Perbankan
( 2293 )Saham Bank Himbara Terus Mencorong
Meredanya ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China memicu gelombang optimisme baru di pasar modal global, termasuk Indonesia. Kondisi ini membuat investor asing kembali masuk ke pasar saham domestik, terutama pada saham-saham perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Saham seperti PT Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) menjadi penopang utama penguatan IHSG dan IDXBUMN20 dalam dua hari terakhir.
Menurut Ekky Topan, Investment Analyst dari Infovesta Kapital Advisori, saham bank Himbara yang sebelumnya tertinggal (lagging) kini mengalami pembalikan tren karena valuasinya menarik dan fundamentalnya kuat. Hal ini diperkuat oleh pernyataan M. Adityo Nugroho, Senior Investment Information dari Mirae Asset, yang menyebut investor asing aktif kembali memburu aset-aset berpotensi tinggi di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Corporate Secretary Bank Mandiri, M. Ashidiq Iswara, menyambut baik apresiasi pasar terhadap saham Himbara dan menyatakan bahwa tren positif ini mencerminkan optimisme terhadap fundamental sektor perbankan nasional. Bank Mandiri sendiri mencatat pertumbuhan kredit 16,5% YoY di kuartal I/2025, menunjukkan performa yang solid.
Sementara itu, Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menegaskan bahwa perseroan terus menjaga kinerja yang positif untuk menjaga kepercayaan investor. Dengan arus masuk dana asing yang sudah mencapai Rp4,51 triliun dalam dua hari, serta meningkatnya minat risiko dan likuiditas pasar, outlook sektor perbankan pelat merah ke depan dinilai sangat menjanjikan dan berpotensi terus menopang kebangkitan IHSG dan indeks BUMN.
Layanan Paylater Perbankan Tumbuh Pesat
Bank Korsel di RI Bukukan Laba Kompak
BRI Menyiapkan Startegi Jaga Aset Tetap Sehat
Saat ini kondisi ekonomi global penuh dengan tekanan akibat
dampak dari tensi geopolitik dan perang tarif. Menghadapi kondisi tersebut, PT
Bank Rakyat Indonesia (BRI menyiapkan sejumlah strategi untuk menjaga kualitas
asset dan pembiayaan tetap sehat, khususnya di segmen UMKM yang menjadi fokus
bisnis utama perseroan. Direktur Manajemen Risiko BRI Mucharom menyampaikan
bahwa di tengah tekanan yang terjadi, BRI tetap mengedepankan prinsip
pertumbuhan yang selektif guna menjaga kualitas kredit secara berkelanjutan.
Sebagai bank dengan porsi pembiayaan UMKM terbesar di Tanah Air, BRI
mencatatkan penyaluran kredit UMKM hingga Maret 2025 sebesar Rp1.126,02 triliun
atau setara 81,97% dari total portfolio. Langkah ini pun menjadi penting agar
pertumbuhan pembiayaan tetap selaras dengan kondisi pasar, tanpa mengorbankan
aspek kehati-hatian dalam pengelolaan risiko. Hal ini tercermin dari membaiknya rasio non performing loan
(NPL) BRI dari 3,11% pada akhir triwulan 1-2025. Perbaikan serupa juga terlihat
pada rasio laoan at risk (LAR) yang membaik atau turun dari 12,68% di akhir
triwulan 1-2025. “Tentunyakita memperkuat fungsi monitoring dan juga early
warning system, sehingga dapat mengetahui kondisi nasabah dan juga antisipasi apabila terjadi potensi keburukan,” ungkap
Mucharom. (Yetede)
Penurunan Bunga Tekan Ekspansi
Pertumbuhan kinerja perusahaan pembiayaan (mulfiinance)
tahun ini berisiko lebih rendah dari target yang ditetapkan OJK. Hal ini
sebagai dampak atas tantangan eksternal, salah satunya penurunan penjualan kendaraan
bermotor karena melemahnya daya beli masyarakat. Ternyata sebanyak 14 emiten
perusahaaan pembiayaan pada kuartal
1-2025 membukukan laba bersih Rp942,62% dibandingkan dengan laba bersih pada
kuartal 1-2024 yang senilai Rp1,11 triliun. Salah satu emiten yang mengalami penurunan
laba bersih adalah PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance). Di mana,
pada Maret 2025 emiten bersandi saham ADMF ini meraup laba bersih Rp278,52
miliar, ambles 35,54% dibandingkan dengan Maret 2024 yang sebesar Rp432,11
miliar. Selain itu, ada Clipan Finance Indonesia (CFIN) yang meraup laba bersih
Rp35,04 miliar, anjlok 59,3% (yoy) pada akhir Maret 2025. Dari laporan
keuangannya, pendapatan susut dan beban melonjak, salah satunya karena alokasi
pencadangan yang naik menjadi Rp 158,71 miliar dari sebelumnya Rp 122,38
miliar. (Yetede)
Permintaan Mulai Normal Penjualan Eceran Kontraksi 6,9%
BI memperkirakan penjualan eceran pada April 2025 terkontraksi 6,9% dari posisi Maret yang tumbuh 13,6%, karena permintaan secara bertahap mulai normal setelah meningkat pada bulan Ramadan dan Idulfitri. Adapun survey BI juga memperkirakan penjualan pada Juni dan September 2025 dalam tren menurun. “Secara bulanan, penjualan eceran pada April 2025 diperkirakan terkontraksi sebesar 6,9%, dipengaruhi oleh normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan Idulfitri,” jelas Kepala Departeman BI Ramdan Denny Parkoso. Mayoritas kelompok barang tercatat turun dan berada dari pada kelompok perlengkapan rumah tangga lainnnya (-10,6%, secara month to month/mtm), makanan, minuman, dan tembakau (-7,2%, mtm).
Responden menginformasikan penurunan penjualan eceran dipengaruhi oleh
normalisasi permintaan masyarakat seiring berakhirnya periode Ramadan dan
Idulfitri. Sementara itu, kelompok bahan
bakar kendaraan bermotor menjadi satu-satunya kelompok yang tercatat mengalami perbaikan meski masih dalam fase kontraksi sebesar 0,8%
(mtm) didukung oleh kelancaran distribusi. BI memperkirakan Indeks Penjualan Riil
(IPR) April 2025 mencapai 231,1 karena didiukung oleh tumbuhnya kelompok suku
cadang dan aksesoris, bahan bakar, dan subkelompok sandang. Kondisi IPR pada
April 2025 disokong oleh tumbuhnya kelompok suku cadang dan aksesori, bahan
bakar kendaraan bermotor, dan subkelompok sandang. Sedangkan penjualan kelompok
lainnya diperkirakan menurun, tertama kelompok
peralatan informasuk dan komunikasi, perlengkapan rumah tangga lainnya, makanan, minuman, dan tembakau. (Yetede)
Penurunan Daya Beli Pukul Multifinance
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Laba 14 Emiten Multifinance Menurun
Penurunan Suku Bunga Jadi Kunci Akselerasi Kredit
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022








