Nikel
( 208 )PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN MINERAL : Smelter Nikel Sulfat Kalla Grup Segera Beroperasi
Proyek smelter nikel sulfat Kalla Group segera beroperasi pada akhir tahun ini. Operasi produksi dari smelter ini bakal menempatkan PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) —bagian dari Kalla Grup— sebagai pionir untuk hasil olahan nikel jenis ini. Oleh sebab itu, pemilik Kalla Grup Jusuf Kalla melakukan peninjauan pembangunan pabrik pengolahan nikel sulfat PT BMS yang terletak di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Saat ini progres pembangunan smelter ini diklaim telah mencapai 40%. Pabrik ini merupakan pabrik kedua di area lokasi tersebut, setelah pabrik pertama yang memproduksi feronikel rampung.
Tenaga kerja yang bisa diserap pun diproyeksi dapat mencapai ribuan pekerja, dengan perincian, satu pabrik akan menyerap sekitar 1.000 orang. “Kami memastikan bahwa seluruh smelter akan lebih mengutamakan pekerja dalam negeri. Kemungkinan hanya akan menggunakan tenaga kerja dari China di bagian konsultan saja,” ujarnya. Site Manager PT BMS Zulkarnain menambahkan bahwa pabrik nikel sulfat ini ditarget bisa rampung pada November 2024 dengan menghasilkan jenis nickel sulphate battery grade.
Pabrik ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 40.000 metrik ton nikel sulfat per tahun.
Saham Nikel Memanas, Potensi Gain 24%
Masa Depan Harita Nickel Tangguh
Harita Nickel Dapat Restu Right Issue 18,92 Miliar Saham
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita
Nickel segera mengeksekusi rencana penawaran umum terbatas dengan hak memesan
efek terlebih dahulu(PMHMETD/right issue) sebanyak 18, 92 miliar saham, setelah
mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar
biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (15/3)
Dirut Harita Nickel Roy Arman Affandi
mengatakan, pemegang saham telah memberikan persetujuan terhadap agenda ke dua
yang diusulkan oleh manajemen yaitu rencana right issue, dimana jumlah saham
yang akan diterbitkan minimal 10 % yang setara 6,30 miliar saham dan
sebanyak-banyaknya 30 % atau sebanyak 18,92 miliar saham dari modal ditempatkan
dan disetor perseroan saat ini. (Yetede)
MESIN BARU PENGHILIRAN NIKEL
Momentum positif menaungi upaya penghiliran nikel di Tanah Air. Pasalnya, bola panas divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) akhirnya mereda setelah Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. sepakat untuk melepas kepemilikan di perusahaan tambang nikel itu seharga Rp3.050 per lembar saham kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Melalui aksi tersebut, MIND ID bakal menjadi pemegang saham mayoritas di INCO, sebanyak 34%. Sementara itu, Vale Canada Limited masih menguasai 33,9%, Sumitomo 11,5%, dan publik di Bursa Efek Indonesia sebanyak 20,6%. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, MIND ID nantinya bakal mengendalikan INCO bersama dengan Vale Canada Limited. Nantinya, perusahaan asal Kanada tersebut bakal mendapat ‘jatah’ untuk menunjuk direktur operasional dan direktur yang bertanggung jawab atas environment, social, and governance (ESG).
Sementara itu, MIND ID memiliki hak untuk menunjuk tiga orang komisaris, termasuk komisaris utama; direktur utama; dan direktur SDM. Untuk saat ini, Kementerian BUMN dan MIND ID pun sudah bulat memutuskan untuk tetap menjadikan Febriany Eddy sebagai Direktur Utama INCO. Hal itu dilakukan untuk memastikan komitmen penghiliran perusahaan tetap berjalan seperti yang telah ditetapkan. Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso menjelaskan, saat ini pihaknya tidak lagi khawatir dengan block voting agreement yang sebelumnya dimiliki oleh Vale Canada Limited dan Sumitomo, karena kesepakatan tersebut telah dihapuskan. Hendi pun memastikan MIND ID bakal menggunakan kas internal perusahaan untuk mengambil 14% saham INCO yang disebut Vale Base Metal mencapai US$160 juta dan harus tuntas paling telat akhir tahun ini. Sementara itu, Chief Executive Officer Vale Base Metal Deshnee Naidoo menjelaskan, pihaknya berharap bisa bekerja sama dengan para mitranya di INCO, sehingga proyek perusahaan bisa memberikan nilai tambah bagi Indonesia.
Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kesepakatan divestasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan tata kelola pertambangan yang baik di Tanah Air. Hal itu juga menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk tidak menciutkan wilayah kerja INCO. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemerintah bakal meminta INCO untuk fokus melaksanakan peningkatan produksi dan pembangunan smelter di proyek Soroako, Pomalaa, dan Bahodopi. Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, posisi MIND ID sebagai pemegang saham mayoritas bakal memudahkan perusahaan dalam menyelaraskan kegiatan bisnis INCO.
Pekerjaan Rumah Setelah Divestasi Saham Vale
Menimbang Masa Depan Antam Setelah Dihantam Penurunan Harga Nikel
Efek Negatif Penghiliran Nikel
INCO Masih Tertekan Harga Nikel
Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksi turun di 2024. Meski begitu, prospek INCO dinilai tetap positif didorong perkembangan industri kendaraan listrik.Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, tren pertumbuhan kinerja INCO akan terkoreksi akibat adanya kelebihan pasokan yang menyebabkan tekanan pada harga nikel. Ia memperkirakan harga nikel tahun ini berkisar US$ 16.000 - 17.000 per ton setelah rata-rata tahun lalu di kisaran US$ 21.688 ton.Berdasar data Bloomberg, harga nikel untuk kontrak tiga bulan di level harga Rp 16.347 per ton pada Rabu (21/2). "Kami menilai hal ini mungkin saja menjadi peluang bagi INCO. Menurunnya harga nikel justru akan meningkatkan permintaan akan nikel terutama yang menjadi bahan baku baterai NMC," ujarnya, Rabu (21/2).Selama ini kendaraan listrik yang menggunakan Litium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC) adalah kendaraan listrik kelas atas. Sehingga dengan menurunnya harga nikel, bukan tidak mungkin dapat menekan harga kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dan dapat bersaing dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai Lithium Ferro-Phospate (LFP). "Prospek nikel sebagai bahan utama baterai NMC masih menonjol, mengingat NMC mendominasi pasar kendaraan listrik 50%-60% dibandingkan LFP," sambungnya.Dus, di tengah tekanan harga nikel, Arinda memperkirakan adanya potensi pertumbuhan volume penjualan. Terlebih pemerintah sangat mendukung industri tersebut melalui berbagai insentif.
Tekanan harga Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, meski belakangan naik, tetapi harga nikel masih turun lebih dari 40% dibanding tahun lalu. Harga tersebut juga mendekati level harga terendah sejak 2021."Penurunan ini tak lepas dari banjirnya pasokan baru nikel dari Indonesia dalam dua tahun terakhir," ujar Miftahul, Rabu (21/2).Kondisi surplus telah memicu penurunan yang lebih cepat pada harga nikel LME sejak awal kuartal IV 2023 menjadi di bawah US$ 17.000 per ton. Di tengah tekanan harga nikel, Mifta memperkirakan rata-rata harga jual (ASP) nikel INCO tahun ini berkisar US$ 13.260 per ton. Harga tersebut lebih rendah seiring pula volume produksi nikel yang kemungkinan tetap bertahan pada tingkat tinggi. Sementara Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario memperkirakan pendapatan INCO tahun ini turun 18,69% menjadi US$ 1 miliar dan laba bersih turun 49,69% menjadi US$ 138 juta.Prospek INCO tertahan karena ada juga kekhawatiran berkurangnya permintaan nikel karena meningkatnya preferensi industri kendaraan listrik terhadap baterai LFP. LFP memiliki siklus hidup yang lebih tinggi dan risiko lebih rendah.
Harita Naikkan Produksi Nikel Hingga Dua Kali Lipat
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









