UMKM Ketuk Pintu Ekspor Pasar Asia Tenggara
Barisan buah karya 22 pelaku UMKM bernaung di bawah tenda putih. Jarak mereka tak sampai 150 meter dari ruang pertemuan delegasi anggota ASEAN. Beragam rupa karya itu menampilkan diri dan berharap memikat mata hingga pundi-pundi delegasi yang berjalan melintas. Setelah berhasil menjadi suvenir rangkaian acara KTT G20 di Candi Borobudur, DI Yogyakarta, produk rempah PT Dlizfood Borobudur Sejahtera kembali unjuk gigi di pameran UMKM ASEAN Economic Minister (AEM) Retreat yang digelar 20-22 Maret 2023 di Magelang, Jawa Tengah. ”Saat ini, proporsi ekspor (produk) kami sekitar 5 %. Dengan kesempatan ini (mengikuti pameran), saya berharap dapat membantu meningkatkan proporsi ekspor hingga 20 %,” tutur Pemilik PT Dlizfood Borobudur Sejahtera, Elisa Anggraeni, saat ditemui di teras Restoran Stupa, Plataran Borobudur Resort&Spa, Magelang, Senin (20/3). Menurut Elisa, mengikuti pameran terbilang efektif dalam memperluas pasar, khususnya di kancah global. Berdasarkan pengalaman, dirinya bertukar kartu nama dengan calon pembeli mancanegara di pameran. Setelah acara berakhir, dirinya kerap dihubungi oleh calon pembeli yang tertarik terhadap produk yang dijajakan.
Di antara negara-negara di Asia Tenggara, Elisa berharap dapat menembus pasar Singapura. Selama menjalankan usaha, produknya sudah berhasil menjangkau pasar Malaysia, Jepang, dan Hong Kong. Dengan memperluas pasar ekspor yang dimulai dari Asia Tenggara, dirinya ingin meningkatkan kesejahteraan lima karyawannya. Saat ini, omzet usahanya Rp 25 juta per bulan dengan laba Rp 8 juta-Rp 10 juta per bulan. Bahan baku produksi diambil dari tiga kelompok wanita tani yang ada di Kecamatan Borobudur. Tak hanya memperluas pasar, ada juga pelaku UMKM yang ingin ekspor perdana. Pemilik Saniyya Batik dan Butik, Titin, mengatakan, pemasaran produknya saat ini masih terbatas di dalam negeri. Batik karyanya bisa sampai ke luar negeri lantaran dibawa turis asing yang berkunjung ke Candi Borobudur sebagai suvenir. Titin mengungkapkan ke- inginan untuk mengekspor produknya ke negara-negara di Asia Tenggara. Menurut dia, ekspor dapat meningkatkan penjualan yang nantinya menjadi daya tarik bagi anak muda untuk melanjutkan usaha batik di Magelang. Ada 18 perajin yang terlibat dalam Saniyya Batik dan Butik. Omzet usahanya Rp 450 juta-Rp 500 juta per bulan dengan produk berupa kain batik, pakaian jadi, dan syal. Kepada pemerintah pusat, Titin berharap Kemendag membantu pemasaran usahanya. (Yoga)
Postingan Terkait
Perang Global Picu Lonjakan Utang
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023