Saham
( 1717 )Daya Beli konsumen Melemah, Kinerja Emiten Ritel Tak Bergairah
Kinerja emiten di sektor ritel bakal semakin berat di sisa tahun ini. Pasalnya, daya beli masyarakat di Tanah Air belum juga pulih. Ini tercermin dari optimisme masyarakat atau indeks keyakinan konsumen (IKK) yang anjlok.
Survei Bank Indonesia (BI) pada Senin (10/10) melaporkan, IKK September 2022 turun ke level 117,2. Angka ini turun dibandingkan IKK Agustus 2022 yang masih sebesar 124,7, lebih tinggi dari bulan sebelumnya di posisi 123,2.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto, berpendapat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu penyebab lemahnya daya beli konsumen. "Sejak harga BBM naik, penurunan daya beli mulai dirasakan konsumen," katanya.
OneMed Incar Dana Ipo Rp 1,25 triliun
PT Jayamas
Medica Industri Tbk (OMED)
atau OneMed
bersiap menggelar penawaran
umum perdana (IPO) sebanyak-banyaknya
4.058.850.000 saham dengan nilai
nominal Rp 25 per saham. Dari
aksi korporasi ini, perusahaan alat
kesehatan tersebut mengincar dana
segar hingga Rp 1,25 triliun.
Dalam prospektus awal
perseroan yang dipublikasi Kamis
(6/10) dijelaskan, jumlah
saham yang ditawarkan setara
15% modal ditempatkan dan
disetor penuh perseroan setelah
penawaran umum perdana saham,
dengan harga penawaran berkisar
Rp 204 hingga Rp 310 per saham.
Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO Rp 828 miliar hingga Rp 1,25
triliun.
Dana yang diperoleh dari IPO
saham ini setelah dikurangi seluruh
biaya-biaya emisi saham, akan
dialokasikan 72,19% untuk
pengembangan usaha dalam bentuk
belanja modal (capital expenditure)
dan modal kerja (working capital),
lalu 22,87% diberikan kepada perusahaan anak, yaitu PT
Intisumber Hasil Sempurna Global
(IHSG) untuk belanja modal dan
modal kerja, 4,94%
diberikan kepada IHSG dalam
bentuk setoran modal, kemudian IHSG akan memberikan kepada anak usaha PT Inti Medicom
Retailindo (IMR) dalam bentuk
setoran modal untuk belanja modal
dan modal kerja. (Yoga)
Melacak Potensi Window Dressing Sahan Teknologi
Saham emiten di sektor teknologi masih jadi bandul pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di sepanjang tahun 2022.
Buktinya, sejumlah saham emiten teknologi masih menghiasi papan laggard di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Salah satu alasannya, saham-saham teknologi berpotensi terkena arus window dressing akhir tahun ini. Apalagi, banyak saham teknologi yang valuasi harganya terbilang sangat murah.
Martha Christina,
Senior Investment Information
Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menilai, peluang saham teknologi rebound di akhir tahun 2022 cukup terbuka. Terutama, saham teknologi
big caps
seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO).
Lagi, Satgas Waspada Investasi Bekukan 18 Platform Ilegal
Ibarat rumput ilalang, penawaran investasi ilegal tak pernah habis dimakan waktu. Buktinya, Satgas Waspada Investasi (SWI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih saja menemukan penawaran investasi ilegal yang merugikan masyarakat.
Tongam L. Tobing, Ketua Satgas Waspada Investasi OJK menyebutkan, pada September 2022, SWI menemukan 18 entitas yang melakukan kegiatan penawaran investasi tanpa izin regulator alias ilegal.
Temuan itu diperoleh SWI dari hasil crawling data. Ini merupakan pemantauan melalui big data center aplikasi SWI. Pemantauan dilakukan terhadap aktivitas penawaran investasi yang sedang marak di masyarakat melalui media sosial, website, dan Youtube.
Adapun 18 entitas yang menawarkan investasi tanpa izin itu terdiri dari lima entitas yang melakukan money game, empat entitas menawarkan investasi tanpa izin, dan tiga entitas melakukan perdagangan aset kripto tanpa izin.
Lalu dua entitas penyelenggara robot trading tanpa izin, satu entitas melakukan securities crowd funding tanpa izin, dan tiga entitas melakukan investasi ilegal lain.
OJK Targetkan Investor Mencapai 10 Juta
Di tengah ancaman inflasi tinggi, pondasi ekonomi makro Indonesia masih terbilang kuat meski dibayangi ngeri-ngeri sedap. Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) optimis minat berinvestasi di pasar modal masih menggeliat.
Untuk itu, OJK menargetkan hingga akhir tahun ini investor pasar modal di Tanah Air bisa tembus 10 juta
single investor identification
(SID).
Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal OJK, menuturkan, hingga 28 September, jumlah investor pasar modal mencapai 9,76 juta SID.
"Sampai akhir tahun semoga bisa mencapai 10 juta SID," katanya dalam webinar, Selasa (4/10).
Investor Siap Menadah Dividen dari Keuntungan Emiten
Emiten yang menebar dividen interim makin banyak. Kemarin, PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) mengumumkan rencana bagi dividen interim.
Selain itu, dua emiten Grup Astra, yaitu PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) juga ikut bagi-bagi rezeki. Sebelumnya, PT United Tractors Tbk (UNTR) juga membagi dividen. Kemarin merupakan cum date pembagian dividen emiten ini.
Selain itu ada PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) yang siap membagi dividen senilai Rp 32,13 miliar. Jadi, tiap pemegang saham akan dapat jatah dividen Rp 25.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research & Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, penting mencermati yield dividen.
"Dengan yield dividen, investor bisa mengukur seberapa besar potensi keuntungan dividen tersebut. Biasanya, dianggap menarik bila yield 5%," ucap Nico, Selasa (4/10).
Harga BBM Mencekik, Tarif Logistik Naik
Emiten transportasi dan logistik darat akhirnya tak kuat lagi menahan beban efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Untuk itu, emiten sektor ini berniat memberlakukan tarif baru layanannya.
Contoh PT Adi Sarana Armada Tbk (ASSA) yang akan menyesuaikan tarif jasa pengiriman. Emiten yang pendapatannya ditopang bisnis logistik ini bakal menyesuaikan harga layanan Anteraja.
Prodjo Sunardjanto, Presiden Direktur Adi Sarana Armada mengatakan, ASSA bakal menyesuaikan tarif baru jasa pengiriman barang terhitung efektif awal Oktober ini. ASSA mengerek tarif ongkos kirim minimal 15%-25% dari tarif normal.
Selain ASSA, PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX) sudah menerapkan tarif baru beberapa hari pasca kenaikan harga BBM. Ini menyusul keluarnya surat Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia kepada anggotanya yang merekomendasikan penyesuaian tarif.
Bersiap Mengalap Peluang dari Pembagian Dividen Interim
Bulan ini dapat dimanfaatkan untuk mengail cuan dari pembagian dividen interim. Pada pekan ini setidaknya ada tiga emiten yang memasuki
cum date
pembagian dividen interim. Mereka adalah PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Dana Brata Luhur Tbk (TEBE) dan PT Reliance Sekuritas Indonesia Tbk (RELI).
UNTR akan membagikan dividen interim senilai Rp 3,05 triliun atau Rp 818 per saham. Estimasi
yield
dividen UNTR 2,49%. Sedangkan TEBE akan membagikan dividen interim Rp 25 per saham atau total Rp 32,12 miliar. Potensi
yield
dividen TEBE sebesar 2,95%.
Sementara itu, RELI menebar dividen interim senilai Rp 16,97 miliar atau Rp 9,43 per saham. Dividen ini menawarkan
yield
sekitar 1,05%.
Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan menilai, naiknya laba emiten batubara di tahun ini menjadi pendorong utama untuk memberikan bagi hasil kepada pemegang saham dalam bentuk dividen dan dividen interim.
Di Bawah Tekanan Inflasi dan Resesi Global
Bursa saham domestic dipastikan kembali melaju meski pekan lalu sempat melemah sejalan dengan sentiment bursa global akibat ancaman tekanan inflasi hingga resesi global yang masih cukup tinggi. Kondisi fundamental makro ekonomi Indonesia dinilai cukup kuat. Dari sisi inflasi misalnya, meski ada kenaikan, Indonesia tidak setinggi negara lain,” ujar Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta akhir pekan lalu. Menurut dia, investor terus mencermati kinerja pemerintah menstabilkan perekonomian, khususnya untuk menjaga tingkat inflasi tetap di kisaran target 3 plus minus 1 %.Terlebih untuk jangka panjang, iklim investasi di Indonesia diyakini tetap sehat dn prospektif, khususnya di sector-sector yang berdaya tahan di bawah ancaman resesi. (Yoga)
Facebook Berusaha Menahan Kejatuhan Sahamnya
Facebook dilaporkan sedang berusaha menahan kejatuhan sahamnya. Setahun lalu saat berubah nama perusahaan jadi Meta, kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 1 triliun. Tapi sejak memuncak pada September 2021, Meta sekarang kehilangan duapertiga valuasinya. Harga sahamnya diperdagangkan di level terendah sejak Januari 2019 dan hampir pasti merugi hingga dua digit persentase dalam tiga kuartal berturut-turut. Bisnis Facebook selama ini dibangun di atas jejaring. Pengguna memperluas Facebook ke kawan-kawan dan kerabat keluarga. Lalu saling memberi tahu kolega atau mengundang teman-teman menjadi pengguna. Akhirnya semua orang berinteraksi di satu wadah bikinan Mark Zuckerberg itu. Iklan kemudian masuk dan menjadi sumber pendapatan dan Facebook mendulang untung sangat besar hingga mampu merekrut para insinyur paling baik dan paling cemerlang untuk mempertahankan roda bisnisnya tetap bergulir. Tapi di 2022, para penggunanya pindah ke lain platform. Para pengiklan mengurangi belanjanya. Meta pun mengalami penurunan pendapatan dua kuartal berturut-turut.
Banyak perusahaan mencabut
tombol login sosial yang biasanya
adalah Facebook dari situs-situsnya.
Di sisi lain rekrutmen juga menjadi
sulit, terutama sejak Zuckerberg
menghabiskan banyak waktunya
memikirkan metaverse. Yang hendak
dijadikan masa depan bisnis perusahaan tapi hampir tidak menghasilkan
pendapatan jangka pendek tapi malah
menghabiskan miliaran dolar AS setahun untuk membangunnya. Para investor tidak tertarik. Dan
cara mereka membuang saham Facebook membuat pengamat
bertanya-tanya apakah spiral penurunan harga sahamnya akan menjadi
spiral kematian. Dan Meta tidak akan
sanggup memulihkannya.
“Saya tidak yakin sekarang ini masih
ada bisnis inti di Facebook,” ujar Laura
Martin, analis dari Needham.
Tapi belum ada yang mengisyaratkan Facebook akan lenyap ditelan
zaman. Posisinya masih dominan di
iklan mobile. Dan model bisnisnya salah satu yang paling menguntungkan
di zaman ini.
Meski pendapatan bersihnya merosot 36% pada kuartal terakhir dibandingkan tahun sebelumnya, Meta
masih menghasilkan laba US$ 6,7
miliar dan arus kasnya mencapai US$
40 miliar. (Yoga)









