Industri Kelapa Sawit
( 85 )Peran Bank dalam Industri Kelapa Sawit
Adalah penting untuk mengeksplorasi mengenai praktik pembiayaan bank di Indonesia pada sektor kelapa sawit, gambaran pembiayaan bank di Indonesia pada sektor kelapa sawit, kontribusi perbankan dalam pembiayaan yang belum baik dan perlu diperhatikan oleh bank di Indonesia. Hal itu penting tidak dilakukan untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit di Indonesia dan menjadi yang tertinggi daya saingnya di dunia. Sebagai lembaga intermediasi keuangan, bank perlu memahami bagaimana signifikan dari potensi resiko yang dihadapi debitur/nasabah pada kegiatan proyek perkebunan dan industri kelapa sawit.
Empat bank nasional telah mempunyai kebijakan kredit/pembiayaan sawit berkelanjutan yang diungkapkan dalam Laporan Berkelanjutan tahun 2017 dan 2018. Keempat bank ini mensyaratkan nasabahnya untuk sudah/sedang dalam proses sertifikat ISPO dan RSPO. Dalam Pedoman Teknik Bank terkait Implementasi POJK No51/POJK.3/2017, kedua sertifikasi ini merupakan dokumen resmi yang dapat diacu oleh bank sebagai pendukung untuk meyakini bahwa kredit/pembiayaan yang telah memenuhi kriteria kegiatan usaha berkelanjutan yang telah diratifikasi Indonesia dalam perjanjian internasional.
Disamping itu telah disampaikan juga adanya peningkatan portofolio untuk kredit/pembiayaan perkebunan dan industri kelapa sawit yang berkelanjutan. Penting bagi bank melakukan tindakan pemantauan rutin dan update terhadap kebijakan ini, agar sesuai dengan konteks kebijakan maupun pasar yang berlaku. Demikian juga, bank dapat mengembangkan kapasitas internal (salah satu dari keempat bank nasional tersebut telah memiliki jajaran staf yang menguasai perkebunan dan industri kelapa sawit berkelanjutan) maupun meminta saran ahli dari pihak ketiga yang kredibel. (yetede)
Ekspor Minyak Sawit Capai US$ 3,06 Miliar
Jakarta - Ekspor minyak sawit nasional mencapai US$ 3,06 miliar, atau meningkat 14,98% dari bukan sebelumnya yang hanya sebesar US$ 2,66 miliar. Capaian itu merupakan rekor ekspor sawit bulanan tertinggi sepanjang sejarah karena didukung oleh harga rata-rata minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada Mei yang sangat tinggi yaitu 1.241 per ton (CIF Rotterdam). Direktur Gapki menjelaskan, kenaikan nilai ekspor Mei tersebut juga didukung oleh meningkatnya volume ekspor sekitar 12% menjadi 2,95 juta ton yang hanya 2,64 ton.
Konsumsi dalam negeri mengalami kenaikan sebesar 55 ribu ton atau 3,50% menjadi 1,64 juta ton. Konsumsi untuk keperluan pangan mencapai 842 ribu ton atau naik 2,80%, oleokimia 176 ribu ton atau naik 8,60%, dan untuk biodiesel 627 ribu ton atau turun 0,32% dari bulan sebelumnya. Sepanjang Januari-Mei 2021, total produksi minyak sawit nasional mencapai 19,61 juta ton, konsumsi domestik 7,87 juta ton, ekspor sebesar 13,75 juta ton, dan stok akhir di level 2,88 juta ton.
(Oleh - IDS)
Tak Semua Petani Nikmati CPO
Pemerataan atas hasil kinerja ekspor sejumlah sektor pertanian dan perkebunan serta industri manufaktur belum optimal. Pendapatan petani dan perajin atau pengusaha kecil menengah belum terkatrol dengan baik serta masih menemui sejumlah hambatan. Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Indonesia Mansuetus Darto, Rabu (16/6/2021), mengatakan, harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sedang cenderung meningkat dan bagus. Saat ini harga CPO di atas 1.000 dollar AS per ton dari yang pernah terpuruk di bawah 700 dollar AS per ton. Namun, belum semua petani sawit bisa merasakan efek kenaikan harga komoditas unggulan ekspor Indonesia itu. Baru petani plasma atau yang terintegrasi dengan perusahaan sawit yang menikmati hasilnya. Para petani CPO kategori swadaya atau mandiri belum merasakan dampak positif itu.
Darto mencontohkan, harga tandan buah segar (TBS) ditingkat petani plasma cukup tinggi, yaitu Rp 3.200-Rp 3.300 per kilogram. Adapun harga TBS di tingkat petani mandiri Rp 1.400-Rp 1.500 per kg. Kesenjangan ini terjadi lantaran petani mandiri menjual TBS ke pengepul atau tengkulak sehingga harga TBS di tingkat petani tertekan. ”Ini sebenarnya masalah klasik tetapi tetap perlu dicarikan solusi agar kesejahteraan petani mandiri yang jumlahnya lebih banyak daripada petani plasma turut terjamin,” kata Darto ketika dihubungi di Jakarta.
Dengan harga CPO yang di atas 1.000 dollar AS per ton, total pungutan ekspor dan bea keluar yang dikenakan adalah sebesar 400 dollar AS per ton. ”Dengan pengenaan pungutan ekspor dan bea keluar sebesar itu, harga TBS ditingkat petani tergerus antara Rp 600 dan Rp 800 per kg,” katanya. Sebelumnya, Badan Pusat Statistik menyebutkan, nilai total ekspor Indonesia pada Mei 2021 sebesar 16,6 miliar dollar AS dan impornya 14,23 miliar dollar AS sehingga neraca perdagangannya masih surplus sebesar 2,63 miliar dollar AS. Surplus pada Mei tersebut semakin menopang surplus neraca perdagangan pada Januari-Mei 2021 yang sebesar 10,17 miliar dollar AS.KKP Tangkap 113 Kapal Pelaku IUU Fishing
JAKARTA – Tim patroli Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) per Kamis (10/6)
telah menangkap 113 unit kapal
ikan pelaku praktik Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU)
Fishing. Praktik IUU Fishing
masih saja terjadi di Wilayah
Pengelolaan Perikanan Negara
Republik Indonesia (WPPNRI),
baik oleh kapal berbendera
asing maupun kapal-kapal Indonesia, apabila dibiarkan hal itu
tidak hanya merugikan negara
dari sisi ekonomi maupun sosial,
tapi juga mengancam keberlanjutan ekosistem laut.
Menteri KP Sakti Wahyu
Trenggono menegaskan komitmennya dalam memerangi praktik IUU Fishing di WPPNRI.
Beragam strategi diterapkan,
mulai dari menambah jumlah
armada dan jam patroli, penggunaan teknologi, memperkuat
sinergi dengan aparat penegak
hukum lain yakni TNI AL, Polri
serta Bakamla, hingga strategi
diplomasi. “Kapal-kapal illegal
fishing yang berhasil ditangkap tim patroli KKP selama
kurun waktu 2021 menjadi 113
unit kapal ikan. Ini menunjukkan KKP serius memberantas
IUU Fishing di WPPNRI,” kata
Trenggono di Jakarta, kemarin.
Terkait kapal-kapal yang berhasil ditangkap, Trenggono
sudah mengusulkan ke Presiden
Joko Widodo agar sebagian
dapat diberikan kepada nelayan
tradisional untuk mendorong
peningkatkan kesejahteraan.
Tentunya pemberian bisa dilakukan setelah kapal diperbaiki,
khususnya alat tangkapnya menjadi lebih ramah lingkungan.
“Tapi prosesnya tidak begitu
mudah karena ada payung hukum yang tidak bisa kita langgar
dan kami harus berkoordinasi dengan aparat lainnya," kata
Trenggono. Selama ini, kapalkapal hasil tangkapan sebagian
dimusnahkan dan diberikan
ke lembaga pendidikan untuk
praktik atau riset.
(Oleh - HR1)
KInerja Ekspor Sumatera Utara, Kelapa Sawit Punya Andil Besar
Bisnis, MEDAN — Meningkatnya permintaan komoditas kelapa sawit mengerek kinerja ekspor barang melalui pelabuhan muat wilayah Sumatra Utara pada Maret 2021 hingga 40,86% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Pengusaha di sektor kelapa sawit berharap pemerintah pusat terus meningkatkan serapan kelapa sawit dalam negeri agar harga bisa tetap bersaing.
Koordinator Fungsi Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Dinar Butar Butar mengatakan golongan barang yang mengalami peningkatan ekspor terbesar Maret 2021 adalah lemak dan minyak hewan/nabati, salah satunya kepala sawit.
Dengan penambahan tersebut, total nilai ekspor golongan itu pada Maret tahun ini tercatat US$471,54 juta atau naik 45,28% dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar US$236,42.
Berdasarkan data kuartal I/2020, ekspor golongan lemak dan minyak nabati tercatat US$1,05 miliar atau naik 48% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar US$719,95 juta.
Moncernya kinerja sektor minyak nabati tersebut telah memberi andil terhadap total nilai ekspor Sumut selama kuartal I/2021 sebesar 48,11%.
Sekretaris Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut Timbas Prasad Ginting mengatakan tren kenaikan harga kelapa sawit dan minyak sawit mentah dalam beberapa pekan terakhir menjadi penyumbang nilai ekspor Sumut secara signifikan.
Beberapa faktor yang memengaruhi hal itu a.l peningkatan permintaan dari China, disepakatinya perdagangan bebas antara Indonesia dengan Swiss melalui sebuah referendum pada 7 Maret 2021, dan perubahan kurs rupiah.
Pada 2020, nilai ekspor CPO dan turunannya dari Sumut mencapai US$2,52 miliar atau naik sebesar US$240 juta dibandingkan dengan nilai ekspor 2019 sebesar US$2,28 miliar. Jumlah ini memberi andil sebesar 31,17% terhadap ekspor Sumut.
Untuk mempertahankan tren harga positif itu, Timbas mengharapkan kepada pemerintah pusat untuk konsisten dalam mengembangkan biodiesel dari kelapa sawit.
Menurutnya, bila produk turunan kelapa sawit lebih banyak dimanfaatkan di dalam negeri, maka volume ekspornya pun akan berkurang. Hal ini membuat permintaan produk kepala sawit di pasar global makin tinggi.
(Oleh - HR1)Data Ekspor dan Tenaga Kerja Buktikan Industri Sawit Kebal Pandemi
Industri kelapa sawit terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19 tahun lalu. Menteri Koordinasi (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyebut kelapa sawit masih menjadi komoditas yang mempunyai peran strategis dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia, industri ini menyerap 16 juta tenaga kerja Indonesia. Selain itu, di tengah pandemi Covid-19, ekspor produk kelapa sawit masih tumbuh 13,6% hingga mencapai US$ 22,97 miliar.
Pertumbuhan ekspor diprediksi masih berlanjut karena tren penguatan harga minyak sawit. “Tren ini terus berlanjut di tahun 2021,” kata Airlangga dalam webinar Sustainable Palm Oil Development in Indonesia, Rabu, (7/2).
Airlangga mengatakan industri kelapa sawit memprioritaskan keseimbangan berbagai aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hal ini sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia dalam melaksanakan rencana pembangunan jangka menengah Indonesia tahun 2020-2024. “Pembangunan berkelanjutan harus diutamakan dengan tujuan memberikan akses pembangunan yang adil dan inklusif serta menjaga lingkungan hidup. Sehingga mampu menjaga peningkatan kualitas kehidupan dari generasi ke generasi,” kata Menko Airlangga.
(Oleh - HR1)
Pekebun Sawit Bisa Dapat Bantuan Rp 30 Juta per Hektare
Pemerintah sedang menggencarkan peremajaan sawit rakyat (PSR). Melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) digelontorkan bantuan Rp 30 juta/hektare (ha) kepada para pekebun sawit dengan luas lahan maksimal 4 ha.
Proses mendapatkan bantuan Rp 30 juta itu dilakukan dengan beberapa tahapan. Pertama, proses usulan PSR di kelembagaan tani. Pengajuan usulan PSR sesuai persyaratan yaitu legalitas kelembagaan dan legalitas lahan.
Kemudian Dinas Perkebunan Kabupaten/Provinsi melakukan proses verifikasi administrasi dan lapangan. Selanjutnya tim terintegrasi Ditjen Perkebunan melakukan proses verifikasi tim terintegrasi. Baru kemudian Ditjen Perkebunan memberikan rekomendasi teknis.
Setelah SK Dirut diterbitkan kemudian dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) 3 pihak, dalam hal ini antara BPDPKS, koperasi atau gapoktan (gabungan kelompok tani) dengan bank yang akan menyalurkan dana tersebut.
Jelang Ramadan, Harga CPO Koreksi Sesaat
Harga minyak sawit atau crude palm oil (CPO) tengah menurun. Kemarin, harga CPO berada di level terendah dalam tiga pekan. Pasalnya, harga CPO sempat mencapai level tertinggi di RM 4.020 per ton pada 15 Maret 2021 Karena itu, analis meyakini penurunan ini hanya koreksi sesaat, lantaran permintaan jelang Ramadan juga masih tinggi.
Menurut Founder Traderindo.com Wahyu Tribowo Laksono, permintaan CPO akan tinggi jelang Ramadan ini. Selain itu, program pengembangan bahan bakar biodiesel juga akan mengerek permintaan CPO. Indonesia sendiri tengah menjalankan program mandatori B30.
Sementara itu, Pemerintah Malaysia berencana meluncurkan program B20 di Sabah pada Juni dan di Semenanjung Malaysia mulai Desember 2021. Wahyu memprediksi, harga CPO di kuartal Il-2021 akan berkisar RM 3.500-RM 4.000 per ton. Jadi harga rata-rata CPO di kuartal dua ada di level RM 3.700 per ton.
Rakyat Swiss Setuju Kerja Sama Dagang dengan RI
Wakil Menteri Perdagangan Jerry Sambuaga mengaku senang dengan hasil referendum masyarakat Swiss soal perjanjian dagang Indonesia-EFTA Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IE-CEPA dengan Indonesia. Mayoritas rakyat Swiss setuju terhadap kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan European Free Trade Association (Asosiasi Perdagangan Bebas Eropa/EFTA). EFTA sendiri terdiri dari Swiss, Norwegia, Islandia dan Lietchtenstein. Jerry menjabarkan 51,6% publik Swiss setuju IE CEPA disahkan dan diimplementasikan antara dua negara. Hal itu menurutnya memberikan harapan cerah bagi peningkatan ekspor dan impor produk Indonesia di negara-negara Eropa.
Adapun salah satu produk yang dikritisi oleh publik Swiss yang paling sering disuarakan adalah mengenai isu kelapa sawit Indonesia. Beberapa lembaga swadaya masyarakat di Swiss pun beberapa waktu lalu secara resmi mengampanyekan isu negatif soal sawit yang juga menjadi agenda salah satu referendum. Dia juga meyakinkan komoditas kelapa sawit dari aspek lingkungan justru lebih efisien karena satu hektar kelapa sawit menghasilkan produk yang setara dengan hasil 6 hektar produk minyak nabati yang lain.
Kinerja Ekspor Kelapa Sawit Topang Pertumbuhan Ekonomi di Masa Pandemi
Indonesia sebagai produsen minyak sawit utama menguasai 55% pangsa pasar dunia. Selain menjadi penyumbang devisa negara, industri kelapa sawit juga terbukti berkontribusi menuntaskan kemiskinan dengan menciptakan 16 juta lapangan pekerjaan baru di Tanah Air.
Di tahun 2017 Indonesia mengekspor 31 juta ton kelapa sawit dan mendulang devisa hampir US$ 23 miliar (Rp 317 triliun) atau 13% dari nilai keseluruhan ekspor Indonesia. Jumlah ini lebih tinggi kontribusi ekspor minyak dan gas yang 'hanya' 9% atau senilai US$ 15,7 miliar (Rp 217 triliun). Sepanjang tahun 2020, ekspor dari sektor pertanian dan industri di Indonesia dapat tumbuh positif masing-masing sebesar 14% dan 2,94%.
Selain itu industri kelapa sawit juga mendukung program biodiesel (B30) pemerintah pada tahun 2021 dengan target alokasi penyaluran sebesar 9,2 juta KL. B30 juga sukses menjaga stabilitas harga CPO (crude palm oil). Selain itu juga menyediakan energi baru dan terbarukan serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dan minyak bumi.
Kelapa sawit juga menjadi komoditas paling produktif penyumbang 42% dari total suplai minyak nabati dunia, padahal total penggunaan lahan hanya 5% membuat kelapa sawit dinilai sangat efektif. Data tahun 2019 dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) menunjukkan setiap produksi satu ton minyak nabati, kelapa sawit hanya membutuhkan lahan seluas 0,26 hektare, lebih kecil dari sumber minyak nabati lain seperti bunga matahari dan kedelai.
Sementara itu menurut Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto, minyak kelapa sawit dan turunannya mengalami peningkatan nilai ekspor menjadi US$ 17,36 miliar (10,63%) selama tahun 2020. Bahkan menjadi kontributor utama ekspor Indonesia.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









