;
Tags

Perbankan

( 2293 )

Saham Bank Himbara Terus Mencorong

HR1 16 May 2025 Bisnis Indonesia (H)

Meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China memicu gelombang optimisme baru di pasar modal global, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat investor asing kembali masuk ke pasar saham domestik, terutama pada saham-saham perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Saham seperti PT Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi penopang utama penguatan IHSG dan IDXBUMN20 dalam dua hari terakhir.

Menurut Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, saham bank Himbara yang sebelumnya tertinggal (lagging) kini mengalami pembalikan tren karena valuasinya menarik dan fundamentalnya kuat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan M. Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset, yang menyebut investor asing aktif kembali memburu aset-aset berpotensi tinggi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara, menyambut baik apresiasi pasar terhadap saham Himbara dan menyatakan bahwa tren positif ini mencerminkan optimisme terhadap fundamental sektor perbankan nasional. Bank Mandiri sendiri mencatat pertumbuhan kredit 16,5% YoY di kuartal I/2025, menunjukkan performa yang solid.

Sementara itu, Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menegaskan bahwa perseroan terus menjaga kinerja yang positif untuk menjaga kepercayaan investor. Dengan arus masuk dana asing yang sudah mencapai Rp4,51 triliun dalam dua hari, serta meningkatnya minat risiko dan likuiditas pasar, outlook sektor perbankan pelat merah ke depan dinilai sangat menjanjikan dan berpotensi terus menopang kebangkitan IHSG dan indeks BUMN.


Layanan Paylater Perbankan Tumbuh Pesat

HR1 16 May 2025 Kontan
Layanan Buy Now Pay Later (BNPL) milik perbankan terus menunjukkan pertumbuhan pesat di awal 2025, mencerminkan minat masyarakat yang tinggi terhadap metode pembayaran ini. Data OJK menunjukkan outstanding BNPL perbankan per Maret 2025 mencapai Rp 22,78 triliun, tumbuh 32,18% secara tahunan, dengan jumlah pengguna naik menjadi 24,56 juta.

Bank Mandiri, lewat produk Livin PayLater, mencatat pertumbuhan frekuensi transaksi hingga 2,8 kali lipat dan jumlah pengguna naik 2,3 kali lipat dalam tiga bulan pertama tahun ini. M. Ashidiq Iswara, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, menekankan bahwa pertumbuhan disertai peningkatan kualitas kredit.

Bank BCA juga menunjukkan lonjakan signifikan dengan outstanding paylater tumbuh 96% secara tahunan. Hera F. Haryn, EVP Corporate Communication BCA, menegaskan bahwa pertumbuhan tersebut tetap dibarengi prinsip kehati-hatian dan manajemen risiko yang ketat.

Allo Bank, sebagai bank digital, mengalami lonjakan transaksi paylater lebih dari 200% yoy. Indra Utoyo, Direktur Utama Allo Bank, menyebut strategi risk-based pricing diterapkan untuk menyeimbangkan risiko dengan tingkat bunga yang sesuai profil nasabah.

Meski prospeknya menjanjikan, Trioksa Siahaan, SVP Head of Research LPPI, mengingatkan perlunya selektivitas perbankan agar pertumbuhan BNPL tidak menciptakan risiko kredit bermasalah (NPL) ke depan.

Dengan demikian, meski layanan BNPL membuka peluang pertumbuhan konsumsi dan kredit, pengawasan dan seleksi ketat dari perbankan tetap diperlukan untuk menjaga stabilitas kualitas aset.

Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak

HR1 15 May 2025 Kontan
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia berhasil menunjukkan performa positif pada kuartal I-2025. Seluruh tujuh bank yang dimiliki investor Korsel mencatatkan laba bersih, menandakan ketahanan dan keberhasilan strategi mereka dalam menghadapi tantangan ekonomi.

Capaian paling mencolok ditorehkan oleh PT Bank KB Bukopin Tbk (BBKP) yang berhasil membalikkan kondisi dari rugi Rp 6,33 miliar pada kuartal I-2024 menjadi laba bersih Rp 351,92 miliar pada kuartal I-2025. Woo Yeul Lee, Direktur Utama KB Bank, menyatakan bahwa hasil ini merupakan buah dari transformasi menyeluruh sejak bergabung dengan KB Financial Group pada 2021. Ia menegaskan bahwa dukungan induk perusahaan dan komitmen jangka panjang menjadi kunci kebangkitan KB Bank.

PT Bank Oke Indonesia Tbk (OK Bank) juga mencetak pertumbuhan laba signifikan sebesar 606,36% yoy, mencapai Rp 30,4 miliar. Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan OK Bank, menyebut pencapaian ini ditopang oleh peningkatan pendapatan bunga bersih serta efisiensi operasional. Bank ini juga mencatat kenaikan kredit sebesar 15,2% dan menargetkan pertumbuhan kredit 10% sepanjang 2025, dengan fokus pada UMKM, konsumsi, dan korporasi.

Sementara itu, Bank Nobu membukukan pertumbuhan laba 115,76% yoy, mencapai Rp 110,10 miliar pada kuartal I-2025.

Di tengah gejolak global, bank-bank milik investor Korea Selatan di Indonesia mampu mencetak kinerja impresif berkat strategi efisiensi, dukungan grup induk, transformasi organisasi, serta ekspansi penyaluran kredit yang selektif. Tokoh-tokoh seperti Woo Yeul Lee dan Efdinal Alamsyah menegaskan pentingnya visi jangka panjang dan penguatan fundamental dalam menjaga momentum pertumbuhan.

BRI Menyiapkan Startegi Jaga Aset Tetap Sehat

KT1 15 May 2025 Investor Daily

Saat ini kondisi ekonomi global penuh dengan tekanan akibat dampak dari tensi geopolitik dan perang tarif. Menghadapi kondisi tersebut, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kualitas asset dan pembiayaan tetap sehat, khususnya di segmen UMKM yang menjadi fokus bisnis utama perseroan. Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menyampaikan bahwa di tengah tekanan yang terjadi, BRI tetap mengedepankan prinsip pertumbuhan yang selektif guna menjaga kualitas kredit secara berkelanjutan. Sebagai bank dengan porsi pembiayaan UMKM terbesar di Tanah Air, BRI mencatatkan penyaluran kredit UMKM hingga Maret 2025 sebesar Rp1.126,02 triliun atau setara 81,97% dari total portfolio. Langkah ini pun menjadi penting agar pertumbuhan pembiayaan tetap selaras dengan kondisi pasar, tanpa mengorbankan aspek kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Hal ini tercermin  dari membaiknya rasio non performing loan (NPL) BRI dari 3,11% pada akhir triwulan 1-2025. Perbaikan serupa juga terlihat pada rasio laoan at risk (LAR) yang membaik atau turun dari 12,68% di akhir triwulan 1-2025. “Tentunyakita memperkuat fungsi monitoring dan juga early warning system, sehingga dapat mengetahui kondisi nasabah  dan juga antisipasi  apabila terjadi potensi keburukan,” ungkap Mucharom. (Yetede)

Penurunan Bunga Tekan Ekspansi

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten perusahaaan pembiayaan pada  kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38 miliar. (Yetede)

Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)

BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret  yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).

Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri. Sementara itu, kelompok  bahan bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok  yang tercatat mengalami perbaikan  meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8% (mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil (IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok  peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya,  makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)

Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance

KT1 15 May 2025 Investor Daily (H)
Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (multifinance) tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini sebagai dampak atas larangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Tercatat sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun.  Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana pada Maret  2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp 278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan Maret 2024 yang sebesar Rp 432,11 miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan keuangannya, pendapatan susut salah satunya karena alokasi pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp122,38 miliar. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)

Laba 14 Emiten Multifinance Menurun

KT1 14 May 2025 Investor Daily
Sebanyak 14 emiten perusahaan pembiayaan (multifinance) pada kuartal 1-2025 membukukan laba bersih  Rp942,62 miliar. Nilai ini merosot 15,36% dibandingkan dengan laba bersih pada kuartal 1-2024 yang senilai Rp 1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan laba bersih adalah PT Adora Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana, pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52 miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan maret 2024 yang sebesar Rp432,11 miliar. Mengintip laporan keuangannya, ADMF mencatatkan pendapatan dari pembiayaan konsumen senilai Rp1,47 triliun, susut 5,77% secara yoy. Jika dirinci lebih lanjut, pendapatan pembiayaan dari sepeda motor pada kuartal 1-2025 sebesar Rp722,59 miliar, menurun dari tahun sebelumnya Rp 777,92 miliar. Selain itu, pendapatan pembiayaan dari mobil juga menurun dari Maret 2024 yang senilai Rp443,61 miliar menjadi Rp 366,87 miliar. Namun, pendapatan pembiayaan durable goods dan lainnya meningkat dari 339,84 miliar menjadi Rp377,23 miliar pada kuartal 1-2025. Penurunan pendapatan ini disebabkan karena pembiayaan ADMF yang juga menyusut, lantaran industri otomotif yang juga masih lesu di kuartal 1 tahun ini akibat daya beli yang melemah. (Yetede)

Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Akselerasi Kredit

HR1 14 May 2025 Kontan
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia terus melambat, hanya mencatat 9,16% yoy per Maret 2025, level terendah sejak Oktober 2023. Dalam kondisi ini, para pelaku industri dan analis menilai penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong pertumbuhan kredit, meskipun bukan satu-satunya solusi.

Analis Jeffrosenberg Chenlim dan Faiq Asad dari Maybank Sekuritas menekankan bahwa penurunan suku bunga akan membantu menurunkan biaya dana (cost of fund) dan memperlonggar likuiditas, yang sangat dibutuhkan untuk percepatan kredit. Mereka menilai hanya bank-bank dengan likuiditas kuat, seperti Bank Central Asia (BCA) dan CIMB Niaga, yang mampu menyalurkan kredit secara agresif di tengah kondisi ini.

Lani Darmawan, Presiden Direktur CIMB Niaga, sepakat bahwa suku bunga rendah bisa mendorong kredit, namun menekankan bahwa daya beli masyarakat juga merupakan faktor kunci. Ia mendorong evaluasi kebijakan insentif, seperti likuiditas makroprudensial, agar lebih efektif menggairahkan kredit. Lani juga mencatat bahwa biaya dana CIMB Niaga naik menjadi 3,61% pada kuartal I-2025, sehingga fokus bank saat ini adalah menggenjot dana murah (CASA).

Efdinal Alamsyah, Direktur Kepatuhan Bank Oke Indonesia, menilai suku bunga rendah belum cukup. Ia menyarankan adanya stimulus fiskal, insentif sektor prioritas, dan pelonggaran kebijakan LTV atau GWM agar penyaluran kredit lebih efektif.

Sementara itu, Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, menekankan bahwa meskipun biaya dana BCA tetap rendah, pertumbuhan kredit masih melambat (hanya 2,1% kuartalan). Menurutnya, masalah utamanya bukan di suku bunga, melainkan pada lemahnya permintaan kredit di masyarakat.

Meskipun penurunan suku bunga bisa menjadi alat bantu, pertumbuhan kredit nasional masih bergantung pada kombinasi faktor: daya beli masyarakat, kondisi likuiditas, serta dukungan insentif dari regulator dan pemerintah.