;

Pilu Nasib Buruh di Hilirisasi Morowali

Ekonomi Yoga 14 Feb 2024 Kompas
Pilu Nasib Buruh di
Hilirisasi Morowali

Puluhan ribu buruh industri hilirisasi nikel di Morowali bertarung dengan mimpi setiap hari. Mereka memenuhi kamar sumpek di atas laut, jalanan penuh sampah, hingga debu yang tiada habisnya. Kecelakaan kerja yang mengancam nyawa membayangi tak kenal waktu. Di tengah rinai hujan yang mengguyur Bahodopi, Morowali, Sulteng, Amin (40) beranjak pulang. Ia satu dari puluhan ribu karyawan hilirisasi nikel di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang pada Rabu (7/2) sore itu telah selesai kerja. Sebagian lainnya masih lembur atau baru masuk. Kamar kosnya berukuran sekitar 4x7meter dengan satu sekat ruangan serupa ruang tamu dan satu kamar tidur dengan sewa Rp 700.000 per bulan. Ia menetap di tempat ini sejak dua tahun lalu setiba dari Palopo, Sulsel, untuk mengadu nasib di Morowali. Industri pemurnian dan pengolahan nikel PT IMIP menjadi tujuan utamanya. Bertani di kampung dianggapnya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan hidup sekeluarga.

Sebelum berangkat, Amin kursus dan membuat SIM B2 untuk alat berat. Ia menghabiskan modal sekitar Rp 10 juta. Amin langsung diterima sebagai operator yunior dengan gaji pokok Rp 2,9 juta. Ditambah uang perumahan, bonus produksi, tunjangan, dan lembur, ia mendapatkan Rp 6 juta. Tak lama, ia jadi operator permanen dengan upah Rp 7,9 juta. Upah itu jauh dari harapan Amin, sebesar Rp 10 juta. Irsan (27), buruh lainnya, punya pengalaman pahit saat bekerja. Pada 2021, ia terkena pelat baja di perut saat bekerja di mesin pengemasan. Pemuda asal Sulsel ini mendapatkan 18 belas jahitan akibat kejadian itu. ”Saya harus istirahat sebulan. Yang lebih heran, saya kena surat peringatan (SP) 1. Di dalam (perusahaan) begitu, yang korban dan yang terlibat kena sanksi semua,” tuturnya.

Kawasan IMIP adalah daerah hilirisasi nikel dengan tenaga kerja mencapai 80.000 orang. Perusahaan yang mengelola 6.000 hektar lahan ini mengolah bahan baku nikel menjadi tiga kluster besar, yaitu baja nirkarat, baja karbon, dan komponen baterai. Investasi di kawasan ini mencapai 21 miliar USD pada 2022. Hasil ekspor triliunan yang sebagian besar dikirim ke China itu menjadi bagian nilai tambah nikel yang rutin disampaikan pemerintah. Akan tetapi, kecelakaan kerja memang menjadi momok di kawasan ini. Dalam penelitian Trend Asia, sepanjang 2015-2022, kecelakaan kerja telah memakan 53 korban jiwa dan 76 korban luka di 15 lokasi smelter nikel di Sulawesi dan Maluku. Di IMIP saja telah terjadi 18 insiden kecelakaan yang memakan 15 korban jiwa dan 41 korban luka. Direktur Program Trend Asia Ahmad Ashof Birry mengatakan, nasib buruh di program hilirisasi nikel pemerintah sangat miris. Mereka terancam dalam keselamatan kerja, upah, dan kecelakaan berulang. Situasi ini, ia melanjutkan, terjadi akibat struktur kerja sama yang cenderung potong ongkos sana-sini. (Yoga) 

Download Aplikasi Labirin :