Emas
( 196 )Investasi Emas Diuji Momentum
Kilau Emas di Palembang
Toko emas hingga pegadaian di Kota Palembang ramai disambangi warga yang berburu emas. Mulai perhiasan emas hingga emas batangan larismanis. Di tengah ketidakpastian ekonomi nasional, perdagangan emas diserbu warga Kota Palembang, Sumsel, demi meraup margin keuntungan jual beli. Pekan-pekan ini, toko emas hingga pegadaian ramai disambangi warga yang berburu emas. Harga emas yang sempat di harga puncak berangsur turun. Momen penurunan harga itulah yang dimanfaatkan warga untuk berinvestasi emas. Mereka berharap harga emas bakal naik kembali sehingga bisa menarik keuntungan. Feri Rusdiansyah (25) langsung memilih tiga jenis perhiasan emas, terdiri dari 2 cincin dan 1 gelang dengan bobot mencapai 3,5 suku atau 23,45 gr (1 suku = 6,7 gr). Harga sesuku emas Rp 10,1 juta. Uang tunai Rp 35,35 juta langsung dikeluarkan untuk melunasi transaksi singkat selama 10 menit tersebut.
”Dapat diskon dari Rp 10,2 juta per suku menjadi Rp 10,1 juta per suku,” ujar Feri yang tampak berseri-seri seusai menyelesaikan transaksi pembelian emas di Toko Emas Lemabang Jaya, kawasan Ilir Timur Dua, Palembang, Rabu (21/5) pagi. Feri mengatakan, perhiasanitu tidak untuk dipakai, tetapi disimpan sebagai investasi. ”Kalau uang yang disimpan, lama-lama nilainya akan turun. Kalau emas, semakin lama, nilainya naik terus,” ujarnya. Fera Susanti (46), warga Sukabangun, Palembang, pegawai di Kes-dam II/Sriwijaya, memilih beli emas logam mulia di Toko Emas Galeri 24 Palembang, Selasa (20/5) sore. Meski hanya 1 gr, ia yakin nilai logam mulia lebih stabil dibanding perhiasan emas. Emas perhiasan biasanya nilai jualnya menyusut karena ada potongan biaya jasa pembuatan Rp 100.000 per gr, yang tidak berlaku pada emas logam mulia.
Kebiasaan berinvestasi emas dilakukan Fera untuk menyiapkan kebutuhan sekolah anaknya. Ia berusaha sebisa mungkin menyisihkan uang yang tidak digunakan untuk kebutuhan pokok guna membeli emas, terutama saat harga emas turun. Fera percaya, emas adalah aset investasi yang paling ideal. Untuk jangka panjang, harga emas diyakini terus meningkat. Selain itu, emas relatif mudah dicairkan atau dijual kembali. Berbeda dengan aset lain seperti tanah atau rumah. Tumbuhnya minat terhadap investasi emas tak lagi didominasi masyarakat usia matang, tapi sudah timbul di kalangan generasi muda atau generasi Z. Warga kawasan Sako, Palembang, Salsabillah (20), mahasiswa Poltekes Kemenkes Palembang, menyisihkan uang jajannya untuk membeli emas perhiasan. Kini, dia sudah mengumpulkan emas perhiasan 5 gr. Kesadaran berinvestasi emas didapat Salsabillah dari anjuran orangtua dan pengaruh teman-temannya. (Yoga)
Harga Emas Cemerlang, Komoditas Bersinar Lagi
Emiten Emas Terus Menggeliat
Emiten emas terus bergeliat memperkuat bisnis aset lindungi
nilai (safe haven) tersebut dengan menggenjot produksi dan melipatgandakan nilai tambah dari segmen emas
perhiasan. Daya tarik aset defensif itu dinilai masih akan cukup tinggi apalagi
di tengah ketidakpastian kebijakan fiskal AS dan memanasnya eskalasi geopolitik
Israel dan Iran seperti sekarang. Di pasar spot, harga emas terakhir kali dilihat
mengalami depresiasi sebesar US$ 18,60 (0,56%) ke level US$ 3.296 per troy
ounce. Pelemahan tersebut menunjukkan tanda-tanda kelelahan setelah emas reli
berkali-kali dan sekarang mulai mengarah pada tren konsolidasi. Namun begitu,
potensi emas untuk bullish tetap terbuka
lebar paling tidak dalam jangka pendek bilaman misalnya pelemahan dolar
AS berlanjut dan tensi global tak kunjung mereda. Sementara dalam jangka
panjang, paradigma emas sebagai pilihan intrusmen investasi yang dipandang
stabil belum tergantikan. Trading economics memproyeksikan, harga emas akan
mampu kembali ke level US$ 3.390 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan. Atau
dengan kata lain, mendekati harga historis emas yang sempat menyentuh level US$
3.340 per troy ounce pada April lalu. (Yetede)
Harga Emas Melonjak, Investasi Kian Menggoda
Investor Kembali Memburu Aset Berisiko
Emas dan Bitcoin Masuki Fase Volatilitas Tinggi
Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,25%–4,50% berdampak signifikan terhadap pergerakan komoditas emas dan aset kripto. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel dan The Fed belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, meskipun ketidakpastian akibat perang dagang dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump terus membayangi. Powell juga memperingatkan bahwa risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan tetap menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas, yang sempat mencetak rekor di atas US$3.500 per ons meskipun kembali terkoreksi. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penguatan, sempat menyentuh US$99.000, dan diprediksi bisa kembali menembus level psikologis US$100.000, didukung oleh spekulasi pelonggaran regulasi di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal pro-kripto. Namun, volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan geopolitik AS.
Menurut analis kripto Fahmi Almuttaqin, sentimen pasar kripto tetap positif pasca pertemuan The Fed karena tidak ada sinyal negatif yang mengkhawatirkan. Kinerja pasar saham AS juga ikut terdorong, terutama sektor teknologi, setelah adanya sinyal bahwa Presiden Trump mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, dan indeks-indeks utama seperti Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat.
Antam Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha baru di bidang industri barang perhiasan, custom product, dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan. Menejemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan segmen emas dan pemurnian perseroan. "Selain itu pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan dalam jangka panjang," ujar manajemen Antam. Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rancana jangka panjang perusahaan (RPJJ) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan verifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan ritel distribusi.
Terkait hal itu, salah satu tema strategis dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, maupun kegiatan lainnya. "Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPPLM) memiliki strategi yang berfokus pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, diantaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan costum product termasuk product termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia," papar manajemen Antam. (Yetede)
Saham Antam Melaju Rp 3.000
Emiten Emas Catatkan Performa Gemilang
Kinerja emiten-emiten logam dan mineral pada kuartal I/2025 menunjukkan lonjakan yang impresif, didorong oleh permintaan global terhadap emas sebagai aset safe haven dan strategi operasional yang adaptif. Tokoh utama seperti Nicolas D. Kanter, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), menekankan keberhasilan ANTM dalam meningkatkan efisiensi dan merespons pasar secara cepat, yang tercermin dari lonjakan pendapatan sebesar 203,35% dan kenaikan laba bersih hingga 794,05%. Segmen emas menjadi kontributor utama kinerja positif ini. PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat kenaikan harga dan volume penjualan emas. Sementara itu, analis seperti Thomas Radityo dan Charles Gobel menggarisbawahi prospek positif emas ke depan, meski logam lain seperti nikel dan kobalt tertekan oleh perlambatan ekonomi China dan pergeseran teknologi baterai.
Sebaliknya, sektor batu bara menghadapi tekanan signifikan akibat penurunan harga jual rata-rata dan melemahnya permintaan ekspor. Emiten seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatat penurunan laba bersih tajam, sedangkan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga mengalami penurunan meski pendapatannya naik. Hanya PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang berhasil mencetak kinerja positif di tengah tren lesu industri batu bara. Analis Arnanto Januri dari JP Morgan menyatakan bahwa prospek batu bara masih lemah dalam jangka pendek tanpa katalis baru dari sisi pasokan, sementara saham-saham seperti ITMG dan PTBA masih diminati investor domestik karena pendapatan berbasis dolar. Keseluruhan, emiten logam tampil cemerlang, sementara batu bara menghadapi tantangan struktural yang semakin nyata.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









