Perbankan
( 2293 )KEPUL CUAN BANK TAIPAN
Kinerja bank milik para konglomerat Tanah Air kian digdaya. Setidaknya hal itu tergambar dari kinerja moncer kuartal III/2022 yang baru dirilis. Soliditas ekonomi Indonesia sejauh ini dinilai turut mendongkrak kinerja industri, termasuk perbankan. Apalagi, bank yang terafiliasi dengan para taipan itu rata-rata memiliki ekosistem bisnis yang mapan, terutama di sektor usaha yang tahan terhadap gejolak, seperti perdagangan, industri pengolahan, maupun jasa lainnya. Performa apik terlihat dari bank yang terafiliasi dengan konglomerat Anthoni Salim yakni PT Bank Ina Perdana Tbk. Anthoni Salim yang menurut Forbes memiliki aset senilai US$8,5 miliar mengenggam 22,47% saham BINA melalui PT Indolife Pensiontama. Di bank itu, Anthoni Salim tercatat sebagai pemegang saham akhir. Menurut Direktur Utama Bank Ina Perdana Daniel Budirahayu, kenaikan laba sampai dengan kuartal III/2022 disebabkan pertumbuhan kredit yang cukup tinggi sebesar 196% year-on-year (YoY) dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tumbuh 82% YoY. Selain itu, katanya perseroan mampu menjaga biaya dana atau cost of fund. Presiden Direktur MNC Bank Rita Montagna menyatakan perseroan terus memperbaiki komposisi dana murah melalui program dan produk yang diminati nasabah. Alhasil, komposisi dana murah atau CASA membaik dari 25,36% menjadi 28,71% pada kuartal III/2022. “Dari pertumbuhan kredit yang sehat, terus membaiknya komposisi CASA, serta penerapan tata kelola yang baik, kami yakin MNC Bank akan semakin kuat dan mampu menghadapi kemungkinan perlambatan ekonomi di tahun mendatang,” ujarnya, Rabu (9/11).
Bank Swasta Besar Pesta Laba Hingga Kuartal III
Bank-bank swasta bermodal jumbo di Tanah Air sebagian besar masuk dalam Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) 3 atau dengan modal inti Rp 14 triliun-Rp 70 triliun. Hanya PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang masuk KBMI 4 yang punya modal inti di atas Rp 70 triliun.
Bank-bank KBMI 3 yang sebelumnya masuk Bank Umum Kegiatan usaha (BUKU 4) bersama BCA, sebagian besar berhasil mencetak pertumbuhan laba hingga dua digit pada kuartal III-2022. BBCA mengantongi laba Rp 29 triliun, tumbuh 24,8% Year on Year (YoY). Pertumbuhan laba bersih didorong kenaikan pendapatan bunga bersih 9,3% YoY jadi Rp 46,1 triliun. Pendapatan non bunga juga naik 7,8% YoY jadi Rp 16,7 triliun.
PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) juga berhasil mencatatkan laba Rp 3,8 triliun di kuartal III-2022, naik 23,89% YoY. BNGA mendapat keuntungan dari instrumen keuangan yang melonjak 115,49% YoY menjadi Rp 1,30 triliun di kuartal III-2022.
Sementara laba PT Bank Permata Tbk (BNLI) melesat 124% YoY menjadi Rp 2,24 triliun. Pertumbuhan laba bersih ditopang kenaikan pendapatan bunga bersih yang naik 12,5% YoY dari Rp 5,92 triliun menjadi Rp 6,66 triliun. Ini seiring kemampuan PermataBank menyalurkan kredit dan pembiayaan naik 9,41% YoY jadi Rp 135,64 triliun.
Bank Muamalat Biayai RS NU di Jawa Barat
PT Bank Muamalat Indonesia Tbk memimpin sindikasi pembiayaan pembangunan rumah sakit milik Nahdlatul Ulama (NU) di Jabar. Total dana yang disalurkan Rp 240 miliar. Chief Wholasale Banking Officer Bank Muamalat Irvan Y Noor mengatakan, rumah sakit yang berlokasi di Cianjur tersebut menggandeng Edelweiss Healthcare Group dan merupakan RS pertama milik NU di Jabar. Rumah sakit ini diproyeksikan jadi rumah sakit modern. (Yoga)
VISI TOP 10 GLOBAL ISLAMIC BANK Wapres : Saatnya BSI Mengarungi Samudra
PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI) didorong agar dapat mengembangkan layanannya lebih dalam di luar negeri dan tumbuh lebih cepat hingga menjadi Top 10 Global Islamic Bank. Hal itu disampaikan Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin saat meninjau Kantor Perwakilan BSI di Gate District 3, DIFC, Sheikh Zayed Road, Dubai, Uni Emirat Arab (UEA) akhir pekan lalu. Ma’ruf juga berharap agar BSI dapat menjadikan Indonesia sebagai kiblat industri syariah dan ekosistem halal dunia.
Menurutnya, hubungan baik yang terjalin antara Indonesia dan UEA dapat menjadi batu loncatan bagi BSI untuk terus mengembangkan bisnis, khususnya di area Timur Tengah dan Afrika Utara. Apalagi Indonesia dan UEA sudah memiliki perjanjian kerjasama United Arab Emirates Comprehensive Economic Partnership Agreement (IUAE–CEPA).Direktur Utama BSI Hery Gunardi mengatakan BSI sangat berterimakasih atas dukungan penuh pemerintah kepada perseroan dalam mewujudkan visi menjadi Top 10 Islamic Bank 2025.
Mendorong Peningkatan Peran Perempuan dalam Perekonomian
Bank OCBC NISP mendorong kontribusi lebih besar kaum perempuan di dunia bisnis dan perekonomian melalui program Tidak Ada yang Tidak Bisa atau #TAYTB Women Warriors. Salah satu kampanye dalam program ini ialah CurrenShe, yang berfokus menyebarkan semangat agar perempuan dapat semakin berkontribusi pada perekonomian nasional secara lebih maksimal. Berdasarkan data Kementeriam Koperasi dan UKM, kontribusi UMKM terhadap pendapatan nasional mencapai 61,1 % pada 2021. Sebagian besar UMKM, yakni sekitar 65,5 % (37 juta unit usaha), dikelola oleh kaum perempuan. Selain itu, berdasarkan survei Bank Indonesia, proporsi perempuan di posisi strategis perusahaan terus tumbuh, serta terdapat proyeksi tambahan produk domestik bruto dunia sebesar US$ 28 triliun apabila kesetaraan gender berlaku luas.
Presdir OCBC NISP, Parwati Surjaudaja, mengatakan aneka data itu memperlihatkan bahwa peran perempuan sangat besar dalam perekonomian bangsa. "Melalui CurrenShe, kami mendorong agar perempuan bisa terus berkarya, berbisnis, terjun langsung ke dunia usaha, serta agar tidak segan menjadi pemimpin di sektor ekonomi," ujarnya dalam peluncuran kampanye tersebut di Jakarta, Kamis, 3 November lalu. OCBC NISP, kata Parwati, melalui program #TAYTB Women Warriors telah menyalurkan kredit khusus bagi kaum perempuan. Per Januari-September 2022, penyaluran kredit ini telah mencapai Rp 3 triliun, naik 38,2 % secara tahunan. Secara internal, OCBC NISP juga mendorong peningkatan jumlah karyawan perempuan di perusahaan. Saat ini, menurut Parwati, 54 % karyawan OCBC NISP adalah perempuan. Di tingkat dewan direksi perusahaan, porsi perempuan mencapai 44 %. Sedangkan di level dewan komisaris, porsi perempuan sebanyak 25 %. (Yoga)
Bank KB Bukopin Dukung Bulan Inklusi Keuangan
PT Bank KB Bukopin Tbk (KB Bukopin) turut meriahkan Financial Expo 2022 dalam rangkaian Bulan Inklusi Keuangan yang melibatkan seluruh industri jasa. Kegiatan didukung OJK, BI, LPS, self regulatory organization (SRO), Kementerian atau lembaga terkait. Financial Expo 2022 diselenggarakan 26 – 30 Oktober 2022 dengan tema Go Inklusif Go Produktif. Selama kegiatan terdapat 134 booth pameran yang terdiri dari asuransi, pasar modal, pelaku UMKM dan perbankan termasuk KB Bukopin. Pameran keuangan digelar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan atau layanan jasa keuangan. Kegiatan untuk mengakselerasi penambahan jumlah rekening maupun penggunaan produk atau layanan jasa keuangan.
Deputy President Director KB Bukopin, Robby Mondong, mengapresiasi penyelenggaraan Bulan Inklusi Keuangan, khususnya kepada masyarakat yang antusias terhadap produk dan layanan KB Bukopin. “FinExpo sejalan dengan komitmen KB Bukopin mendukung inklusi keuangan kepada masyarakat tentang berbagai produk keuangan perbankan,” ujarnya. Melalui edukasi, kata Robby, KB Bukopin akan terus memberikan edukasi kepada masyarakat melalui berbagai program dan produk perbankan unggulan. “Diharapkan masyarakat akan semakin mampu melakukan perencanaan keuangan dengan baik,” tuturnya. (Yoga)
Memburu Emiten Bank Bervaluasi Murah
Mayoritas emiten bank yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah merilis laporan keuangan per 30 September 2022.
Per 1 November 2022, dari 46 emiten, cuma lima bank yang belum melaporkan kinerja keuangan periode sembilan bulan pertama 2022. Mereka adalah Bank Amar (AMAR), Bank MNC Internasional (BABP), Bank KB Bukopin (BBKP), Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dan Bank NationalNobu (NOBU).
Dus, realisasi kinerja keuangan yang telah dicapai perbankan di Indonesia mengubah perhitungan valuasi harga saham mereka. Berdasar data yang dihimpun KONTAN, ada 19 emiten bank yang valuasinya sangat murah. Lantaran punya
price to book value
(PBV) di bawah satu kali. Sebagian di antaranya berstatus sebagai bank besar.
Sebanyak enam emiten bank termasuk dalam Kelompok Bank berdasar Modal Inti 3 (KBMI 3) dengan modal inti di atas Rp 14 miliar hingga Rp 70 triliun. Mereka: Bank Tabungan Negara (BBTN), Bank Danamon (BDMN), Bank Maybank Indonesia (BNII), Bank OCBC NISP (NISP), Bank BTPN (BTPN) dan Bank CIMB Niaga (BNGA).
Dari 19 bank dengan valuasi paling murah di bawah satu kali itu, lima emiten masih berjuang memenuhi ketentuan modal inti minimum OJK. Per 30 September 2022 modal inti mereka di bawah Rp 3 triliun.
Lampu Hijau Perbankan di Pembiayaan Hijau
Perbankan nasional gencar menyalurkan pembiayaan hijau dan berkelanjutan sebagai komitmen mendorong perkembangan bisnis berbasis environmental, social, and governance (ESG). PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, misalnya, hingga kuartal III 2022 telah menyalurkan kredit Rp 221,1 triliun kepada sektor berkelanjutan atau 24 % total kredit perseroan. Dari nilai tersebut, pembiayaan ke sektor hijau telah menembus Rp 101 triliun atau 11,1 % total penyaluran kredit di periode tersebut. Dirut Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, mengungkapkan kontribusi perseroan pada pembiayaan hijau terus meningkat setiap tahunnya, tahun ini tercatat tumbuh 24,6 %. Pembiayaan tersebut tak hanya diperuntukkan bagi korporasi sebagai kredit modal kerja dan investasi, tapi juga untuk nasabah retail. Antara lain untuk kredit panel surya dan pembiayaan kendaraan listrik, ujarnya, kemarin, 2 November
Proyeksi kebutuhan pembiayaan hijau Indonesia mencapai US$ 281 miliar atau Rp 265,3 triliun per tahun. Sedangkan APBN diproyeksikan memenuhi Rp 37,9 triliun dari kebutuhan yang ada. “Kami berharap secara konsisten bisa berkontribusi sekitar 21-23 persen terhadap total kebutuhan pembiayaan,” kata Darmawan. Tak hanya itu, 46 % obligasi berkelanjutan Bank Mandiri senilai US$ 300 juta dialokasikan untuk sejumlah proyek hijau. Sedangkan untuk segmen sosial, perseroan telah menyalurkan pembiayaan senilai Rp 120 triliun hingga kuartal III 2022, dengan porsi 13,2 % total portofolio pinjaman. “Untuk segmen sosial, antara lain kami bekerja sama dengan Amartha untuk memberikan pembiayaan kepada 114 ribu perempuan di perdesaan,” ucap dia. (Yoga)
Pendapatan Perbankan dari Pemulihan Aset Semakin Besar
Penjualan aset bermasalah perbankan yang sudah hapus buku semakin meningkat. Alhasil pendapatan bank dari recovery atau penjualan aset yang dihapusbukukan naik sepanjang September 2022 dibanding periode yang sama tahun lalu.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), misalnya, membukukan recovery income sampai dengan posisi September 2022 sebesar Rp 8,2 triliun atau tumbuh 27,5% yoy. BRI menargetkan recovery income sampai dengan Desember 2022 sebesar Rp 10,4 triliun.
Sekretaris Perusahaan BRI, Aestika Oryza Gunarto menyatakan, perkembangan penjualan agunan bermasalah saat ini di BRI cukup signifikan. Itu terlihat dari frekuensi lelang yang mencapai lebih dari 2.100 kali, dengan produktivitas lelang 30%.
Sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) membukukan pendapatan dari recovery sebesar Rp 4,16 triliun. Nilai ini meningkat 35,9% yoy. Total kredit hapus buku bank ini mencapai Rp 10,07 triliun atau meningkat 1,6% yoy.
Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri, Rudi As Aturridha menyampaikan, dalam menjaga kualitas aset, Bank Mandiri telah membentuk pencadangan yang memadai.
Sementara PT Bank BNI Tbk membukukan pendapatan recovery sebesar Rp 2,96 triliun sepanjang kuartal III 2022. Angka tersebut meningkat hingga 55,8% yoy dari Rp 1,9 triliun.
Bank Bersiap Naikkanlah Bunga
Era bunga rendah berakhir seiring akselerasi kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank sentral di berbagai negara. BI ikut menaikkan bunga acuan guna menjaga stabilitas rupiah dan mencegah capital outflow. Merespons kenaikan suku bunga acuan, perbankan kini bersiap-siap melakukan penyesuaian suku bunga simpanan dan kredit, selambatnya mulai bulan November 2022. Bank sentral AS diprediksi kembali menaikkan bunga acuan, fed fund rate (FFR), dari 3,25% ke level 4,4% pada akhir 2022 dan 4,75% di ujung 2023. Mengikuti tren kenaikan bunga global, BI diperkirakan akan mengerek bunga acuan, BI 7-days reverse repo rate (BI7DRR), dari 4,7% ke kisaran 5,25-5,50% hingga akhir 2022, dan ke kisaran 6,5-6,75% pada akhir tahun 2023.
Presdir PT Bank CIMB Niaga Tbk Lani Darmawan mengungkapkan, tekanan dari sisi likuiditas sudah terasa mengetat, ditambah BI terus menaikkan suku bunga acuan BI7DRR sebesar 1,25% dalam tiga bulan terakhir. Dia memperkirakan pasar mulai menaikkan bunga pada November 2022. “Tapi dari top 10 bank itu masih menahan dulu, (bunga) DPK tidak naik, kredit juga tidak naik bunganya. Tapi kalau sekarang tidak akan bisa tahan, dua-duanya akan naik, DPK dan loan. Kelihatannya memang harus naik, November ini di market sudah harus naik semua,” kata Lani, di Jakarta, akhir pekan lalu.
Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Royke Tumilaar mengatakan, di tengah ancaman resesi global akibat bunga dan inflasi yang semakin tinggi, saat ini bukan lagi era bunga rendah. BNI pun menyesuaikan pertumbuhan bisnisnya dengan kondisi yang ada dengan mengukur likuiditas. “Era bunga rendah berakhir dan mulai bunga tinggi, kami juga menjaga likuiditas yang kami cerminkan LDR di bawah 90% dan pertumbuhan kredit kami jaga sekonservatif mungkin, sehingga likuiditas, kredit, dan modal itu masih cukup aman untuk BNI di krisis global seperti sekarang,” kata Royke. (Yoga)









