Emas
( 192 )Harga Emas Melonjak, Investasi Kian Menggoda
Investor Kembali Memburu Aset Berisiko
Emas dan Bitcoin Masuki Fase Volatilitas Tinggi
Keputusan Federal Reserve (The Fed) untuk menahan suku bunga acuan di level 4,25%–4,50% berdampak signifikan terhadap pergerakan komoditas emas dan aset kripto. Dalam pernyataannya, Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan moneter harus tetap fleksibel dan The Fed belum terburu-buru untuk menurunkan suku bunga, meskipun ketidakpastian akibat perang dagang dan kebijakan tarif Presiden Donald Trump terus membayangi. Powell juga memperingatkan bahwa risiko inflasi dan perlambatan pertumbuhan tetap menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut mendorong investor untuk mencari aset lindung nilai seperti emas, yang sempat mencetak rekor di atas US$3.500 per ons meskipun kembali terkoreksi. Sementara itu, Bitcoin menunjukkan tren penguatan, sempat menyentuh US$99.000, dan diprediksi bisa kembali menembus level psikologis US$100.000, didukung oleh spekulasi pelonggaran regulasi di bawah kepemimpinan Trump yang dikenal pro-kripto. Namun, volatilitas pasar masih tinggi akibat ketidakpastian arah kebijakan perdagangan dan geopolitik AS.
Menurut analis kripto Fahmi Almuttaqin, sentimen pasar kripto tetap positif pasca pertemuan The Fed karena tidak ada sinyal negatif yang mengkhawatirkan. Kinerja pasar saham AS juga ikut terdorong, terutama sektor teknologi, setelah adanya sinyal bahwa Presiden Trump mempertimbangkan pelonggaran pembatasan ekspor chip AI, dan indeks-indeks utama seperti Dow Jones dan Nasdaq ditutup menguat.
Antam Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana menambah lini usaha baru di bidang industri barang perhiasan, custom product, dan barang lainnya dari logam mulia, untuk mengoptimalkan peluang dari segmen emas. Dari bisnis baru ini, perseroan menargetkan tambahan omzet penjualan hingga Rp 1 triliun dalam lima tahun ke depan. Menejemen Antam mengungkapkan bahwa penambahan kegiatan usaha komoditas logam mulia ini, akan dapat meningkatkan segmen emas dan pemurnian perseroan. "Selain itu pengembangan kegiatan usaha komoditas tersebut diharapkan dapat mendukung pencapaian kinerja perusahaan dalam jangka panjang," ujar manajemen Antam. Dalam penjelasannya, manajemen Antam menyebut bahwa sejalan dengan rancana jangka panjang perusahaan (RPJJ) tahun 2025-2029, komoditas emas memiliki peluang optimasi penjualan emas dengan verifikasi produk, pasar, dan ekspansi jaringan ritel distribusi.
Terkait hal itu, salah satu tema strategis dalam jangka panjang adalah penguatan fungsi emas, termasuk penetrasi ke lini pasar baru melalui kolaborasi, akuisisi, maupun kegiatan lainnya. "Untuk mendukung pencapaian target penjualan komoditas emas, perseroan melalui unit bisnis pengolahan dan pemurnian logam mulia (UBPPLM) memiliki strategi yang berfokus pada kualitas dan penyediaan produk, pengembangan produk dan keunggulan daya saing, serta pemasaran. Perseroan telah merencanakan berbagai program kerja, diantaranya pengembangan produk berupa produk perhiasan dan costum product termasuk product termasuk produk industri untuk keperluan teknik dan atau laboratorium yang terbuat dari logam mulia," papar manajemen Antam. (Yetede)
Saham Antam Melaju Rp 3.000
Emiten Emas Catatkan Performa Gemilang
Kinerja emiten-emiten logam dan mineral pada kuartal I/2025 menunjukkan lonjakan yang impresif, didorong oleh permintaan global terhadap emas sebagai aset safe haven dan strategi operasional yang adaptif. Tokoh utama seperti Nicolas D. Kanter, Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), menekankan keberhasilan ANTM dalam meningkatkan efisiensi dan merespons pasar secara cepat, yang tercermin dari lonjakan pendapatan sebesar 203,35% dan kenaikan laba bersih hingga 794,05%. Segmen emas menjadi kontributor utama kinerja positif ini. PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga mencatatkan pertumbuhan signifikan berkat kenaikan harga dan volume penjualan emas. Sementara itu, analis seperti Thomas Radityo dan Charles Gobel menggarisbawahi prospek positif emas ke depan, meski logam lain seperti nikel dan kobalt tertekan oleh perlambatan ekonomi China dan pergeseran teknologi baterai.
Sebaliknya, sektor batu bara menghadapi tekanan signifikan akibat penurunan harga jual rata-rata dan melemahnya permintaan ekspor. Emiten seperti PT Indika Energy Tbk. (INDY) dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) mencatat penurunan laba bersih tajam, sedangkan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga mengalami penurunan meski pendapatannya naik. Hanya PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) yang berhasil mencetak kinerja positif di tengah tren lesu industri batu bara. Analis Arnanto Januri dari JP Morgan menyatakan bahwa prospek batu bara masih lemah dalam jangka pendek tanpa katalis baru dari sisi pasokan, sementara saham-saham seperti ITMG dan PTBA masih diminati investor domestik karena pendapatan berbasis dolar. Keseluruhan, emiten logam tampil cemerlang, sementara batu bara menghadapi tantangan struktural yang semakin nyata.
Harga Emas Naik-Turun, Pasar Waspada
Dorong Inovasi Digital dan Bisnis Emas
Antam Memastikan Ketersediaan Emas
Komitmen MIND ID Penuhi Kebutuhan Emas Domestik
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









