Perhotelan
( 78 )Investasi Hotel Mewah Terus Bertumbuh
Seiring kinerja sektor perhotelan yang semakin membaik, investasi hotel diproyeksikan terus meningkat. Hotel kelas mewah, yakni bintang 4 dan 5, kini mendominasi investasi baru sektor perhotelan. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Hariyadi Sukamdani mengemukakan, penambahan hotel bintang 4 dan 5 terus berlangsung. Sebagian besar investasi itu dilakukan oleh pengusaha lokal. Ia menambahkan, konsumen kini cenderung memilih hotel dengan fasilitas yang lengkap, layanan baik, dan kenyamanan. Hal itu umumnya disediakan hotel berbintang. Preferensi pasar itu turut mendorong investasi hotel bergeliat. ”Hotel bintang lebih banyak dipilih masyarakat karena preferensi konsumen sekarang seperti itu,” ujarnya, saat dihubungi, Kamis (19/10).
Laporan ”Jakarta Property Market Update Triwulan III-2023” yang dirilis konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) mencatat, volume investasi hotel di Indonesia diperkirakan mencapai 220 juta USD atau Rp 3,46 triliun (kurs Rp 15.731 per USD). Menurut Senior Vice President Investment Sales Hotels & Hospitality Group JLL Asia Pacific Julien Naouri, investasi perhotelan terus tumbuh seiring dengan fundamental sektor hotel yang kuat. Investasi senilai 220 juta USD tahun ini lebih tinggi ketimbang 2022 yang sekitar 174 juta USD. Ia menambahkan, investasi itu didominasi oleh investor asal Indonesia, yakni individu dengan kekayaan bersih tinggi (high net worth individual). Pada tahun 2024, nilai investasi hotel diprediksi lebih tinggi lagi, yakni mencapai 265 juta USD. Peningkatan investasi itu menyasar pada hotel kelas mewah. Investasi itu terutama menyasar Jakarta, Bali, dan destinasi wisata kunci. (Yoga)
Industri Perhotelan Didorong Lakukan Konservasi Energi
Pelaku usaha perhotelan didorong untuk mulai menerapkan
penghematan energi dan menurunkan emisi karbon. Pelaksanaan konservasi energi
tersebut akan diikuti skema insentif dan disinsentif bagi badan usaha. Penerapan
konservasi energi bagi subsektor akomodasi itu mengacu pada PP No 33 Tahun 2023
tentang Konservasi Energi, tanggal 16 Juni 2023, yang merupakan perubahan atas
PP No 70/2009 tentang Konservasi Energi. Koordinator Pengembangan Usaha
Konservasi Energi Kementerian ESDM Devi Laksmi mengemukakan, ketentuan
konservasi energi bertujuan melestarikan sumber daya energi dalam negeri dan pemanfaatan
energi yang lebih efisien. Penerapan konservasi energi melalui manajemen energi
berlaku untuk penyedia energi, pengguna sumber energi, dan pengguna energi, meliputi
badan usaha, pemerintah, ataupun rumah tangga.
PP No 33/2023 memperluas cakupan konservasi energi pada bangunan
gedung komersial, termasuk hotel, dan sektor transportasi. Konsumsi energi untuk
sektor bangunan gedung dibatasi 500 ton setara minyak (TOE) per tahun atau
setara penggunaan listrik 5,8 gigawatt per jam (GWh) per tahun. Sementara itu,
pemanfaatan energi untuk sektor transportasi dan sektor industri dibatasi 4.000
TOE per tahun. ”Mulai tahun depan, pelaporan (manajemen energi) dari sektor
hotel dan transportasi sudah masuk,” ujar Devi dalam Peluncuran Rencana Aksi
Mitigasi Pengurangan Emisi dari Subsektor Akomodasi, yang diselenggarakan
secara hibrida, oleh Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi, Selasa (3/10).
Saat ini sekitar 60 % penggunaan energi terbesar di bangunan gedung adalah
untuk tata udara, seperti AC, diikuti oleh tata cahaya. Hotel atau gedung
komersial yang mengonsumsi energi melebihi 500 TOE per tahun terkena kewajiban
melaksanakan konservasi energi melalui manajemen energi. Konservasi energi di
sektor hotel dan akomodasi mendukung sektor pariwisata rendah karbon. (Yoga)
Misi Menahan Wisatawan Tingga Lebih Lama
Aktivitas wisata bergeliat hebat belakangan ini di Kota Surakarta, Jateng. Ada tren penambahan kunjungan pelancong seiring meningkatnya jumlah atraksi wisata, baik berupa destinasi maupun pergelaran acara. Keseriusan pemda menggarap sektor itu tampak nyata. Hanya saja butuh waktu untuk menahan wisatawan tinggal lebih lama. Citra Meitika (23), wisatawan asal Wonogiri, semringah memandangi anak balitanya yang sedang memberi makan kura-kura, di Solo Safari, Surakarta, Sabtu (22/7). Solo Safari merupakan salah satu destinasi anyar unggulan milik Kota Bengawan. Kebetulan itu juga kali pertama berpelesir dengan keluarga kecilnya di destinasi tersebut. ”Jelas kagum. Sekarang bagus sekali, padahal dulu seperti tidak terawat. Sekarang jadi lebih bersih dan banyak kegiatannya seperti ini,” kata Citra. Perasaan Citra lebih gembira lagi karena kemunculan Solo Safari diiringi destinasi-destinasi baru lainnya. Itu menambah pilihannya untuk berekreasi. Apalagi, sehari-hari ia bekerja di Jakarta. Bahkan, ia rela menginap dua atau tiga hari untuk menjelajah segenap destinasi baru yang ada.
Respons wisatawan semacam Citra itu yang diinginkan Pemkot Surakarta, dilihat dari kegetolan Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka membangun infrastruktur pariwisata di kota ini. Sejak awal tahun, ada empat destinasi baru yang diresmikan, yakni Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, Pracima Tuin Pura Mangkunegaran, Solo Safari, dan Lokananta Bloc. Tren kunjungan wisatawan pun menanjak. Berdasar data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta, hingga Mei 2023, jumlah wisatawan yang berkunjung 1,916 juta orang, dan bisa melampaui angka kunjungan wisatawan pada 2022, yakni 2,53 juta orang. Sunardi dari Humas Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Surakarta mengatakan, ”Sekarang, di akhir pekan, okupansi hotel 75 % - 80 %. Hotel-hotel yang penuh merata dari bintang 1 sampai bintang 5.” Meski okupansi meningkat, tantangan yang dihadapinya masih sama. Lama masa tinggal wisatawan belum ada peningkatan signifikan, berkutat pada angka 1,6 hari atau 1,7 hari. Sunardi mengungkapkan, persoalan lama masa tinggal dapat diatasi lewat penambahan acara malam hari. Namun, hendaknya acara itu diadakan rutin, tidak sekali diadakan dan tidak ada kepastian pergelaran selanjutnya. Bisa juga ada penambahan destinasi wisata khusus malam hari. (Yoga)
Kinerja Stagnan Bisnis Perhotelan
Hebohnya animo masyarakat terhadap konser Coldplay dan sederet musikus global belum bisa memulihkan bisnis perhotelan di sekitar Jakarta. Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta, Sutrisno Iwantono, mengatakan tingkat keterisian rata-rata kamar hotel di ibu kota negara masih sebesar 50-60 persen. Selama dua tahun terakhir, level okupansi itu pun hanya meningkat sedikit pada momentum libur panjang, seperti Lebaran dan tahun baru. “Konser besar yang keramaiannya hanya beberapa hari tidak berpengaruh banyak,” katanya kepada Tempo, kemarin. Hingga pertengahan 2023, Sutrisno menyebutkan ada lebih dari 900 pengelola hotel di DKI yang terdata oleh PHRI. Meski tak mengingat total kapasitas kamar yang tersedia secara persis, dia memastikan jumlah itu sudah mewakili layanan hotel di segala kelas, termasuk hotel nonbintang. Menurut dia, okupansi 50 persen cenderung dipertahankan hotel berklasifikasi bintang 3 hingga 5. Adapun sarana akomodasi yang lebih kecil akan sepi di luar masa padat atau peak season. “Secara umum, hotel di DKI lebih ramai dari tahun lalu, tapi tetap saja masih 80 persen dari kondisi 2019,” ucap Sutrisno. “Kita sulit menyamai pra-pandemi karena daya beli belum pulih.”
Kalaupun didatangi pengunjung dari luar Jakarta, konser Coldplay hanya mengetatkan persaingan harga dan paket layanan hotel di sekitar kompleks Gelora Bung Karno (GBK), lokasi agenda tersebut. Sutrisno mengatakan mayoritas penonton konser musikus asing pun biasanya mencari hotel berbintang, meski yang murah sekalipun. “Berarti hotel melati atau yang lebih sederhana tetap suffer dan tak kebagian pasar.” Sekjen PHRI, Maulana Yusran, menyarankan para pelaku bisnis hotel di Jakarta agar lebih aktif melobi promotor jika mengincar konsumen dari segmen penonton konser. Penjualan tiket, menurut dia, bisa digabung dengan paket akomodasi ataupun angkutan pengumpang dari hotel yang dekat dengan area konser. “Para agen pun bisa lebih kreatif menawarkan paket yang menarik agar masa tinggal konsumen lebih panjang,” kata Maulana. Namun potensi ini hanya datang dari penonton dari luar kota. Tak hanya di Jakarta, para agen juga kesulitan menjual paket akomodasi untuk konser Coldplay di Singapura. Band asal Inggris itu bakal tampil hingga enam malam di Negeri Singa pada 23-27 Januari 2024. Dengan tingginya antusiasme penonton, terutama setelah tiketnya habis terjual pada 20 Juni 2023, Anton menyebutkan para agen wisata asal Indonesia mulai berebut pasar dengan agen dari negara tetangga. "Untuk hotel, kita punya saingan berat di beberapa lokasi, misalnya dari Johor Bahru (Malaysia) yang harga kamarnya lumayan murah." (Yetede)
Okupansi Hotel Makin Pulih
Tingkat penghunian kamar hotel berangsur-angsur pulih setelah terpuruk akibat pandemi Covid-19. Namun, tren pemulihan tersebut dinilai belum mampu menutup kerugian yang dialami para pelaku industri perhotelan seiring pembatasan perjalanan dan pergerakan masyarakat akibat pandemi. Sesuai data BPS, tingkat penghunian kamar (TPK) di hotel berbintang pada Februari 2019 tercatat 52,44 %, lalu turun menjadi 49,22 % pada Februari 2020. TPK kembali turun menjadi 32,4 % pada Februari 2021. Pada Februari 2022, TPK merangkak naik menjadi 38,54 %. Pada Februari 2023, TPK di hotel bintang naik lagi, mencapai 47,83 %, tumbuh 9,29 % dibandingkan tahun sebelumnya dan naik 2,97 % dibandingkan Januari 2023. Namun, rata-rata lama tamu menginap di hotel berbintang belum berubah dibandingkan tahun lalu, yaitu 1,63 hari.
SementaraTPK di hotel nonbintang padaFebruari 2023 tercatat 22,67 %, naik 1,26 % dibandingkan tahun lalu. TPK hotel nonbintang pada Februari 2023 meningkat 0,53 % dibandingkan bulan sebelumnya. ”Jika ditelaah, hanya hotel di dua pulau yang okupansinya benar-benar sudah pulih seperti sebelumnya, yaitu Jawa dan Kalimantan. Daerah lain belum. Pendapatan industri perhotelan secara nasional belum bisa dikatakan pulih seutuhnya,” kata Sekrjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran saat dihubungi di Jakarta, Jumat (21/4). Menurut dia, belum pulihnya pendapatan industri perhotelan tecermin dari restrukturisasi kredit yang diperpanjang oleh pemerintah, dimana seharusnya berakhir pada 31 Maret 2023. (Yoga)
Okupansi Hotel Jelang Lebaran Sentuh 60%
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Cianjur, Jabar, mencatat tingkat hunian dan pemesanan hotel mencapai 60% dan diperkirakan terus meningkat dua hari menjelang lebaran 2023. Ketua PHRI Cianjur, Nano Indrapraja di Cianjur, Senin (17/4) mengatakan, pesanan hotel mulai meningkat sejak beberapa hari terakhir dan diharapkan terus meningkat hingga beberapa hari setelah lebaran. Saat ini sudah lebih dari 1.230 kamar terpesan untuk dua hari sebelum lebaran.“Hingga H-6 tingkat pemesanan sudah lebih dari 60 persen dan tingkat hunian masih cukup tinggi sejak awal puasa hingga pekan terakhir puasa. Harapan kami tingkat hunian terus meningkat sampai 100 % dari puluhan ribu kamar hotel yang ada,” katanya.
Nano menjelaskan, setiap libur panjang lebaran, seribu lebih kamar hotel yang ada di Cianjur, terisi bahkan beberapa di antaranya terisi penuh dua hari menjelang. Potongan harga dan sejumlah kemudahan didapat pendatang selama menginap di kawasan Puncak-Cianjur. “Sebagian besar kamar hotel yang terisi penuh saat libur panjang lebaran berada di kawasan Puncak-Cipanas, sebagian besar wisatawan yang memesan dan mengisi kamar dari Jabodetabek,” katanya dikutip Antara. (Yetede)
Reservasi Hotel di Batu Capai 50 Persen Lebih
Kurang dari sepekan menjelang Idul Fitri 1444 H, tingkat reservasi hotel di Kota Batu, Jawa Timur, mencapai 50 persen lebih. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi, Minggu (16/4/2023), berharap kunjungan wisata selama Lebaran tahun ini lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya yang terpuruk oleh pandemi. Apalagi, kini ada cuti bersama Lebaran yang cukup panjang, yakni 19-25 April 2023. (Yoga)
Okupansi Hotel Diprediksi Turun
Tingkat okupansi hotel yang belakangan mulai membaik diperkirakan kembali turun seiring berkurangnya pergerakan wisatawan sebagai dampak kenaikan harga BBM. Padahal, industri hotel belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19. Sekjen Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, kunjungan ke destinasi-destinasi wisata membutuhkan daya beli masyarakat yang cukup baik. Kenaikan harga BBM mendorong harga barang dan jasa ikut naik sehingga akan mengganggu daya beli masyarakat, yang akhirnya bisa menurunkan minat orang bepergian dan menginap di hotel. ”Pariwisata juga bukan kebutuhan primer masyarakat,” ujarnya, Rabu (14/9) di Jakarta. Maulana mencontohkan dampak naiknya harga avtur tahun 2019 yang mengakibatkan pergerakan wisatawan Nusantara turun dari 300 juta orang tahun 2018 menjadi 200-an juta orang tahun 2019. Kondisi saat itu bisa saja kembali terulang. (Yoga)
Libur Lebaran Dongkrak Okupansi Hotel
Pada masa libur Lebaran tahun ini, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DKI Jakarta mencatat, okupansi hotel berkisar 50-80 %. ”Angka ini lebih baik dibandingkan okupansi perhotelan 2021,” kata Ketua PHRI DKI Jakarta Sutrisno Iwantono, Jumat (6/5). Menurut Sutrisno, okupansi hotel yang cukup tinggi itu turut dipengaruhi kebijakan pelonggaran yang diambil pemerintah pada Lebaran 2022. Salah satunya masyarakat bisa melakukan mudik atau pulang kampung. Di Jakarta, tamu hotel tidak hanya dari luar daerah. Sebagian warga Jakarta yang tidak mudik memilih tinggal di hotel selama libur Lebaran. Apalagi, mereka juga ditinggal pulang kampung oleh asisten rumah tangganya. Okupansi tinggi, menurut Sutrisno, bakal terjadi setidaknya sampai akhir pekan ini. Hal itu terutama terjadi pada hotel-hotel yang memiliki resor atau tempat rekreasi, misalnya di Kepulauan Seribu. Untuk hotel-hotel yang tidak memiliki fasilitas resor tidak akan terlalu banyak tamu.
Senyra Fransiska, Assistant Marketing Communication Manager Grand Mercure Hotel Kemayoran, menyatakan, pada masa libur Lebaran 2022, hotel ini mencatatkan okupansi 76-77 %. Okupansi tinggi tercatat pada Senin (2/5). Di sejumlah hotel bintang lima di Jakarta, okupansi selama libur Lebaran juga cukup tinggi. Di Jakarta Intercontinental Hotel, okupansi mencapai 80-85 %. ”Sebagian besar tamu yang menginap dari luar Jakarta, seperti dari Jateng dan Jatim,” kata Wakil Presdir PT Metropolitan Kentjana Tbk Jeffri S Tanudjaja. Adapun tamu menginap di Hotel Mulia Jakarta pada libur Lebaran ini di kisaran lebih dari 60 %. ”Kami memang melihat ada peningkatan okupansi di atas 60 % pada libur Lebaran ini,” ucap Rully Rachman, Director of Sales and Marketing Hotel Mulia Senayan Jakarta.
Wakil Ketua Badan Pimpinan Cabang PHRI Kabupaten Bogor Boboy Ruswandi menyebutkan, wisatawan datang dari Jabodetabek dan sekitarnya. Mereka berlibur ke curug, Gunung Mas, kebun teh, dan banyak pilihan wisata di Puncak. ”Okupansi 60-80 % berarti 8.000 kamar terisi wisatawan. Itu untuk penginapan yang ada Puncak saja,” ujarnya. PHRI Banten mencatat okupansi penginapan mencapai 80 % di 40 hotel yang ada di Anyer. Rata-rata wisatawan menginap hingga Minggu (8/5) atau hari terakhir liburan. ”Sudah dua kali Lebaran pariwisata Banten terpuruk. Kali ini ramai, semoga ke depan lebih baik,” kata Ketua PHRI Banten Achmad Sari Alam. (Yoga)
Investasi Hotel Baru Masih Terbatas
Investasi baru di bidang properti hotel masih terbatas. Kendati demikian, industri pariwisata Indonesia saat ini sedang memasuki masa pemulihan seiring dibukanya kembali perjalanan internasional disertai berbagai pelonggaran bepergian di dalam negeri. Dilihat dari sisi hotel mewah (luxurious), misalnya. Berdasarkan studi konsultan properti JLL, tak ada pasokan baru di Jakarta dan Bali sampai triwulan I-2022. Total pasokan kamar hotel mewah yang sudah ada di Jakarta mencapai 61.986 kamar, sedangkan di Bali terdapat 44.756 kamar. Sampai Februari 2022,tingkat hunian hotel mewah di Jakarta 48,2 % dan di Bali 12,1 %. Pembukaan hotel baru melambat sejak pandemi Covid-19. Pasokan yang akan masuk diperkirakan mulai terjadi pada 2022. Itu pun merupakan pembukaan yang tertunda. JLL memperkirakan, total pasokan kamar hotel mewah, khususnya di Jakarta, pada 2022–2024 mencapai 3.400 kamar, sedangkan di Bali sekitar 1.700 kamar.
Vice President of Investment Sales Hotels and Hospitality Group JLL untuk Asia Pasifik Julien Naouri berpendapat, dibukanya kembali perjalanan internasional disertai pencabutan syarat karantina di Indonesia sebenarnya akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi kepada investor, operator, dan pemilik hotel. Namun, dalam waktu dekat, pendorong utama pemulihan industri pariwisata datang dari wisatawan Nusantara dan korporasi domestic yang melakukan perjalanan bisnis di dalam negeri. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Haryadi B Sukamdani mengatakan, investasi pembangunan baru hotel masih ada. Namun, hal itu umumnya dilakukan oleh segelintir grup pemilik hotel yang mempunyai neraca keuangan kuat. ”Pihak perbankan masih memandang industri perhotelan sebagai sektor yang berisiko. Akibatnya, rata-rata perbankan enggan memberikan pinjaman kepada pengusaha hotel,” ujarnya. Hotel baru yang berdiri ketika pandemi Covid-19 masih berjalan, merupakan proyek yang telah lama direncanakan. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









