;
Tags

Ekspor

( 1055 )

Nilai Ekspor Tertekan Harga Komoditas

KT3 18 Apr 2023 Kompas

Kinerja ekspor Indonesia pada Maret 2023 menurun lantaran harga komoditas yang melandai sejalan dengan penurunan permintaan pasar global, tapi, masih terdapat peluang bagi Indonesia untuk mempertahankan rekor surplus 35 bulan berturut-turutnya dengan dibukanya kembali ekonomi China. Selain itu, diharapkan pula terbentuk stabilisasi harga minyak lewat rencana pengurangan produksi oleh negara-negara pengekspor minyak dunia. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi, dalam paparannya di Jakarta, Senin (17/4) menjelaskan, nilai ekspor Indonesia pada Maret 2023 turun 11,33 % secara tahunan, dari 26,50 miliar USD pada Maret 2022 menjadi 23,50 miliar USD pada Maret 2023.

Penurunan nilai ekspor pada Maret 2023 terjadi karena adanya penurunan harga komoditas ekspor unggulan Indonesia. Hal ini mulai tampak sejak akhir tahun 2022. Secara global, penurunan harga komoditas terjadi akibat tekanan inflasi di banyak negara serta masih agresifnya bank sentral ASt atau The Fed menaikkan suku bunga acuannya. Tekanan pada perekonomian global ini membuat negara-negara di dunia menahan laju konsumsinya. Harga minyak kelapa sawit, misalnya, turun secara tahunan dari 1.344 USD per metrik ton (MT) pada Maret 2022 menjadi 972 USD per MT pada Maret 2023. Harga batubara juga turun dari 197 USD per MT menjadi 187,2 USD per MT, sedangkan gas alam turun dari 4,3 USD per juta british thermal unit (MMBTU) menjadi 2,3 USD per MMBTU. ”Meski secara tahunan turun, secara bulanan (month to month) angka ini naik dari Februari 2023, yaitu dari 21,38 miliar USD menjadi 23,50 miliar USD,” ujarnya. (Yoga)


Sinyal Pelemahan Kinerja Ekspor

KT1 18 Apr 2023 Tempo

Surplus neraca perdagangan pada Maret 2023 menyusut dibanding surplus bulan sebelumnya. BPS mencatat neraca perdagangan Maret 2023 surplus US$ 2,91 miliar, lebih rendah dari Februari 2023 yang mencapai US$ 5,46 miliar. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Imam Machdi, menuturkan perlambatan surplus itu disebabkan kinerja impor yang meningkat lebih tinggi dibanding kinerja ekspor. Ekspor Indonesia meningkat 9,89 % dibanding bulan sebelumnya, menjadi US$ 23,5 miliar. Sedangkan impor meningkat 29,33 % menjadi US$ 20,59 miliar. “Kenaikan ini terutama disebabkan oleh kenaikan impor barang modal sebesar 34,35 persen,” ujar Imam, kemarin, 17 April 2023.

Peningkatan ekspor terbesar terjadi pada bahan bakar mineral. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik, nikel dan barang daripadanya, bahan kimia anorganik, serta kendaraan dan bagiannya. Pelemahan harga komoditas global juga disebut sebagai salah satu penyebab menurunnya kinerja ekspor Indonesia. Selama Januari hingga Maret 2023, sektor industri pengolahan menurun, yang disumbang oleh penurunan ekspor minyak kelapa sawit, produk pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sedangkan ekspor produk pertambangan masih meningkat, yang disumbang oleh ekspor batu bara. (Yetede)


Melecut Kinerja Dagang Lebih Kencang

HR1 18 Apr 2023 Bisnis Indonesia

Sepanjang kuartal I/2023, para pemangku kepentingan cukup terusik dengan akumulasi kinerja sektor perdagangan yang mencatatkan rapor kurang memuaskan. Pada periode Januari—Maret 2023, pertumbuhan ekspor Indonesia hanya 1,60% dengan nilai sekitar US$67,20 miliar.Angka pertumbuhan 1,60% tentu sangatlah tipis, mengingat pada periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY), pertumbuhan ekspor Indonesia masih melejit 35,25% (YoY). Oleh karena itu, pertumbuhan single digit yang tertoreh pada kuartal I/2023 menjadi catatan kinerja dagang yang cukup memusingkan sekaligus mencemaskan. Apa lacur dengan kinerja dagang kita di kuartal ganjil yang sebenarnya masih bisa dipoles tumbuh lebih kencang. Badan Pusat Statistik (BPS) mengusut bahwa pertumbuhan yang mendadak slow speed ini lantaran sejumlah hal, seperti terjadinya penurunan dari sisi ekspor migas dan terkontraksinya ekspor nonmigas. Kinerja ekspor migas Indonesia pada periode tersebut menyusut 4,76% (YoY), dan ekspor nonmigas yang ambles 11,70% (YoY). Setali tiga uang dengan penurunan ekspor nonmigas, kinerja ekspor industri pengolahan juga mengempis 5,40% (YoY) menjadi US$47,78 miliar. Ada tiga sektor industri pengolahan yang ekspornya terkontraksi, yaitu kelapa sawit, konveksi alias pakaian jadi dari tekstil, dan sepatu olahraga (kelompok alas kaki). BPS memaparkan bahwa ekspor minyak kelapa sawit pada kuartal I/2023 hanya US$5,92 miliar, atau turun 11,34% dari US$6,67 miliar (YoY). Demikian halnya dengan ekspor konveksi dari tekstil yang nilainya anjlok 21,04% menjadi US$1,74 miliar. Adapun, ekspor sepatu olahraga juga tergerus 27,24% menjadi US$1,13 miliar (YoY). Untuk pakaian jadi juga terjadi penurunan permintaan, terutama dari Korea Selatan dan Amerika Serikat. Pada saat yang sama, penurunan ekspor sepatu olahraga dari Indonesia juga terjadi untuk tujuan AS, Belgia, dan China. Melemahnya permintaan dipicu oleh krisis ekonomi global yang datang dari Negeri Paman Sam dan Eropa turut menyergap negara-negara di kawasan Asia.

SINYAL WASPADA KINERJA DAGANG

HR1 18 Apr 2023 Bisnis Indonesia (H)

Kendati masih moncer hingga pengujung kuartal I/2023, kinerja perdagangan Indonesia dinilai mulai memasuki periode krusial. Alasannya, surplus beruntun neraca dagang selama 35 bulan ternyata dibarengi pula dengan tren penurunan angka realisasinya. Sejumlah kalangan khawatir jika terjadi terus menerus hal itu dapat menggoyang fundamental ekonomi nasional, khususnya menyangkut cadangan devisa dan nilai tukar rupiah. Terlebih proyeksi ekspor ke depan masih menantang lantaran dibayangi tren pelemahan harga komoditas serta potensi resesi di negara-negara tujuan utama ekspor, seperti Amerika Serikat. Kemarin, Senin (17/4), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data surplus perdagangan pada Maret 2023 sebesar US$2,91 miliar, atau menciut ketimbang bulan sebelumnya yang tembus US$5,48 miliar. Bila ditilik dari kinerja bulanan, BPS mencatat total nilai ekspor Indonesia pada Maret 2023 mencapai US$23,5 miliar atau turun 11,33% secara tahunan (year-on-year/YoY). Ekspor kuartal I/2023 juga hanya naik 1,6% menjadi US$67,2 miliar daripada realisasi periode sama tahun lalu. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekspor dipicu oleh penurunan ekspor migas sebesar 4,7% YoY serta ekspor nonmigas yang terkontraksi 11,70% YoY. Koreksi ekspor menurut sektor juga terekam dari industri pengolahan yang turun 5,40% secara tahunan menjadi US$47,78 miliar. Menurut Imam, ada ekspor dari tiga industri pengolahan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu minyak kelapa sawit, pakaian jadi dari tekstil dan sepatu olahraga. Penurunan ekspor rupanya berbarengan dengan penurunan impor sepanjang Januari-Maret 2023 sebesar 3,28% menjadi US$54,95 miliar. Dus, Indonesia pun masih bisa menikmati surplus neraca dagang US$16,5 miliar pada kuartal I/2023, naik 13% YoY. Wakil Ketua Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani menyayangkan kinerja ekspor kuartal I/2023 melambat. Pasalnya, kontribusi ekspor sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang kini mengalami banyak tekanan.

Surplus Neraca Perdagangan Maret Diperkirakan Capai US$ 4,82 Miliar

KT1 17 Apr 2023 Investor Daily

Surplus perdagangan diharapkan tetap relatif tinggi dan bisa mencapai US$ 4,82 miliar pada Maret 2023. Sementara itu, partumbuhan ekspor cenderung melambat akibat penurunan harga komoditas yang didorong oleh permintaan global yang melemah di tengah tingginya inflasi dan berlanjutnya kenaikan suku bunga kebijakan. Sedangkan pertumbuhan impor bisa lebih kuat karena permintaan domestik cenderung terus menguat, terutama pada paruh kedua tahun 2023. “Kami memperkirakan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$ 4,82 miliar pada Maret 2023,” jelas ekonom PT Bank Mandiri Tbk Faisal Rachman seperti dikutip, Minggu (16/4).

Faisal memperkirakan partumbuhan ekspor Indonesia akan berkontraksi sebesar -5,29% secara year on year (yoy) pada Maret 2023 di tengah penurunan harga komoditas. Namun, secara bulanan, tumbuh sebesar 17,38% month to month (mtm) karena membaiknya permintaan di Tiongkok, yang dapat dilihat dari impor Tiongkok yang lebih tinggi dari Indonesia. Pertumbuhan impor diperkirakan terkontraksi sebesar -7,67% (yoy) pada Maret 2023, sejalan dengan penurunan biaya bahan baku, termasuk minyak. “Namun, secara bulanan, meningkat sebesar 27,38% (mom), didorong oleh kebutuhan antisipasi permintaan yang tinggi selama Ramadan dan Lebaran,” kata Faisal. (Yetede)


NORMALISASI HARGA KOMODITAS : SURPLUS DAGANG KIAN SUSUT

HR1 17 Apr 2023 Bisnis Indonesia

Surplus neraca perdagangan diprediksi menyusut karena terimbas normalisasi harga komoditas sumber daya alam sejak beberapa bulan terakhir. Akibatnya, nilai ekspor pada Maret 2023 diprediksi tak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2023 masih akan membukukan surplus sebesar US$4,82 mliar. Akan tetapi, secara nilai proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Februari 2023 yang mencapai US$5,48 miliar. “Kami memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan mencapai US$4,82 miliar pada Maret 2023, dibandingkan dengan US$5,48 miliar pada Februari 2023,” katanya, Sabtu (15/4). Faisal memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar -5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Maret 2023 sejalan dengan tren penurunan harga komoditas. Secara bulanan, pertumbuhan ekspor diperkirakan masih tumbuh 17,38% (month-to-month/MtM) karena membaiknya permintaan di China, tercermin dari impor Cina yang lebih tinggi dari Indonesia, yaitu sebesar 8,63% (MtM) pada Maret 2023 dari -6,12% (MtM) pada Februari 2023. Sejalan dengan itu, pertumbuhan impor diperkirakan terkontraksi sebesar -7,67% (YoY) pada Maret 2023, lebih dalam dari kontraksi -4,32% (YoY) pada Februari 2023, seiring dengan penurunan harga bahan baku, termasuk minyak. Di sisi lain, secara bulanan, impor meningkat 27,38% (MtM) dari kontraksi -13,68% (MtM) pada Februari 2023, yang didorong oleh antisipasi permintaan yang tinggi selama periode Ramadan dan Lebaran.

Ekspor Minyak Sawit Februari Turun 1,15%

KT1 15 Apr 2023 Investor Daily

Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, volume ekspor minyak sawit nasional  Februari 2023 mencapai 2,91 juta ton atau turun 1,15% dibandingkan Januari 2023 di 2,95 juta ton, akibat merosotnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor, seperti India. Dalam data yang dirilis Gapki juga disebutkan, penurunan produksi minyak sawit masih berlanjut pada Februari 2023. Produksi minyak sawit Februari 2023 mencapai 3,88 juta ton, masih lebih rendah dari Januari 2023 sebesar 3,89 juta ton. Namun, angka tersebut tidak sebesar penurunan pada Januari 2023 terhadap Desember 2022 yang mencapai 4,3 juta ton. Merujuk pada tren produksi sawit pada tahun-tahun sebelumnya, hal itu mengindikasikan penurunan produksi yang sudah berlangsung sejak September 2022 diperkirakan segera berakhir.

Khusus produksi minyak kernel (palm kernel oil/PKO) juga sedikit turun, dari 370 ribu ton pada Januari 2023 menjadi 369 ribu ton pada Februari 2023. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan, total volume ekspor juga turun, dari 2,95 juta ton pada Januari 2023 menjadi 2,91 juta ton pada Februari 2023. Namun, nilai ekspor meningkat, dari US$ 2,61 miliar pada Januari 2023 menjadi US$ 2,69 miliar pada Februari 2023, itu terutama karena kenaikan ekspor olahan minyak sawit, yakni dari 2,12 juta ton  pada Januari 2023 menjadi 2,25 juta ton pada Februari 2023. Harga produk olahan lebih tinggi dari bahan baku CPO. (Yetede)


Pembatasan Ekspor untuk Bahan Baku Penting Meningkat

KT1 12 Apr 2023 Investor Daily

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan bahwa pembatasan ekspor global terhadap bahan-bahan penting telah meningkat lebih dari lima kali lipat selama satu dekade terakhir. Kondisi tersebut berpotensi menghambat upaya-upaya pemerintah mengurangi emisi karbon. Berdasarkan hasil studi OECD, sepersepuluh dari nilai global ekspor bahan baku, seperti lithium, kobalt dan tanah jarang yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan telah menghadapi setidaknya satu langkah pembatasan ekspor. “Dampak ekonomi global secara keseluruhan dari tindakan-tindakan ini bisa sangat besar,” demikian disampaikan oleh studi tersebut, yang dilansir Reuters pada Selasa (11/04). Negara-negara teratas yang menjadi cakupan penelitian OECD, sehubungan dengan jumlah pembatasan ekspor baru selama 2009-2020, terdiri dari Tiongkok, India, Argentina, Rusia, Vietnam, dan Kazakhstan.

Menurut laporan OECD, Langkah-langkah pembatasan itu pun kerap berupa pengenaan pajak ekspor, bukannya pembatasan jumlah, yang umumnya dilarang di bawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sementara pajak tidak. “Pembatasan ekspor global terhadap bahan-bahan penting sering kali berbentuk pajak ekspor. Pembatasan tumbuh lebih cepat di segmen hulu, seperti bijih, daripada di segmen lainnya,” ungkap isi laporan. Dijelaskan lebih lanjut dalam laporan studi bahwa produksi bahan baku penting telah menjadi lebih terkonsentrasi dalam dekade terakhir. Ini karena Tiongkok berada di antara tiga produsen teratas dari enam dari 10 bahan yang paling terkonsentrasi. (Yetede)


Perdagangan Intraregional Topang Ekspor

KT3 11 Apr 2023 Kompas

Kinerja ekspor Indonesia akan ditopang oleh perdagangan intraregional ASEAN+3, termasuk China. Konflik geopolitik China-Taiwan dinilai belum menghambat perdagangan intraregional dan kinerja ekspor Indonesia secara signifikan. Ekonomi China diperkirakan bakal tumbuh lebih tinggi tahun ini. Bank Dunia memprediksi ekonomi China tumbuh 5,1 %. Sementara IMF memperkirakan ekonomi China tumbuh 5,2 % pada 2023. Adapun proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB) 4,8 %. Kantor Riset Ekonomi Makro ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China juga bakal memperkuat pertumbuhan ASEAN+3. ASEAN+3 terdiri dari 10 negara anggota ASEAN serta Jepang, Korsel, dan China, termasuk HongKong. Ekonomi kawasan ini diperkirakan tumbuh 4,6 5 pada 2023.

Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri, Senin (10/4) berpendapat, China  merupa-kan pasar tujuan ekspor utama produk nonmigas Indonesia. Tahun lalu, ekspor nonmigas Indonesia ke China 63,55 miliar USD, meningkat 24,38 % secara tahunan. Dengan capaian itu, China ada di peringkat pertama dengan pangsa 23,03 % dari total ekspor nonmigas. ”Pada Januari 2023, permintaan China masih tumbuh 4,3 %. Dengan pulihnya ekonomi China pasca-pencabutan kebijakan nol Covid-19, permintaan dari negara itu akan meningkat,” katanya. (Yoga)


LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH : FREEPORT & AMMAN MINERAL GENJOT PRODUKSI

HR1 28 Mar 2023 Bisnis Indonesia

Larangan ekspor mineral mentah yang berlaku efektif pada 10 Juni tahun ini tidak menyurutkan langkah PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara untuk meningkatkan produksinya. Pemerintah diketahui telah menyetujui rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara tahun ini yang tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan, Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas terang-terangan menyebut perusahaan yang menjadi bagian dari PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID itu juga telah mendapat persetujuan ekspor konsentrat tembaga sebanyak 2,3 juta ton. Kendati, persetujuan ekspor hanya berlaku hingga Juni 2023. “Kami telah mendapatkan rekomendasi ekspor dari Kementerian ESDM untuk jumlah sesuai dengan RKAB, yakni 2,3 juta ton, namun dengan jangka waktu sampai dengan Juni 2023,” katanya saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (27/3). Rekomendasi itu dikeluarkan setelah tim verifikator independen memeriksa kemajuan pembangunan smelter konsentrat tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur yang menunjukkan realisasi 100% untuk periode Agustus 2022 hingga Januari 2023. Hasil verifikasi tersebut pun telah diselesaikan pada pekan ketiga Maret 2023 untuk kemudian diserahkan kepada otoritas perdagangan sebagai salah satu pertimbangan dikeluarkannya izin ekspor pada tahun ini. “Kemajuannya sampai dengan akhir Januari ini 54,5%, dan itu adalah lebih dari 100% dari rencana, karena rencananya adalah 52,9%,” tuturnya. Dia pun menilai rekomendasi ekspor 2,3 juta ton yang diberikan pemerintah mustahil untuk dipenuhi dengan batas waktu Juni 2023. Hal itu membuat dirinya makin yakin diperlukan moratorium larangan ekspor konsentrat tembaga pada tahun ini. Presiden Direktur Amman Mineral Industri Rachmat Makkasau menjelaskan bahwa capaian pada periode Januari 2023 membuktikan komitmen perusahaan untuk terus melanjutkan konstruksi megaproyek yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).