Perbankan
( 2293 )PERBANKAN ASING : BERADU DALAM PEMBIAYAAN HIJAU
Sejumlah bank asing lebih dahulu memainkan perannya dalam penyaluran pembiayaan hijau di Indonesia, didorong kuatnya kampanye pembiayaan berkelanjutan di Tanah Air. Kuatnya dukungan pembiayaan berkelanjutan di Indonesia, membuat sektor perbankan ikut mengampanyekan pembiayaan hijau. Tak terkecuali bank asing yang berkantor di Indonesia. Sejumlah bank asing tercatat bergeliat mendorong pembiayaan hijau, seiring dengan potensi transisi ekonomi yang besar. Dalam Editors Roundtable yang digelar Standard Chartered PLC pada Kamis (15/6), isu pembiayaan hijau menjadi bahasan penting. Chairman Standard Chartered Group Jose Vinals mengatakan bahwa Standard Chartered PLC. berinovasi meluncurkan produk keuangan pembiayan hijau. Produknya berupa pembiayaan perdagangan berkelanjutan dan perjanjian pembelian kembali yang dikaitkan dengan kriteria environmental, social, and governance (ESG). Menurutnya, pembiayaan hijau juga dilakukan di Indonesia sebagai pasar yang potensial. “Apalagi, Indonesia telah sukses menjadi penanggung jawab Presidensi G20,” ujarnya.
Sejauh ini, Standard Chartered juga telah meluncurkan green mortgage, green auto loan dan sustainable deposit. Bank menargetkan untuk memobilisasi pembiayaan hijau dan transisi sebesar US$300 miliar pada akhir dekade ini. Vinals juga mengatakan banknya mempunyai berbagai portofolio pembiayaan hijau di Indonesia. “Kami memiliki platform transisi, terdapat proyek PLTS Cirata. Ini proyek yang juga sangat besar untuk ruang energi baru, sehingga menjadi peluang membantu Indonesia,” ujarnya. Standard Chartered memang telah membiayai proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Cirata 145 Megawatt yang akan menyediakan listrik untuk menyalakan 50.000 unit rumah, dan akan mengimbangi 214.000 ton emisi karbon dioksida. Standard Chartered juga berkerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan mengambil bagian sebagai Joint Green Structuring Advisor. Executive Director Treasury & Markets Bank DBS Indonesia M. Suryo Mulyono mengatakan DBS juga mendorong akselerasi penarapan ekonomi hijau di Indonesia melalui pencanangan target net zero emission akan terwujud pada 2050. Kerja sama antara Bank DBS Indonesia dan Indika Energy merupakan transisi pembiayaan untuk mendanai proyek pengembangan sumber energi baru dan terbarukan berbasis biomassa yaitu wood pellet yang akan dilakukan oleh JBP. Tidak hanya dua bank asing itu, PT Bank UOB Indonesia juga tak mau ketinggalan mendorong pembiayaan hijau di Indonesia melalui target ambisius.
Bank Digital Terseret Sentimen Bunga Acuan
Tekanan pada saham-saham bank digital masih terus berlanjut. Sejak awal tahun ini, mayoritas saham bank digital kompak bergerak melemah.
Contoh, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) sejak awal tahun harga sahamnya sudah terkoreksi 18,60% jadi Rp 525 per saham pada Selasa (13/6). Saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) juga sudah turun 17,20% sejak awal tahun menjadi Rp 3.080 per saham.
Satu-satunya saham bank digital yang mengalami kenaikan harga adalah PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI). Harga saham bank digital ini naik 13,31% sejak awal tahun menjadi Rp 2.000 per saham.
Research & Consulting Manager Infovesta Utama Nicodimus Anggi mengungkapkan, penguatan harga saham-saham bank digital beberapa waktu belakangan didukung ekspektasi pasar terkait suku bunga The Fed. Pasar meyakini The Fed akan menghentikan laju kenaikan suku bunga acuannya pada Juni ini.
The Fed telah menaikkan 500 basis poin (bps) sejak Maret 2022. “Karena estimasi suku bunga tidak akan naik lagi, bank digital akan terhindar dari lebih besarnya pembayaran beban bunga yang semakin tinggi,” ujar Nico.
Head of Research Jasa Utama Capital Sekuritas Cheril Tanuwijaya menambahkan, sinyal penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI) juga mendorong kenaikan harga saham-saham bank digital.
Penurunan bunga acuan ini akan lebih menguntungkan bank digital, karena selama ini mereka memberikan bunga jauh lebih tinggi dari bank konvensional.
Selain itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menyebutkan bank digital masih dibayangi oleh likuiditas minim. Padahal likuiditas penting untuk ekspansi kredit.
Tujuh Bank Papan Atas Raup Laba Rp57 Triliun
JAKARTA,ID-Industri perbankan nasional terus membukukan kinerja impresif sepanjang tahun ini. Itu tergambar pada laba tujuh bank ternama yang per akhir April 2023 mencapai Rp57 triliun, naik 22% dibandingkan periode sama tahun yang lalu yang sebesar Rp 46,9 triliun. Ketujuh bank itu adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI/BBRI), PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA), PT Bank Tabungan Negara Tbk (BYN/BBTN), dan PT Bank BTPN Syariah Tbk (BTPS). Tren pertumbuhan laba bersih perbankan diyakini berlanjut sampai akhir 2023. Alasannya, laju inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat stabil. Hal ini memberikan ruang bagi Bank Indonesia mempertahankan suku bunga aucan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DRR) di level 5,75% sampai akhir tahun. Ini akan menguntungkan industri perbankan nasional, karena bisa mendongkrak margin bunga bersih. Melihat fakta ini, semua broker memberikan rekomendasi positif terhadap saham perbankan yang diriset. Mereka bahkan tidak segan menetapkan target harga tinggi, karena yakin dengan prospek kinerja keuangan industri perbankan tahun ini. (Yetede)
Bank Punya Kapasitas Mumpuni Dukung Pembiayaan Berkelanjutan
JAKARTA,ID- Perbankan nasional punya kapasitas mumpuni untuk mendukung realisasi target NZE 2060. Ekspansi kredit masih menunggu terbentuknya ekosistem dan tambahan instrumen berkelanjutan. Selain itu bank perlu insentif penurunan giro wajib minimum agar likuiditasnya makin tebal. Komitmen Lembaga Jasa Keuangan (LJK) dalam menerapkan aksi keuangan berkelanjutan (sustainability financing) cukup kuat. Setidaknya tergambar dari pertumbuhan nominal kredit berkelanjutan (sustainable finance) atau pembiayaan hijau (green finance) yang disalurkan oleh top 10 bank nasional. Nilai kredit sustainability finance yang digelontorkan 10 bank yang menguasai lebih dari 62% aset perbankan nasional tercatat mencapai Rp1.463 triliun per tahun 2022, meningkat 12,5% year on year (yoy) dari sebesar Rp1.300,7 triliun pada tahun 2021. Adapun total kredit bank yang tersalur kesemua sektor tercatat Rp4.106,1 triliun pada 2022, tumbuh 11,3% yoy dibanding total kredit bank sebesar Rp 3.690,1 triliun pada tahun 2023. Merekahnya nilai kredit berkelanjutan atau sektor yang mengusung prinsip environmental, social, and governance (ESG) yang digelontorkan perbankan Tanah Air didorong sejumlah faktor. Selain atas kesadaran pentingnya menjaga masa depan bumi, tentu saja bank punya motif bisnis untuk tujuan memacu profitabilitas. (Yetede)
Transaksi PUAB Masih Mengalir
JAKARTA,ID-Kebutuhan bank dalam menyalurkan kredit diikuti oleh terus mengalirnya transaksi uang antar bank (PUAB), baik rupiah maupun valuta asing (valas). Transaksi PUAB diperkirakan akan terus bergulir di tahun ini, sejalan dengan kebutuhan dana perbankan dalam menjalani fungsi intermediasi. Pada kuartal I-2023, volume rata-rata harian transaksi uang antar bank rupiah berada di level Rp18,59 triliun dengan suku bunga rata-rata 5,68%, meningkat dibanding posisi sebelumnya sebesar Rp17,63 triliun dengan suku bunga rata-rata 5,59%. Kenaikan volume transaksi PUAB disebabkan oleh kebutuhan bank menyalurkan dan melayani kegiatan nasabah. "Sejalan dengan tren penyaluran kredit yang berpotensi meningkat, maka volume aktivitas PUAB juga akan meningkat dalam beberapa periode kedepan menuju ke level pra pandemi. Sementara itu, suku bunga PUAB juga valas potensial yang berlanjut naik seiring kenaikan suku bunga kebijakan off-shore. Kenaikan volume aktivitas PUAB merupakan indikasi lain peningkatan kebutuhan likuiditas bank untuk aktivitas jangka pendek yang disebabkan peningkatan kebutuhan likuiditas bank untuk kredit dan aktivitas nasabah. Bank sentral akan terus berupaya menjaga level likuiditas yang memadai di pasar uang antar bank untuk memastikan bank tetap mampu menjalankan fungsi intermediasinya secara optimal. (Yetede)
KREDIT PERBANKAN : MOMENTUM PEMILU POLES KINERJA BANK
Optimisme terhadap kinerja kredit industri perbankan masih tetap bernyala, kendati terlihat adanya tren perlambatan pada April 2023 lalu. Momentum Pemilihan Umum 2024 bakal menjadi salah satu katalis yang mengerek permintaan kredit debitur. Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), portofolio kredit industri perbankan hingga April 2023 mencapai Rp6.464 triliun, tumbuh 8,08% secara tahunan (year-on-year/ YoY). Namun, pertumbuhan tersebut menurun dibanding Maret 2023 yang tumbuh 9,93%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, mengatakan bahwa seiring dengan melandainya kredit pada April 2023, sejumlah bank merevisi rencana bisnis bank (RBB). “Kita sudah menerima beberapa bank yang melakukan penyesuaian proyeksi pertumbuhan kredit,” kata Dian dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) OJK pada Selasa (6/6). Optimisme itu antara lain didorong perekonomian domestik yang mulai pulih pascapandemi, persiapan Pemilu 2024 yang pada umumnya akan mendorong konsumsi masyarakat, serta permintaan pada jenis kredit lain. Sebelumnya, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA), Lani Darmawan, mengatakan bahwa meskipun terjadi tren pelambatan penyaluran kredit pada awal tahun, CIMB Niaga masih optimis permintaan kredit akan tumbuh pesat pada keseluruhan tahun ini. Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR), Yuddy Renaldi, juga mengatakan bahwa bank, khususnya bank pembangunan daerah (BPD) seperti Bank BJB masih melihat pertumbuhan kredit pada sisa tahun ini yang moncer. Sementara itu, Direktur Eksekutif Segara Institute, Piter Abdullah, mengatakan bahwa tren melandainya penyaluran kredit pada April 2023 lebih bersifat teknikal setelah mengalami tren pertumbuhan dalam beberapa bulan sebelumnya.
Di sisi lain, adanya momentum Pemilu 2024 dapat menjadi katalis positif bagi penyaluran kredit perbankan. Efeknya bakal terasa setidaknya mulai akhir tahun ini. Salah satu sektor yang potensial mendapatkan kredit masif adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, mengatakan bahwa pemilu sering kali dilihat dan terbukti dari data serta analisis yang terjadi, akan memberikan tambahan peluang bagi pergerakan aktivitas perekonomian. Sebelumnya, Ekonom Senior DBS Bank, Radhika Rao, mengatakan bahwa berdasarkan analisis DBS Macro and Strategy Team, dalam empat pemilu terakhir yakni 2004, 2009, 2014, dan 2019, terdapat kecenderungan konsumsi rumah tangga meningkat sampai satu kuartal sebelum pelaksanaan pemilu. Setelah itu, pergerakannya cenderung stabil dengan sedikit bias penurunan. Sementara itu, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin, mengatakan jelang pemilu, salah satu jenis kredit bank yang diperkirakan moncer adalah kredit ke sektor UMKM.
Saham-Saham Bank Digital Rebound
JAKARTA,ID-Saham-saham bank digital menguat tajam dalam sepekan terakhir dipimpin oleh PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO). Investor giat mengoleksi saham-saham tersebut seiring maraknya tren digitalisasi perbankan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (9/6/2023), selain saham BBHI dan ARTO, saham bank digital lainnya menunjukkan penguatan, meski dibawah kedua bank tersbeut. Saham BBHI ditutup naik Rp235 (18,50%) menjadi Rp1.505, sehingga menjadi lompatan besar hingga 47,54% dalam sepekan ini, dari Rp 1.020 menjadi Rp 1.505. Terkait pergerakan harga saham bank digital lainnya, yaitu saham PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) juga ikut terkerek Rp 20 (4%) menjadi Rp 520, dengan demikian saham ini telah menguat 15,5% dari Rp482 menjadi Rp 520 pekan ini. Penguatan serupa juga melanda saham PT bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) naik dari Rp 352 menjadi Rp 372 sepanjang pekan ini. Saham PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) menguat dari Rp 1.285 menjadi Rp 1.420. Sedangkan penguatan terendah menimpa saham PT Bank MNC Tbk (BABP) yang berhasil naik tipis dari 76 menjadi Rp 78 pekan ini. "Kami melihat, kenaikan harga saham emiten bank digital belakangan ini sifatnya rally atau kenaikan yang relatif konsisten. Sejatinya, tren digitalisasi perbankan telah mengubah lanskap inklusi keuang di Tanah Air," kata Senior Investmen Information Mirea Asset Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta, kepada Investor Daily. (Yetede)
KENAIKAN SUKU BUNGA SIMPANAN : PUTAR CARA HIMPUN DANA MURAH
Perbankan memperkuat strategi untuk mendulang simpanan giro dan tabungan di tengah tren kenaikan suku bunga simpanan. Kelompok bank besar yang banjir likuiditas, berupaya sekuat tenaga agar rasio dana murahnya terus meningkat.
Mengutip dana analisis uang beredar yang dirilis oleh Bank Indonesia, rata-rata suku bunga simpanan berjangka untuk seluruh tenor naik. Jika dilihat sepanjang tahun ini, suku bunga simpanan jangka 3 bulan pada April 2023 bertengger di level 4,44% lebih tinggi dibandingkan dengan Desember 2022 sebesar 4,19%.Adapun suku bunga simpanan untuk tenor 12 bulan, bergerak dari 4,71% pada akhir 2022 menjadi 4,97% pada April 2023.Kenaikan itu membuat suku bunga simpanan bank, terutama di segmen bank menengah kecil bergerak naik. Naiknya bunga simpanan deposito diimbangi dengan indikasi pergerakan dana murah dari giro dan tabungan, mengalir ke simpanan deposito.Sampai dengan April 2023, outstanding simpanan deposito senilai Rp2.873,7 triliun atau tumbuh 0,35% dibandingkan dengan periode Desember 2022.Sementara itu, simpanan giro dan tabungan masing-masing turun 6,76% dan 1,06%.
BSI bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut dan Satuan Kerja Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek Kementerian Perhubungan untuk pengelolaan atau payroll gaji karyawan. Melalui kolaborasi ini, BSI dapat melayani lebih dari 900 pegawai di bawah Kementerian Perhubungan.Direktur Sales & Distribution BSI Anton Sukarna mengatakan bahwa kerja sama pengelolaan gaji berupa payroll dengan berbagai kementerian dan lembaga seperti di Kementerian Perhubungan terbukti memberikan efi siensi beban bagi hasil.
Sementara itu, Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk. Hera F. Haryn menuturkan upaya mengerek dana murah dilakukan BCA untuk menekan biaya dana di tengah tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Amin Nurdin mengatakan upaya mempertebal dana murah memang menjadi salah satu strategi perbankan dalam menjaga kinerja bisnisnya di tengah tren suku bunga acuan BI yang tinggi.
Keamanan Digital Diperkuat
Seiring maraknya serangan siber terhadap industri jasa keuangan, OJK mendesak lembaga jasa keuangan untuk memperkuat keamanan digitalnya. Pelaku jasa keuangan diminta menerapkan penilaian risiko siber, melaporkan serangan siber yang terjadi, serta menyusun panduan operasional tata kelola, sistem keamanan, dan pemulihan jika terjadi serangan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, fenomena serangan siber ini terus terjadi tak hanya di dalam negeri, tetapi juga pada lingkup global. OJK pun mendorong lembaga jasa keuangan terus memperkuat ketahanan dan keamanan sistem teknologi informasi digital.
”OJK sebagai otoritas terus mendorong peningkatan keamanan sistem teknologi informasi secara komprehensif seiring potensi ancaman yang terus timbul,” ujar Dian, Selasa (6/6). Ia menambahkan, saat ini peraturan mengenai keamanan digital bagi lembaga jasa keuangan sudah tertuang dalam Peraturan OJK No 11 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Teknologi Informasi oleh Bank Umum dan Surat Edaran (SE) OJK No 29/2022 tentang Keamanan dan Ketahanan Siber bagi Bank Umum. Pelaku jasa keuangan, lanjut Dian, harus menerapkan penilaian risiko siber (cyber risk assessment) dan melaporkan insiden serangan siber yang terjadi. Selain itu, pengawas OJK juga akan menilai kapasitas kematangan digital (digital maturity) lembaga jasa keuangan. Setiap lembaga jasa keuangan juga perlu menyusun panduan operasional tata kelola, sistem keamanan, dan pemulihan apa- bila terjadi serangan. (Yoga)
Lepas Aset Bermasalah Agar Tidak Kena Masalah
Perbankan semakin gencar melakukan penjualan aset-aset bermasalah yang dimiliki, guna mempercepat pemulihan aset. Jika penjualan sukses dan tingkat
recovery
atau pemulihan tinggi, maka akan semakin mendorong peningkatan laba bank tahun ini.
Mekanisme penjualan aset dilakukan dengan melalui lelang, fiat eksekusi atau putusan pengadilan, pengalihan hak tagih, serta novasi atau pembaharuan utang. Lalu ada lagi dengan skema
asset swap
atau tukar guling aset dengan surat utang.
Bank Negara Indonesia (BNI) misalnya, punya kredit macet Rp 17,4 triliun secara
bank only
per Maret 2023. Ini setara 2,8% dari total kreditnya. NPL Bank Rakyat Indonesia (BRI) bahkan mencapai Rp 32,1 triliun, atau 3,02% dari total kreditnya.
Karena itu, bank-bank tersebut getol melakukan penjualan aset-aset bermasalah. Kebanyakan aset-aset yang sedang dijual bank terkait dengan properti.
BNI, dalam pengumumannya, menyebut akan melelang lima bidang tanah di Tangerang Selatan dan Apartemen Kingland Avenue yang berdiri di atasnya. Total luas mencapai 22.349 meter persegi (m2).
Melansir
lelang.go.id, Rabu (7/6), aset tersebut di lelang dengan limit Rp 849,3 miliar. Setoran jaminan peserta lelang dipatok Rp 254,8 miliar.
BTN juga saat ini sedang melego sejumlah aset kredit kontruksi proyek apartemen. Nixon LP Napitupulu, Direktur Utama BTN, sebelumnya menyebut, aset tersebut milik tujuh pengembang. Namun, ia tidak menyebut siapa pengembangnya.









