Saham
( 1717 )PROYEKSI PASAR SAHAM : PROSPEK CERAH INDEKS BISNIS-27
Kocok ulang konstituen indeks Bisnis-27 diharapkan memberikan penyegaran sekaligus membawa daya dorong yang lebih kuat terhadap performa indeks sepanjang 6 bulan ke depan. Berdasarkan pengumuman Bursa Efek Indonesia yang dikutip pada Rabu (26/10), ada enam saham yang masuk dan keluar dalam konstituen indeks Bisnis-27. Hasil evaluasi tersebut berlaku efektif mulai 1 November 202 hingga April 2023. Sepanjang tahun berjalan 2022, Indeks Bisnis-27 melaju kencang dengan kenaikan 17,96%. Performa indeks berkapitalisasi pasar sekitar Rp4.500 triliun itu jauh mengungguli indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menguat 7,03% year-to-date (YtD) ke level 7.043,94 pada akhir perdagangan Rabu (26/10). Kinerja Bisnis-27 juga outperform terhadap indeks acuan LQ45 dan IDX30 yang masing-masing meningkat 7,81% dan 6,37% sepanjang tahun berjalan 2022.
Minat IPO Tetap Tinggi
Meski ada ancaman perfect storm, perusahaan Indonesia tetap ekspansi pada tahun 2023. Hal itu, terlihat pada minat perusahaan yang hendak mendapatkan dana segar dari pasar modal. PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menargetkan 70 emiten baru tahun depan. Selama Januari hingga 26 Oktober 2022, perusahaan yang mendapatkan dana segar dari pasar modal lewat initial public offering (IPO) dan mencatatkan saham di BEI mencapai 44 perusahaan atau 80% target 55 perusahaan. Hingga Rabu (26/10) terdapat 810 emiten yang tercatat di BEI dengan nilai kapitalisasi Rp 9.352 triliun. Dalam lima tahun terakhir jumlah emiten meningkat signifikan. Tapi, para investor menyayangkan kualitas emiten yang masuk bursa tidak sebagus periode sebelumnya. Nilai kapitalisasi saham emiten terlalu kecil, sehingga acap menjadi saham gorengan.
Dirut BEI Iman Rachman mengatakan, meski di tengah gejolak ketidakpastian, BEI tetap optimistis tahun depan aktivitas penggalangan dana melalui pasar modal tetap ramai. Bahkan, BEI telah menyiapkan sejumlah target perusahaan tercatat hingga rata-rata nilai transaksi (RNTH). Menurut Iman, optimisme tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mengendalikan pandemi dan perekonomian tetap stabil. Ia menyatakan, Indonesia salah satu dari empat negara yang dapat mengendalikan tingkat inflasi pada level 4,7% dan perekonomian bertumbuh di atas 5%. Ia memaparkan, target pencatatan 70 perusahaan akan dicapai melalui berbagai instrumen seperti saham, Exchange Traded Fund (ETF), Dana Investasi Real Estate (DIRE), Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA), ataupun melalui penerbitan Efek Beragun Aset (EBA). “Kami optimistis target tersebut akan tercapai. Pasalnya, hingga saat ini perusahaan yang sudah ada dalam pipeline IPO telah mencapai 45 emiten,” ujar Iman dalam konferensi pers, usai rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) BEI tahun 2022 di Jakarta, Rabu (26/10). (Yoga)
IPO 2025, PT INTI Teken MoU dengan BEI
PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero) (PT INTI) berkolaborasi dengan BEI untuk mewujudkan target IPO perusahaan BUMN tersebut pada 2025. Sinergi ini diinisiasi melalui penandatanganan MoU tentang Pemahaman Pasar Modal di Indonesia antara Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT INTI (Persero) Tri Hartono Rianto dan Dirut BEI Iman Rachman. “Road to IPO 2025 adalah bagian dari program transformasi total PT INTI dalam lima tahun. Sinergi dengan BEI ini merupakan salah satu upaya kami untuk mencapai target agresif dalam periode 2023-2027,” kata Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT INTI (Persero) Tri Hartono Rianto dalam keterangan resminya usai MoU di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (25/10). Tri Hartono mengungkapkan, sinergi yang telah mengantongi dukungan dari pemegang saham melalui PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) selaku kuasa pemegang saham itu, rencananya fokus pada aspek pendampingan agenda ‘Road to IPO 2025’ melalui sosialisasi pada seluruh karyawan PT INTI (Persero) untuk memiliki pengetahuan dan pemahaman mengenai investasi dan pendanaan di pasar modal.
Kerja sama strategis pada aspek sosialisasi itu pun akan dibarengi dengan sokongan pendidikan dan pelatihan bagi karyawan PT INTI (Persero) dalam rangka peningkatan pengetahuan dan keterampilan lainnya, terutama wawasan yang berkaitan dengan bidang pasar modal. Kolaborasi kedua pihak tersebut telah melalui sejumlah tahapan penjajakan, yaitu pertemuan antara manajemen PT INTI (Persero) dengan Head of Representative Of ce BEI Wilayah Jawa Barat Reza Sadat Shahmeini pada 26 Agustus 2022. Pertemuan tersebut ditindaklanjuti melalui kegiatan ‘Sosialisasi Initial Public Offering dan Perencanaan Kebebasan Finansial’ yang melibatkan Kepala Bagian Pengawasan Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional 2 Jawa Barat Tjandra Nyata Kusuma, Head of Representative Of ce BEI Wilayah Jawa Barat Reza Sadat Shahmeini, serta Regional Branch Manager PT Mandiri Sekuritas Yudhistira Putra Pradana, pada 16 September 2022. (Yoga)
Jelang Bonus Akhir Tahun dari Window Dressing
Penguatan sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar (
big caps
) telah mendongkrak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat lesu pada pekan kedua Oktober lalu.
Big caps
yang perkasa ini menjadi indikasi
window dressing
sudah mulai terjadi secara terbatas. Financial Expert
Ajaib Sekuritas M Julian Fadli mengatakan, penguatan saham-saham
big caps
tak lepas dari dorongan aksi beli investor asing yang mencetak nilai bersih lebih dari Rp 1 triliun sepanjang pekan lalu. Rilis kinerja emiten kuartal ketiga juga memoles optimisme pelaku pasar dalam menyambut datangnya
window dressing
pada akhir tahun ini.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Divion
Henan Putihrai Asset Management Reza Fahmi menyoroti,
window dressing
antara lain berpotensi terjadi di sektor energi dan keuangan. Penguatan saham sektor ini akan terdorong fenomena sikuls akhir tahun.
Usai ATH, Saham BMRI Masih Layak Buru
Pergerakan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menarik dicermati. Pada awal perdagangan Senin (24/10), saham BMRI melanjutkan penguatan ke level Rp 10.500, sebelum bergerak turun dan ditutup melemah 0,97% ke harga Rp 10.250 per saham.
BMRI berhasil mencapai rekor harga penutupan
all time high
akhir pekan lalu di level Rp 10.350 per saham. Dalam sepekan terakhir, saham BMRI juga tercatat naik 8,47% dan menguat 45,91% sejak awal tahun ini.
Analis Investindo Nusantara Sekuritas Pandhu Dewanto melihat pendorong utama saham BMRI menembus rekor
all time high
adalah proyeksi kuatnya pertumbuhan kinerja. Investor memiliki ekspektasi kinerja BMRI di kuartal III 2022 akan tumbuh tinggi.
Insentif DP 0% Diperpanjang, Laju Emiten Otomotif Kencang
Kebijakan Bank Indonesia (BI) memperpanjang insentif down payment (DP) atau uang muka kredit kendaraan bermotor paling sedikit 0%, jadi angin segar bagi emiten otomotif. Apalagi, kebijakan yang berlaku hingga tahun 2023 ini untuk seluruh jenis kendaraan baru.
Pasalnya, dalam tiga bulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunganya sebesar 125 basis poin menjadi 4,75%. Kebijakan moneter ketat ala BI ini diperkirakan bakal berdampak pada penyaluran pembiayaan otomotif.
Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menilai, dengan naiknya suku bunga BI, penjualan kendaraan roda empat bisa sedikit tertekan. Ini khususnya untuk jenis kendaraan Rp 250 juta ke bawah atau
low cost green car
(LCGC).
Senada, Analis Reliance Sekuritas Lukman Hakim juga menilai perpanjangan insentif DP 0% bisa menggenjot penjualan kendaraan. Ini bercermin pada penjualan kendaraan roda empat secara nasional per September 2022, yang mencapai 96.956 unit.
Angin Segar Saham Perbankan
Emiten perbankan berpeluang diuntungkan jika suku bunga kredit ikut meningkat pasca-kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate. Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, membenarkan bahwa bank bisa mengerek laba dari besarnya volume pinjaman di masa pemulihan ekonomi. Angin segar itu juga tampak dari tren positif saham perbankan pada akhir pekan lalu. “Transaksi sahamnya bisa naik karena emiten bank akan meraih gap keuntungan yang relatif lebih tinggi,” tuturnya kepada Tempo, Sabtu lalu. Margin yang bisa didongkrak emiten perbankan adalah pinjaman berskema floating rate atau bunga mengambang yang umumnya diterapkan pada pinjaman debitor bidang properti.
Lonjakan suku bunga acuan pun membuat tawaran produk deposito dari perbankan lebih menarik. “Investor retail maupun institusi akan mengambil momentum untuk masuk ke produk tersebut. Ini keuntungan juga bagi emiten perbankan.” Kamis pekan lalu, bank sentral kembali mengerek suku bunga sebesar 50 basis point (bps) ke level 4,75 %. Otoritas moneter itu berupaya meredam laju inflasi yang terus meningkat, hampir menyundul 6 %. Kebijakan baru BI pun masih imbas dari inflasi tinggi di AS, lebih dari 8 %, yang membuat The Fed menaikkan suku bunga acuan secara berkala dari sebelumnya 0 persen hingga kini berkisar 3,0-3,25 %. (Yoga)
Tahun Loncatan Saham Grup Panin dan Berkah Bagi Mu'min
Nyaris kompak dan serempak, saham emiten Grup Panin melesat. Bahkan, kemarin (21/10), harga saham Bank Panin (PNBN) mencapai level tertinggi sepanjang sejarah atau
all time high. Berdasarkan data RTI, harga PNBN naik 3,8% menjadi Rp 2.730 per saham pada penutupan perdagangan Jumat (21/10). Sepekan terakhir, harga PNBN melesat 13,75% dan sepanjang tahun ini tercatat telah meroket 254,5%.
Saat harga saham Grup Panin meningkat, kekayaan pemiliknya, Mu'min Ali Gunawan juga bertambah. Dengan kepemilikan 46% di Bank Panin, aset Mu'min sepanjang 2022 bertambah Rp 1,52 triliun menjadi Rp 94,13 triliun.
Dari sisi kinerja, Bank Panin mencetak rapor biru. Semester I-2022, Bank Panin meraup laba bersih Rp 1,6 triliun atau tumbuh 10,45% dibanding periode sama tahun sebelumnya atau year on year (yoy).
Cari Tambahan Modal Baru, Triniti Land Gelar Right Issue
Pemegang saham PT Perintis Triniti Properti Tbk (TRIN) alias Triniti Land memberikan restu untuk menambah modal melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau
rights issue. Persetujuan ini diambil dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Kamis (20/10).
Presiden Direktur dan CEO PT Perintis Triniti Properti Tbk Ishak Chandra mengatakan, TRIN akan menerbitkan 147.795.558 saham baru dengan rasio 30:1. Jadi, tiap pemegang 30 saham lama akan memperoleh satu HMETD.
Harga pelaksanaan rights issue TRIN Rp 900 per saham. Dari aksi korporasi ini, TRIN bisa mengantongi dana segar Rp 133 miliar. Selain itu, TRIN juga akan menerbitkan waran dengan harga pelaksanaan Rp 1.100 per saham.
Blibli Akan Pakai Rp 5,5 Triliun Dana IPO untuk Tutup Utang
PT Global Digital Niaga atau Blibli dalam waktu dekat bakal melangsungkan penawaran umum perdana (IPO) saham dengan mengincar dana segar Rp 8,17 triliun. Dari total tersebut, Rp 5,5 triliun akan dipakai untuk menutup utang. Chief Financial Of cer (CFO) Blibli Hendry menjelaskan, sebagaimana dipublikasikan melalui prospektus, sebesar Rp 5,5 triliun dana yang diperoleh dari hasil IPO akan digunakan untuk membayar fasilitas perbankan. “Sebenarnya fasilitas ini sudah kami miliki dari tahun sebelumnya. Dan sebagai proses bisnis, ini normal. Jadi untuk proceed Rp 5,5 triliun untuk dilakukan pembayaran,” kata Hendry dalam paparan publik di Jakarta, Selasa (18/10). Sisa dana IPO, akan dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan utama perseroan, anak perusahaan, dan Tiket.com yang sudah diakuisisi Blibli sejak 2017. Termasuk kegiatan PT Supra Boga Lestari Tbk (RANC) yang proses akuisisinya sudah dituntaskan Blibli pada kuartal IV-2022. Berbekal ekosistem yang cukup lengkap tersebut, ke depan Blibli bakal fokus mengeksekusi strategi sinergi di dalam ekosistem.
“Jadi, kalau dilihat beberapa tahun ke belakang, masing-masing platform masih beroperasi dan optimalisasinya sendiri-sendiri. Dan aksi korporasi ini tujuannya adalah untuk menyinergikan tiga platform tersebut, sehingga ke depan kami akan fokus mengeksekusi sinergi omnichannel dan sinergi platform,” papar Hendry. Salah satu caranya, dimulai dengan menerapkan single sign on, lalu menyediakan dompet digital dan sebagainya. “Jadi, sebenarnya ini yang patut ditunggu. Kami yakin dengan aksi korporasi ini nantinya bisa jadi lebih baik,” tutur Hendry. Dalam kesempatan itu, CEO Tiket.com George Hendrata juga menambahkan alasan di balik melantainya Blibli di bursa, yakni didorong oleh potensi pasar yang masih cukup besar. “Pasarnya besar. Ada US$ 150 miliar yang dilayani Blibli, US$ 41 miliar di travel dan lifestyle dilayani Tiket.com, serta US$ 124 miliar di kebutuhan sehari-sehari yang dilayani Ranch,” sebut George. Di luar ketiga platform itu, masih terdapat perusahaan proxy di luar negeri yang juga cukup dan berkelanjutan dengan laba yang positif. Atas dasar itu, George melihat banyak hal yang bisa dijalankan, apalagi didukung dengan adanya omnichannel dan sinergi. (Yoga)









