;
Tags

Nikel

( 214 )

MESIN BARU PENGHILIRAN NIKEL

HR1 27 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)

Momentum positif menaungi upaya penghiliran nikel di Tanah Air. Pasalnya, bola panas divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) akhirnya mereda setelah Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. sepakat untuk melepas kepemilikan di perusahaan tambang nikel itu seharga Rp3.050 per lembar saham kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Melalui aksi tersebut, MIND ID bakal menjadi pemegang saham mayoritas di INCO, sebanyak 34%. Sementara itu, Vale Canada Limited masih menguasai 33,9%, Sumitomo 11,5%, dan publik di Bursa Efek Indonesia sebanyak 20,6%. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, MIND ID nantinya bakal mengendalikan INCO bersama dengan Vale Canada Limited. Nantinya, perusahaan asal Kanada tersebut bakal mendapat ‘jatah’ untuk menunjuk direktur operasional dan direktur yang bertanggung jawab atas environment, social, and governance (ESG). 

Sementara itu, MIND ID memiliki hak untuk menunjuk tiga orang komisaris, termasuk komisaris utama; direktur utama; dan direktur SDM. Untuk saat ini, Kementerian BUMN dan MIND ID pun sudah bulat memutuskan untuk tetap menjadikan Febriany Eddy sebagai Direktur Utama INCO. Hal itu dilakukan untuk memastikan komitmen penghiliran perusahaan tetap berjalan seperti yang telah ditetapkan. Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso menjelaskan, saat ini pihaknya tidak lagi khawatir dengan block voting agreement yang sebelumnya dimiliki oleh Vale Canada Limited dan Sumitomo, karena kesepakatan tersebut telah dihapuskan. Hendi pun memastikan MIND ID bakal menggunakan kas internal perusahaan untuk mengambil 14% saham INCO yang disebut Vale Base Metal mencapai US$160 juta dan harus tuntas paling telat akhir tahun ini. Sementara itu, Chief Executive Officer Vale Base Metal Deshnee Naidoo menjelaskan, pihaknya berharap bisa bekerja sama dengan para mitranya di INCO, sehingga proyek perusahaan bisa memberikan nilai tambah bagi Indonesia. 

 Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kesepakatan divestasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan tata kelola pertambangan yang baik di Tanah Air. Hal itu juga menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk tidak menciutkan wilayah kerja INCO. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemerintah bakal meminta INCO untuk fokus melaksanakan peningkatan produksi dan pembangunan smelter di proyek Soroako, Pomalaa, dan Bahodopi. Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, posisi MIND ID sebagai pemegang saham mayoritas bakal memudahkan perusahaan dalam menyelaraskan kegiatan bisnis INCO.

Pekerjaan Rumah Setelah Divestasi Saham Vale

KT1 27 Feb 2024 Tempo
KEINGINAN pemerintah memasifkan penghiliran nikel memungkinkan terwujud setelah induk badan usaha milik negara bidang pertambangan, MIND ID, mengakuisisi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebanyak 14 persen, kemarin. Dengan tambahan saham itu, MIND ID kini menjadi pengendali saham terbesar perusahaan tambang nikel ini dengan menguasai 34 persen. Saham 14 persen berasal dari Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Ltd. Dengan penjualan itu, saham VCL di Inco berkurang menjadi 33,9 persen dan Sumitomo 11,5 persen. Selain menjadi pemegang saham mayoritas, MIND ID menjadi pengendali operasi Vale Indonesia. MIND ID punya hak menempatkan direktur utama dan direktur sumber daya manusia. 

Dengan memiliki hak pengendali operasi Vale Indonesia, MIND ID bisa mendorong pemanfaatan penguasaan dan pengelolaan lahan tambang nikel lebih maksimal. Selama ini, di bawah kendali VCL, Vale Indonesia lambat memanfaatkan wilayah kerja tambang nikel yang begitu luas. Dari 118 ribu hektare wilayah tambang Vale Indonesia di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, hanya belasan ribu hektare yang termanfaatkan.Kapasitas produksi nikel Vale Indonesia juga cenderung stagnan 70-80 ribu ton per tahun. Pada 2023, produktivitas Vale Indonesia bahkan hanya 70.728 ton nickel matte. Padahal, sampai 31 Desember 2022, perusahaan memiliki cadangan bijih nikel berkadar 1,70 persen hingga 111,55 juta ton. (Yetede)

Menimbang Masa Depan Antam Setelah Dihantam Penurunan Harga Nikel

KT1 26 Feb 2024 Investor Daily (H)
Kinerja Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)  diproyeksi memiliki masa depan cerah kendati di tengah tantangan pelemahan harga jual rata-rata (Avarage Selling Price/ASP) nikel hingga 40%. Prediksi ini merujuk pada potensi laba bersih yang dibukukan perseroan sepanjang 2023 sebesar Rp 3,5 triliun diimbangi dengan keuntungan dan transaksi  Hongkong CBL Ltd (HKCBL) sebesar Rp 628 miliar. Tim analis PT Indopremier Sekuritas yang terdiri dari Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan meyakini, emiten tambang pelat merah itu masih menarik lantaran valuasinya  relatif menarik dengan P/E 11x pada tahun ini dibandingkan penambang lain ditengah harga nikel yang lemah. "Karena itu, kami mempertahankan peringkat Beli untuk saham ANTM dengan laba bersih sebesar Rp628 miliar pada kuartal IV-2024 didorong oleh keberuntungan dari kesepakatan HKCBL," tulis Ryan. (Yetede)

Efek Negatif Penghiliran Nikel

KT1 26 Feb 2024 Tempo
Penghiliran nikel dianggap belum memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan akibat besarnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Hal itu dirasakan Pani Arpandi, warga Pulau Wawonii, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Hingga kini ia masih konsisten menentang keberadaan tambang nikel di daerahnya. Menurut dia, kehadiran perusahaan nikel belum memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian warga lokal. “Malah yang terlihat dampak lingkungan. Sudah lima hari belakangan air konsumsi masyarakat di Desa Roko-Roko, dekat beroperasinya tambang, menjadi keruh,” ujarnya saat dihubungi kemarin.

Arpandi yakin penyebab air yang selama ini keruh adalah operasi tambang. Menurut dia, beberapa bulan sejak tambang beroperasi, sudah ada penurunan pendapatan, khususnya di sektor perikanan. “Kekeruhan air menjadi penyebab larinya ikan-ikan,” ujarnya. Kondisi yang dialami Arpandi seakan-akan membenarkan riset Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk "Membantah Mitos Nilai Tambah, Menilik Ulang Industri Hilirisasi Nikel: Dampak Ekonomi dan Kesehatan dari Industri Nikel di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara".

Riset yang dirilis pada 20 Februari lalu itu menyebutkan skema bisnis industri nikel yang ada saat ini hanya memberi keuntungan selama lima tahun awal, atau selama masa konstruksi. Meski industri ini menghasilkan produk domestik bruto (PDB) positif sebesar US$ 4 miliar (sekitar Rp 62,8 triliun), setelah tahun kelima, keuntungan menurun setelah dampak lingkungan hidup dan kesehatan mulai memperlihatkan efek negatif terhadap total output perekonomian. (Yetede)

INCO Masih Tertekan Harga Nikel

HR1 22 Feb 2024 Kontan

Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksi turun di 2024. Meski begitu, prospek INCO dinilai tetap positif didorong perkembangan industri kendaraan listrik.Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, tren pertumbuhan kinerja INCO akan terkoreksi akibat adanya kelebihan pasokan yang menyebabkan tekanan pada harga nikel. Ia memperkirakan harga nikel tahun ini berkisar US$ 16.000 - 17.000 per ton setelah rata-rata tahun lalu di kisaran US$ 21.688 ton.Berdasar data Bloomberg, harga nikel untuk kontrak tiga bulan di level harga Rp 16.347 per ton pada Rabu (21/2). "Kami menilai hal ini mungkin saja menjadi peluang bagi INCO. Menurunnya harga nikel justru akan meningkatkan permintaan akan nikel terutama yang menjadi bahan baku baterai NMC," ujarnya, Rabu (21/2).Selama ini kendaraan listrik yang menggunakan Litium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC) adalah kendaraan listrik kelas atas. Sehingga dengan menurunnya harga nikel, bukan tidak mungkin dapat menekan harga kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dan dapat bersaing dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai Lithium Ferro-Phospate (LFP). "Prospek nikel sebagai bahan utama baterai NMC masih menonjol, mengingat NMC mendominasi pasar kendaraan listrik 50%-60% dibandingkan LFP," sambungnya.Dus, di tengah tekanan harga nikel, Arinda memperkirakan adanya potensi pertumbuhan volume penjualan. Terlebih pemerintah sangat mendukung industri tersebut melalui berbagai insentif.

Tekanan harga Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, meski belakangan naik, tetapi harga nikel masih turun lebih dari 40% dibanding tahun lalu. Harga tersebut juga mendekati level harga terendah sejak 2021."Penurunan ini tak lepas dari banjirnya pasokan baru nikel dari Indonesia dalam dua tahun terakhir," ujar Miftahul, Rabu (21/2).Kondisi surplus telah memicu penurunan yang lebih cepat pada harga nikel LME sejak awal kuartal IV 2023 menjadi di bawah US$ 17.000 per ton. Di tengah tekanan harga nikel, Mifta memperkirakan rata-rata harga jual (ASP) nikel INCO tahun ini berkisar US$ 13.260 per ton. Harga tersebut lebih rendah seiring pula volume produksi nikel yang kemungkinan tetap bertahan pada tingkat tinggi. Sementara Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario memperkirakan pendapatan INCO tahun ini turun 18,69% menjadi US$ 1 miliar dan laba bersih turun 49,69% menjadi US$ 138 juta.Prospek INCO tertahan karena ada juga kekhawatiran berkurangnya permintaan nikel karena meningkatnya preferensi industri kendaraan listrik terhadap baterai LFP. LFP memiliki siklus hidup yang lebih tinggi dan risiko lebih rendah.

Harita Naikkan Produksi Nikel Hingga Dua Kali Lipat

KT1 16 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle berencana menaikkan produksi feronikel hingga lebih dari dua kali lipat menjadi 305 ribu ton pada 2025 dibandingkan target tahun ini 120 ribu ton. Produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) atau campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt juga  ditargetkan naik dua kali lipat dari 55 ribu ton di 2023 menjadi 120 ribu ton pada tahun ini. Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahanya  kapasitas dan lini produksi perseroan. Manajemen Harita Nickle mengungkapkan, penambahan produksi feronikel pada tahun depan akan berasal dari Smelter Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) perusahaan asosiasi, PT Karunia Peramai Sentosa (KPS). Smelter nikel dengan 12 lini produksi ini, dapat memproduksi  185.000 metal ton per tahun. Pabrik nikel RKEF ketiga tersebut diperkirakan selesai dan siap beroperasi secara bertahap mulai pertengahan 2025. (Yetede)

Terimbas Anjloknya Harga Nikel

KT1 15 Feb 2024 Tempo
Harga nikel global diprediksi terus melemah pada 2024. Prospek investasi di industri nikel untuk tahun ini diperkirakan kurang baik karena kelebihan pasokan dan menurunnya konsumsi. "akan terjadi oversupply nikel terbesar sepanjang sejarah hingga harga yang sudah turun  30% tahun lalu hampir pasti akan turun lagi," kata pengamat pasar modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy, kepada Tempo, 13 Januari 2024. Tahun lalu, harga nikel turun, Data London Metal Exchange (LME) menunjukkan penurunannya bahkan lebih dari 40% dan menjadi yang terburuk dalam sejarah. Pada Oktober 2023, laman LME mempublikasikan kelebihan pasokan nikel dan lonjakan produksi di Indonesia. Dalam data tersebut dipaparkan, surplus didominasi di nikel kelas dua. Namun nikel kelas satu juga bergerak menuju kelebihan pasokan mulai tahun ini karena permintaan turun dan pasokan meningkat. (Yetede)

Vale Indonesia Cetak Laba US$ 274,33 Juta

HR1 12 Feb 2024 Kontan
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) tumbuh positif sepanjang tahun 2023 lalu. Emiten produsen nikel ini mengantongi pertumbuhan laba bersih 36,89% menjadi US$ 274,33 juta pada tahun lalu. Dikutip dari laporan keuangan, Minggu (11/2), laba bersih per saham dasar INCO naik menjadi US$ 0,0276 dari sebelumnya US$ 0,0202. Kenaikan laba bersih ini sejalan dengan laju pendapatan yang mencapai US$ 1,23 miliar per akhir 2023 yang meningkat sebesar 4,48% secara tahunan atau year on year (yoy). Rinciannya, sebanyak US$ 985,81 juta adalah penjualan kepada Vale Canada Limited (VCL), dan sebanyak US$ 246,45 juta merupakan penjualan kepada Sumitomo Metal Mining. Sepanjang 2023, INCO memproduksi 70.728 metrik ton nikel dalam matte. Realisasi ini naik 18% dari produksi tahun 2022 yang hanya 60.090 ton nikel matte. Tapi, INCO memperkirakan, produksi nikel matte tahun ini hanya berada di angka 70.000 ton, stagnan dari produksi tahun lalu. Chief Financial Officer INCO, Bernardus Irmanto mengatakan, ada dua faktor yang menyebabkan produksi cenderung sama. Salah satunya, faktor pemeliharaan alat tambang. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rizkia Darmawan menyematkan rekomendasi trading buy terhadap saham INCO dengan target harga Rp 4.900 per saham. Target harga ini menyiratkan price to earnings (PER) ratio sebesar 11,7 kali untuk 2024.

Hilirisasi untuk Siapa?

KT3 06 Feb 2024 Kompas

Hilirisasi adalah pemurnian mineral untuk mendapatkan nilai tambah dari hasil tambang, khususnya nikel yang banyak ada di Sulteng, Sultra, dan Maluku Utara. Hilirisasi sangat penting tidak hanya untuk mendapatkan nilai tambah, tetapi juga untuk industrialisasi. Pada awal 2000-an, dengan kebutuhan nikel yang besar di China dan harga yang menarik, mulailah tambang-tambang nikel yang tersebar di Sultra dan Sulteng mengekspor nikel dalam bentuk bijih nikel mentah tanpa nilai tambah. Pada era pemerintahan Jokowi dengan UU No 3/2020 hilirisasi booming dengan memberi banyak kemudahan dan insentif. Dengan aturan baru ini, banyak investasi atau penanaman modal asing dari China masuk ke industri smelter nikel.

Hilirisasi sebagai program dan konsep tentu sangat penting dan didukung semua pihak karena tujuannya untuk memajukan ekonomi nasional dengan harapan memberi nilai tambah dan manfaat kepada masyarakat. Menurut Presiden Jokowi, salah satu pencapaian luar biasa hilirisasi adalah pada 2022 ekspor nikel mencapai 33,8 juta USD atau Rp 519 triliun. Dari ekspor nikel sebesar itu, pendapatan negara berupa royalty (penerimaan negara bukan pajak/PNBP) yang menurut PP No 26 Tahun 2022 tarifnya 2 % dari harga, tetapi khusus nikel hanya 1,5 %, sekitar Rp 8 triliun. PPN sangat kecil karena hampir semua pajak ekspornya 0 %. PPh badan smelter mendapatkan fasilitas tax holiday sampai 20 tahun. Dari angka tersebut, ternyata pendapatan negara dari hilirisasi nikel sangat kecil. 

Pertumbuhan ekonomi daerah naik 15 % karena investasi dan ekspor itu, tetapi pertumbuhan ini menimbulkan kesenjangan baru karena sebagian besar dinikmati investor sendiri. Pendapatan para pengusaha daerah, seperti petambang nikel,tentu besar dan pemerintah mendapat PPh dan PPN 1 % dari penjualan dengan harga nikel yang lebih rendah, tetapi kerusakan lingkungan akibat tambang juga besar. Pendapatan masyarakat akan berdampak pada angka kemiskinan. Berdasarkan data BPS, 17 Juli 2023, tingkat kemiskinan di provinsi penghasil nikel di Sultra, Sulteng, dan Maluku Utara dari tahun 2022 ke tahun 2023 justru naik. Artinya, hilirisasi nikel tak mengurangi kemiskinan di provinsi-provinsi tersebut. Lalu hilirisasi ini bermanfaat untuk siapa ? (Yoga)

Penjualan Bijih Nikel Naik, Emas Menadah

HR1 01 Feb 2024 Kontan
PT Aneka Tambang Tbk atau Antam (ANTM) melaporkan kinerja operasional sejumlah  komoditas di  2023. Hasilnya, kinerja operasional ANTM beragam. Tercatat, produksi dan penjualan sejumlah komoditas seperti bijih nikel, perak, bauksit, hingga alumina terpantau naik. Sementara produksi feronikel dan emas Antam kompak turun. Dalam laporan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (31/1), produksi nikel Antam di 2023 sebanyak 13,44 juta wet metrik ton (wmt) bijih nikel. Realisasi ini naik 55,9% dari produksi bijih nikel 2022 yang hanya 8,62 juta wmt. Sekretaris Korporat Aneka Tambang, Syarif Faisal menuturkan, kenaikan produksi bijih nikel untuk memenuhi lonjakan permintaan pasar domestik. Terlihat dari penjualan bijih nikel ANTM yang naik 67,18% menjadi 11,71 juta wmt di 2023 dari hanya 7,0 juta wmt di 2022. Untuk bauksit, ANTM memproduksi 2,01 juta wmt, naik 21,9% dari 2022 yang hanya 1,65 juta wmt.  Bauksit yang diproduksi untuk keperluan smelter chemical grade alumina (CGA) di Tayan dan penjualan ke pihak ketiga. Lalu volume penjualan bauksit di 2023  naik 21% menjadi 1,5 juta dibandingkan pencapaian penjualan tahun 2022 yang 1,24 juta wmt. Produksi alumina ANTM juga naik 6% menjadi 160.940 ton, yang berasal dari CGA Tayan. Kenaikan produksi turut mendorong penjualan alumina sebesar 143.990 ton, naik 2% secara year on year (yoy). Nasib berbeda dialami komoditas andalan emas. ANTM memproduksi 1.208 kilogram (kg) emas atau setara 38.838 ons sepanjang 2023. Produksi tersebut turun 4,73% dibandingkan 2022 yakni  1.268 kg atau setara 40.767 ons. ANTM juga mencatat penurunan produksi dan penjualan produk feronikel. ANTM memproduksi 12.742 ton nikel dalam feronikel (TNi) sepanjang 2023. Realisasi ini menyusut 10,64% dari realisasi produksi feronikel di 2022 yakni 24.334 TNi. Analis Phintraco Sekuritas, Karina Rusfidyawati melihat, ke depan pertumbuhan penjualan ANTM kembali ke angka normal 12,23%. Meski tahun lalu terkoreksi 2,14%. Ini didorong oleh potensi penambahan kapasitas produksi dan bauran produk baru dari perusahaan tersebut.