Emas
( 192 )Naiknya Harga Emas Menembus Rp 2 Juta Per Gram
Pedagang terlihat sedang melayani pelanggan yang hendak membeli perhiasan emas di salah satu toko emas di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, pada hari Selasa (22/4/2025). Harga emas Antam pada Selasa mencetak rekor tertinggi dan tembus di atas Rp 2 juta per gram, tepatnya Rp 2.016.000 atau naik Rp 36.000 dari hari sebelumnya. Walau harganya tinggi, animo masyarakat untuk membeli emas masih tinggi. (Yoga)
Komitmen MIND ID Penuhi Kebutuhan Emas Domestik
Harga Emas Naik, Emiten Tambang Tancap Gas
Kilau Emas dari Kusam Sampah di Kendari
Tiga perempuan setengah baya membersihkan gelas plastik minuman kemasan yang sebagian masih kotor di tengah tumpukan sampah plastik di Bank Sampah Alfaizin, Kelurahan Puuwatu, Kendari, Sultra, Minggu sore (20/4). “Kami kalau lihat sampah plastik seperti melihat butiran-butiran emas di jalanan,” kata Hartian (52) disambut senyum dua rekannya, Yummi (57) dan Rusmawati (62). Para ibu rumah tangga bergabung membentuk bank sampah tujuh tahun lalu. Hartian tergerak dengan misi kebersihan lingkungan yang berpeluang menyulap sampah menjadi uang. Terlebih lagi, sebuah program yang muncul untuk membuat sampah bisa menjadi tabungan emas membuatnya kian termotivasi.
Selain memilah dan mengolah sampah, setiap bulan ia bisa menyetor sampah plastik, kardus, hingga kaleng sebanyak dua kali dengan berat beragam. Sampah itu dikumpulkan di rumah masing-masing, tetangga, hingga fasilitas umum. Ia tidak canggung memungut dan mencari sampah plastik. Berbagai sampah ini akan dibawa ke bank sampah untuk ditimbang dan dijual. Hasil penjualan dialihkan menjadi tabungan emas. ”Hari ini dapat plastik dan kardus dari rumah tetangga 30 kg. Nilainya di atas Rp 50.000. Nanti ditabung emas saja biar tambah banyak,” tutur Hartian.
Tabungan emas ibu empat anak ini sudah terkumpul 0,3 gram. Rusmawati dan suaminya menjadi bagian dari hampir 100 nasabah Bank Sampah Al-faizin. Keluarga ini aktif untuk menukarkan sampah dan konsisten menabungnya di tabungan emas. Yummi, Ketua Bank Sampah Alfaizin, menuturkan, program sampah menjadi tabungan emas dimulai sejak 2018 atau lima tahun setelah bank sampah ini berdiri. Warga yang awalnya membuat daur ulang sampah dan belum fokus menjual sampah mendapat motivasi baru untuk membersihkan lingkungan. (Yoga)
BSI dan Penggadaian Panen Transaksi Emas
Opsi Safe Haven Kian Terbatas
Harga emas terus mengalami tren kenaikan yang signifikan, dengan harga mencapai rekor tertinggi di pasar spot pada US$ 3.370,7 per ons troi pada 17 April 2025. Tiffani Safinia dari ICDX mengungkapkan bahwa lonjakan harga emas ini dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti meningkatnya ketegangan geopolitik, penurunan aktivitas ekonomi global, serta ekspektasi pemangkasan suku bunga. Meski demikian, ada potensi koreksi harga dalam jangka pendek.
Salah satu faktor yang mendukung kenaikan harga emas adalah permintaan besar dari bank sentral, terutama dari China, yang turut mendorong harga. Selain itu, lemahnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi AS menyebabkan banyak investor beralih dari instrumen safe haven seperti US Treasury dan dolar AS ke emas.
Ibrahim Assuabi, Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, menyatakan bahwa kenaikan harga emas pada tahun ini sangat luar biasa, jauh melampaui kenaikan normal. Budi Frensidy, Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Universitas Indonesia, menilai harga emas sudah melampaui batas kewajaran, namun penguatan bisa terus berlanjut jika aliran dana dari investor, terutama China, terus berlanjut. Budi memproyeksikan harga emas bisa mencapai US$ 3.750 per ons troi, dan emas Antam bisa tembus Rp 2,5 juta per gram.
Meskipun ada potensi koreksi, arus beli besar dari investor institusi, khususnya China, masih dapat mendukung kenaikan harga emas ke depannya.
Saatnya Mengalihkan Investasi Emas dan Properti
Meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, menyusul kebijakan tarif bea masuk (BM) Amerika Serikat ke sejumlah negara mendorong investor global, termasuk di Indonesia, mengalihkan dana ke instrusmen investasi yang lebih stabil dan aman. Aset seperti emas dan properti kini menjadi pilihan utama. Sejumlah kalangan menilai, saat ini adalah momentum tepat untuk berinvestasi emas dan properti, karena prospek harga ke depan sangat menjanjikan. Sepanjang 2025, harga emas melonjak 25% ke level US$ 3.320 per troy ounces (oz) dibandingkan awal tahun US$ 2.646 per oz. Pada Rabu (16/4/20250) harga emas menyentuh level tertinggi (all time high/ATH) di US$ 3.357 per oz, dipicu makin kerasnya perang dagang antara AS dan China.
AS diketahui menaikkan tarif BM ke China hingga 245%. Beijing dikabarkan menolak pembalasan tarif, melainkan berniat menghantam ekspor jasa AS. Ke depan, harga emas disebut bisa menebus US$ 4.000 per oz. Skenario dasar Goldman Sachs, harga emas bertengger di US$ 3.700 per oz pada akhir 2025. Namun, jika AS resesi dan ketidakpastian makin meningkat, harga emas bukan mustahil menyentuh US$ 4.500 per oz. Sementara itu, harga properti yang kini cenderung tertekan menjadi pintu masuk untuk membeli. Sejarah kenaikan harga properti selepas pandemi Covid-19 berpotensi terulang lagi. Kala itu, banyak investor mendulang capital gain setelah membeli murah dan menjual tinggi. (Yetede)
Pilihan Masyarakat Hadapi Ketidakpastian dengan Emas hingga Bank Digital
Logam mulia emas tengah menjadi primadona. Sebagian masyarakat berbondong-bondong menuju gerai penjualan logam mulia untuk membeli emas yang kerap disebut sebagai safe haven. Harga emas pun terus melejit. Berdasarkan data PT Aneka Tambang (Persero) Tbk dalam laman logammulia.com, harga emas per 18 April 2025 hampir mencapai Rp 2 juta, tepatnya Rp 1,96 juta per gram, melejit empat kali lipat dibanding 10 tahun silam ketika harga emas masih Rp 567.000 per gram. Tak hanya emas dalam rupa logam mulia, emas perhiasan pun kondang di masyarakat. BPS mencatat, emas perhiasan pada Maret 2025 mengalami inflasi sebesar 41,71 % secara tahunan dengan andil 0,44 %. Menurut ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Eko Listiyanto, emas memang sudah menjadi safe haven sejak dulu.
Bagi masyarakat luas, investasi dalam bentuk emas secara umum cenderung lebih mudah dicerna dibanding instrumen investasi lainnya. ”Kalau emas, masyarakat bawah atau kelas menengah punya tabungan (dalam bentuk emas). Selain lebih mudah mencernanya, emas harganya bisa naik, bisa turun. Aksesnya juga lebih mudah dan familier,” katanya dalam diskusi secara daring, Kamis (17/4). Emas dapat menjadi pilihan investasi dalam jangka waktu menengah panjang, sedang investasi di mata uang bersifat jangka pendek. Para investor global pun meninggalkan USD yang sebelumnya dianggap sebagai safe haven dan beralih ke emas serta mata uang lain seiring ketidakpastian akibat kebijakan tarif Presiden AS, Donald Trump. Mengutip data World Gold Council, harga emas dunia pada 17 April 2025 menyentuh 3.305,65 USD per troy ons atau naik 26,69 % secara tahun kalender berjalan.
Goldman Sachs memperkirakan harga emas dunia dalam jangka menengah-panjang bisa menembus 4.500 USD per troy ons pada pengujung 2025. Presdir PT Krom Bank Indonesia Tbk, Anton Hermawan berpendapat, masyarakat cenderung mencari instrumen keuangan yang memberi imbal hasil yang pasti dan kompetitif di tengah kondisi pasar keuangan saat ini. Adapun bank digital menawarkan bunga tabungan dan deposito yang lebih kompetitif dibandingkan instrumen keuangan lainnya. ”Kami menawarkan bunga tabungan 6 % per tahun dan bunga deposito hingga 8,75 % per tahun, yang dapat menjadi salah satu alternatif bagi nasabah yang ingin mendapatkan kepastian imbal hasil yang menguntungkan. Nasabah tidak perlu khawatir akan kondisi pasar yang cenderung dinamis dan fluktuatif,” katanya, Selasa (15/4). (Yoga)
Harga Emas Cetak Rekor Baru
Apakah Investasi Emas Menarik
Komoditas emas saat ini tengah jadi primadona. Banyak warga berburu emas di tengah harganya yang melambung. Pendapat warga beragam mengenai berinvestasi emas di situasi sekarang ini. “Saya memilih berinvestasi emas karena nilainya stabil, cenderung naik, dan tahan terhadap inflasi ataupun gejolak global. Selisih harga jualnya juga menguntungkan, terutama emas batangan yang bebas potongan. Dibanding deposito, emas memberi imbal hasil lebih tinggi. Kini sebagian deposito saya alihkan ke emas karena kenaikannya signifikan. Strategi saya: beli segera dan tahan untuk jangka panjang,” ujar Ari Puji Astuti (35) Karyawan swasta di Surabaya
“Saya memilih menabung emas digital karena praktis, mudah diakses, dan imbal hasilnya stabil. Awalnya karena saran orangtua agar punya tabungan jangka panjang yang tidak mudah tergoda untuk dipakai. Hingga kini saya belum tertarik berinvestasi di saham. Menurut saya, risikonya tinggi dan butuh keahlian khusus, sedangkan emas lebih aman dan hasilnya sudah terbukti,” ujar Agustinus Tri Budi Sunarko (24), Pekerja swasta di Jakarta. “Saya belum berpengalaman berinvestasi di saham. Menurut saya, emas bisa menjaga nilai tabungan agar tidak tergerus inflasi. Saya bisa membelinya sedikit demi sedikit, tanpa harus menunggu cukup uang untuk 1 gram. Jika sewaktu-waktu perlu dicairkan, proses penjualannya juga sangat mudah dan cepat,” ujar Margaretha Nainggolan (30), Warga Batam, Kepri. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









