Migas
( 497 )PGN Genjot Proyek Pipanisasi Gas Bumi
PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), tahun 2021, bersiap untuk mengembangkan infrastruktur gas secara massif. Pertama, proyek pipaninasi gas bumi yang akan menjadi kunci penting dalam optimalisasi utilisasi gas bumi nasional.
Proyek pipanisasi yang ditargetkan selesai pada tahun 2021-2023 diantaranya pipa minyak Rokan, pipa transmisi di Sumatera Bagian Utara dan Tengah, pipa integrasi South Sumatera West Java (SSWJ) - West Java Area (WJA), pipa pemanfaatan gas untuk petrochemical, pipa transmisi di Kalimantan, pipa transmisi di Jawa Tengah dan distribusi Kendal - Semarang - Demak, serta pipa untuk pelanggan industri, komersial dan rumah tangga (jargas).
SVP Corporate Communication and Investor Relation PT Pertamina (Persero), Agus Suprijanto menjelaskan, PGN juga akan menyediakan gas bagi pemenuhan seluruh Kilang Pertamina. “Salah satu target di tahun 2021 ini adalah program Gasifikasi Kilang di Balongan, “ kata Agus, Senin (11/1).
14 Proyek Migas Segera Beroperasi
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu
Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan 14 proyek hulu migas beroperasi
pada 2021. Proyek migas ini akan menopang target produksi minyak tahun ini yang
ditetapkan sebesar 705 ribu barel per hari (bph) dan gas 5.638 juta kaki kubik
per hari (million standard cubic feet per dayMnscfd).
Deputi Operasi SKK Migas Julius Wiratno menuturkan, 12 proyek diantaranya di luar proyek yang masuk daftar Proyek Strategis Nasional (PSN). Nilai investasi ke-12 proyek ini tercatat sebesar US$ 354 juta. “Dan akan memberikan tambahan produksi minyak 27 ribu bph dan gas 492 MMscfd,” kata dia dalam jumpa pers daring, akhir pekan lalu. Dia melanjutkan, beberapa proyek yang dijadwalkan mulai berproduksi pada tahun depan ini diantaranya, Proyek Seng Segat di Blok Bentu oleh EMP Bentu Ltd, Proyek Bambu Besar, Akasia Bagus, dan Pengurasan Minyak Tahap Lanjut (Enhanced Oil Recovery/EOR) Lapangan Jirak oleh PT Pertamina EP, dan Proyek KLD di Blok Offshore North West Java (ONWJ) oleh PT Pertamina Hulu Energi ONWJ. Pengembangan Lapangan Sidayu dan West Pangkah di Blok Pangkah dikerjakan oleh PT Saka Energi Indonesia. Proyek West Pangkah mencakup pengeboran empat sumur dengan proyeksi produksi minyak sekitar 2.000 bph dan gas 23 MMscfd. Selanjutnya, Lapangan Sidayu mencakup pengeboran tiga sumur dengan produksi minyak sekitar 7.000 bph dan gas 3,9 MMscfd. Berikutnya, Proyek Merakes oleh ENI Indonesia mencakup pengeboran enam sumur bawah laut serta pembangunan sistem pipa bawah laut yang akan terhubung dengan fasilitas produksi terapung (floating production unit/FPU) Jangkrik di Blok Muara Bakau. Puncak produksi Lapangan Merakes diperkirakan bisa mencapai 60.305 barel setara minyak per hari (barrel oil equivalent per day/boepd). Proyek Bambu Besar direncanakan dapat memproduksi minyak sekitar 1.600-1800 bph. Proyek Akasia Bagus ditargetkan menghasilkan minyak 2.500 bph dari pengeboran enam sumur. Terakhir, Proyek Seng Segat sempat ditargetkan beroperasi di 2019. Proyek ini diperkirakan bisa menghasilkan gas 60 MMscfd.
Proyek JTB senilai US$1,53 miliar terdiri dari pengerjaan FEED (Front End Engineering Design), Land Acquisition (Pengadaan Tanah), Kontrak EPC Early Civil Works, Kontrak EPC GPF serta Drilling (Pemboran Sumur). Proyek ini ditargetkan menghasilkan gas bersih sebesar 192 MMScfd. Selanjutnya, Tangguh Train-3 diproyeksikan mencapai puncak produksi gas sebesar 700 MMScfd dan minyak 3.000 bph. Konstruksi fasilitas darat proyek senilai US$ 8,9 miliar ini telah mencapai 88,27% dan fasilitas lepas pantai 98,27% per September lalu.
SKK Migas memproyeksikan produksi sejumlah blok
migas yang menjadi andalan justru bakal turun di tahun depan, yakni Blok Cepu,
Blok Rokan, dan Blok Mahakam. Namun, produksi minyak diperkirakan lebih rendah
dari 2020 lalu. “Rata-rata produksinya sekitar 165 ribu bph di 2021,” tuturnya.
Produksi minyak Blok Rokan ditargetkan sebesar 170 ribu bph. Untuk itu pihaknya akan mendorong rencana investasi
pengeboran oleh Chevron senilai US$ 154 juta dapat terealisasi penuh sampai
Juli 2020. Mengacu data SKK Migas, dana ini untuk pengeboran 11 sumur di 2020
dan 107 sumur di 2021. “Setelah pindah [pengelolaannya] ke Pertamina akan
mengebor hingga 84 sumur, ini sedang diskusi bagaimana bisa capai ini dengan
waktu singkat,” jelas Jaffee, Deputi Perencanaan SKK Migas
Kapasitas Produksi Biodiesel Tambah 3,4 Juta KL Tahun 2021
Produsen biodiesel berencana menambah kapasitas produksi pada tahun ini. Pada 2020, direncanakan ada penambahan kapasitas produksi sebesar 3,6 juta KL menjadi mundur ke tahun 2021 sebesar 3,4 juta KL.
Hal tampak dari data Aprobi di mana produksi dari Januari sampai Oktober 2020 sebesar 7,197 juta KL. Dari jumlah ini, penyaluran domestik sebesar 7,076 juta KL dan ekspor sebesar 16.331 KL.
Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan, menyebut “Kontribusi B30 berdampak positif bagi pengurangan emisi gas rumah kaca, tahun ini diproyeksikan 26 juta ton CO2 ekuivalen, atau 68% dari target pengurangan emisi di sektor energi dan transportasi tahun 2020. Sedangkan untuk target pengurangan emisi 2030 pada sektor energi program biodiesel saat ini telah berkontribusi 8,82%,” ujarnya.
Selain itu, implementasi B30 membuat Indonesia menghemat devisa dari impor migas hingga US$ 5 miliar sekitar Rp 70 triliun (kurs Rp 14.000).
Minyak Bumi : Satu Juta Barel
Pemerintah berambisi memproduksi 1 juta barel minyak mentah di dalam negeri per hari pada 2030. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per 23 November 2020, produksi minyak mentah di dalam negeri 705.883 barel per hari dan gas bumi 6,5 miliar standar kaki kubik per hari. Mengacu pada target produksi migas tahun 2030, ada kekurangan produksi minyak sekitar 295.000 barel per hari dan gas bumi kurang 5,5 miliar standar kaki kubik per hari.
Strategi pemerintah menuju produksi 1 juta barel pada 2030 antara lain mengoptimalkan potensi sumur minyak, mempercepat status cadangan migas ke produksi, menerapkan metode pengurasan minyak tingkat lanjut, serta menggiatkan eksplorasi.
Melihat kenyataan itu, pelaku usaha hulu migas Indonesia bersikap realistis. Strategi pemerintah menuju 1 juta barel per hari pada 2030 memerlukan keekonomian yang lebih besar dibandingkan dengan saat ini. Ringkasnya, target itu perlu insentif yang lebih menarik daripada saat ini.
Apalagi, indeks daya tarik fiskal Indonesia di sektor hulu migas berada di bawah rata-rata indeks di dunia. Dari skala 0-5, indeks daya tarik fiskal Indonesia berada di angka 2,4, sedangkan rata-rata dunia 3,3. Indonesia dianggap sebagai negara yang kurang menarik untuk berinvestasi di sektor hulu migas.
Pemerintah Targetkan 53 Smelter Beropreasi di 2024
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan ada tambahan smelter baru yang beroperasi. Alhasil, fasilitas pengolahan mineral bisa mencapai 53 unit pada tahun 2024 mendatang. Hingga November tahun ini, pemerintah mencatat 18 smelter telah selesai dibangun dan beroperasi. Selain itu, masih ada 35 unit smelter yang masih dalam progres pembangunan.
“Kami mengharapkan sampai tahun 2024 akan diselesaikan menjadi 53 smelter dengan total investasi US$ 19,9 miliar,” ungkap Menteri ESDM, Arifin Tasrif dalam Rapat Kerja bersama Komisi VII DPR RI, Senin (23/11).
Menteri ESDM mengakui, ada beberapa proyek smelter yang lambat, seperti proyek smelter PT Freeport Indonesia. Menteri Arifin mengklaim sudah melayangkan surat teguran kepada Freeport pada 30 September 2020. Ada dua poin penting dalam surat teguran bernomor 1197/36/DJB/2020 tersebut.
Pertama, agar pilling test dan pile load test dipercepat dan dapat dilaksanakan paling lambat akhir Oktober 2020. Kedua, Freeport diminta segera menyampaikan time line pelaksanaan kegiatan pilling test dan pile load test.
Harga Rendah Minyak Berdampak Ganda
Indonesia terkena dampak ganda dari rendahnya harga minyak mentah dunia beberapa bulan terakhir. Saat ini, harga minyak ada di kisaran 40 dollar AS per barel, turun dibandingkan awal tahun yang 60 dollar AS per barel. Pemerintah menargetkan penerimaan dari sektor migas Rp 127,3 triliun tahun ini, tetapi diperkirakan tidak tercapai karena situasi tersebut.
Namun, di sisi lain, menurut Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri Dendi Ramdani, saat dihubungi, Minggu (22/11/2020), tekanan terhadap defisit perdagangan migas berkurang.
Tahun 2021 Pengeboran Sumur Harus Lebih Agresif
Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mendorong program pengeboran pengembangan yang agresif di 2021. Upaya ini sebagai bagian dari program 10 tahun untuk mencapai produksi minyak 1 juta barel per hari (BOPD), dan produksi gas 12 milyar standar kaki kubik per hari (BSCFD) pada tahun 2030.
Deputi Perencanaan SKK Migas Jaffee Suardin mengatakan, kegiatan pengeboran pengembangan di 2021 didorong supaya bisa meningkat dua kali lipat dari estimasi realisasi pengeboran tahun ini, yaitu 268 sumur. “Kami sedang berkoordinasi dengan Kontraktor KKS (Kontrak Kerja Sama, Red) untuk mengusahakan supaya di 2021 sumur yang akan dibor bisa sekitar 600 sumur, “ ujar Jafee kepada wartawan, Rabu (11/11).
Ditambahkannya, Ke depan, jumlah sumur yang dibor akan didorong untuk terus ditingkatkan sebesar 20-30 persen per tahun. Harapannya, pada tahun 2025 sampai 2030 jumlah sumur yang dibor sekitar 1.000 - 1.100 sumur per tahun.
Sampai dengan Oktober 2020, realisasi lifting minyak dan gas Indonesia sudah mencapai sekitar 704.500 BPD dan 5.464 MMSCFD. Selain mendorong pengeboran sumur pengembangan, SKK Migas juga mendorong Kontraktor KKS menggalakkan eksplorasi.
32 Desa Se-Sulawesi Sudah Nikmati Pertashop, Kini Siapapun Bisa Turut Memiliki
Sebagai wujud dukungan terhadap pemerataan pembangunan nasional PT Pertamina (Persero) terus berupayap memperluas jangkauan distribusi energinya.
Data internal Perusahaan menunjukkan bahwa dari 7.196 Kecamatan di Indonesia, 3.827 Kecamatan diantaranya atau sekitar 53% belum memiliki SPBU sebagai channel resmi pengisian bahan bakar, sehingga terkadang harga bahan pokok melambung tinggi dikarenakan harga bahan bakar di daerah tersebut menyesuaikan akses untuk mendapatkan bahan bakar terdekat.
Untuk mengatasi hal tersebut, Pertamina menghadirkan Pertashop, sebuah solusi ketahanan energi nasional dengan konsep pemerataan jaringan distribusi. Diharapkan biaya distribusi dan transportasi dapat ditekan dengan adanya jaringan distribusi Pertashop yang dapat menjangkau daerah yang belum terdapat SPBU. Hal ini tentunya mampu menjadi stimulus perekonomian bagi pembangunan suatu daerah.
Tahun ini, PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region VII mendapatkan amanah dari Kementerian Dalam Negeri sejumlah 44 Pertashop untuk 44 Desa yang termasuk dalam kategori Desa 3T (Terpencil, Terluar, Tertiggal) dan Desa berprestasi seSulawesi. Dimana hingga berita ini diturunkan sudah terealisasi sejumlah 32 Pertashop.
Rata-rata penjualan Pertashop mencapai minimum 300 liter/hari untuk Produk Pertamax dengan harga setara SPBU terdekat. Pertashop juga menjadi outlet yang menjual Elpiji Bright Gas, Pelumas dan Produk retail pertamina lainnya.
Unit Manager Comm, Rel & CSR MOR VII Laode Syarifuddin Mursali mengatakan bahwa Pertashop dipersyaratkan di desa/kecamatan yang belum ada SPBU/Lembaga Penyalur Pertamina dalam radius 10 km. “Terdapat 3 kategori Pertashop yang disesuaikan dengan ketersediaan lahan yang dimiliki. Pertashop Gold untuk luas lahan minimum 210 m2, Pertashop Platinum untuk luas lahan minimum 300 m2, dan terakhir Pertashop Diamond untuk luas lahan minimum 500m2. Luasan tanki penyimpanan dan varian produknya tentunya menyesuaikan,” tutur Laode
Penggunaan Batubara Dikurangi
Pemerintah dan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) mendorong uji coba co-firing pada sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dengan memanfaatkan palet kayu. Metode mencampurkan material lain pada komposisi tertentu ini untuk mengurangi penggunaan batubara sebagai sumber energi primer pada PLTU.
”Co-firing menjadi salah satu bagian rencana pemerintah mengoptimalkan energi terbarukan untuk mendorong target 23 persen dalam bauran energi nasional pada 2025,” ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Agung Pribadi, Minggu (11/10/2020).
Menekan Impor LPG, Memacu Gasifikasi Batubara
Pemerintah meminta PT Pertamina (Persero) memacu proyek gasifikasi batubara. Tujuannya untuk menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang masih tinggi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrfi mengharapkan, di masa mendatang program gasifikasi batubara masif dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. "Ini merupakan cerminan ketahanan energi nasional yang berlandaskan pada bahan baku lokal," papar Menteri Arifin, Rabu (16/9).
Saat ini, PT Pertamina dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) tengah melaksanakan proyek gasifikasi batubara. Proyek tersebut diharapkan dapat menghasilkan dimethyl ether (DME) sebagai substitusi LPG. Dari kerjasama ini, diharapkan dapat menekan impor LPG yang terus meningkat. PTBA dan Pertamina menggandeng Air Product & Chemicals Inc asal Amerika Serikat (AS) dalam menggarap proyek senilai US$ 3,2 miliar tersebut. Proyek ini pun ditargetkan selesai di akhir tahun 2023 mendatang. Harapannya, pabrik DME tersebut dapat memproduksi 1,4 juta ton DME setiap tahun.
Menteri Arifin bilang, karakteristik DME memiliki kesamaan, baik sifat kimia maupun fisika dengan LPG. Lantaran mirip, pengembangan DME bisa menggunakan infrastruktur LPG yang ada saat ini, seperti tabung, storage dan handling. Campuran DME sebesar 20% dan LPG 80% dapat digunakan kompor gas existing. Karena DME merupakan senyawa eter paling sederhana mengandung oksigen yang berwujud gas sehingga proses pembakarannya berlangsung lebih cepat dibandingkan LPG.
Kementerian ESDM melalui Balitbang ESDM juga telah menyelesaikan uji terap pemakaian DME 100% di wilayah Kota Palembang dan Muara Enim selama bulan Desember 2019 hingga Januari 2020 kepada 155 kepala keluarga. Secara teknis, pemanfaatan DME 100% dinyatakan layak untuk mensubstitusi LPG bagi pengguna rumah tangga dengan menggunakan kompor khusus DME.
Selain melalui gasifikasi batubara, untuk menekan impor LPG, Staf Ahli Menteri Bidang Perencanaan Strategis Kementerian ESDM Yudo Dwinanda Priaadi menyampaikan, penggunaan kompor induksi merupakan salah satu langkah efisien dalam penanganan pengurangan penggunaan kompor LPG. Oleh karena itu, Kementerian ESDM akan bekerja sama dengan IEA untuk melakukan pendalaman implementasi potensi migrasi itu. "Kami berharap dengan kemitraan antar negara dapat mendukung integrasi energi terbarukan," kata dia.
Pilihan Editor
-
Harga Batu Bara Acuan, Rekor Emas Hitam Terhenti
09 Dec 2021 -
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
UE Ingin Bentuk Kekuatan Dagang Baru
09 Dec 2021 -
Mati Hidup Garuda
13 Dec 2021









