Ekspor
( 1055 )PERIKANAN, Pasar Ekspor Tertekan, Dorong Pasar Domestik
Dampak resesi global di sektor perikanan perlu diantisipasi dengan sejumlah strategi, antara lain, bisa ditempuh dengan mendorong diversifikasi produk dan pasar, termasuk menggarap pasar dalam negeri. Direktur Pemasaran Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan KKP Erwin Dwiyana dalam Bincang Bahari yang digelar secara hibrida di Jakarta, Selasa (21/2) mengemukakan, resesi global terindikasi dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dan turunnya permintaan dari beberapa negara tujuan utama ekspor perikanan Indonesia, antara lain AS, Jepang, Uni Eropa, dan ASEAN. Pertumbuhan impor produk perikanan oleh AS selama Juni - November 202, turun dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2021. AS merupakan tujuan ekspor terbesar produk perikanan asal Indonesia. Menurut Erwin, di tengah perlambatan ekonomi di pasar-pasar utama, Indonesia perlu mendiversifikasi pasar. Indonesia juga bisa meningkatkan ekspor perikanan ke Australia, Korsel, dan Arab Saudi.
Di sisi lain, terbuka peluang pasar di dalam negeri. Berdasarkan data BPS, penyerapan produk perikanan di pasar domestik meningkat, dari 12,66 juta ton pada 2021 menjadi 13,11 juta ton pada 2022. Direktur Pengembangan dan Pengendalian Usaha ID Food Dirgayuza menambahkan, tantangan yang dihadapi pelaku usaha di tengah ancaman resesi global antara lain regulasi atau perubahan regulasi, dorongan ke hilirisasi produk ekspor, perubahan iklim, pembiayaan, dan perang berkepanjangan. Akan tetapi, di sisi lain, ancaman resesi global membuka peluang pengembangan sektor perikanan di dalam negeri. Semakin mahalnya produk impor dan permintaan yang tinggi dua tahun terakhir harus mampu dimanfaatkan pelaku usaha. Mayoritas produk perikanan yang dikonsumsi masyarakat segmen menengah atas berasal dari produk impor. (Yoga)
Toyota Ekspor Perdana Kendaraan Listrik Buatan Indonesia
KARAWANG, ID – PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mencetak sejarah dengan melakukan ekspor perdana kendaraan elektrifikasi buatan Indonesia, Kijang Innova Zenix hybrid, pada Selasa (21/02/2023). Tahun ini, sebanyak 2.000 unit kendaraan listrik dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) mencapai 70% tersebut, akan diekspor ke 27 negara. Ekspor kendaraan yang diproduksi di pabrik Toyota di Karawang, Jawa Barat itu menandai peningkatan level kapabilitas dan keunggulan industri manufaktur otomotif nasional melalui produk berteknologi tinggi ke level berikutnya. Ekspor Kijang Innova Zenix Hybrid juga memperkuat posisi Toyota Indonesia sebagai basis produksi dan ekspor global Toyota di kawasan Asia-Pasifik. “Ekspor perdana kendaraan elektrifikasi ini merupakan bagian dari upaya Toyota Indonesia untuk turut serta dalam mencapai target pemerintah yaitu dekarbonisasi. Ekspor mobil utuh ini juga tentunya termasuk baterai elektrifikasi yang dirakit lokal di pabrik kami di Karawang,” ujar Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono pada acara pelepasan ekspor perdana Kijang Innova Zenix di Toyota Plant 3, Karawang, Jawa Barat, Selasa (21/02/2023). (Yetede)
Ekpsor Kendaraan Bakal Tembus 500 Ribu Unit
JAKARTA, ID – Ekspor kendaraan dalam bentuk utuh (completey build up/CBU) diperkirakan menembus 500 ribu unit tahun ini, sejalan dengan rencana produsen otomotif di dalam negeri yang akan terus menambah jumlah pengiriman dan negara-negara tujuan baru. Ekspor tersebut akan menjadi tertinggi sepanjang sejarah industri otomotif Tanah Air, naik 5,7% dibanding tahun lalu sebanyak 473 ribu unit. “Kita mengupayakan (tembus 500 ribu unit), karena potensi ada. Australia memiliki potensi besar untuk menjadi negara tujuan ekspor baru, Jepang juga masih potensial,” kata Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara kepada Investor Daily di Jakarta, Senin (20/02/2023). Kukuh melihat, potensi peningkatan ekspor masih sangat terbuka, terlebih dari Australia yang pasarnya sangat besar. Sejak 2017, tidak ada prinsipal yang memproduksi kendaraan di Australia, sehingga negara tersebut saat ini mengimpor 100% kendaraan dari luar negeri. “Ada brand-brand tertentu yang sudah beroperasi di Indonesia, rutin mengirim mobil ke sana dengan rentang 30-50 ribu unit per tahun dari pabrik di negara lain. Kalau jumlah tersebut produksinya bisa dipindahkan ke Indonesia untuk dikirim ke Australia, tentunya dapat menambah volume ekspor,” ucap Kukuh. (Yetede)
Mendorong Ekspor Otomotif
Industri otomotif nasional diharapkan mampu meraup pangsa pasar global lebih besar dan menjadi penyumbang devisa penting bagi negara. Presiden Jokowi pada pembukaan Indonesia International Motor Show (IIMS) 2023 di JIExpo, Jakarta, Kamis (16/2) mendorong dilakukannya ekspor lebih besar oleh industri otomotif nasional yang beberapa tahun terakhir berkinerja impresif dan memiliki prospek cerah pada 2023 meski ekonomi global dalam bayang-bayang resesi. Indonesia mungkin belum menjadi pemain menonjol di dunia, tetapi perkembangan industri otomotif Indonesia beberapa tahun terakhir dinilai pengamat mulai mengusik dominasi tak terbantahkan Thailand sebagai manufacturing hub otomotif yang kompetitif di Asia setelah Jepang dan Korea Selatan; China, India. Keunggulan Thailand adalah biaya produksi lebih rendah, infrastruktur yang baik, serta kebijakan pemerintah yang mendukung.
Industri otomotif kita mulai unjuk gigi pada 2014, terutama karena didukung kekuatan daya serap di pasar domestik. Dengan meningkatnya produksi, skala ekonomi bisa dicapai sehingga cukup kompetitif saat memasuki pasar ekspor. Status Indonesia berubah menjadi eksportir neto kendaraan pada 2013 dengan ekspor terus meningkat, mencapai 600.000 unit saat ini, dan volume produksi kian mengejar Thailand. Ekspor otomotif Indonesia juga merambah puluhan negara. Untuk lebih merebut pangsa pasar ekspor perlu dukungan insentif, kebijakan fiskal, perbaikan infrastruktur, dan kemudahan investasi agar biaya produksi kian bisa ditekan dan harga jual ekspor lebih kompetitif lagi. (Yoga)
EKSPOR, Desa yang Menjaga Devisa
Sementara banyak eksportir besar menyimpan devisa di negara lain, pelaku usaha kecil menengah (UKM) di sejumlah desa berupaya menjaga pundi-pundi devisa Indonesia. Melalui bulu mata palsu, kopi, kakao, lada, dan tenun, mereka turut menyumbang remah devisa di saat cadangan devisa yang tergerus dan kinerja ekspor yang menurun. Siapa sangka produk bulu mata UKM di sejumlah desa di Kabupaten Purworejo, Jateng, telah merambah 16 negara, di antaranya AS, Kanada, Turki, Zimbabwe, Nigeria, Belanda, Jepang, India, Meksiko, dan Perancis. Pada 8 Februari 2023, kabupaten tersebut telah memiliki desa devisa yang digagas Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), ”kendaraan” pelaksana misi khusus (special mission vehicle) Kemenkeu. Melalui Program Desa Devisa, 80 pelaku UKM bulu mata palsu di Desa Popongan, Semawung, Clapar, dan Pekutan itu mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, serta menjaga dan membidik pasar ekspor.
Di Kabupaten Lampung Timur, lada hitam turut menyumbang devisa. Lada hitam produksi petani di enam desa telah masuk India, Kenya, Australia, dan Jerman. Sentra desa lada hitam itu juga telah menjadi desa devisa. Desa Devisa merupakan program pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan potensi komoditas ekspor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. LPEI atau Indonesia Eximbank menginisiasi Program Desa Devisa itu sejak 2019. LPEI menargetkan pengembangan 5.000 desa devisa hingga 2024. Hingga Desember 2022, LPEI telah melahirkan 178 desa devisa. Desa-desa devisa yang tersebar di sejumlah daerah ini terdiri dari berbagai kluster, antara lain, kopi, kakao, furnitur, udang, lada, dekorasi rumah, dan tenun. Melalui Program Desa Devisa itu, UKM dan petani Indonesia bisa naik kelas sebagai eksportir. Program tersebut dapat membuat aliran devisa Indonesia tetap terjaga. (Yoga)
TANCAP GAS EKSPOR OTOMOTIF
Deru ekspor otomotif pada tahun ini bakal kian melengking setelah kemampuan produksi mobil di dalam negeri mulai melaju di jalur pemulihan. Jumlah pengapalan mobil ke luar negeri juga berpotensi meningkat dibandingkan dengan realisasi pada tahun lalu, seiring dengan perluasan pasar tujuan ekspor baru seperti ke Afrika dan Timur Tengah. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat produksi kendaraan sepanjang 2022 telah mencapai 1,3 juta unit atau melebihi produksi pada 2019 atau periode prapandemi Covid-19 yang hanya 1,28 juta unit. Pada tahun lalu, pabrikan otomotif mampu menjual hingga 1,04 juta unit mobil di pasar domestik atau meningkat 18,1% dibandingkan dengan penjualan pada 2021. Adapun, realisasi untuk pasar ekspor bahkan di atas 400.000 unit. Pada tahun ini, ada keinginan dari kalangan pemegang merek otomotif yang memiliki basis produksi di Indonesia meningkatkan volume ekspor kendaraan lebih tinggi dibandingkan dengan 2022. Setidak-tidaknya, ada peningkatan konsisten sekitar 50% secara tahunan. Secara terperinci, Gaikindo merilis volume ekspor mobil utuh sepanjang 2022 sudah meningkat hingga 60,7% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 473.602 unit. Jumlah unit mobil utuh yang dikapalkan pada tahun lalu ternyata jauh melebihi volume ekspor mobil pada 2019 yang hanya 332.002 unit. Namun, Presiden melihat pencapaian itu belum maksimal karena masih kalah jauh dibandingkan dengan Thailand yang pada tahun lalu mampu memproduksi 1,88 juta unit kendaraan dengan mayoritas untuk pasar ekspor.
ALARM KINERJA DAGANG
Laju lokomotif penarik kinerja neraca dagang nasional kini tidak lagi dalam posisi kecepatan tinggi. Memasuki September 2022, surplus neraca dagang memasuki tren penurunan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), surplus neraca perdagangan Indonesia pada bulan lalu US$4,99 miliar atau lebih rendah dari Agustus 2022 yang mencapai US$5,76 miliar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan bahwa tren penurunan surplus dipicu nilai ekspor Indonesia pada September 2022 yang hanya US$24,8 miliar atau turun 10,99% daripada ekspor bulan sebelumnya. Bila disandingkan secara tahunan (year on year/YoY), nilai ekspor pada September 2022 tetap naik 20%. Namun, pencapaian ekspor itu merupakan pertumbuhan paling lambat dalam 19 bulan terakhir akibat moderasi harga komoditas ekspor utama, khususnya minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar internasional. Komoditas bijih besi yang juga menjadi tulang punggung ekspor harganya turun 19,85% dari US$124,5 per dmtu menjadi US$99,8 per dmtu. Setianto menyampaikan bahwa ada beberapa komoditas lain yang mengalami peningkatan harga secara signifikan yaitu nikel dan batu bara kendati belum mampu memperbaiki kinerja ekspor September 2022.
Selain itu, terdapat peluang kinerja ekspor Indonesia, terutama nonmigas melanjutkan peluang pelemahan pada bulan-bulan berikutnya. Sejauh ini, kinerja tiga komoditas ekspor unggulan Indonesia yakni batu bara, minyak kelapa sawit serta besi dan baja yang kompak melemah pada September 2022. Adapun untuk komoditas besi dan baja mencatatkan penurunan nilai ekspor menjadi US$2,1 miliar pada bulan lalu, dari US$2,3 miliar pada Agustus 2022. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan bahwa kini data ekspor impor tak secermerlang pada tahun lalu. Menurutnya, risiko penurunan kinerja itu harus menjadi perhatian, apalagi di tengah kondisi ekonomi global yang sedang tidak pasti.
ASEAN Pasar Prospektif RI
Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara atau ASEAN jadi pasar ekspor terbesar kedua Indonesia setelah China. Di tengah perlambatan ekonomi global tahun ini, RI dapat mendorong ekspor ke ASEAN yang pertumbuhan ekonominya diperkirakan masih relatif baik. Berdasarkan data BPS, Rabu (15/2) ekspor nonmigas Indonesia ke ASEAN pada Januari 2023 mencapai 3,3 miliar USD atau Rp 50,05 triliun (kurs Jisdor Rp 15.168 per USD). Komoditas utama ekspor RI ke ASEAN adalah bahan bakar mineral serta kendaraan dan bagiannya. Di kawasan itu, pangsa ekspor terbesar RI adalah Filipina dan Malaysia, masing-masing 1,03 miliar USD dan 926,6 juta USD, disusul Singapura dengan 807,3 juta USD.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M Habibullah mengatakan, ASEAN berkontribusi 18,86 % terhadap total ekspor nonmigas RI pada Januari 2023 yang mencapai 20,23 miliar USD. ASEAN jadi pasar ekspor terbesar kedua setelah China yang berkontribusi 25,22 %. ”Hal ini jadi peluang positif bagi ekspor RI di tengah keketuaan Indonesia di ASEAN pada 2023,” ujarnya dalam konferensi pers secara hibrida di Jakarta. Sepanjang 2018-2022, surplus neraca perdagangan nonmigas RI terhadap ASEAN terus meningkat. Pada 2018, surplus tercatat 3,92 miliar USD. Surplus membesar hingga 20,42 miliar USD pada 2022. Adapun pada Januari 2023, neraca perdagangan RI atas ASEAN surplus 1,42 miliar USD. (Yoga)
PERDAGANGAN DAERAH : Ekspor Jatim Mulai Melempem
Kinerja ekspor Jawa Timur (Jatim) pada Januari 2023 mulai melemah menyusul turunnya permintaan negara mitra dagang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim menunjukkan ekspor wilayah ini pada Januari 2023 terealisasi sebesar US$1,63 miliar atau mengalami penurunan 12,08% dibandingkan dengan Desember 2022 atau secara bulanan (month-to-month/MtM). Jika ditengok secara tahunan (year-on-year/YoY), kinerja ekspor Jatim pada Januari 2023 turun 8,38%. Kepala BPS Jatim Dadang Hardiwan mengatakan, ekspor Jatim pada Desember 2022 mampu mencapai US$1,85 miliar, dan juga pada Januari 2022 mampu mencapai US$1,78 miliar. “Selama Januari 2023, seluruh sektor juga mengalami penurunan permintaan pasar luar negeri, baik secara YoY maupun MtM,” ujarnya, Rabu (15/2).
Sektor industri pengolahan dan pertambangan mencatatkan realisasi ekspor masing masing US$1,57 miliar dan US$2,87 juta. Performa ini, turun masing-masing 7,76% YoY dan 66,87% YoY. “Hanya sektor migas yang tumbuh 92,45% YoY, tetapi turun 25,5% secara MtM,” katanya.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim Adik Dwi Putranto memproyeksi kinerja ekspor Jatim pada tahun ini akan turun 2% akibat situasi global dan dampak dari resesi sejumlah negara.
EKSPOR PRODUK PANGAN : Persoalan Sanitasi Ganjal Pelaku IKM
Persoalan sanitasi menjadi ganjalan yang membuat pelaku industri kecil dan menengah atau IKM sektor pangan kesulitan memasarkan produknya ke luar negeri. Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita mengatakan, saat ini masih banyak IKM pangan yang belum memenuhi persyaratan standar sanitasi fasilitas produksi di seluruh kegiatan rantai produksi pangan. Persyaratan tersebut merupakan bagian dari Standar Internasional untuk Sistem Keamanan Pangan yang meliputi Good Manufacturing Practices (GMP), Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik (CPPOB), dan Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang merupakan Standar Internasional untuk sistem keamanan pangan. IKM pangan yang meliputi produsen makanan dan minuman sendiri memiliki porsi paling besar pada jumlah sektor IKM secara keseluruhan, yaitu 1,68 juta unit usaha atau 38,72% dari total unit usaha IKM di Indonesia.
Pilihan Editor
-
Visa Luncurkan Layanan Konsultasi Kripto
09 Dec 2021 -
Jasa Keuangan Paling Banyak Dikeluhkan
10 Dec 2021 -
Inflasi AS Melonjak 6,8% pada November
11 Dec 2021









