Kurs
( 33 )Mengatasi Dampak Fluktuasi Nilai Tukar
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberikan dampak yang signifikan terhadap pasar saham dan berpotensi menggerus kinerja sejumlah emiten, terutama yang bergantung pada bahan baku impor. Sektor-sektor seperti farmasi, industri kimia, dan konsumer sangat sensitif terhadap volatilitas nilai tukar, yang bisa meningkatkan biaya operasional mereka. Namun, emiten dengan orientasi ekspor, seperti PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), berpotensi memperoleh keuntungan dari pelemahan rupiah karena harga jual produk mereka, seperti CPO, seringkali dipengaruhi oleh kurs dolar AS.
Menurut Suryandi, Director of HR & Corporate Affairs PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), meskipun perusahaan mereka mengimpor beberapa bahan baku, dampak pelemahan rupiah terhadap kinerja TPIA tidak terlalu signifikan. Yang lebih penting adalah pengendalian impor, karena pasokan produk petrokimia di pasar sudah banyak dijajah oleh barang impor, terutama dari China. Di sisi lain, Joni Tjeng, Corporate Secretary TAPG, menjelaskan bahwa meski harga CPO dipengaruhi oleh nilai tukar dolar AS, harga CPO global saat ini masih berada pada level yang baik, dan perusahaan mereka sudah melakukan pinjaman dalam satuan rupiah, sehingga terhindar dari risiko fluktuasi kurs.
Para analis juga mencatat bahwa meskipun pelemahan rupiah memberi dampak negatif pada sektor yang bergantung pada impor, dampak ini bisa diimbangi jika perusahaan dapat meningkatkan penjualannya. Abdul Azis Setyo Wibowo, analis dari Kiwoom Sekuritas Indonesia, menilai bahwa penjualan yang tumbuh dapat mengurangi efek negatif pelemahan rupiah pada sektor farmasi dan konsumer.
Secara keseluruhan, pelemahan rupiah yang dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, membawa sentimen negatif bagi beberapa sektor, terutama sektor yang membutuhkan arus modal asing dan perusahaan dengan orientasi impor. Namun, sektor ekspor dan perusahaan yang telah mengatur manajemen keuangan dengan bijak, seperti TAPG dan TPIA, dapat mengurangi dampak tersebut.
Stabilitas di Masa Transisi
Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 15-16 Oktober 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6% serta suku bunga Deposit Facility dan Lending Facility masing-masing di 5,25% dan 6,75%. Keputusan ini diambil dalam konteks transisi pemerintahan menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, serta dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang meningkat.
Gubernur Bank Indonesia berupaya menjaga stabilitas makroekonomi, termasuk nilai tukar rupiah yang telah terdepresiasi sekitar 2% terhadap dolar AS, serta menghadapi risiko pelarian modal akibat ketidakpastian global. Suku bunga yang dipertahankan bertujuan untuk mencegah depresiasi lebih lanjut dari rupiah dan inflasi yang dapat menggerus daya beli masyarakat. Meskipun pelonggaran moneter dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, BI memutuskan untuk menunggu dan mengamati perkembangan sebelum mengambil langkah lebih lanjut, dengan pertimbangan dampak kebijakan moneter AS terhadap ekonomi domestik.
GEJOLAK KURS RUPIAH : WANTI-WANTI SUBSIDI ENERGI
Empat bulan pertama tahun ini, perjalanan perekonomian di dalam negeri dibayangi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tak pelak, situasi tersebut membuat pengelolaan anggaran negara, utamanya pos subsidi energi, makin menantang. Bicara saat konferensi pers bulanan APBN Kita periode April 2024, Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata tak menyinggung banyak perihal subsidi energi yang berpotensi tambah gemuk menyusul melemahnya rupiah. Isa sekadar menjelaskan kebijakan yang sifatnya normatif yakni mengikuti perkembangan yang terjadi, baik itu dari sisi pegerakan nilai tukar dan harga patokan minyak atau Indonesia Crude Price (ICP). “Kami tidak melakukan ear marking [mengalokasikan anggaran]. Tetapi pendapatan migas [minyak dan gas] juga akan ada peningkatan kalau kurs dan ICP meningkat. Ini bisa menjadi keleluasaan untuk melonggarkan anggaran untuk subsidi,” ujar Isa sembari menyatakan penyesuaian anggaran subsidi energi menjadi kebijakan menteri keuangan. Saat pelemahan rupiah, kebijakan subsidi energi memang paling menyita perhatian berbagai kalangan.
Saat nilai tukar rupiah makin melemah dan harga minyak dunia meningkat, hal tersebut dapat memengaruhi pos anggaran subsidi.
Sebaliknya, jika memilih kebijakan menambal anggaran, tentu saja bakal memengaruhi pos belanja negara lainnya. Mengutip Nota Keuangan APBN 2024, pos subsidi energi pada tahun ini dipatok senilai Rp185,88 triliun, tak jauh berbeda dengan outlook APBN 2023 senilai Rp185,36 triliun. Porsi belanja subsidi energi itu mencakup sekitar 8% dari total belanja pemerintah pusat yang diproyeksikan menyentuh Rp2.446,54 triliun pada 2024. Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah melemah mendekati 5% dari posisi Rp15.516 per dolar AS pada 2 Januari 2024, menuju ke level Rp16.289 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 26 April 2024.
Pengaruh pelemahan rupiah sejatinya tidak hanya menyangkut subsidi energi. Dalam Nota Keuangan disebutkan sensitivitas nilai tukar memengaruhi a.l. penerimaan yang terkait dengan aktivitas perdagangan internasional, seperti PPh Pasal 22 impor, pajak pertambahan nilai (PPN), pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) impor, bea masuk, dan bea keluar.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, menguatnya dolar AS secara luas menjadi penyebab anjloknya nilai tukar rupiah. “Indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama [DXY] menguat tajam mencapai level tertinggi 106,25 pada tanggal 16 April 2024 atau mengalami apresiasi 4,86% dibandingkan dengan level akhir tahun 2023,” ujar Perry saat Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur Bulanan Bulan April 2024, Rabu (24/4). Dalam Rapat Dewan Gubernur tersebut, BI menempuh kebijakan dengan mengerek suku bunga acuan atau BI Rate dari level 6% menjadi 6,25%. Pelemahan nilai tukar yang melampaui asumsi kurs yang dipatok di APBN 2024, menjadi sorotan Komisi XI DPR.Wakil Ketua Komisi XI Amir Uskara menilai perlu adanya penanganan yang intensif agar pertumbuhan ekonomi di Indonesia tetap dalam kondisi aman.
Pihaknya mendorong Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia segera merespons pelemahan rupiah serta segera mengantisipasi potensi anjloknya nilai tukar rupiah yang telah menembus level Rp16.000 per dolar AS.
Bank Indonesia sebagai otoritas moneter diharapkan bisa melonggarkan aturan dalam pemberian kredit. Terutama kebijakan kredit tanpa jaminan harus diperluas untuk sektor-sektor produktif usaha kecil menengah rakyat (UMKM)Belum lagi konfl ik antara Iran dan Israel langsung memicu gejolak di seluruh dunia, termasuk di Tanah Air.
Sementara itu, Anggota Komisi XI dari Partai Golkar Puteri Komarudin meminta pemerintah melakukan serangkaian uji daya tahan atau stress test untuk mengukur dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah terhadap nilai tukar rupiah beserta efeknya bagi APBN, khususnya di pos belanja subsidi energi.
DAMPAK PELEMAHAN NILAI TUKAR : Kurs Rupiah Kerek Harga Alat Berat
Ketua Umum Perhimpunan Agen Tunggal Alat Berat Indonesia (PAABI) Yushi Sandidarma mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah bakal berdampak kepada peningkatan harga jual alat berat di dalam negeri. Alasannya, sebagian besar alat berat dan komponennya merupakan completely knock down (CKD) dan completely built up (CBU) yang ditransak-sikan dengan menggunakan dolar Amerika Serikat (AS). Hal tersebut, kata dia, membuat pelaku industri alat berat mesti mencari cara agar penjualan tahun ini tidak merosot tajam. Dia mencontohkan penjualan excavator sepanjang tahun lalu yang telah mengalami penurunan hingga 31% apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2022. Sebagai catatan, PAABI melaporkan penjualan alat berat sepanjang tahun lalu turun 20,8% menjadi 18.123 unit dibandingkan dengan 20.300 unit pada 2022. PAABI pun memproyeksikan penjualan pada tahun ini hanya mampu mencapai 14.000 unit atau turun 25% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
BAYANG-BAYANG GEJOLAK KURS
Depresiasi rupiah menjadi pedang bermata dua bagi korporasi di Tanah Air. Katalis positif diproyeksi bertiup ke emiten-emiten di sektor pertambangan dan perkebunan yang berorientasi ekspor, sedangkan sektor farmasi dan properti cenderung dibayangi sentimen negatif. Pada perdagangan Rabu (17/4), rupiah terkulai dihadapan dolar Amerika Serikat dengan pelemahan 0,271% ke level Rp16.220. Rupiah melanjutkan koreksi setelah anjlok 2,07% pada perdagangan perdana usai libur Lebaran 2024. Alhasil, rupiah sudah merosot 5,062% sepanjang tahun berjalan 2024. Penguatan indeks dolar AS yang menembus level 106 itu membuat nilai tukar Garuda kembali menyentuh titik terendah sejak April 2020.
Rupiah juga kian mendekati level Rp16.575 per dolar AS yang terbentuk pada 23 Maret 2020 atau saat awal pandemi Covid-19. Dihubungi Bisnis pada Rabu (17/4), Corporate Secretary PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) Joni Tjeng mengatakan perdagangan kelapa sawit menggunakan acuan harga berdenominasi dolar AS sehingga depresiasi rupiah secara langsung akan meningkatkan nilai jual dan performa perseroan. Di sisi pendanaan, lanjutnya, pinjaman TAPG seluruhnya berdenominasi rupiah. Dengan begitu, pelemahan rupiah tidak akan signifi kan mempengaruh beban keuangan perseroan.
Senada, Investor Relations PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) Stefanus Darmagiri mengatakan pelemahan rupiah diharapkan dapat meningkatkan harga jual CPO dalam rupiah dan meningkatkan pendapatan perseroan. Dari sisi biaya, lanjutnya, hampir sebagian besar biaya operasional yang dikeluarkan SGRO ditransaksikan dalam mata uang rupiah. Dus, pelemahan rupiah tidak memiliki dampak yang material terhadap biaya operasional emiten perkebunan sawit itu. Berbanding terbalik, depresiasi rupiah menjadi tantangan bagi emiten farmasi yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor. Menurut Presiden Direktur PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) Vidjongtius, nilai tukar rupiah yang melemah akan menaikkan harga pokok produksi untuk KLBF. Selain sektor farmasi, melemahnya rupiah juga menjadi sentimen negatif bagi sektor properti. Emiten properti yang memiliki outstanding utang berdenominasi dolar AS dikhawatirkan mengalami tekanan selisih kurs yang menekan likuiditas perseroan.
Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk. (BSDE) Hermawan Wijaya buka suara terkait dengan dampak depresiasi rupiah. Menurutnya, BSDE terus berupaya untuk menurunkan risiko kurs dengan memangkas utang dolar AS.
Head of Research InvestasiKu (Mega Capital Sekuritas) Cheril Tanuwijaya mengatakan emiten-emiten komoditas yang meraih pendapatan dalam dolar AS diuntungkan oleh penguatan dolar AS dan kenaikan harga komoditas.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyarankan investor dengan profi l risiko rendah untuk wait and see. Namun, investor dengan profi l high risk dapat mengambil kesempatan akumulasi beli untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.970, ELSA Rp540, dan AKRA dengan target Rp1.900 per saham. Sementara itu, Head of Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi merekomendasikan beli saham-saham komoditas, seperti PTBA dengan target harga Rp3.010, INCO Rp4.830, dan HRUM dengan target Rp1.815 per saham.
PERGERAKAN KURS : MEWASPADAI GEJOLAK RUPIAH
Pelemahan rupiah dalam jangka panjang dikhawatirkan mempengaruhi harga produk impor, meskipun untuk saat ini impaknya belum begitu terasa.
Sebulan terakhir rupiah punya kinerja terburuk di antara mata uang Asia lainnya dengan koreksi -2,34%. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah kembali tergerus 0,41% ke Rp15.204 per dolar AS di pasar spot kemarin, Senin (10/7). Pada saat yang sama indeks dolar AS menguat 0,11% ke 102,38.Rupiah tak sendiri, mayoritas mata uang Asia dalam pergerakan negatif melawan dolar AS sebulan terakhir. Hanya peso Filipina dan dollar Hong Kong yang tercatat bergerak positif dengan masing-masing naik 0,62% dan 0,11% dalam sebulan.Biarpun terkoreksi sebulan ini, tetapi kinerja mata uang Garuda masih positif sepanjang 2023 dengan apresiasi 2,36% dan jadi mata uang dengan kinerja terkuat di Asia. Rupiah bahkan mengungguli rupee India yang hanya naik 0,19% year to date (YtD).Adapun mata uang Asia dengan kinerja terburuk sepanjang 2023 ditempati yen Jepang dengan kinerja -7,96%, diikuti ringgit -5,71%, renminbi China -4,69%, won Korea Selatan -3,13%, dan baht Thailand -1,55%. Ketua Umum Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI), Subandi menuturkan belum ada dampak signifi kan yang dirasakan pengusaha dari anjloknya mata uang rupiah terhadap dolar AS.
Di sisi lain pelemahan rupiah terhadap dolar berpotensi menguntungkan untuk produk-produk impor yang akan diekspor kembali. Namun, Subandi mengatakan keuntungan tersebut dirasa tidak akan sebanding dengan biaya produksi dan pungutan pajak produk yang akan diekspor.Harga produk yang tinggi ditakutkan bakal menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar global.
Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Lionel Priyadi mengatakan penyebab pelemahan rupiah adalah penyesuaian ekspektasi investor di level global terhadap rencana kenaikan suku bunga The Fed.Banyak investor yang menarik kembali investasi mereka di pasar saham dan obligasi Indonesia untuk dipindahkan ke instrumen global alternatif, terutama komoditas.
Pendalaman Pasar Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah
JAKARTA, ID – Nilai tukar rupiah mengalami penguatan dalam beberapa pekan terakhir. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ini akan berpengaruh terhadap kegiatan ekspor dan impor. Di sisi lain, perlu dilakukan pendalaman pasar keuangan domestik sebagai salah satu upaya untuk menjaga stabilitas Sementara itu, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada akhir perdagangan Rabu (26/4/2023), ditutup menguat 103 poin atau 0,69% ke posisi Rp 14.836 per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 14.939 per dolar AS. Sedangkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Rabu menurun ke posisi Rp 14.882 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp 14.855 per dolar AS.
Selama bulan April ini, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 14.000 per dolar AS, setelah sebelumnya pada 30 Maret 2023 nilai tukar rupiah menyentuh Rp 15.062 per dolar AS. “Kalau bicara langkah jangka panjang, saya kira perlu memperdalam pasar ke uangan agar pasar keuangan kita lebih stabil dan tidak rentan terhadap pergerakan masuk keluarnya aliran modal dari suatu negara ke negara lain,” ucap Peneliti CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet kepada Investor Daily, Rabu (26/4/2023). (Yetede)
Bersama Menjaga Rupiah
Tanpa kolaborasi dengan pemerintah, Bank Indonesia (BI) tak akan sanggup berjibaku menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Dalam perdagangan Selasa lalu, rupiah ditutup melemah 29 poin dari sehari sebelumnya menjadi 15.675 per dollar AS. Jika dihitung sejak awal 2022, rupiah sudah terbenam 9,75%. Ekonom perperkirakan, pada tahun depan, rupiah terus melemah ke level 16 ribu per dollar AS. Pelemehan terus-menerus ini membikin cemas. Bagi pemerintah, pelemahan kurs akan menambah beban pembayaran utang luar negeri dan menipisnya pendapatan negara. Proyek-proyek infrastruktur yang mengandalkan pinjaman asing dengan bahan baku impor juga mangkrak, sedangkan bagi sektor swasta, pelemahan ini membuat biaya impor melambung, harga jual naik dan daya beli konsumen turun. (Yetede)
Jalan Terjal Stabilisasi Rupiah
Pasar keuangan dalam negeri kembali mewaspadai dampak kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (Fed Fund Rate). Pada awal bulan ini, bank sentral AS menaikkan Fed Fund Rate sebesar 75 basis poin ke level 3,75-4 persen. Suku bunga itu pun menjadi yang tertinggi dalam 14 tahun terakhir atau sejak Januari 2008. Ketua OJK Mahendra Siregar mengungkapkan, pelaku industri keuangan harus mewaspadai peningkatan ketidakpastian perekonomian global, dari tren kenaikan suku bunga, volatilitas harga komoditas, hingga fenomena penguatan dolar AS yang terus berlanjut. “Hal ini berpotensi mempengaruhi kinerja lembaga jasa keuangan ke depan, baik dari sisi portofolio investasi, likuiditas, risiko kredit, maupun fungsi intermediasi,” ujarnya, kemarin, 3 November 2022. (Yoga)
Rupiah Menguat, FFR Diprediksi Memuncak pada November
Nilai tukar rupiah mengalami penguatan terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat (28/10). Jika mengutip Bloomberg, kurs rupiah menguat 13 poin atau 0,08% ke level Rp 15.554 per dolar AS. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah tercatat Rp 15.542 per dolar AS. Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto mengatakan, penguatan mata uang Asia pada Jumat (28/10) karena pelaku pasar melihat nuansa puncak kenaikan Fed Fund Rate (FFR) terjadi di November 2022.
"Dalam kurun waktu 2 minggu terakhir ada semacam istilahnya black out period atau tidak ada statement hawkish rhetoric dari Fed official. Sedangkan dari domestik ada asesmen dari pelaku pasar domestik bahwa vulnerability sektor eksternal Indonesia menurun, ini sedikit banyaknya ikut mendorong penguatan rupiah," ucap dia kepada Investor Daily, Jumat (28/10). Meski demikian, BI berkomitmen untuk menjaga stabilitas rupiah dan kebijakan moneter akan diarahkan untuk mendukung stabilitas, makroprudensial, sistem pembayaran, pasar uang dan UMKM dan ekonomi keuangan syariah untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023









