Saham
( 1722 )Usai ATH, Saham BMRI Masih Layak Buru
Pergerakan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Pada awal perdagangan Senin (24/10), saham BMRI melanjutkan penguatan ke level Rp 10.500, sebelum bergerak turun dan ditutup melemah 0,97% ke harga Rp 10.250 per saham.
BMRI berhasil mencapai rekor harga penutupan
all time high
akhir pekan lalu di level Rp 10.350 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham BMRI juga tercatat naik 8,47% dan menguat 45,91% sejak awal tahun ini.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto melihat pendorong utama saham BMRI menembus rekor
all time high
adalah proyeksi kuatnya pertumbuhan kinerja. Investor memiliki ekspektasi kinerja BMRI di kuartal III 2022 akan tumbuh tinggi.
Insentif DP 0% Diperpanjang, Laju Emiten Otomotif Kencang
Kebijakan Bank Indonesia (BI) memperpanjang insentif down payment (DP) atau uang muka kredit kendaraan bermotor paling sedikit 0%, jadi angin segar bagi emiten otomotif. Apalagi, kebijakan yang berlaku hingga tahun 2023 ini untuk seluruh jenis kendaraan baru.
Pasalnya, dalam tiga bulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunganya sebesar 125 basis poin menjadi 4,75%. Kebijakan moneter ketat ala BI ini diperkirakan bakal berdampak pada penyaluran pembiayaan otomotif.
Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menilai, dengan naiknya suku bunga BI, penjualan kendaraan roda empat bisa sedikit tertekan. Ini khususnya untuk jenis kendaraan Rp 250 juta ke bawah atau
low cost green car
(LCGC).
Senada, Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim juga menilai perpanjangan insentif DP 0% bisa menggenjot penjualan kendaraan. Ini bercermin pada penjualan kendaraan roda empat secara nasional per September 2022, yang mencapai 96.956 unit.
Angin Segar Saham Perbankan
Emiten perbankan berpeluang diuntungkan jika suku bunga kredit ikut meningkat pasca-kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, membenarkan bahwa bank bisa mengerek laba dari besarnya volume pinjaman di masa pemulihan ekonomi. Angin segar itu juga tampak dari tren positif saham perbankan pada akhir pekan lalu. “Transaksi sahamnya bisa naik karena emiten bank akan meraih gap keuntungan yang relatif lebih tinggi,” tuturnya kepada Tempo, Sabtu lalu. Margin yang bisa didongkrak emiten perbankan adalah pinjaman berskema floating rate atau bunga mengambang yang umumnya diterapkan pada pinjaman debitor bidang properti.
Lonjakan suku bunga acuan pun membuat tawaran produk deposito dari perbankan lebih menarik. “Investor retail maupun institusi akan mengambil momentum untuk masuk ke produk tersebut. Ini keuntungan juga bagi emiten perbankan.” Kamis pekan lalu, bank sentral kembali mengerek suku bunga sebesar 50 basis point (bps) ke level 4,75 %. Otoritas moneter itu berupaya meredam laju inflasi yang terus meningkat, hampir menyundul 6 %. Kebijakan baru BI pun masih imbas dari inflasi tinggi di AS, lebih dari 8 %, yang membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan secara berkala dari sebelumnya 0 persen hingga kini berkisar 3,0-3,25 %. (Yoga)
Tahun Loncatan Saham Grup Panin dan Berkah Bagi Mu'min
Nyaris kompak dan serempak, saham emiten Grup Panin melesat. Bahkan, kemarin (21/10), harga saham Bank Panin (PNBN) mencapai level tertinggi sepanjang sejarah atau
all time high. Berdasarkan data RTI, harga PNBN naik 3,8% menjadi Rp 2.730 per saham pada penutupan perdagangan Jumat (21/10). Sepekan terakhir, harga PNBN melesat 13,75% dan sepanjang tahun ini tercatat telah meroket 254,5%.
Saat harga saham Grup Panin meningkat, kekayaan pemiliknya, Mu'min Ali Gunawan juga bertambah. Dengan kepemilikan 46% di Bank Panin, aset Mu'min sepanjang 2022 bertambah Rp 1,52 triliun menjadi Rp 94,13 triliun.
Dari sisi kinerja, Bank Panin mencetak rapor biru. Semester I-2022, Bank Panin meraup laba bersih Rp 1,6 triliun atau tumbuh 10,45% dibanding periode sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
Cari Tambahan Modal Baru, Triniti Land Gelar Right Issue
Pemegang saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) alias Triniti Land memberikan restu untuk menambah modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau
rights issue. Persetujuan ini diambil dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Kamis (20/10).
Presiden Direktur dan CEO PT Perintis Triniti Properti Tbk Ishak Chandra mengatakan, TRIN akan menerbitkan 147.795.558 saham baru dengan rasio 30:1. Jadi, tiap pemegang 30 saham lama akan memperoleh satu HMETD.
Harga pelaksanaan rights issue TRIN Rp 900 per saham. Dari aksi korporasi ini, TRIN bisa mengantongi dana segar Rp 133 miliar. Selain itu, TRIN juga akan menerbitkan waran dengan harga pelaksanaan Rp 1.100 per saham.
Blibli Akan Pakai Rp 5,5 Triliun Dana IPO untuk Tutup Utang
PT Global Digital Niaga atau Blibli dalam waktu dekat bakal melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) saham dengan mengincar dana segar Rp 8,17 triliun. Dari total tersebut, Rp 5,5 triliun akan dipakai untuk menutup utang. Chief Financial Of cer (CFO) Blibli Hendry menjelaskan, sebagaimana dipublikasikan melalui prospektus, sebesar Rp 5,5 triliun dana yang diperoleh dari hasil IPO akan digunakan untuk membayar fasilitas perbankan. “Sebenarnya fasilitas ini sudah kami miliki dari tahun sebelumnya. Dan sebagai proses bisnis, ini normal. Jadi untuk proceed Rp 5,5 triliun untuk dilakukan pembayaran,” kata Hendry dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (18/10). Sisa dana IPO, akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan utama perseroan, anak perusahaan, dan Tiket.com yang sudah diakuisisi Blibli sejak 2017. Termasuk kegiatan PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) yang proses akuisisinya sudah dituntaskan Blibli pada kuartal IV-2022. Berbekal ekosistem yang cukup lengkap tersebut, ke depan Blibli bakal fokus mengeksekusi strategi sinergi di dalam ekosistem.
“Jadi, kalau dilihat beberapa tahun ke belakang, masing-masing platform masih beroperasi dan optimalisasinya sendiri-sendiri. Dan aksi korporasi ini tujuannya adalah untuk menyinergikan tiga platform tersebut, sehingga ke depan kami akan fokus mengeksekusi sinergi omnichannel dan sinergi platform,” papar Hendry. Salah satu caranya, dimulai dengan menerapkan single sign on, lalu menyediakan dompet digital dan sebagainya. “Jadi, sebenarnya ini yang patut ditunggu. Kami yakin dengan aksi korporasi ini nantinya bisa jadi lebih baik,” tutur Hendry. Dalam kesempatan itu, CEO Tiket.com George Hendrata juga menambahkan alasan di balik melantainya Blibli di bursa, yakni didorong oleh potensi pasar yang masih cukup besar. “Pasarnya besar. Ada US$ 150 miliar yang dilayani Blibli, US$ 41 miliar di travel dan lifestyle dilayani Tiket.com, serta US$ 124 miliar di kebutuhan sehari-sehari yang dilayani Ranch,” sebut George. Di luar ketiga platform itu, masih terdapat perusahaan proxy di luar negeri yang juga cukup dan berkelanjutan dengan laba yang positif. Atas dasar itu, George melihat banyak hal yang bisa dijalankan, apalagi didukung dengan adanya omnichannel dan sinergi. (Yoga)
Emiten Pelat Merah Haus Dana Segar
Emiten perusahaan milik negara atau BUMN haus dana segar. Sedikitnya ada lima perusahaan pelat merah yang akan menghimpun dana publik dengan menggelar penambahan modal melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) alias
rights issue
dalam waktu dekat.
Kelima BUMN itu adalah PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, (BBTN), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), dan PT Waskita Karya Tbk (WSKT).
Analis Investindo Nusantara Pandhu Dewanto menilai, struktur permodalan yang kurang sehat jadi alasan emiten BUMN menggelar
rights issue.
"Beban utang yang besar telah menggerus laba emiten BUMN," kata Pandhu.
Strategi Raup Cuan dari Saham Bank
Saham-saham perbankan masih terus terkoreksi di tengah tren bearish Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun sejumlah analis tetap merekomendasikan investor memanfaatkan koreksi harga ini untuk mulai mengakumulasi alias mencicil beli saham bank-bank besar.
Para analis memproyeksikan, fundamental bank-bank besar akan semakin membaik. Bahkan, perolehan laba bersih emiten bank sepanjang tahun 2022 ini diprediksi bakal mencatatkan capaian tertinggi sepanjang masa atau all time high.
Namun jangan agresif, beli secara mencicil dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Ingat, masih ada potensi kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi memberikan penurunan pada harga saham.
Suria Darma, Direktur Samuel Sekuritas, memperkirakan, laba bersih empat bank besar kemungkinan akan mencetak kenaikan tertinggi sepanjang masa tahun ini. Keempat saham bank itu terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Founder & Chief Executive Officer Emtrade Ellen May merekomendasikan investor mulai mencicil beli saham-saham bank besar. Menurutnya, prospek ke depan akan bagus terutama bank dengan likuiditas besar. Apalagi laba bersih empat bank besar tersebut juga masih baik meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah melambat.
Strategi Raup Cuan dari Saham Bank
Saham-saham perbankan masih terus terkoreksi di tengah tren bearish Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Namun sejumlah analis tetap merekomendasikan investor memanfaatkan koreksi harga ini untuk mulai mengakumulasi alias mencicil beli saham bank-bank besar.
Para analis memproyeksikan, fundamental bank-bank besar akan semakin membaik. Bahkan, perolehan laba bersih emiten bank sepanjang tahun 2022 ini diprediksi bakal mencatatkan capaian tertinggi sepanjang masa atau all time high.
Namun jangan agresif, beli secara mencicil dalam jumlah kecil terlebih dahulu. Ingat, masih ada potensi kenaikan suku bunga The Fed yang berpotensi memberikan penurunan pada harga saham.
Suria Darma, Direktur Samuel Sekuritas, memperkirakan, laba bersih empat bank besar kemungkinan akan mencetak kenaikan tertinggi sepanjang masa tahun ini. Keempat saham bank itu terdiri dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Founder & Chief Executive Officer Emtrade Ellen May merekomendasikan investor mulai mencicil beli saham-saham bank besar. Menurutnya, prospek ke depan akan bagus terutama bank dengan likuiditas besar. Apalagi laba bersih empat bank besar tersebut juga masih baik meski pertumbuhan ekonomi Indonesia tengah melambat.
Ekspansi Setelah Salim Masuk
Masuknya Grup Salim diperkirakan memuluskan rencana ekspansi PT Bumi Resources Tbk. Di antaranya pengembangan energi terbarukan. Suntikan dana dari investor baru bakal dipakai Bumi Resources untuk melunasi utang. Setelah melunasi kewajiban tersebut, Sekretaris Perusahaan Bumi Resources, Dileep Srivastava, menuturkan BUMI bakal berfokus mengembangkan bisnis yang sudah berjalan sekaligus berekspansi. "Dengan kerja sama ini, BUMI bisa mengejar pelaksanaan proyek-proyek penghiliran batu bara serta diversifikasi bisnis non-batu bara ke depan," ujarnya, kemarin. Salah satu sasaran perusahaan adalah pengembangan energi terbarukan. Grup Salim masuk ke Bumi Resources lewat Mach Energy (Singapore) Pte Ltd (MPEL). Perusahaan tersebut akan menyerap saham yang dilepas emiten berkode BUMI itu lewat penambahan modal tanpa hak memesan efek lebih dulu.
Berdasarkan hasil rapat umum pemegang saham luar biasa pada Selasa, 11 Oktober lalu, BUMI akan menerbitkan 200 miliar lembar saham yang setara dengan 58,17 persen dari modal disetor perseroan setelah pelaksanaan private placement. Harganya senilai Rp 120 per lembar saham. Sebanyak 170 miliar lembar saham akan diserap oleh Mach Energy (Hong Kong) Limited. Perusahaan ini dimiliki oleh PT Bakrie Capital Indonesia dan MPEL masing-masing 42,5 persen. Sementara itu, sebanyak 30 miliar lembar saham lainnya bakal menjadi milik Treasure Global Investments Limited, yang hampir 84 persen sahamnya dimiliki MPEL Lewat aksi korporasi yang bakal digelar pada 18 Oktober mendatang, BUMI bisa meraup dana segar hingga Rp 24 triliun atau setara dengan US$ 1,6 miliar, dengan nilai tukar rupiah 15 ribu per dolar Amerika Serikat. "Dana tersebut akan digunakan untuk melunasi utang Tranche A, Tranche B, Tranche C, dan CVR (contingent value rights)," ujar Dileep. (Yoga)








