Pertumbuhan Ekonomi
( 471 )Mengatasi Tantangan Pendanaan di Tengah Perlambatan
Pentingnya investasi besar untuk mendukung proyek-proyek transisi energi dan pengurangan emisi karbon di Indonesia. Utusan Khusus Indonesia untuk Conference of the Parties (COP) 29, Hashim S. Djojohadikusumo, mengungkapkan bahwa Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$235 miliar untuk mewujudkan target-target besar, seperti reforestasi lebih dari 12 juta hektare hutan yang rusak, revitalisasi lahan terdegradasi, serta perlindungan lautan dalam rangka menciptakan ekonomi biru yang berkelanjutan. Hashim juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dan mobilisasi sumber daya global, termasuk teknologi dan pendanaan, untuk mendukung upaya tersebut.
Selain itu, Tri Joko Haryanto, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), menjelaskan peran BPDLH dalam mendukung pembiayaan untuk pengendalian perubahan iklim. BPDLH bertanggung jawab menyalurkan dana untuk sektor-sektor yang mendukung keberlanjutan, seperti kehutanan, energi, pertanian, kelautan, dan lainnya. Saat ini, BPDLH mengelola dana hingga Rp24,9 triliun, yang dapat digunakan untuk mendanai proyek-proyek yang berkaitan dengan mitigasi perubahan iklim.
Di sisi sektor energi, John Anis, CEO PT Pertamina New & Renewable Energy, mengungkapkan bahwa perusahaan tersebut berencana menambah kapasitas energi terbarukan menjadi 6 gigawatt (GW) pada 2029-2030, dengan investasi sebesar US$6 miliar. Pertamina berfokus pada pengembangan energi bersih, termasuk geotermal, tenaga surya, dan biogas, untuk mendukung transisi energi dan target net zero emission Indonesia pada 2060.
Namun, untuk mewujudkan semua rencana ambisius ini, perlu adanya kerja sama kolektif antara pemerintah, sektor swasta, dan komunitas internasional. Hal ini termasuk dukungan terhadap pengembangan infrastruktur, teknologi yang lebih murah, serta regulasi yang adaptif dan inovatif. Dengan investasi yang cukup besar dan pembiayaan yang inovatif, Indonesia dapat mencapai tujuan transisi energi dan pengurangan emisi karbon, sambil mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
DIY: Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi
Proyek infrastruktur di selatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), khususnya pembangunan Pelabuhan Perikanan Pantai Gesing dan Jalur Jalur Lintas Selatan (JJLS), diharapkan dapat menjadi pengungkit bagi perekonomian kawasan tersebut. Dina Indrianapada, Kepala Sub-bagian Pengendalian Urusan Keistimewaan, menekankan pentingnya proyek ini sebagai tonggak untuk pengembangan ekonomi, terutama di sektor industri perikanan. Pantai Gesing yang terletak di Kalurahan Girikarto, Panggang, Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi besar untuk dijadikan pelabuhan perikanan berkat posisinya yang strategis dan terlindung dari gelombang laut, sehingga memudahkan nelayan untuk bersandar.
Bayu Mukti Sasongko, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, menjelaskan bahwa produktivitas perikanan di Pantai Gesing sebelumnya masih terbatas, dengan kapasitas kapal nelayan kecil. Namun, dengan adanya pembangunan pelabuhan baru, diharapkan dapat mendukung kapal-kapal yang lebih besar dan meningkatkan hasil tangkapan ikan. Pelabuhan Perikanan Pantai Gesing yang telah diresmikan pada 22 Oktober 2024 ini dibangun di atas lahan seluas 54.445 m² dan diharapkan bisa mengoptimalkan konektivitas kawasan selatan DIY dengan jalur transportasi utama, termasuk JJLS dan akses ke bandara.
Secara keseluruhan, pembangunan pelabuhan ini menjadi langkah penting dalam mendorong pengembangan sektor perikanan, serta membuka peluang bagi peningkatan ekonomi kawasan selatan DIY, dengan dampak positif bagi masyarakat lokal, terutama nelayan.
Terbatasnya Modal untuk Mengejar Target Ambisius
Terobosan bagi Ekonomi Indonesia
Kerja Ekstra Dorong Pertumbuhan Ekonomi
Presiden Prabowo Subianto dan pemerintahannya dihadapkan pada tantangan besar dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6% pada tahun-tahun awal pemerintahannya. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2024 hanya mencapai 4,95% YoY, lebih rendah dari perkiraan sebelumnya dan melambat dibandingkan dengan dua kuartal sebelumnya. Hal ini terutama disebabkan oleh perlambatan konsumsi rumah tangga, yang merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi, terutama di sektor perumahan, transportasi, dan restoran.
Meskipun demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, tetap optimis bahwa ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5% pada akhir tahun 2024, dengan harapan adanya dorongan dari konsumsi rumah tangga dan investasi langsung. Pemerintah juga berencana untuk mengimplementasikan kebijakan dan insentif di sektor padat karya guna mencegah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan menciptakan lebih banyak lapangan pekerjaan. Airlangga juga menekankan pentingnya sektor swasembada pangan dan energi sebagai pendorong utama untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.
Selain itu, optimisme juga datang dari sektor bisnis, dengan Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) yang memprediksi akselerasi ekonomi pada kuartal IV/2024 dan awal 2025 berkat perayaan hari-hari besar nasional yang dapat mendorong konsumsi rumah tangga. Meskipun demikian, beberapa ekonom, seperti Piter Abdullah Redjalam dan Hosianna Evalita Situmorang, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun ini kemungkinan akan tetap berada di kisaran 4,95% hingga 5%, kecuali ada kebijakan stimulus yang lebih besar untuk mendongkrak permintaan domestik.
Secara keseluruhan, meskipun ada tantangan yang dihadapi, pemerintah tetap berupaya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif melalui kebijakan yang mendukung investasi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah juga menyadari perlunya lebih banyak stimulus untuk mempercepat pemulihan ekonomi dan menjaga momentum pertumbuhan.
FDI Dibutuhkan untuk Mensupport Program Pertumbuhan Ekonomi 8%
355 Tahun Sulawesi Selatan: Memperkuat Ekonomi Berkelanjutan
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, di bawah kepemimpinan Penjabat Gubernur Zudan Arif Fakrulloh, berkomitmen untuk meningkatkan investasi di sektor ini melalui kebijakan yang mendukung keberlanjutan dan kepatuhan lingkungan. Febriany Eddy, Presiden Direktur Vale Indonesia, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Vale juga berencana untuk berinvestasi dalam teknologi dan pengelolaan lingkungan, termasuk proyek pembangunan smelter yang akan mendukung industri baterai kendaraan listrik di masa depan.
Misi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi
Pidato yang diucapkan oleh Bapak Prabowo sebagai Presiden merupakan babak awal dari percepatan program untuk keberlangsungan percepatan laju ekonomi
Sistem Politik dan Pertumbuhan Ekonomi
Pemerintahan Prabowo Menuju Target Pertumbuhan Ekonomi 8%
Presiden terpilih Prabowo Subianto mematok target pertumbuhan ekonomi tinggi, yakni sebesar 8% per tahun, melampaui rata-rata 10 tahun terakhir sekitar 5%. Pemerintah sudah menyiapkan strategi untuk mewujudkan target tersebut. Strategi ini antara lain mengoptimalkan investasi berkelanjutan, lalu melibatkan swasta di proyek mercusuar, menciptakan kemandirian energi dan pangan, serta menggenjot inovasi teknologi untuk mencegah korupsi. Secara historia, Indonesia pernah mencapai pertumbuhan ekonomi 8%, yakni pada 1977, 1980, 1981, dan 1995.
Artinya target itu bukan mustahil tercapai, kendati perlu upaya keras. Itu sebabnya, ekonom menyarankan pemerintah menjaga daya beli kelas menengah karena mereka penggerak pertumbuhan ekonomi dengan cara pemberian subsidi, fasilitas kesehatan, dan pendidikan hingga penundaan kenaikan pajak. Lalu, pemerintah bisa mendorong pertumbuhan usaha dengan pemberian insentif dan kredit khususnya pada industri padat karya. Investasi juga harus dipacu habis-habisan hingga mencapai 53% dari PDB atau setara Rp 11 ribu triliun. Jumlah itu jauh diatas target 2024 sebesar Rp1.600 rupiah. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









