Industri Kelapa Sawit
( 85 )Kekurangan Pasokan Kelapa Tua - Potensi Ekspor Bahan Baku VCO Menjanjikan
Potensi akan Virgin Coconut Oil (VCO) yang bahan dasarnya terbuat dari biji kelapa punya potensi yang cukup baik di Kalsel. Karena kini, bahan baku VCO tengah dicari untuk diekspor.
Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Birhasani menjelaskan bahwa memang potensi ekspor akan VCO baik. “Malah ini bahan bakunya kekurangan, “ kata Birhasani, Kamis (14/1).
Dijelaskan dia, setelah kunjungan ke PT Daxen Banjarbaru, diketahui bahwa perusahaan ini telah memproduksi Virgin Coconut Oil (VCO) dengan kapasitas 10.000 biji kelapa dengan produksi 600 kilogram VCO per hari.
Mengingat saat ini produksinya masih dibawah kapasitas maksimal, sementara permintaan importir luar negeri semakin meningkat, maka pihak perusahaan tentunya memerlukan pasokan kelapa sebagai bahan bakunya.
Corona Makin Ganas, Petani Sawit Sumut Makin Kaya
Sikap Malaysia yang menyatakan darurat corona justru menjadi berkah bagi petani sawit di Indonesia, khususnya Sumut saat ini. Dari acuan harga TBS di tingkat petani hingga 12 Januari, tercatat kenaikan harga hingga mendekati Rp 2.300 per Kg. Padahal harga tersebut dipantau di Desember masih di posisi Rp 2.100 per Kg. Artinya memang petani sawit kita lagi berbahagia saat ini.
Petani sawit tetap harus bersyukur dengan kenaikan harga tersebut. Karena harga TBS saat ini sudah mendekati 100% lebih tinggi dibandingkan dengan harga BEP (harga modal) di tingkat petani yang berkisar 1.200 rupiah per Kg.
Harga Membaik, Ekspor Sawit Prospektif
Harga minyak sawit terus naik beberapa bulan terakhir dan mencapai angka tertinggi. Kenaikan harga dan permintaan dunia juga membuat peran ekspor sawit signifikan bagi neraca perdagangan Indonesia di triwulan I-2021. Sebelumnya, Gapki memprediksi, produksi CPO 2021 akan mencapai 49 juta ton dan menyumbang devisa ekspor di kisaran 20 miliar dollarAS. Sementara itu, ekspor CPO Indonesia tahun ini diperkirakan 7,5 juta ton (Kompas, 4/12/2020).
Badan Pusat Statistik mencatat, pada Januari-Oktober 2020, ekspor minyak kelapa sawit Indonesia mencapai 14,003 miliar dollar AS, naik 13,63 persen dibandingkan periode yang sama 2019 dengan nilai ekspor 12,32 miliar dollar AS. Ekspor minyak kelapa sawit berperan hingga 11,2 persen terhadap ekspor nonmigas pada periode tersebut.
Seiring naiknya harga minyak sawit, harga referensi CPO untuk penetapan bea keluar periode Januari 2021 ikut naik. Harga referensi itu 951,86 dollar AS per ton, naik 9,31 persen dibandingkan periode Desember 2020 yang 870,77 dollar AS per ton.
Harga CPO Awal Tahun ini Meningkat
Harga referensi produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) untuk penetapan bea keluar periode Januari 2021 sebesar 951,86 dollar AS per ton. Harga referensi ini meningkat 81,09 dollar AS per ton atau 9,31 persen dari Desember 2020 yang sebesar 870,77 dollar AS per ton.
Penetapan harga referensi ini tercantum dalam Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 105 Tahun 2020 tentang Penetapan Harga Patokan Ekspor atas Produk Pertanian dan Kehutanan yang Dikenakan Bea Keluar.
“Saat ini harga referensi CPO telah jauh melampaui ambang batas 750 dollar AS per ton. Oleh karena itu, CPO dikenai bea keluar sebesar 74 dollar AS per ton untuk Januari 2021,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Didi Sumedi dalam siaran pers di Jakarta, Selasa (5/1/2021).
Kelapa Sawit : Aturan Pungutan Bisa Berdampak Positif
Pemerintah menerbitkan aturan baru mengenai skema pungutan ekspor produk kelapa sawit yang nantinya dikelola oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit.
Skema baru itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 191 Tahun 2020 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 57 Tahun 2020 tentang Tarif Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit pada Kementerian Keuangan. Pemerintah mengundangkannya pada Kamis (3/12/2020) dan akan berlaku tujuh hari setelahnya.
Menurut Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) sekaligus Wakil Menteri Perdagangan periode 2011-2014 Bayu Krisnamurthi, skema pungutan baru bersifat progresif. “Skema seperti ini memberikan lebih banyak dampak positif,” katanya saat dihubungi.
Peraturan baru itu menyebutkan, tarif pungutan ekspor minyak sawit mentah (CPO) sebesar 55 dollar AS per ton ketika harga CPO 670 dollar AS per ton atau lebih rendah. Besaran pungutan meningkat ketika harga refensi naik. Harga referensi tertinggi di atas 995 dollar AS per ton dengan pungutan 255 dollar AS per ton.
Sementara untuk produk minyak sawit olahan (refined, bleached, and deodorized palm olein/RBD PO), pungutan ekspornya 35 dollar AS per ton jika harga referensi CPO sama dengan 670 dollar AS per ton atau lebih rendah. Apabila harga referensinya di atas 995 dollar AS per ton, pungutannya 202,5 dollar AS per ton.
Harga minyak sawit diprediksi naik tahun depan
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pembukaan IPOC yang diselenggarakan secara virtual, Rabu (2/12) memproyeksi harga minyak sawit mentah atau CPO tahun 2021 akan mengalami peningkatan menjadi sekitar 668 dolar AS per ton.
Selain itu, lanjut dia, peningkatan harga CPO juga didukung oleh berlanjutnya kebijakan biodiesel yang diterapkan pemerintah melalui mandatori Program Biodiesel 30 atau B30, serta adanya peningkatan permintaan oleh mitra dagang besar.
Replanting atau peremajaan kebun sawit juga telah masuk dalam salah satu program strategis dalam penanganan pemulihan ekonomi nasional, untuk kepentingan kemudahan upaya tersebut akan lebih diupayakan kerja sama antara perkebunan dan pemerintah. Salah satu kerja samanya adalah dengan mengeluarkan proses peremajaan melalui pembentukan pinjaman usaha rakyat atau KUR.
Gubernur Edy Ajak Optimalkan Industri Sawit dengan Prinsip Berkelanjutan
Industri kelapa sawit merupakan salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia. Sayangnya, banyak tudingan negatif khususnya yang berkaitan dengan lingkungan. Untuk itu, seluruh pengusaha yang bergerak di sektor sawit khususnya di Sumut diharapkan senantiasa mengutamakan prinsip berkelanjutan.
Hal ini disampaikan Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Edy Rahmayadi saat membuka Webinar 5th Indonesia Palm Oil Stakeholders (IPOS) Forum, Kamis (26/11).
“Sebagai provinsi dengan areal perkebunan kelapa sawit terluas kedua setelah Riau, perkebunan kelapa sawit telah banyak mendorong pertumbuhan dan pembangunan di Sumut. Saat ini luas lahan sawit di Sumut itu sekitar 1.312.913,70 hektare. Bayangkan kalau kita kelola dengan berkesinambungan dan berkelanjutan dengan tetap memperhatikan prinsip lingkungan, mudah-mudahan hasil optimal bisa kita peroleh,” harap Edy Rahmayadi.
Edy kemudian mengapresiasi pelaksanaan IPOS Forum. Diharapkan, menghasilkan kajian-kajian yang dapat memajukan industri kelapa sawit dan mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat dengan tetap memperhatikan keseimbangan aspek sosial dan lingkungan, serta terjalin sinergi dan kerja sama yang lebih baik antara semua stakeholder untuk menghasilkan regulasi yang lebih baik.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono mengatakan, Kunci industri sawit bisa bertahan, harus mampu mempertahankan daya saing dan keberlanjutan dimana keduanya sangat dipengaruhi oleh regulasi. “Untuk itu, saya sangat menyambut baik Undang-Undang Cipta Kerja yang diharapkan mampu mendorong dan menyelesaikan berbagai persoalan termasuk kemudahan usaha, investasi, dan lapangan kerja,” katanya.
Grup Sinarmas Akuisisi Dua Perusahaan Sawit US$ 304 Juta
Direktur Golden-Agri Resources
Rafael Buhay Concepcion, Jr
mengatakan, perseroan telah menandatangani conditional acquisition
agreement untuk membeli 100%
saham Centrino Investment Ltd.
Nilai akuisisi Centrino mencapai
US$ 208 juta, yang telah disepakati
oleh perseroan dan pihak penjual.
Nilai akuisisi ini telah mempertimbangkan aset bersih berdasarkan
penilaian pasar.
Sementara itu, perusahaan
kedua yang diakuisisi Golden-Agri adalah Woodside Financial Ltd. Transaksi akuisisi
Woodside Financial akan menggunakan dana investasi dalam
Acsend Agri Fund Ltd senilai
US$ 96 juta yang melibatkan
perseroan sebelumnya. Dana
investasi ini khusus dialokasikan untuk mengembangkan
perkebunan minyak sawit di
Indonesia.
Manajemen Golden-Agri tidak
menjelaskan spesifik luas budidaya tanaman dan produksi minyak sawit yang telah dan akan
dihasilkan oleh Centrino dan
Woodside. Kedua perusahaan ini
tercatat di Pulau Labuan, yang
terkenal sebagai pulau bebas
pajak atau tax haven.
Seperti diketahui, Golden-Agri
dikenal sebagai salah satu perusahaan perkebunan sawit terbesar di dunia. Produsen minyak
goreng Filma ini mengelola
kebun kelapa sawit dengan total
luas area tertanam hampir 500
hektare (ha) di Indonesia per
30 September 2020. Perusahaan
merupakan induk usaha dari PT
Sinar Mas Agro Resources &
Technology Tbk (SMAR).
Hingga September 2020, Golden-Agri membukukan pendapatan US$ 4,99 miliar, naik 6%
dibanding kuartal III-2019 sebesar US$ 4,73 miliar. Mayoritas
kenaikan pendapatan didukung
oleh kenaikan harga rata-rata
penjualan komoditas sawit.
Hal tersebut juga berdampak
terhadap posisi EBITDA yang
meningkat 3% menjadi US$ 314
juta, dari sebelumnya US$ 305
juta.
Pada bagian lain, manajemen
Golden-Agri menyoroti hasil
investigasi kantor berita Associated Press (AP) berjudul Rape,
abuses in palm oil fields linked
to top beauty brands. Liputan
investigasi AP mengungkapkan
adanya pelecehan seksual dan
upah yang tidak layak kepada
para pekerja perempuan di
perkebunan sawit besar Indonesia dan Malaysia. Pelecehan
tersebut mulai dari kekerasan
verbal, hingga kekerasan fisik
termasuk pemerkosaan.
Menanggapi hal ini, Senior
Vice President Group Corporate
Communication Golden-Agri
Anita Neville mengatakan, perilaku yang digambarkan oleh
laporan AP sangat tidak bisa
diterima. Pihaknya sangat malu
bahwa tindak kekerasan tersebut terjadi di sektor kelapa sawit
Manajemen Golden-Agri tercatat mempekerjakan 30.000
tenaga kerja perempuan secara
langsung dan tidak langsung.
Perseroan menerapkan kebijakan sosial dan lingkungan yang
menciptakan kesempatan kerja
yang setara. Perseroan juga
menerapkan berbagai kebijakan
dan tindakan untuk mendukung
dan memberdayakan perempuan.
Executive Director Golden-Agri Jesslyne Widjaja
mengatakan, perseroan tidak
mengklaim dirinya sempurna
dalam kaitannya dengan pelecehan di tempat kerja. Pihaknya
berkomitmen terus melakukan
perbaikan, dan aksi itu dimulai
dengan menyediakan layanan
bagi korban untuk menyampaikan keluhan, serta menindaklanjuti dengan tepat.
Ekspor Sawit Tembus Rp 219 Triliun
Dalam catatan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia
(Gapki), nilai ekspor minyak sawit atau produk sawit pada September 2020
mencapai US$ 1,87 miliar atau naik 10% dibanding Agustus 2020 sebesar US$1,69
miliar. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, pada September
2020, ekspor sawit ke Tiongkok 645 ribu ton atau lebih tinggi dari Agustus yang
618 ribu ton, ekspor ke India tidak mengalami perubahan atau tetap 351 ribu
ton. Lalu, ekspor ke Uni Eropa dan Pakistan pada September lebih rendah dari
Agustus. Kenaikan ekspor terjadi dengan tujuan Brasil, Malaysia, Rusia dan
Afrika.
Mukti juga mengatakan produksi minyak sawit Indonesia telah menunjukkan pemulihan, ini terlihat dari kenaikan yang konsisten dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, konsumsi sawit dalam negeri untuk pangan dalam empat bulan terakhir menunjukkan kenaikan konsisten dan pada September menacapai 667 ribu ton. Secara yoy sampai September, konsumsi sawit untuk pangan masih rendah 15,80% dari tahun lalu.
Sementara itu, Deputi II Bidang Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud sebelumnya mengatakan, tiga sektor usaha yang selalu bersaing menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara adalah minyak sawit, migas dan batubara, serta pariwisata melalui wisatawan mancanegara (wisman).
Sedangkan harga minyak mentah turun tajam menjadi US$ 20 perbarel, batubara yang pada 2019 masih US$ 75 per ton kini US$ 50 per ton. Selain harga rendah, perlambatan pertumbuhan ekonomi global mempengaruhi ekspor komoditas migas dan batubara.
PTPN Group Gunakan Limbah Cair Sawit untuk Sumber Energi
Direktur Utama PTPN Group Mohammad Abdul Ghani mengatakan, saat ini PTPN Group memiliki 75 PKS dengan kapasitas total pengolahan sebanyak 3.205 ton tandan buah segar (TBS) per jam. PTPN Group secara bertahap akan melakukan konversi sumber energi pada 48 dari total 75 PKS tersebut. Dengan upaya tersebut, PTPN Group bisa memperoleh tambahan pendapatan dari penjualan cangkang sawit. Saat ini, cangkang sawit menjadi komoditas yang banyak dicari di pasar ekspor. Potensi pendapatan lain-lain dari penjualan cangkang sawit sebesar 616.776 ton atau setara Rp 383,50 miliar pertahun bisa diperoleh apabila 48 unit PKS PTPN Group sukses menerapkan biogas cofiring dengan memanfaatkan POME sebagai sumber energinya.
Sebelumnya, PTPN Group
Bersama PT Pertamina Power Indonesia juga mengembangkan pembangkit listrik
tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas n2 megawait (MW) di Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Program berbasis energi ramah lingkungan
atau dikenal dengan Green Economic Zone ini untuk mendukung upaya pemerintah
dalam mengoptimalkan potensi energi terbarukan (renewable energy) nasional dan
menarik minat investor di KEK Sei Mngkei.
Ghani menjelaskan, energi matahari lebih ramah lingkungan daripada bahan bakar fosil. Saat ini, sebanyak 90% energi di Indonesia masih menggunakan energi berbahan fosil dari batubara, minyak bumi, gas alam, sedangkan sisanya kurang dari 10% memanfaatkan sumber energi terbarukan.
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









