Nikel
( 214 )INDUSTRI BATERAI KENDARAAN LISTRIK : PETA JALAN KEMANDIRIAN BAHAN BAKU DISIAPKAN
Ambisi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat pengembangan industri baterai kendaraan listrik masih harus diuji. Hingga kini, masih ada sekitar 20% bahan baku untuk pengembangan baterai kendaraan listrik yang diperoleh dari impor. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) holding industri pertambangan Mining Industry Indonesia atau MIND ID membeberkan 20% bahan baku untuk pengembangan industri baterai kendaraan listrik dalam negeri masih bergantung pada impor. Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan bahwa 20% porsi bahan baku baterai kendaraan listrik itu tidak dapat dipenuhi oleh pertambangan mineral logam domestik. Kendati demikian, Dany memastikan, bahan baku utama berupa nikel relatif tersedia dengan jumlah cukup untuk menopang inisiatif industri kendaraan listrik di dalam negeri. “Nikel ini dimiliki oleh Antam, reserved cukup banyak, dan IBC ini ditargetkan berdasarkan milestone menjadi market leader di Asia Tenggara,” kata Danny saat rapat dengar pendapat dengan Komisi VII DPR, Jakarta, Senin (19/9). Hanya saja, Danny menggarisbawahi sejumlah bahan baku utama lainnya, seperti lithium hydroxide dengan kebutuhan sekitar 70.000 ton per tahun masih diimpor dari China, Australia, hingga Chile. Adapun, proses pemurnian sekaligus pengolahan dua komoditas mineral logam itu ada di China. Selain itu, graphite sebagai salah satu bahan baku pembentuk baterai kendaraan listrik juga masih diimpor dari China, Brasil, dan Mozambik dengan volume mencapai 44.000 per tahun.
Proyek Pengolahan Nikel dan Baterai Listrik Dihantui Vonis WTO
Akhir pekan ini, Presiden Joko Widodo mengirim sinyal bahwa Indonesia kalah melawan Uni Eropa terkait gugatan larangan ekspor bijih nikel di Organisasi Perdagangan Dunia atau World Trade Organization (WTO). Jika kalah, Indonesia wajib membuka lagi ekspor bijih nikel yang sudah ditutup sejak tahun 2020. Situasi pun berpeluang menghambat pengembangan industri kendaraan listrik nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif mengatakan, Indonesia masih berupaya maksimal menghadapi gugatan di WTO ini. Menteri Arifin menepis kekhawatiran bahwa putusan WTO itu bakal menghambat program pengolahan nikel di dalam negeri.
Memang, bisa saja Indonesia menerapkan pajak tinggi bagi ekspor nikel untuk menyiasati vonis WTO. "Tetapi efeknya akan bolak balik, namun memang harus kita lawan," tandas dia.
Antam Bangun Kawasan Industri Bahan Baku Baterai EV
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menggandeng
produsen prekursor terbesar di
dunia asal Tiongkok, CNGR, untuk
membangun kawasan industri yang
menghasilkan produk hilir nikel sebagai bahan baku baterai kendaraan
listrik (electric vehicle/EV). Kerja
sama ini akan mengadopsi teknologi terbaru pembangunan lini
produksi nikel yang berkomitmen
pada pengurangan karbon dan green
development.
“Terkait proyek hilirisasi nikel,
Antam saat ini fokus mengembangkan bisnis EV battery ecosystem.
Kami sangat mengapresiasi niat
CNGR untuk bekerja sama dalam
pengembangan fasilitas produksi
hilir nikel. Kami memahami, CNGR
merupakan mitra strategis yang
potensial bagi Antam, karena memiliki pengalaman teknologi canggih
dalam pengolahan nikel dan memiliki kinerja bisnis perusahaan yang
baik,” kata Direktur Utama Antam
Nico Kanter dalam keterangan
resminya, Senin (8/8/2022)
Dampak Larangan Ekspor Nikel: Investasi Penghiliran Tumbuh
Langkah pemerintah melarang ekspor bijih nikel sejak 2020 mulai membuahkan hasil, dan mampu mendorong pertumbuhan investasi yang konsisten di sektor logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya. Pertumbuhan investasi di sektor logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya disebut menjadi indikasi dari meningkatnya upaya penghiliran, salah satunya pada komoditas nikel.Kementerian Investasi/Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) mencatat, investasi di sektor logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya tumbuh 14% menjadi Rp39,7 triliun pada kuartal I/2022. Nilai investasi tersebut kembali menjadi yang tertinggi di antara sektor-sektor lainnya.Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pada 2019 sektor tersebut masih berada di urutan keempat investasi terbesar di Indonesia. Saat ini, sektor tersebut menempati posisi pertama. Seperti diketahui, Indonesia tengah menghadapi tuntutan di Organisasi Perdagangan Dunia atau WTO yang diajukan oleh Uni Eropa terkait dengan pelarangan ekspor nikel. Bahlil menyebut sejumlah nama yang sudah resmi akan berinvestasi di sektor tersebut antara lain BASF, VW, dan Britishvolt. “Terakhir sudah positif BASF masuk, VW sudah positif masuk. Jadi sekarang yang masuk itu, LG, CATL, BASF, VW, dan Bristishvolt dari Inggris,” ujarnya.
Menambang Rezeki dari Harga Nikel
Harga nikel berpotensi terus melambung seiring gangguan pasokan akibat perang Rusia-Ukraina. Prospek kinerja dan kenaikan harga saham emiten sektor pertambangan mineral jadi semakin menarik. Jumat (8/4), harga nikel kontrak bergulir tiga bulan di London Metal Exchange berada di US$ 33.855 per metrik ton. Dengan demikian, bila dihitung sejak awal tahun, harga nikel melambung 63%. Hasan Barakwan, Analis BRI Danareksa Sekuritas, menulis dalam riset, kenaikan harga nikel akan berlanjut. Harga akan stabil di atas US$ 30.000 per metrik ton.
Harga Nikel Global Terus Turun Sejak Transaksi Dibuka Kembali
Harga nikel dunia makin adem. Harga nikel kontrak bergulir tiga bulan di London Metal Exchange berada di US$ 36.915 per ton, Jumat (18/3). Harga nikel anjlok 19% sejak perdagangan dibuka kembali Rabu lalu (16/3). Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuabi menjelaskan, harga nikel naik sebelum ini akibat memanasnya perang Rusia-Ukraina. "Sehubungan dengan kondisi saat ini di Ukraina sudah sedikit stabil dan sempat ada gencatan senjata, harga turun lagi," ujar Ibrahim, Senin (21/3). Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono menilai, wajar harga nikel terkoreksi seiring meredanya isu geopolitik antara Rusia-Ukraina. Tapi, dalam jangka menengah, harga berpotensi konsolidasi, lantaran isu geopolitik belum usai.
Ibrahim menilai, saat ini para spekulan di pasar juga mulai merealisasikan keuntungan. Dengan demikian, harga kembali turun dan mendekati harga wajar. "Harga wajar nikel berada di level US$ 19.000 per ton," kata dia. Meski begitu, jika konflik antara Rusia dan Ukraina kembali memburuk, terbuka peluang harga nikel mencapai US$ 50.000 per ton. Namun jika ketidakpastian di pasar global mereda, harga nikel akan bergerak turun kembali ke kisaran level support di US$ 22.000 per ton.
Harga Nikel Spekulatif
Lonjakan harga nikel dunia secara signifikan perlu diwaspadai karena akan berdampak pada industry terkait nikel beserta ekosistemnya. Dalam periode perdagangan nikel Selasa (8/3), harganya sempat melebihi 100.000 USD per ton yang membuat otoritas London Metal Exchange menangguhkan perdagangannya. Lonjakan harga disebut bersifat spekulatif. Lonjakan harga nikel, termasuk lonjakan harga komoditas energi lainnya, seperti minyak, gas alam, dan batubara, dikaitkan dengan konflik bersenjata Rusia-Ukraina. Harga resmi nikel, berdasarkan London Metal Exchange, pada Selasa 48.201 USD per ton. Pada 1 Maret 2022, nikel diperdagangkan dengan harga 25.450 dollar AS per ton.
Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani (10/3), mengatakan, lonjakan itu merupakan hasil aksi spekulatif. Lantaran penuh ketidakpastian, sejumlah trader memanfaatkan situasi. Angka tersebut sangat jauh dari harga fundamental dan tidak logis. Saking berharganya nikel, harga komoditas tersebut di bursa komoditas logam LME dipermainkan spekulan Selasa (8/3), perusahaan nikel dan baja nirkarat raksasa China, Tshingsan Holding Group, yang juga merupakan investor Indonesia di Sulawesi, rugi besar. ”Perusahaan itu berhadapan dengan ’bajak laut’ pialang pasar modal karena imbas kenaikan harga nikel dari 20.000 USD per ton menjadi 100.000 USD” kata Mendag Muhammad Lutfi. (Yoga)
Prospek Cerah Produksi Forenikel Antam
Pengamat Pasar Modal Lucky Bayu Purnomo optimistis dengan masa depan usaha PT Aneka Tambang Tbk. Antam dalam laporan yang diterbitkan di dalam Bursa Efek Jakarta (BEJ), pekan lalu, mencatat kinerja menggembirakan, terutama dalam komoditas feronikel. Produksi feronikel sebesar 25.818 ton nikel dalam feronikel (TNi) pada tahun lalu. Angka tersebut relatif stabil dibandingkan tingkat produksi pada 2020. Adapun produksi bijih nikel Antam yang digunakan sebagai bahan baku pabrik feronikel dan penjualan kepada pelanggan domestik, tercatat 11,01 juta wet mertic ton (wtm). Angka tersebut meningkat 131% secara tahunan dibandingkan 2020 sebesar 4,76 juta wmt. Menurut Lucky, diverifikasi hasil tambang memungkinkan Antam menghindari kerugian dan sekaligus meraup keuntungan maksimal. "Kita ingat awal 2020 kondisi Antam melemah, tapi berhasil menguat, karena selain feronikel harga emas mencapai tertinggi sepanjang sejarah perusahaan US$2.039,77 per troy ounce," kata Lucky. (Yetede)
Pro Kontra Pajak Progresif Ekspor Produk Nikel
Pemerintah akan memungut pajak progresif sebesar 2% untuk ekspor produk nickel pig iron (NPI) dan feronikel di tahun ini. Di saat yang sama, pemerintah akan meniadakan tax holiday bagi pihak yang baru mengajukan investasi smelter NPI dan feronikel di Tanah Air. Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves), Septian Hario Seto menyebutkan, kedua kebijakan ini akan menahan investasi smelter NPI dan feronikel yang baru. "Kami sudah menghitung keekonomiannya dan masih masuk. Hanya saja (investor) akan lebih hati-hati karena berpikir tidak dapat tax holiday dan akan bayar pajak ekspor juga. Namun, investasi secara keseluruhan belum tentu berkurang," ungkap dia kepada KONTAN, pekan lalu.
Nikel dan Kemajuan Ekonomi Daerah
Nikel menjadi sumber daya energi yang mampu membawa kemajuan bagi suatu daerah. Dengan pengelolaan tepat dan mengedepankan kelestarian lingkungan, nikel akan memberikan keberkahan bagi masyarakat setempat. Semangat besar pemerintah Indonesia untuk membangun industrialisasi baterai kendaraan listrik di dalam negeri berpotensi besar mendorong kemajuan ekonomi daerah. Salah satu yang kemungkinan besar terakselerasi kemajuannya adalah wilayah yang memiliki material sumber daya alam pendukung industrialisasi baterai kendaraan listrik tersebut. Sentra pertambangan nikel diproyeksikan akan menjadi daerah yang mengalami perkembangan sangat pesat karena unsur mineral ini menjadi salah satu komponen terpenting dalam hilirisasi baterai listrik. Data Kementerian ESDM tahun 2019 mencatat, produksi bijih nikel Indonesia mencapai kisaran 800 ribu ton. Nominal ini menduduki peringkat satu dunia yang terpaut hampir 400 ribu ton dari produsen kedua dunia yang diduduki Filipina.
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









