Ekspor
( 1052 )SINYAL WASPADA KINERJA DAGANG
Kendati masih moncer hingga pengujung kuartal I/2023, kinerja perdagangan Indonesia dinilai mulai memasuki periode krusial. Alasannya, surplus beruntun neraca dagang selama 35 bulan ternyata dibarengi pula dengan tren penurunan angka realisasinya. Sejumlah kalangan khawatir jika terjadi terus menerus hal itu dapat menggoyang fundamental ekonomi nasional, khususnya menyangkut cadangan devisa dan nilai tukar rupiah. Terlebih proyeksi ekspor ke depan masih menantang lantaran dibayangi tren pelemahan harga komoditas serta potensi resesi di negara-negara tujuan utama ekspor, seperti Amerika Serikat. Kemarin, Senin (17/4), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data surplus perdagangan pada Maret 2023 sebesar US$2,91 miliar, atau menciut ketimbang bulan sebelumnya yang tembus US$5,48 miliar. Bila ditilik dari kinerja bulanan, BPS mencatat total nilai ekspor Indonesia pada Maret 2023 mencapai US$23,5 miliar atau turun 11,33% secara tahunan (year-on-year/YoY). Ekspor kuartal I/2023 juga hanya naik 1,6% menjadi US$67,2 miliar daripada realisasi periode sama tahun lalu. Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Imam Machdi mengatakan bahwa perlambatan pertumbuhan ekspor dipicu oleh penurunan ekspor migas sebesar 4,7% YoY serta ekspor nonmigas yang terkontraksi 11,70% YoY. Koreksi ekspor menurut sektor juga terekam dari industri pengolahan yang turun 5,40% secara tahunan menjadi US$47,78 miliar. Menurut Imam, ada ekspor dari tiga industri pengolahan mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya yaitu minyak kelapa sawit, pakaian jadi dari tekstil dan sepatu olahraga. Penurunan ekspor rupanya berbarengan dengan penurunan impor sepanjang Januari-Maret 2023 sebesar 3,28% menjadi US$54,95 miliar. Dus, Indonesia pun masih bisa menikmati surplus neraca dagang US$16,5 miliar pada kuartal I/2023, naik 13% YoY. Wakil Ketua Kadin Indonesia Koordinator Bidang Maritim, Investasi, dan Luar Negeri Shinta W. Kamdani menyayangkan kinerja ekspor kuartal I/2023 melambat. Pasalnya, kontribusi ekspor sangat penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional yang kini mengalami banyak tekanan.
Surplus Neraca Perdagangan Maret Diperkirakan Capai US$ 4,82 Miliar
Surplus perdagangan diharapkan tetap relatif tinggi dan bisa mencapai US$ 4,82 miliar pada Maret 2023. Sementara itu, partumbuhan ekspor cenderung melambat akibat penurunan harga komoditas yang didorong oleh permintaan global yang melemah di tengah tingginya inflasi dan berlanjutnya kenaikan suku bunga kebijakan. Sedangkan pertumbuhan impor bisa lebih kuat karena permintaan domestik cenderung terus menguat, terutama pada paruh kedua tahun 2023. “Kami memperkirakan surplus perdagangan Indonesia mencapai US$ 4,82 miliar pada Maret 2023,” jelas ekonom PT Bank Mandiri Tbk Faisal Rachman seperti dikutip, Minggu (16/4).
Faisal memperkirakan partumbuhan ekspor Indonesia akan berkontraksi sebesar -5,29% secara year on year (yoy) pada Maret 2023 di tengah penurunan harga komoditas. Namun, secara bulanan, tumbuh sebesar 17,38% month to month (mtm) karena membaiknya permintaan di Tiongkok, yang dapat dilihat dari impor Tiongkok yang lebih tinggi dari Indonesia. Pertumbuhan impor diperkirakan terkontraksi sebesar -7,67% (yoy) pada Maret 2023, sejalan dengan penurunan biaya bahan baku, termasuk minyak. “Namun, secara bulanan, meningkat sebesar 27,38% (mom), didorong oleh kebutuhan antisipasi permintaan yang tinggi selama Ramadan dan Lebaran,” kata Faisal. (Yetede)
NORMALISASI HARGA KOMODITAS : SURPLUS DAGANG KIAN SUSUT
Surplus neraca perdagangan diprediksi menyusut karena terimbas normalisasi harga komoditas sumber daya alam sejak beberapa bulan terakhir. Akibatnya, nilai ekspor pada Maret 2023 diprediksi tak setinggi bulan-bulan sebelumnya. Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman, memperkirakan neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2023 masih akan membukukan surplus sebesar US$4,82 mliar. Akan tetapi, secara nilai proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan Februari 2023 yang mencapai US$5,48 miliar. “Kami memperkirakan surplus perdagangan Indonesia akan mencapai US$4,82 miliar pada Maret 2023, dibandingkan dengan US$5,48 miliar pada Februari 2023,” katanya, Sabtu (15/4). Faisal memperkirakan pertumbuhan ekspor Indonesia akan mengalami kontraksi sebesar -5,29% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada Maret 2023 sejalan dengan tren penurunan harga komoditas. Secara bulanan, pertumbuhan ekspor diperkirakan masih tumbuh 17,38% (month-to-month/MtM) karena membaiknya permintaan di China, tercermin dari impor Cina yang lebih tinggi dari Indonesia, yaitu sebesar 8,63% (MtM) pada Maret 2023 dari -6,12% (MtM) pada Februari 2023. Sejalan dengan itu, pertumbuhan impor diperkirakan terkontraksi sebesar -7,67% (YoY) pada Maret 2023, lebih dalam dari kontraksi -4,32% (YoY) pada Februari 2023, seiring dengan penurunan harga bahan baku, termasuk minyak. Di sisi lain, secara bulanan, impor meningkat 27,38% (MtM) dari kontraksi -13,68% (MtM) pada Februari 2023, yang didorong oleh antisipasi permintaan yang tinggi selama periode Ramadan dan Lebaran.
Ekspor Minyak Sawit Februari Turun 1,15%
Gabungan Pengusaha Kepala Sawit Indonesia (Gapki) mencatat, volume ekspor minyak sawit nasional Februari 2023 mencapai 2,91 juta ton atau turun 1,15% dibandingkan Januari 2023 di 2,95 juta ton, akibat merosotnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor, seperti India. Dalam data yang dirilis Gapki juga disebutkan, penurunan produksi minyak sawit masih berlanjut pada Februari 2023. Produksi minyak sawit Februari 2023 mencapai 3,88 juta ton, masih lebih rendah dari Januari 2023 sebesar 3,89 juta ton. Namun, angka tersebut tidak sebesar penurunan pada Januari 2023 terhadap Desember 2022 yang mencapai 4,3 juta ton. Merujuk pada tren produksi sawit pada tahun-tahun sebelumnya, hal itu mengindikasikan penurunan produksi yang sudah berlangsung sejak September 2022 diperkirakan segera berakhir.
Khusus produksi minyak kernel (palm kernel oil/PKO) juga sedikit turun, dari 370 ribu ton pada Januari 2023 menjadi 369 ribu ton pada Februari 2023. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono menjelaskan, total volume ekspor juga turun, dari 2,95 juta ton pada Januari 2023 menjadi 2,91 juta ton pada Februari 2023. Namun, nilai ekspor meningkat, dari US$ 2,61 miliar pada Januari 2023 menjadi US$ 2,69 miliar pada Februari 2023, itu terutama karena kenaikan ekspor olahan minyak sawit, yakni dari 2,12 juta ton pada Januari 2023 menjadi 2,25 juta ton pada Februari 2023. Harga produk olahan lebih tinggi dari bahan baku CPO. (Yetede)
Pembatasan Ekspor untuk Bahan Baku Penting Meningkat
Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mengatakan bahwa pembatasan ekspor global terhadap bahan-bahan penting telah meningkat lebih dari lima kali lipat selama satu dekade terakhir. Kondisi tersebut berpotensi menghambat upaya-upaya pemerintah mengurangi emisi karbon. Berdasarkan hasil studi OECD, sepersepuluh dari nilai global ekspor bahan baku, seperti lithium, kobalt dan tanah jarang yang dibutuhkan untuk kendaraan listrik dan energi terbarukan telah menghadapi setidaknya satu langkah pembatasan ekspor. “Dampak ekonomi global secara keseluruhan dari tindakan-tindakan ini bisa sangat besar,” demikian disampaikan oleh studi tersebut, yang dilansir Reuters pada Selasa (11/04). Negara-negara teratas yang menjadi cakupan penelitian OECD, sehubungan dengan jumlah pembatasan ekspor baru selama 2009-2020, terdiri dari Tiongkok, India, Argentina, Rusia, Vietnam, dan Kazakhstan.
Menurut laporan OECD, Langkah-langkah pembatasan itu pun kerap berupa pengenaan pajak ekspor, bukannya pembatasan jumlah, yang umumnya dilarang di bawah aturan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), sementara pajak tidak. “Pembatasan ekspor global terhadap bahan-bahan penting sering kali berbentuk pajak ekspor. Pembatasan tumbuh lebih cepat di segmen hulu, seperti bijih, daripada di segmen lainnya,” ungkap isi laporan. Dijelaskan lebih lanjut dalam laporan studi bahwa produksi bahan baku penting telah menjadi lebih terkonsentrasi dalam dekade terakhir. Ini karena Tiongkok berada di antara tiga produsen teratas dari enam dari 10 bahan yang paling terkonsentrasi. (Yetede)
Perdagangan Intraregional Topang Ekspor
Kinerja ekspor Indonesia akan ditopang oleh perdagangan intraregional ASEAN+3, termasuk China. Konflik geopolitik China-Taiwan dinilai belum menghambat perdagangan intraregional dan kinerja ekspor Indonesia secara signifikan. Ekonomi China diperkirakan bakal tumbuh lebih tinggi tahun ini. Bank Dunia memprediksi ekonomi China tumbuh 5,1 %. Sementara IMF memperkirakan ekonomi China tumbuh 5,2 % pada 2023. Adapun proyeksi Bank Pembangunan Asia (ADB) 4,8 %. Kantor Riset Ekonomi Makro ASEAN+3 (AMRO) menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China juga bakal memperkuat pertumbuhan ASEAN+3. ASEAN+3 terdiri dari 10 negara anggota ASEAN serta Jepang, Korsel, dan China, termasuk HongKong. Ekonomi kawasan ini diperkirakan tumbuh 4,6 5 pada 2023.
Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag Kasan Muhri, Senin (10/4) berpendapat, China merupa-kan pasar tujuan ekspor utama produk nonmigas Indonesia. Tahun lalu, ekspor nonmigas Indonesia ke China 63,55 miliar USD, meningkat 24,38 % secara tahunan. Dengan capaian itu, China ada di peringkat pertama dengan pangsa 23,03 % dari total ekspor nonmigas. ”Pada Januari 2023, permintaan China masih tumbuh 4,3 %. Dengan pulihnya ekonomi China pasca-pencabutan kebijakan nol Covid-19, permintaan dari negara itu akan meningkat,” katanya. (Yoga)
LARANGAN EKSPOR MINERAL MENTAH : FREEPORT & AMMAN MINERAL GENJOT PRODUKSI
Larangan ekspor mineral mentah yang berlaku efektif pada 10 Juni tahun ini tidak menyurutkan langkah PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara untuk meningkatkan produksinya. Pemerintah diketahui telah menyetujui rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) PT Freeport Indonesia dan PT Amman Mineral Nusa Tenggara tahun ini yang tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan, Direktur Utama PT Freeport Indonesia Tony Wenas terang-terangan menyebut perusahaan yang menjadi bagian dari PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID itu juga telah mendapat persetujuan ekspor konsentrat tembaga sebanyak 2,3 juta ton. Kendati, persetujuan ekspor hanya berlaku hingga Juni 2023. “Kami telah mendapatkan rekomendasi ekspor dari Kementerian ESDM untuk jumlah sesuai dengan RKAB, yakni 2,3 juta ton, namun dengan jangka waktu sampai dengan Juni 2023,” katanya saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VII DPR, Senin (27/3). Rekomendasi itu dikeluarkan setelah tim verifikator independen memeriksa kemajuan pembangunan smelter konsentrat tembaga di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) JIIPE, Gresik, Jawa Timur yang menunjukkan realisasi 100% untuk periode Agustus 2022 hingga Januari 2023. Hasil verifikasi tersebut pun telah diselesaikan pada pekan ketiga Maret 2023 untuk kemudian diserahkan kepada otoritas perdagangan sebagai salah satu pertimbangan dikeluarkannya izin ekspor pada tahun ini. “Kemajuannya sampai dengan akhir Januari ini 54,5%, dan itu adalah lebih dari 100% dari rencana, karena rencananya adalah 52,9%,” tuturnya. Dia pun menilai rekomendasi ekspor 2,3 juta ton yang diberikan pemerintah mustahil untuk dipenuhi dengan batas waktu Juni 2023. Hal itu membuat dirinya makin yakin diperlukan moratorium larangan ekspor konsentrat tembaga pada tahun ini. Presiden Direktur Amman Mineral Industri Rachmat Makkasau menjelaskan bahwa capaian pada periode Januari 2023 membuktikan komitmen perusahaan untuk terus melanjutkan konstruksi megaproyek yang termasuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN).
Freeport Kantongi Izin Hingga Juni
JAKARTA, ID-PT Freeport Indonesia (PTFI) mendapatkan rekomondasi persetujuan ekspor konsentrat tembaga dari Kementerian Sumber Daya Energi dan Mineral (ESDM) hanya tiga bulan, atau sampai 10 Juni 2023. Pada Juni mendatang, pemerintah menerapkan larangan ekpor mineral mentah dan olahan, sesuai amanat Undang-Undang No.3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba). "Kami telah mendapatkan rekomondasi ekspor dari kementerian ESDM. Namun, dengan jangka waktu sampai dengan Juni 2023," kata Presiden Direktur PTFI Tony Wenas. kata Tony dalam rapat dengar pendapat Komisi VII DPR di Jakarta, Senin (27/03). TTony menerangkan volume 2,3 juta ton tersebut sesuai dengan rencana kerja dan anggaran belanja (RKAB) perusahaan tahun 2023 yang telah disetujui oleh Kementerian ESDM pada akhir tahun lalu. Dengan rentan waktu ekpor yang pendek, dia mengeaskan pengiriman konsentrat tembaga ke luar negeri tidak akan jor-joran. Pihaknya terus berkomunikasi dengan pemerintah terkait dampak yang ditimbulkan pasca berakhirnya izin ekspor di Juni nanti. (Yetede)
UMKM Ketuk Pintu Ekspor Pasar Asia Tenggara
Barisan buah karya 22 pelaku UMKM bernaung di bawah tenda putih. Jarak mereka tak sampai 150 meter dari ruang pertemuan delegasi anggota ASEAN. Beragam rupa karya itu menampilkan diri dan berharap memikat mata hingga pundi-pundi delegasi yang berjalan melintas. Setelah berhasil menjadi suvenir rangkaian acara KTT G20 di Candi Borobudur, DI Yogyakarta, produk rempah PT Dlizfood Borobudur Sejahtera kembali unjuk gigi di pameran UMKM ASEAN Economic Minister (AEM) Retreat yang digelar 20-22 Maret 2023 di Magelang, Jawa Tengah. ”Saat ini, proporsi ekspor (produk) kami sekitar 5 %. Dengan kesempatan ini (mengikuti pameran), saya berharap dapat membantu meningkatkan proporsi ekspor hingga 20 %,” tutur Pemilik PT Dlizfood Borobudur Sejahtera, Elisa Anggraeni, saat ditemui di teras Restoran Stupa, Plataran Borobudur Resort&Spa, Magelang, Senin (20/3). Menurut Elisa, mengikuti pameran terbilang efektif dalam memperluas pasar, khususnya di kancah global. Berdasarkan pengalaman, dirinya bertukar kartu nama dengan calon pembeli mancanegara di pameran. Setelah acara berakhir, dirinya kerap dihubungi oleh calon pembeli yang tertarik terhadap produk yang dijajakan.
Di antara negara-negara di Asia Tenggara, Elisa berharap dapat menembus pasar Singapura. Selama menjalankan usaha, produknya sudah berhasil menjangkau pasar Malaysia, Jepang, dan Hong Kong. Dengan memperluas pasar ekspor yang dimulai dari Asia Tenggara, dirinya ingin meningkatkan kesejahteraan lima karyawannya. Saat ini, omzet usahanya Rp 25 juta per bulan dengan laba Rp 8 juta-Rp 10 juta per bulan. Bahan baku produksi diambil dari tiga kelompok wanita tani yang ada di Kecamatan Borobudur. Tak hanya memperluas pasar, ada juga pelaku UMKM yang ingin ekspor perdana. Pemilik Saniyya Batik dan Butik, Titin, mengatakan, pemasaran produknya saat ini masih terbatas di dalam negeri. Batik karyanya bisa sampai ke luar negeri lantaran dibawa turis asing yang berkunjung ke Candi Borobudur sebagai suvenir. Titin mengungkapkan ke- inginan untuk mengekspor produknya ke negara-negara di Asia Tenggara. Menurut dia, ekspor dapat meningkatkan penjualan yang nantinya menjadi daya tarik bagi anak muda untuk melanjutkan usaha batik di Magelang. Ada 18 perajin yang terlibat dalam Saniyya Batik dan Butik. Omzet usahanya Rp 450 juta-Rp 500 juta per bulan dengan produk berupa kain batik, pakaian jadi, dan syal. Kepada pemerintah pusat, Titin berharap Kemendag membantu pemasaran usahanya. (Yoga)
Mudiknya Devisa Hasil Ekspor
Fenomena ”mudik” juga ramai dikaitkan dengan sektor keuangan seiring kembali masuknya devisa hasil ekspor (DHE) ke sistem keuangan Indonesia setelah sekian lama mendekam di perbankan luar negeri. DHE khusus dari sumber daya alam (SDA) tersebut berbondong-bondong masuk kembali ke Tanah Air setelah BI menerbitkan instrumen khusus dengan imbal hasil yang kompetitif. Instrumen tersebut dinamakan term deposit (TD) valas DHE. Mengutip data BPS, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 34 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga data teranyar yakni Februari 2023. Artinya, nilai ekspor lebih besar ketimbang impor selama 34 bulan terakhir. Ini merupakan rekor terpanjang surplus neraca perdagangan Indonesia, yang ditopang harga komoditas dunia yang tengah tinggi, seperti batubara dan minyak sawit. Kenaikan harga komoditas itu pun ikut mengerek kinerja ekspor. Namun, kinerja ekspor yang positif itu ternyata belum memberikan dampak optimal bagi perekonomian Indonesia. Sebab, sebagian besar devisa yang dihasilkan dari kegiatan ekspor itu tidak masuk ke sistem keuangan dalam negeri.
DHE itu malah disimpan di luar negeri. Sehingga, saat ekspor Indonesia tengah melambung tinggi sepanjang 2022, rupiah malah tercatat melemah 9,31 % dibandingkan dengan 2021. BI kemudian menerbitkan instrumen moneter baru, yakni TD valas DHE. Melalui instrumen ini, eksportir nasional akan dirangsang dengan bunga valas yang kompetitif dibandingkan dengan negara lain sehingga mereka pun akan menyimpan uangnya di dalam negeri. Dengan TD valas DHE tersebut, eksportir dengan DHE lebih dari 10 juta USD bisa memperoleh bunga 4,70-5,14 %. Simpanan 5 juta dollar AS-10 juta USD memperoleh bunga 4,73-5,09 %. Simpanan 1 juta USD-5 juta USD memperoleh bunga 4,68-5,04 %. BI bekerja sama dengan 20 bank yang telah ditunjuk untuk menyosialisasikan instrumen baru ini kepada nasabah-nasabah eksportir melalui kantor cabang masing-masing. Jika eksportir memutuskan untuk memulangkan dananya, DHE langsung dipindahkan atau pass on dari bank ke BI. Dengan demikian, dana tersebut tidak akan dihitung sebagai dana pihak ketiga (DPK), dengan imbalan 0,1 % dari nilai nominal DHE untuk simpanan satu bulan, 0,125 % untuk simpanan tiga bulan, dan 0,15 % untuk simpanan enam bulan. Selama periode 1-16 Maret 2023, TD valas DHE berhasil menarik 173 juta USD yang berasal dari Sembilan eksportir sektor pertambangan dan perkebunan. Dana DHE itu berhasil ditarik masuk ke dalam negeri melalui enam bank yang ditunjuk. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Rencana Riset dan Inovasi 2022 Disiapkan
14 Dec 2021 -
Tujuh Kantor Pajak Besar Penuhi Target Setoran
14 Dec 2021 -
Yuk, Menggali Utang di Negeri Sendiri
14 Dec 2021









