Perbankan
( 2293 )Penyaluran Kredit Berkelanjutan BRI Capai Rp 671,1 Triliun
JAKARTA, ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) telah menyalurkan kredit berkelanjutan mencapai Rp 671,1 triliun pada kuartal III-2022, tumbuh 11,5% secara tahunan (year on year/ yoy). Kredit tersebut memiliki porsi 66,7% terhadap total kredit BRI, dan perseroan komitmen meningkatkan pembiayaan dengan prinsip enviromental, social, and governance (ESG). Apabila dirinci, pada aspek environmental, portofolio kredit hijau BRI sebesar Rp 76,1 triliun per September 2022 dengan porsi 7,6% dari total kredit. Dengan penyaluran ke energi terbarukan sebesar Rp 6,8 triliun dan sektor transportasi hijau sebesar Rp 13,6 triliun. Kredit yang dikucurkan untuk green building senilai Rp 1,7 triliun dan kredit hijau lainnya Rp 54 triliun. Kemudian, pada aspek sosial, BRI telah menyalurkan kredit Rp 595 triliun per September 2022 dengan porsi 59,1% dari total kredit. Dari aspek governance, BRI juga mendapatkan peringkat 95,10 pada 2021, meningkat dari 2019 dengan skor 93,25. (Yetede))
Bank Memacu Bisnis Cash Management
Sejumlah bank mencatatkan pertumbuhan transaksi layanan cash management
atau pengelolaan kas cukup besar. Pendorongnya adalah pengembangan digitalisasi layanan di segmen korporasi, komersial, serta usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
Bank sendiri menikmati transaksi
cash management
yang telah berkontribusi meningkatkan pendapatan berbasis biaya (
fee based income
) dan juga dana murah bagi bank.
Bank Tabungan Negara (BTN) misalnya, memfasilitasi pebisnis bertransaksi melalui
cash management system
(CMS) berbasis website yang dilengkapi berbagai fitur sesuai kebutuhan nasabah.
PERBANKAN HIJAU UNTUK EKONOMI HIJAU
Terwujudnya ekonomi hijau membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku bisnis. Peran aktif berbagai pihak, termasuk dukungan pendanaan atau pembiayaan, akan mempercepat manfaat ekonomi hijau bagi Indonesia. Ekonomi hijau merupakan model pembangunan ekonomi untuk menunjang pembangunan berkelanjutan dengan fokus pada investasi dan akumulasi modal yang lebih hijau, infrastruktur hijau, dan pekerjaan yang ramah lingkungan demi mewujudkan kesejahteraan sosial dan kelestarian lingkungan. Ekonomi hijau akan membuat pertumbuhan ekonomi bisa lebih tinggi dan berkualitas. Dan yang paling utama ialah dapat mengurangi potensi kerugian akibat dampak perubahan iklim. Kajian Bappenas menyebutkan, Indonesia berpotensi mengalami kerugian Rp 544 triliun pada periode 2020-2024 akibat perubahan iklim, yang datang dari dampak kenaikan air laut, penurunan ketersediaan air, penurunan produksi padi, dan peningkatan aneka penyakit. Manfaat ekonomi hijau, ialah potensi pencapaian PDB rata-rata sebesar 6,1 % hingga 6,5 % per tahun hingga tahun 2050.
Dengan penurunan intensitas emisi karbon mencapai 68 % pada tahun 2045, target net zero emission optimistis bisa dicapai pada tahun 2060 atau lebih cepat. Sebanyak 1,8 juta pekerjaan pun akan terbuka pada tahun 2030 di sektor energi, kendaraan listrik, restorasi lahan, dan pengelolaan limbah. Tulang punggung ekonomi hijau ialah pembangunan yang menghasilkan rendah karbon, meliputi penanganan limbah dan ekonomi sirkular, pengembangan industri hijau, pembangunan energ berkelanjutan, blue carbon, dan pemulihan lahan berkelanjutan. Di sektor perbankan, dukungan pelaku bisnis terhadap ekonomi hijau berada dalam kerangka pengimplementasian keuangan berkelanjutan yang sudah diatur oleh pemerintah. Landasannya Peraturan OJK No 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelajutan bagi Lembaga Jasa Keuangan, Emiten, dan Perusahaan Publik. Disebutkan bahwa lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik wajib menerapkan keuangan berkelanjutan dalam kegiatan usahanya dengan prinsip investasi bertanggung jawab, prinsip strategi dan praktik bisnis berkelanjutan, serta prinsip pengelolaan risiko sosial dan lingkungan hidup. (Yoga)
PERBANKAN, Waspadai Penipuan Bermodus ”Soceng”
Penipuan bermodus rekayasa sosial atau social engineering atau soceng masih terjadi dengan mengincar nasabah perbankan. Nasabah diminta lebih berhati-hati dengan tidak memberikan data pribadi, dan mengecek sumber resmi, agar terhindar dari penipuan. Pekan lalu, polisi menangkap penipu yang menyamar sebagai pihak BRI yang menginformasikan perubahan tariff transfer sehingga meminta nasabah mengirimkan sejumlah data pribadi perbankannya. Data ini digunakan pelaku untuk mengambil uang di rekening korban. Bareskrim Polri menangkap tersangka berinisial FI, H, dan N. Ketiganya diduga sebagai pembuat dan pengelola situs palsu. Modusnya berpura-pura sebagai pihak resmi BRI dan menginformasikan tarif perubahan transfer.
Direktur Kepatuhan BRI Ahmad Solichin Lutfiyanto, Minggu (27/11) menyatakan, pihaknya mendukung penangkapan itu. Penanganannya diharapkan meredam kejahatan serupa agar tidak terulang kembali. Di sisi lain, kata Solichin, BRI secara berkala melakukan edukasi pencegahan berbagai modus penipuan, khususnya kejahatan soceng melalui saluran komunikasi resmi perseroan. Hal itu diharapkan meningkatkan kesadaran masyarakat agar terhindar dari modus tersebut. ”BRI mengimbau nasabah agar senantiasa berhati-hati dalam bertransaksi finansial, dengan menjaga kerahasiaan data pribadi dan data perbankan. Nasabah diharapkan tidak memberitahukan informasi yang dapat digunakan (untuk) mengakses akun, seperti password (kata kunci) dan PIN (nomor identitas pribadi),” ujarnya. (Yoga)
BRI: UMKM Optimistis Kinerja Bisnis Tumbuh Pada Kuartal IV
JAKARTA, ID – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menilai, meskipun pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melambat, sebagian besar pelaku optimistis terhadap kinerja usahanya pada kuartal IV-2022. Berkaitan itu, BRI berkomitmen memberikan dukungan yang tercermin dari komposisi penyaluran kredit UMKM mencapai lebih dari 84% terhadap total kredit perseroan. Pada Indeks Bisnis UMKM Kuartal III-2022 yang dirilis oleh BRI, terlihat indeks ekspektasi bisnis UMKM untuk kuartal IV-2022 berada di level 126,5 atau dalam fase optimistis. “Dalam indeks ekspektasi bisnis UMKM pada tiga bulan mendatang (kuartal IV), pelaku UMKM menilai memang menurun tapi masih optimistis. Lalu, indeks kepercayaan UMKM terhadap pemerintah terutama dalam kemampuan pemerintah terhadap tantangan ekonomi itu juga masih di atas 100,” kata dia secara virtual, Kamis (24/11/2022). Menurut Sunarso, penyaluran kredit industri perbankan sampai kuartal IV- 2022 masih tumbuh, demikian juga pada 2023. Dia mengakui ada tantangan pada tahun depan seperti ekonomi global yang tidak menentu, inflasi tinggi di beberapa, serta krisis pangan dan energi yang dipicu konflik Rusia-Ukraina. Meski demikian, kondisi ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh karena dikelola dengan baik dan hati-hati. (Yetede)
RUU P2SK & Perbankan Syariah
Saat ini, pemerintah dan DPR sedang membahas Rancangan Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (RUU P2SK). Salah satu isu yang menarik perhatian, khususnya bagi perbankan syariah, adalah klausul mengenai kewajiban pemisahan unit usaha syariah (UUS) dari induknya bank umum konvensional (BUK). Di mana, dalam RUU P2SK tersebut dinyatakan bahwa BUK yang memiliki UUS dengan nilai aset telah mencapai paling sedikit 50% dari total nilai aset bank induknya, wajib memisahkan (spin-off) UUS-nya menjadi bank umum syariah (BUS). Menarik, karena klausul persyaratan spin-off ini dinilai melonggarkan kewajiban spin-off sebelumnya, yang diatur dalam UU No. 21/2008 tentang Perbankan Syariah.
Namun, kita memang harus melihat realitas. Perkembangan perbankan syariah masih terbatas, terbatasi pula oleh pertumbuhan bisnis syariah yang juga lambat. Padahal, perbankan syariah tidak dapat dilepaskan dari ekosistem bisnis syariah. Perlu Juli 2022, pangsa aset perbankan syariah (BUS dan UUS) baru mencapai 6,82% dari total aset perbankan.
Transaksi Meloncat, BCA dan Bank Mandiri Adu Balap Transaksi Digital
Dominasi dua bank besar menggarap transaksi digital banking kian terasa. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) adu balap menggenjot transaksi digital lewat aplikasi super yang mereka miliki.
Bank Mandiri mengandalkan dua layanan digital, Livin untuk nasabah ritel mencatatkan nilai transaksi Rp 1.716 triliun per September 2022. Ada Kopra untuk segmen korporasi dengan nilai transaksi Rp 13.420 triliun. Bila digabungkan total transaksi digital banking dari super aplikasi dan platform ini mencapai Rp 15.136 triliun.
Sementara Bank BCA mengandalkan transaksi mobile banking yang tumbuh 39,1% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 3.966 triliun. Diikuti dengan transaksi internet banking yang naik 19,1% yoy menjadi Rp 12.902 triliun.
SVP Transaction Banking Retail Sales Bank Mandiri Thomas Wahyudi menyatakan transaksi finansial Livin by Mandiri sampai dengan Oktober 2022 meningkat 61% secara YoY. Sedangkan nilai transaksi meningkat 46% YoY.
Adapun BCA telah memproses 64 juta transaksi setiap hari. Dalam sembilan bulan pertama tahun 2022, total volume transaksi digital naik 39,5% YoY mencapai 17,4 miliar transaksi. "BCA Mobile yang kini menjadi primadona nasabah," kata EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn.
ALIRAN DERAS LIKUIDITAS
Aliran likuiditas di perbankan menguat menyusul penyesuaian suku bunga acuan oleh Bank Indonesia. Kembalinya dana masyarakat ke sistem perbankan menjadi modal bagi bank untuk mendorong penyaluran kredit pada tahun depan. Arus likuiditas di bank tecermin dari peningkatan dana pihak ketiga (DPK) hingga Oktober 2022. Data analisis uang beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia pada Rabu (23/11) mencatat simpanan masyarakat tumbuh 10% year-on-year (YoY), setelah sempat tumbuh single digit pada Juni—September 2022. Simpanan masyarakat ke deposito pun kembali ke jalur positif. Hal itu menjadi indikasi sejak bank sentral melakukan penyesuaian suku bunga acuan BI-7 Day Repo Rate (BI7DRR) secara bertahap sejak Agustus 2022, telah diikuti dengan penyesuaian bunga simpanan deposito di bank. Sampai dengan Oktober 2022, simpanan berjangka tumbuh 0,8% YoY, melanjutkan pertumbuhan pada Agustus dan September yang masing-masing naik 0,2% dan 0,4% secara tahunan. Sebelumnya, simpanan deposito sempat terkontraksi. Outstanding simpanan deposito Rp2.791,1 triliun atau mewakili sekitar 36% dari total simpanan masyarakat Rp7.681,9 triliun hingga Oktober 2022. (Lihat infografik) Laju DPK pada Oktober 2022 juga relatif mampu mengimbangi permintaan kredit yang naik 11,7% YoY.
BRI Semakin Tangguh dan Optimis, Kredit Mikro Tumbuh 14,12%
JAKARTA, ID – Dibayangi oleh tantangan lonjakan inflasi serta dinamika kondisi perekonomian global, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk tetap berhasil menumbuh kembangkan pelaku usaha mikro. BRI tercatat mampu mencatatkan kinerja positif dengan capaian pertumbuhan kredit di segmen mikro hingga 14,12% Year on Year (YoY) pada kuartal III tahun 2022. Kredit Mikro BRI secara konsolidasian meningkat dari Rp 463,7 triliun pada kuartal III-2021 menjadi Rp 529,2 triliun pada kuartal III- 2022. Adapun secara keseluruhan, BRI secara konsolidasian telah menyalurkan kredit sebesar Rp 1.111,48 triliun atau tumbuh 7,92% YoY. BRI mengoptimalisasi potensi sektor mikro dan ultra mikro dengan terus mendorong sinergi Holding Ultra Mikro bersama PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM). Hal tersebut menjadi pendorong peningkatan customer base BRI yang berimplikasi langsung terhadap kinerja bisnis perseroan di sektor mikro dan ultra mikro. (Yetede)
Cetak Laba, Emiten Bank Ekspansif Hingga 2023
JAKARTA, ID — Meraih kinerja fundamental impresif hingga kuartal ketiga 2022, emiten bank akan terus ekspansif hingga tahun depan dengan pertumbuhan kredit dua digit. Dari 45 bank yang menyampaikan laporan keuangan, 84% atau 38 bank membukukan laba bersih. Sejumlah bank meraih kenaikan laba di atas 50%. PT BRI Tbk, misalnya, membukukan pertumbuhan laba hingga 106%. Sejumlah narasumber Investor Daily mengatakan, ketika aktivitas ekonomi yang kembali normal, permintaan kredit pun bakal ikut meningkat. Pertumbuhan kredit yang mencapai dua digit akan berlangsung hingga tahun depan meski ekonomi global diperkirakan masuk jurang resesi. Membaiknya kinerja perbankan ditopang oleh sistem keuangan yang stabil. Dari 47 emiten bank yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 45 bank sudah menyampaikan laporan keuangan hingga September 2022 dan dua bank belum menyampaikan laporan keuangan kuartal III-2022. Dari 45 emiten tersebut, sebanyak 38 bank mencetak laba bersih senilai Rp 143,47 triliun, dan sebanyak 7 bank mencatatkan kerugian. (Yetede)









