;

Sistem Politik dan Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi Yoga 17 Oct 2024 Kompas
Sistem Politik dan Pertumbuhan Ekonomi
Pentingnya kelembagaan yang inklusif dan keterkaitan kuat antara sistem politik dan pertumbuhan ekonomi menjadi tema penting yang diangkat trio peraih Nobel Ekonomi 2024. Daron Acemoglu, Simon Johnson, dan James A Robinson lewat sejumlah artikel dan juga buku Why Nations Fail: The Origins of Power, Prosperity, and Poverty yang ditulis Acemoglu dan Robinson menjawab pertanyaan penting mengapa ada negara yang sukses dan sebaliknya ada yang gagal. Juga mengapa beberapa negara lebih maju daripada yang lain. Karya mereka yang didasarkan pada penelitian terhadap data statistik 500 tahun terakhir dinilai relevan dan berkontribusi besar dalam menjelaskan bagaimana kualitas kelembagaan berdampak pada tingkat kesejahteraan dan ketimpangan di suatu negara. Juga bagaimana demokrasi membuka peluang lebih besar bagi suatu bangsa untuk lebih sejahtera.

Kesenjangan yang terus melebar dan sudah menjadi fenomena global jadi salah satu tantangan terbesar dunia yang kita hadapi abad ini. Nilai kekayaan 20 persen negara terkaya melampaui 30 kali kekayaan 20 persen negara termiskin. Kian membengkaknya beban utang 26 negara termiskin yang menjadi rumah bagi 40 persen penduduk paling miskin dunia, menurut Bank Dunia, juga menjadi bukti kemunduran besar dalam perang global melawan kemiskinan. Acemoglu dan kawan-kawan menyoroti bagaimana negara, melalui institusi ekstraktif yang dikendalikan sekelompok elite dan menguntungkan segelintir orang, dengan mengeksploitasi masyarakat dan kekayaan negara, justru jadi penghambat utama kemajuan dan kian mempertajam kesenjangan. Tesis Acemoglu, Johnson, dan Robinson tentang penyebab ketimpangan antarnegara serta korelasi institusi politik, pertumbuhan, dan kesejahteraan jadi relevan di tengah kemerosotan demokrasi, ketidakpastian geopolitik, dan krisis multidimensi yang mengancam dunia. Termasuk Indonesia, dimana absennya tata kelola yang baik, inklusif, dan bebas korupsi membuat perekonomian tak mampu berlari kencang, upaya mengatasi kemiskinan jalan di tempat, jurang ketimpangan kian menganga.

Demokrasi dan kelembagaan yang inklusif digerogoti dari dalam justru oleh kekuatan politik dan institusi pemerintahan yang seharusnya menjadi pengawalnya. Trio ini memang bukan yang pertama meneliti ketimpangan antarnegara dan pentingnya kelembagaan. Adam Smith (AnInquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations) dan ekonom lain setelahnya, beberapa di antaranya juga peraih Nobel Ekonomi, jauh hari sudah lebih dulu menelitinya. Bedanya, Acemoglu dan kawan-kawan lebih dalam masuk kehubungan sebab akibat antara kelembagaan dan pertumbuhan. Mereka juga mengaitkan institusi dan kolonisasi: bagaimana sistem politik dan ekonomi ala negara-negara penjajah berperan penting dalam kesenjangan global.
Kritik lain, tesis mereka dinilai gagal menjelaskan apa yang terjadi di China dan India. Mengapa dengan rezim otoriter, China mampu tumbuh di atas dua digit per tahun selama hampir tiga dekade. Sebaliknya, India sebagai negara demokrasi terbesar di dunia tertinggal dalam pertumbuhan. (Yoga)
Download Aplikasi Labirin :