;

EKSPOR, Desa yang Menjaga Devisa

Ekonomi Yoga 20 Feb 2023 Kompas
EKSPOR,
Desa yang Menjaga Devisa

Sementara banyak eksportir besar menyimpan devisa di negara lain, pelaku usaha kecil menengah (UKM) di sejumlah desa berupaya menjaga pundi-pundi devisa Indonesia. Melalui bulu mata palsu, kopi, kakao, lada, dan tenun, mereka turut menyumbang remah devisa di saat cadangan devisa yang tergerus dan kinerja ekspor yang menurun. Siapa sangka produk bulu mata UKM di sejumlah desa di Kabupaten Purworejo, Jateng, telah merambah 16 negara, di antaranya AS, Kanada, Turki, Zimbabwe, Nigeria, Belanda, Jepang, India, Meksiko, dan Perancis. Pada 8 Februari 2023, kabupaten tersebut telah memiliki desa devisa yang digagas Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), ”kendaraan” pelaksana misi khusus (special mission vehicle) Kemenkeu. Melalui Program Desa Devisa, 80 pelaku UKM bulu mata palsu di Desa Popongan, Semawung, Clapar, dan Pekutan itu mendapatkan pendampingan untuk  meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi, serta menjaga dan membidik pasar ekspor.

Di Kabupaten Lampung Timur, lada hitam turut menyumbang devisa. Lada hitam produksi petani di enam desa telah masuk India, Kenya, Australia, dan Jerman. Sentra desa lada hitam itu juga telah menjadi desa devisa. Desa Devisa merupakan program pemberdayaan masyarakat untuk mengembangkan potensi komoditas ekspor sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. LPEI atau Indonesia Eximbank menginisiasi Program Desa Devisa itu sejak 2019. LPEI menargetkan pengembangan 5.000 desa devisa hingga 2024. Hingga Desember 2022, LPEI telah melahirkan 178 desa devisa. Desa-desa devisa yang tersebar di sejumlah daerah ini terdiri dari berbagai kluster, antara lain, kopi, kakao, furnitur, udang, lada, dekorasi rumah, dan tenun. Melalui Program Desa Devisa itu, UKM dan petani Indonesia bisa naik kelas sebagai eksportir. Program tersebut dapat membuat aliran devisa Indonesia tetap terjaga. (Yoga)


Tags :
#Ekspor #Devisa
Download Aplikasi Labirin :