Proses pengumpulan data lapangan hanya satu-dua minggu
sehingga tak cukup waktu untuk mengenal kelompok adat lain. Ia kalang kabut
ketika harus mencari data masyarakat adat di Kalimantan. Keterbatasan waktu
membuat pengerjaan tugas kerap tak mulus walau ada teman magang lain dalam satu
kelompok. Mendata masyarakat adat tidak bisa dilakukan secara cepat, mengingat
perlu pendekatan pada sasaran. Waktu luang warga juga tak menentu, tergantung kesibukan
mereka. Selain itu, tak semua warga mau berkompromi. ”Kami harus siap
mengalokasikan waktu libur untuk turlap (turun lapangan). Ketika turlap pun diwarnai
berbagai dinamika. Misalnya, ada kelompok masyarakat menolak advokasi yang kami
lakukan dan memberi data yang kami butuhkan dalam waktu singkat,” ungkap Aisha.
Pengalaman itu membuatnya trauma dan ragu menekuni karier di LSM.
Fatma Bandar (21) justru mendapat pengalaman magang yang
menyenangkan dan mendapat tambahan pengetahuan dan ilmu baru sesuai jurusan
kuliah. Fatma, yang baru lulus dari Ilmu Komunikasi peminatan periklanan UI,
merasakan hal tersebut ketika magang di posisi marketing communication. Praktik
kerja dia lakukan di sebuah industri pendidikan psikologi di Jaksel. ”Pekerjaan
aku copywriting, riset konten, riset audiens, dan desain. Tren selalu
berkembang. Jadi, pengalaman yang aku sukai adalah gimana aku tetap beradaptasi
dengan tren, menganalisis perilaku konsumen yang dinamis, dan lainnya,”
tuturnya, di Depok, Sabtu (27/1). Posisi saat magang memang sejalan dengan
jurusan, tetapi Fatma menyadari bahwa tetap ada Ilmu-ilmu yang baru ia dapat
saat magang. Salah satunya, belajar menyajikan data dan kreativitas dalam
konten dapat hadir secara bersamaan. Berkat magang selama empat bulan, ia
optimistis akan berkarier di bidang periklanan. Apalagi, ia sudah tertarik pada
industri kreatif dan riset sejak SMA. (Yoga)
Jangan Sekadar Bicara Upah Buruh
Sebanyak 43 % responden dari jajak pendapat Kompas pada pertengahan
Januari 2024 menyatakan, buruh kini belum hidup layak, bahkan memburuk, disebabkan
sistem pengupahan yang kurang berpihak kepada buruh. Meski UU Cipta Kerja
disusun dengan dalih untuk upaya penciptaan kerja, formula penghitungan upah
minimum dalam undang-undang itu dinilai tidak berpihak kepada buruh. Argumentasi
kerap diungkapkan baik oleh buruh maupun pengusaha terkait formula pengupahan
itu, hasilnya kehidupan buruh faktanya tidak kian membaik. Ketimpangan pun kian
terlihat.
Harian Kompas pada awal minggu ini melaporkan, pada kabupaten
tujuan investasi di Sulawesi, kesejahteraan buruh tidak lebih baik. Dengan upah
yang diterimanya, tidak mudah bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, apalagi
untuk menabung bagi kehidupan di hari tua. Demi meningkatkan kehidupan buruh,
semua pihak idealnya dapat kembali duduk bersama. Dengan kepala dingin, ada baiknya
didiskusikan formula penghitungan upah minimum. Yang tidak kalah pentingnya
adalah buruh dan serikat buruh jangan hanya sekadar bicara upah. Idealnya, ada pendelegasian
peran pada perwakilan buruh atau serikat buruh untuk memikirkan masa depan
buruh, untuk memastikan tetap ada pekerjaan bagi buruh dalam dunia yang berubah
begitu cepat.
Di sisi lain, pemerintah harus memastikan agar angka investasi
jangan sekadar angka. Peningkatan investasi idealnya berbanding lurus dengan
hadirnya kesempatan kerja. Di Cikarang, Jabar, Kompas menjumpai pabrik besar dengan
pekerja yang sangat minim karena mekanisasi. Disrupsi teknologi kini semakin
mewarnai kehidupan. Kehadiran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)
berdampak positif untuk mengefisienkan kerja manusia, tetapi sebaliknya dapat
menyingkirkan pekerja dengan keterampilan dan produktivitas yang rendah. Jika
perdebatan terkait urusan buruh hanya terfokuskan pada pengupahan, ada potensi
justru pekerjaan itu sendiri yang menghilang dalam jangka menengah atau
panjang. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Bantuan Donatur Diduga Disalahgunakan
18 Feb 2021 -
Cerutu Jatim Kian Diminati Pasar Luar Negeri
17 Feb 2021 -
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
16 Feb 2021









