Kurs
( 33 )Anjlok Diserbu Sentimen Negatif
Setelah terus-menerus menguat beberapa waktu terakhir, pekan ini nilai mata uang kripto berguguran.
Bitcoin memimpin penurunan harga duit kripto ini. Harga bitcoin turun 18,23% sepekan terakhir. Per pukul 20.20 WIB kemarin, kurs bitcoin USS 48.881,22 per BTC. Harga bitcoin mencapai rekor tertinggi sepanjang sejarah di level USS 64.829 per BTC, Selasa (13/4) lalu. Artinya, harga bitcoin sudah turun 24,60% dari level tertinggi.
Penurunan harga bitcoin tersebut juga diikuti mata uang kripto lain. Dogecoin termasuk cryptocurrency yang mencetak penurunan paling dalam. Bila dihitung dalam sepekan hingga kemarin, harga DOGE merosot 11,40%. Tapi kapitalisasi pasarnya merosot hingga 31,23%.
Penurunan bitcoin dan mata uang kripto besar lainnya dipicu pemadaman listrik besar-besaran di Xianjian, China. Akibatnya, seluruh transaksi bitcoin menjadi sangat lama untuk dikonfirmasi sehingga jadi sentimen negatif, " kata Gabriel Rey, Chief Executive Officer Triv. id, jumat (23/4).
Meski begitu, sentimen negatif masih membayangi pasar bitcoin. Pelaku pasar kini mencermati kasus penyelidikan dugaan penipuan yang dilakukan pendiri bursa kripto di Turki, Thodex. Faruk Fatih Ozer, pendiri Thodex, kini dikabarkan kabur membawa dana investor hingga USS 2 miliar. Pelaku pasar juga mengkhawatirkan rencana Presiden Amerika Serikat menaikkan pajak orang kaya. Ini menimbulkan ketidakpastian di pasar kripto.
Dorong Konversi Hasil Ekspor Untuk Otot Rupiah
Bank Indonesia (BI) terus mendorong eksportir membawa pulang devisa hasil ekspor (DHE) agar masuk ke sistem perbankan dalam negeri.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), nilai Devisa Hasil Ekspor (DHE) Indonesia pada November tahun 2020 lalu sebesar US$ 142,35 miliar. Nilai itu setara dengan 88,8% dari total ekspor Indonesia pada November 2020 sebesar US$ 180,73 miliar. BI berharap DHE yang masuk ke sistem perbankan dalam negeri terus meningkat hingga ke 90%-92% dari total ekspor.
Sekretaris Jenderal DPP Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengatakan ada beberapa pertimbangan eksportir untuk belum sepenuhnya mengkonversikan devisa hasil ekspor yang diperoleh eksportir ke mata uang rupiah dengan pergerakan kurs jual dan kurs beli.
Ketua Umum GPEI Benny Soetrisno juga meminta adanya jaminan bagi para eksportir untuk mendapatkan nilai kurs yang sama untuk kegiatan ekspor tersebut agar eksportir mau menukarkan DHE ke mata uang Garuda.
Rupiah Lemah , Emiten Malah Ketiban Untung
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar
Amerika Serikat (AS) masih kembali terjadi. Namun Presiden Direktur CSA
Institute, Aria Santoso dan Analis Binaartha Sekuritas Muhammad, Nafan Aji
Gusta Utama, menilai hal ini akan menguntungkan beberapa emiten yang berbasis
ekspor seperti emas, nikel, batubara, crude palm oil (CPO), juga
sektor garmen dan furniture. Meski demikian emiten ini tetap perlu mewaspadai
permintaan yang belum optimal di tengah kondisi perlambatan ekonomi karena
korona.
Beberapa emiten berorientasi ekspor yang
dicontohkan diantaranya PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL), emiten pertambangan
seperti PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan emiten tambang batubara PT Bukit Asam
Tbk (PTBA) juga kecipratan untung dari pelemahan rupiah. Sebagaimana di lansir
masing – masing pihak Director Finance and Control Vale Indonesia Adi
Susatio dan Direktur Keuangan Bukit Asam Mega Satria.
Adi menambahkan, dari laporan keuangan per
kuartal I-2020 INCO berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$ 174,66 juta dari
hasil penjualan kepada Vale Canada Limited (VCL) dan Sumitomo Metal Mining Co.,
Ltd (SMM). Namun, menurutnya isu perang
dagang juga masih membawa ketidak pastian pada ekonomi global dimana AS
terhadap China. akar masalah penyebaran korona. Pada akhirnya hal ini memengaruhi
harga nikel dunia dan berpengaruh besar pada pendapatan INCO.
Stabilitas Kurs Jadi Prioritas Utama
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan stabilisasi nilai tukar rupiah menjadi pertimbangan Utama Bank Indonesia dalam memutuskan untuk menahan suku bunga acuan 7-Days Reverse Repo Rate sebesar 4,50 persen, meski memiliki ruang untuk menurunkannya dalam rapat Dewan Gubernur (RDG) BI bulan ini. Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kurs rupiah kemarin ditutup menguat 118 poin ke level 15.722 per dolar Amerika Serikat.Pandemi yang kian meluas ke seluruh dunia, kata dia, menyebabkan peningkatan risiko resesi perekonomian global pada 2020. Risiko resesi ekonomi dunia diperkirakan akan terjadi pada triwulan II dan III, dan baru mulai membaik pada triwulan IV.
Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, mengatakan tingkat suku bunga acuan di level saat ini memang dibutuhkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar. "Karena dapat membatasi capital flight dari pasar keuangan domestik," kata dia. Ia menambahkan, tingkat kepercayaan investor terhadap pemerintah dalam penanganan Covid-19 juga turut berpengaruh. Salah satunya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan sejumlah daerah, khususnya DKI Jakarta. "Dengan adanya pengetatan ini, investor cenderung berpandangan bahwa pemerintah Indonesia serius dalam menangani dampak wabah, demi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang lebih solid."
Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim, mendukung langkah bank sentral yang terpantau cukup agresif melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi. "Intervensi yang cukup ketat dan ekstra-waspada mampu membawa mata uang kembali menguat walaupun tipis," ujar dia.
Bank Sentral Perkuat Intervensi demi Menopang Rupiah
Bank Indonesia berupaya menahan laju pelemahan nilai tukar rupiah di tengah gempuran ketidakpastian pasar keuangan global akibat meluasnya penyebaran wabah corona. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan aliran modal asing yang keluar dari Indonesia kembali kenegara maju memicu tekanan terhada kurs rupiah sejak pertengahan Februari lalu.
Hingga 18 Maret lau, rupiah secara merata melemah sebesar 5,72 persen dan depresiasinya mencapai 8,77 persen dibanding level rupiah pada akhir 2019. Kemarin, rupiah ditutup di level 15.712 per dolar Amerika Serikat, berdasarkan kurs referensi JISDOR. BI berkomitmen meningkatakan intesitas stabilisasi di pasar domestic non-deliverable forward (DNDF), pasar spot, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Likuiditas tambahan itu diantaranya, berasal dari repo dengan agunan SBN sebesar Rp 53 triliun, penurunan Giro Wajib Minimum rupiah Rp 51 triliun, dan akan kembali ditambah Rp 23 triliun per 1 April 2020. Kapasitas intervensi bank sentral ditopang oleh ketersediaaan cadangan devisa pada akhir Februari lalu sebesar US$ 130,4 miliar. Bank sentra kemarin juga mengeluarkan tujuh langkah lanjutan untuk memperkuat stabilitas keuangan dan pertumbuhan ekonomi.
Prospek Mata Uang Jelang Tenggat Brexit
Tinggal 15 hari tersisa sebelum Inggris dijadwalkan meninggalkan Uni Eropa. Managing Director BK Asset Management mengatakan bahwa jika Inggris meninggalkan Uni Eropa tanpa persetujuan, gangguan terbesar akan berdampak bagi Uni Eropa dan Inggris sehingga pelemahan terbesar akan terjadi pada pound sterling dan euro. Dengan cara yang sama, pound sterling dan euro akan reli paling tinggi ketika sebuah kesepakatan Brexit berhasil diumumkan.
Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Selasa (15/10), pound sterling melonjak tajam hingga 1,5% menjadi US$1,2797, level terkuat pound sterling sejak 21 Mei. Hal itu terjadi seusai Inggris dan Uni Eropa kembali ke meja perundungan untuk mencari kesepakatan sebelum tenggat waktu keluarnya Inggris dari Benua Biru pada 31 Oktober 2019. Kendati demikian, sinyal kemungkinan kesepakatan Brexit tersebut tidak ditelan bulat- bulat oleh para investor. Seiring dengan kekhawatiran pasar meningkat karena waktu hampir habis bagi para negosiator untuk mempresentasikan rancangan kesepakatan pada pertemuan para pemimpin Eropa pada Kamis (17/10), pound sterling pun kini bergerak melemah. Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (16/10) hingga pukul 14.27 WIB, pound sterling melemah 0,31% menjadi US$1,2747 per pound sterling. Sementara itu, euro bergerak menguat terhadap dolar AS, naik 0,14% menjadi US$1,1048 per euro.
Inisiasi Integrasi Transaksi Duit Lokal
BI terus berupaya mengurangi ketergantungan penggunaan dollar AS dalam transaksi perdagangan internasional. BI sudah menjalin kerjasama Thailand, Malaysia, dan Filipina untuk menggunakan mata uang lokal atau local currency settlement (LCS). Otoritas moneter Indonesia ini bahkan sudah mengajukan draf ASEAN Guiding Principles on LCS Framework untuk dibahas dan difinalisasi Working Committee on Capital Account Liberalization (WC-CAL) akhir tahun 2019 mendatang. Draf ini bahkan sudah diajukan di pertemuan Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan ASEAN pekan lalu.
Adapun isi guidance itu antara lain motivasi perlunya LCS, tujuan yang digunakan untuk membantu bank sentral menyiapkan LCS, hingga ruang lingkup untuk perdagangan serta regulasi yang diusahakan fleksibel. Kendati nantinya LCS berlaku, perjanjian LCS tetap harus didasarkan pada perjanjian kerjasama bilateral berupa nota kesepahaman.
Wakil Ketua Apindo mengatakan, beberapa perbankan cukup baik memberikan fasilitas LCS kepada pengusaha. Namun, sosialisasinya masih sangat minim. Direktur Riset Core Piter Abdullah menilai langkah BI sangat tepat. Selanjutnya dapat dijalin kerjasama dengan Singapura dan Vietnam karena nilai perdagangan Indonesia dengan kedua negara cukup besar.
Penggunaan Valuta Lokal Perlu Gencar
Bank Indonesia menggiatkan kerjasama penggunaan mata uang lokal dengan negara-negara tetangga. Setelah dengan Thailand dan Malaysia, BI kembali menggandeng bank sentral Filipina untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan atau local currency settlement (LCS) framework. Kebijakan ini bertujuan agar Indonesia maupun negara mitra tidak tergantung pada mata uang dollar AS. Meskipun pada praktiknya, penggunaan LCS selama ini masih minim sekali. Wakil Ketua Apindo mengatakan, beberapa bank cukup baik memberikan fasilitas tersebut kepada eksportir dan importir. Namun ia mengakui masih minimnya pemanfaatan fasilitas LCS lantaran kurangnya sosialisasi. Ekonom Core, Piter Abdullah menilai, pengusaha masih ragu memanfaatkan LCS. Pemerintah dan BI perlu menjelaskan secara rinci mengenai manfaat yang diperoleh, tingkat risiko, hingga cara mitigasi risiko dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan.
Penggunaan Valuta Lokal Perlu Gencar
Bank Indonesia menggiatkan kerjasama penggunaan mata uang lokal dengan negara-negara tetangga. Setelah dengan Thailand dan Malaysia, BI kembali menggandeng bank sentral Filipina untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan atau local currency settlement (LCS) framework. Kebijakan ini bertujuan agar Indonesia maupun negara mitra tidak tergantung pada mata uang dollar AS. Meskipun pada praktiknya, penggunaan LCS selama ini masih minim sekali. Wakil Ketua Apindo mengatakan, beberapa bank cukup baik memberikan fasilitas tersebut kepada eksportir dan importir. Namun ia mengakui masih minimnya pemanfaatan fasilitas LCS lantaran kurangnya sosialisasi. Ekonom Core, Piter Abdullah menilai, pengusaha masih ragu memanfaatkan LCS. Pemerintah dan BI perlu menjelaskan secara rinci mengenai manfaat yang diperoleh, tingkat risiko, hingga cara mitigasi risiko dalam penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan.
Giliran Perang Mata Uang
Sementara seorang tresuri bank Eropa di Singapura mengatakan perang mata uang masih jauh. Dollar AS masih relatif kuat karena kekawatiran perang dagang global.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









