;
Tags

Nikel

( 208 )

PENGOLAHAN DAN PEMURNIAN MINERAL : Smelter Nikel Sulfat Kalla Grup Segera Beroperasi

HR1 24 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Proyek smelter nikel sulfat Kalla Group segera beroperasi pada akhir tahun ini. Operasi produksi dari smelter ini bakal menempatkan PT Bumi Mineral Sulawesi (BMS) —bagian dari Kalla Grup— sebagai pionir untuk hasil olahan nikel jenis ini. Oleh sebab itu, pemilik Kalla Grup Jusuf Kalla melakukan peninjauan pembangunan pabrik pengolahan nikel sulfat PT BMS yang terletak di Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel). Saat ini progres pembangunan smelter ini diklaim telah mencapai 40%. Pabrik ini merupakan pabrik kedua di area lokasi tersebut, setelah pabrik pertama yang memproduksi feronikel rampung.

Tenaga kerja yang bisa diserap pun diproyeksi dapat mencapai ribuan pekerja, dengan perincian, satu pabrik akan menyerap sekitar 1.000 orang. “Kami memastikan bahwa seluruh smelter akan lebih mengutamakan pekerja dalam negeri. Kemungkinan hanya akan menggunakan tenaga kerja dari China di bagian konsultan saja,” ujarnya. Site Manager PT BMS Zulkarnain menambahkan bahwa pabrik nikel sulfat ini ditarget bisa rampung pada November 2024 dengan menghasilkan jenis nickel sulphate battery grade. Pabrik ini diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 40.000 metrik ton nikel sulfat per tahun.

Saham Nikel Memanas, Potensi Gain 24%

KT1 23 Apr 2024 Investor Daily (H)
Harga nikel yang terus merangkak naik dan menyentuh  level tertinggi di 2024, turut mengerek harga saham emiten komoditas tersebut. Saham-saham seperti PT Aneka Tambang Tbk ( ANTM), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) tercatat telah mengalami kenaikan cukup tajam dalam satu bulan terakhir. Penguatan harga saham diyakini terus berlanjut, dengan  potensi gain mencapai 24,7%. Dikutip dari Bursa London Metal Exchange (LME) harga nikel berjangka tiga bulan naik +4,1% pada jumat (19/4/2024) ke level US$ 19.326 per ton. Kenaikan ini menandakan level harga nikel  tertinggi pada 2024. Sekaligus, pertama kalinya harga nikel menembus level US$ 19.000 per ton sejak September 2023. Secara kumulatif, sepanjang pekan lalu harga nikel menguat +8,6% dibanding pekan sebelumnya. (Yetede)

Masa Depan Harita Nickel Tangguh

KT1 06 Apr 2024 Investor Daily
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle berpeluang mengantongi dana jumbo sebesar Rp 17 triliun dari aksi penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue yang akan digunakan untuk akuisisi tambang dan penetrasi pasar. Analis menilai, ekspansi tersebut  bakal mengokohkan pendapatan sekaligus posisi Harita di industri baterai kendaraan listrik.  Potensi dana  fantastis tersebut bakal terhimpun dari aksi penawaran umum terbatas (PUT) sebanyak-banyaknya 18,9 miliar saham.  Tentunya dengan asumsi NCKL, membandrol harga pelaksanaan rights issue sebesar Rp 900 sebagaimana harga penutupan saham NCKLL pada Jumat (5/4/2024). Direktur Utama Harita Nickel Roy A. Arfandi menyatakan, PUT merupakan langkah strategis Harita Nikel sebagai upaya memperkuat pertumbuhan dan  pengembangan usaha berkelanjutan. (Yetede)

Harita Nickel Dapat Restu Right Issue 18,92 Miliar Saham

KT1 16 Mar 2024 Investor Daily

PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel segera mengeksekusi rencana penawaran umum terbatas dengan hak memesan efek terlebih dahulu(PMHMETD/right issue) sebanyak 18, 92 miliar saham, setelah mendapatkan persetujuan pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) yang digelar Jumat (15/3)

Dirut Harita Nickel Roy Arman Affandi mengatakan, pemegang saham telah memberikan persetujuan terhadap agenda ke dua yang diusulkan oleh manajemen yaitu rencana right issue, dimana jumlah saham yang akan diterbitkan minimal 10 % yang setara 6,30 miliar saham dan sebanyak-banyaknya 30 % atau sebanyak 18,92 miliar saham dari modal ditempatkan dan disetor perseroan saat ini. (Yetede)

MESIN BARU PENGHILIRAN NIKEL

HR1 27 Feb 2024 Bisnis Indonesia (H)

Momentum positif menaungi upaya penghiliran nikel di Tanah Air. Pasalnya, bola panas divestasi 14% saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) akhirnya mereda setelah Vale Canada Limited dan Sumitomo Metal Mining Co., Ltd. sepakat untuk melepas kepemilikan di perusahaan tambang nikel itu seharga Rp3.050 per lembar saham kepada PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID. Melalui aksi tersebut, MIND ID bakal menjadi pemegang saham mayoritas di INCO, sebanyak 34%. Sementara itu, Vale Canada Limited masih menguasai 33,9%, Sumitomo 11,5%, dan publik di Bursa Efek Indonesia sebanyak 20,6%. Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, MIND ID nantinya bakal mengendalikan INCO bersama dengan Vale Canada Limited. Nantinya, perusahaan asal Kanada tersebut bakal mendapat ‘jatah’ untuk menunjuk direktur operasional dan direktur yang bertanggung jawab atas environment, social, and governance (ESG). 

Sementara itu, MIND ID memiliki hak untuk menunjuk tiga orang komisaris, termasuk komisaris utama; direktur utama; dan direktur SDM. Untuk saat ini, Kementerian BUMN dan MIND ID pun sudah bulat memutuskan untuk tetap menjadikan Febriany Eddy sebagai Direktur Utama INCO. Hal itu dilakukan untuk memastikan komitmen penghiliran perusahaan tetap berjalan seperti yang telah ditetapkan. Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso menjelaskan, saat ini pihaknya tidak lagi khawatir dengan block voting agreement yang sebelumnya dimiliki oleh Vale Canada Limited dan Sumitomo, karena kesepakatan tersebut telah dihapuskan. Hendi pun memastikan MIND ID bakal menggunakan kas internal perusahaan untuk mengambil 14% saham INCO yang disebut Vale Base Metal mencapai US$160 juta dan harus tuntas paling telat akhir tahun ini. Sementara itu, Chief Executive Officer Vale Base Metal Deshnee Naidoo menjelaskan, pihaknya berharap bisa bekerja sama dengan para mitranya di INCO, sehingga proyek perusahaan bisa memberikan nilai tambah bagi Indonesia. 

 Di sisi lain, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kesepakatan divestasi tersebut menjadi momentum bagi Indonesia untuk menunjukkan tata kelola pertambangan yang baik di Tanah Air. Hal itu juga menjadi alasan utama bagi pemerintah untuk tidak menciutkan wilayah kerja INCO. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, pemerintah bakal meminta INCO untuk fokus melaksanakan peningkatan produksi dan pembangunan smelter di proyek Soroako, Pomalaa, dan Bahodopi. Associate Director BUMN Research Group Lembaga Management Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Toto Pranoto mengatakan, posisi MIND ID sebagai pemegang saham mayoritas bakal memudahkan perusahaan dalam menyelaraskan kegiatan bisnis INCO.

Pekerjaan Rumah Setelah Divestasi Saham Vale

KT1 27 Feb 2024 Tempo
KEINGINAN pemerintah memasifkan penghiliran nikel memungkinkan terwujud setelah induk badan usaha milik negara bidang pertambangan, MIND ID, mengakuisisi saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebanyak 14 persen, kemarin. Dengan tambahan saham itu, MIND ID kini menjadi pengendali saham terbesar perusahaan tambang nikel ini dengan menguasai 34 persen. Saham 14 persen berasal dari Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Ltd. Dengan penjualan itu, saham VCL di Inco berkurang menjadi 33,9 persen dan Sumitomo 11,5 persen. Selain menjadi pemegang saham mayoritas, MIND ID menjadi pengendali operasi Vale Indonesia. MIND ID punya hak menempatkan direktur utama dan direktur sumber daya manusia. 

Dengan memiliki hak pengendali operasi Vale Indonesia, MIND ID bisa mendorong pemanfaatan penguasaan dan pengelolaan lahan tambang nikel lebih maksimal. Selama ini, di bawah kendali VCL, Vale Indonesia lambat memanfaatkan wilayah kerja tambang nikel yang begitu luas. Dari 118 ribu hektare wilayah tambang Vale Indonesia di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara, hanya belasan ribu hektare yang termanfaatkan.Kapasitas produksi nikel Vale Indonesia juga cenderung stagnan 70-80 ribu ton per tahun. Pada 2023, produktivitas Vale Indonesia bahkan hanya 70.728 ton nickel matte. Padahal, sampai 31 Desember 2022, perusahaan memiliki cadangan bijih nikel berkadar 1,70 persen hingga 111,55 juta ton. (Yetede)

Menimbang Masa Depan Antam Setelah Dihantam Penurunan Harga Nikel

KT1 26 Feb 2024 Investor Daily (H)
Kinerja Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)  diproyeksi memiliki masa depan cerah kendati di tengah tantangan pelemahan harga jual rata-rata (Avarage Selling Price/ASP) nikel hingga 40%. Prediksi ini merujuk pada potensi laba bersih yang dibukukan perseroan sepanjang 2023 sebesar Rp 3,5 triliun diimbangi dengan keuntungan dan transaksi  Hongkong CBL Ltd (HKCBL) sebesar Rp 628 miliar. Tim analis PT Indopremier Sekuritas yang terdiri dari Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan meyakini, emiten tambang pelat merah itu masih menarik lantaran valuasinya  relatif menarik dengan P/E 11x pada tahun ini dibandingkan penambang lain ditengah harga nikel yang lemah. "Karena itu, kami mempertahankan peringkat Beli untuk saham ANTM dengan laba bersih sebesar Rp628 miliar pada kuartal IV-2024 didorong oleh keberuntungan dari kesepakatan HKCBL," tulis Ryan. (Yetede)

Efek Negatif Penghiliran Nikel

KT1 26 Feb 2024 Tempo
Penghiliran nikel dianggap belum memberikan keuntungan ekonomi yang signifikan akibat besarnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan. Hal itu dirasakan Pani Arpandi, warga Pulau Wawonii, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara. Hingga kini ia masih konsisten menentang keberadaan tambang nikel di daerahnya. Menurut dia, kehadiran perusahaan nikel belum memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian warga lokal. “Malah yang terlihat dampak lingkungan. Sudah lima hari belakangan air konsumsi masyarakat di Desa Roko-Roko, dekat beroperasinya tambang, menjadi keruh,” ujarnya saat dihubungi kemarin.

Arpandi yakin penyebab air yang selama ini keruh adalah operasi tambang. Menurut dia, beberapa bulan sejak tambang beroperasi, sudah ada penurunan pendapatan, khususnya di sektor perikanan. “Kekeruhan air menjadi penyebab larinya ikan-ikan,” ujarnya. Kondisi yang dialami Arpandi seakan-akan membenarkan riset Center of Economic and Law Studies (Celios) dan Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) bertajuk "Membantah Mitos Nilai Tambah, Menilik Ulang Industri Hilirisasi Nikel: Dampak Ekonomi dan Kesehatan dari Industri Nikel di Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara".

Riset yang dirilis pada 20 Februari lalu itu menyebutkan skema bisnis industri nikel yang ada saat ini hanya memberi keuntungan selama lima tahun awal, atau selama masa konstruksi. Meski industri ini menghasilkan produk domestik bruto (PDB) positif sebesar US$ 4 miliar (sekitar Rp 62,8 triliun), setelah tahun kelima, keuntungan menurun setelah dampak lingkungan hidup dan kesehatan mulai memperlihatkan efek negatif terhadap total output perekonomian. (Yetede)

INCO Masih Tertekan Harga Nikel

HR1 22 Feb 2024 Kontan

Kinerja PT Vale Indonesia Tbk (INCO) diproyeksi turun di 2024. Meski begitu, prospek INCO dinilai tetap positif didorong perkembangan industri kendaraan listrik.Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, tren pertumbuhan kinerja INCO akan terkoreksi akibat adanya kelebihan pasokan yang menyebabkan tekanan pada harga nikel. Ia memperkirakan harga nikel tahun ini berkisar US$ 16.000 - 17.000 per ton setelah rata-rata tahun lalu di kisaran US$ 21.688 ton.Berdasar data Bloomberg, harga nikel untuk kontrak tiga bulan di level harga Rp 16.347 per ton pada Rabu (21/2). "Kami menilai hal ini mungkin saja menjadi peluang bagi INCO. Menurunnya harga nikel justru akan meningkatkan permintaan akan nikel terutama yang menjadi bahan baku baterai NMC," ujarnya, Rabu (21/2).Selama ini kendaraan listrik yang menggunakan Litium Nikel Mangan Kobalt Oksida (NMC) adalah kendaraan listrik kelas atas. Sehingga dengan menurunnya harga nikel, bukan tidak mungkin dapat menekan harga kendaraan listrik yang menggunakan baterai NMC dan dapat bersaing dengan kendaraan listrik yang menggunakan baterai Lithium Ferro-Phospate (LFP). "Prospek nikel sebagai bahan utama baterai NMC masih menonjol, mengingat NMC mendominasi pasar kendaraan listrik 50%-60% dibandingkan LFP," sambungnya.Dus, di tengah tekanan harga nikel, Arinda memperkirakan adanya potensi pertumbuhan volume penjualan. Terlebih pemerintah sangat mendukung industri tersebut melalui berbagai insentif.

Tekanan harga Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Miftahul Khaer mengatakan, meski belakangan naik, tetapi harga nikel masih turun lebih dari 40% dibanding tahun lalu. Harga tersebut juga mendekati level harga terendah sejak 2021."Penurunan ini tak lepas dari banjirnya pasokan baru nikel dari Indonesia dalam dua tahun terakhir," ujar Miftahul, Rabu (21/2).Kondisi surplus telah memicu penurunan yang lebih cepat pada harga nikel LME sejak awal kuartal IV 2023 menjadi di bawah US$ 17.000 per ton. Di tengah tekanan harga nikel, Mifta memperkirakan rata-rata harga jual (ASP) nikel INCO tahun ini berkisar US$ 13.260 per ton. Harga tersebut lebih rendah seiring pula volume produksi nikel yang kemungkinan tetap bertahan pada tingkat tinggi. Sementara Analis MNC Sekuritas Alif Ihsanario memperkirakan pendapatan INCO tahun ini turun 18,69% menjadi US$ 1 miliar dan laba bersih turun 49,69% menjadi US$ 138 juta.Prospek INCO tertahan karena ada juga kekhawatiran berkurangnya permintaan nikel karena meningkatnya preferensi industri kendaraan listrik terhadap baterai LFP. LFP memiliki siklus hidup yang lebih tinggi dan risiko lebih rendah.

Harita Naikkan Produksi Nikel Hingga Dua Kali Lipat

KT1 16 Feb 2024 Investor Daily (H)
PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickle berencana menaikkan produksi feronikel hingga lebih dari dua kali lipat menjadi 305 ribu ton pada 2025 dibandingkan target tahun ini 120 ribu ton. Produksi mixed hydroxide precipitate (MHP) atau campuran padatan hidroksida dari nikel dan kobalt juga  ditargetkan naik dua kali lipat dari 55 ribu ton di 2023 menjadi 120 ribu ton pada tahun ini. Kenaikan tersebut sejalan dengan bertambahanya  kapasitas dan lini produksi perseroan. Manajemen Harita Nickle mengungkapkan, penambahan produksi feronikel pada tahun depan akan berasal dari Smelter Rotary Klin Electric Furnace (RKEF) perusahaan asosiasi, PT Karunia Peramai Sentosa (KPS). Smelter nikel dengan 12 lini produksi ini, dapat memproduksi  185.000 metal ton per tahun. Pabrik nikel RKEF ketiga tersebut diperkirakan selesai dan siap beroperasi secara bertahap mulai pertengahan 2025. (Yetede)