;
Tags

e-commerce

( 474 )

Ramainya Belanja Online Bisa Menahan Laju Inflasi

HR1 19 Jan 2024 Kontan
Nilai transaksi belanja online di Indonesia menyusut dalam setahun terakhir. Meski demikian, tren belanja di platform digital tetap semarak ke depan. Bahkan ekonomi digital bisa memperbesar valuasi perekonomian nasional, sekaligus menekan inflasi. Bank Indonesia mencatat, total nilai transaksi e-commerce di sepanjang tahun lalu mencapai Rp 453,75 triliun. Angka ini menyusut 4,73% dibandingkan 2022 yang sebesar Rp 476,3 triliun. Realisasi transaksi e-commerce tahun lalu juga di bawah target BI sebesar Rp 474 triliun. Meski nilainya menyusut, transaksi belanja online semakin ramai. Deputi Gubernur BI Filianingsih mengungkapkan, volume penjualan e-commerce mencapai 3,71 miliar kali pada 2023. Angka ini meningkat dibandingkan volume transaksi pada 2022 yang sebanyak 3,49 miliar kali. "Jadi, trennya meningkat terus, karena ada perubahan perilaku dari masyarakat," terang Filianingsih saat menjawab pertanyaan KONTAN, Rabu (17/1). Gubernur BI Perry Warjiyo menekankan, saat ini bank sentral terus mempercepat transaksi digital. Mengingat, digitalisasi adalah masa depan dunia. Terlebih, pada lima tahun ke depan, kemungkinan mayoritas penduduk Indonesia adalah kaum milenial yang akrab dengan transaksi digital. Bahkan Perry menyebutkan, maraknya penjualan lewat e-commerce bisa mendorong penurunan inflasi, terutama inflasi inti. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, dengan adanya digitalisasi di sistem pembayaran dan berkembangnya e-commerce, maka akan mampu untuk membuat transaksi menjadi lebih ekonomis. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky juga menilai, digitalisasi akan mendorong persaingan antar toko dan merchant. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengakui, digitalisasi turut menahan laju inflasi. Membeli barang secara daring membuat distribusi barang lebih efisien.

Pakaian Paling Diincar di ”Live Shopping”

KT3 16 Jan 2024 Kompas
Pakaian termasuk kategori barang yang paling diincar konsumen ketika live shopping atau praktik jual-beli  barang  melalui siaran langsung di lokapasar. Hal itu terungkap dalam survei Tren Live Streaming E-Commerce bagi Penjual yang dilakukan Ipsos pada Desember 2023. ”Kategori pakaian/mode dan produk kecantikan selalu jadi incaran masyarakat ketika berbelanja daring. Saat live shopping pun, kedua kategori itu masih populer, berarti gaya berjualan dua kategori itu sudah bertransformasi,” ujar Direktur Eksekutif Ipsos Indonesia Andi Sukma, Senin (15/1/2024), di Jakarta. (Yoga)

Menerka Lanskap E-Commerce Pascakonsolidasi TikTok & Tokopedia

HR1 12 Jan 2024 Bisnis Indonesia

Beberapa tahun sebelum kehadiran TikTok Shop Indonesia, dunia e-commerce Tanah Air memang tengah bertumbuh. Apalagi sejak Maret 2020, Indonesia dan dunia sempat dilanda pandemi Covid-19 yang memaksa masyarakat beraktivitas online. Saat itu, e-commerce mulai dari Tokopedia (berdiri 2009), Bukalapak (2010), Blibli (2011), Lazada (2012), hingga Shopee (2015) terus memanfaatkan momentum tingginya keinginan masyarakat berbelanja online guna menghindari pandemi tersebut. Tingginya minat ini tecermin dari data Bank Indonesia (BI) yang mencatat nilai transaksi e-commerce 2021 menembus Rp401 triliun. Pada 2022 angkanya naik 19% menjadi Rp476,3 triliun, sangat besar untuk ukuran negara berkembang, pasar yang tak bisa dielakkan begitu saja oleh para pelaku e-commerce mana pun. Jika ditarik ke belakang, sebelum nama-nama besar seperti Tokopedia hingga Shopee, sudah ada para pendahulu yang bisa dibilang menjadi pionir e-commerce. Meski punya potensi sangat besar, faktanya perjalanan e-commerce Indonesia selalu mulus. Beberapa di antaranya terpaksa mengibarkan bendera putih dan melakukan PHK—sesuatu yang sangat disayangkan. Di November 2022, GoTo yang menaungi Tokopedia mulai melakukan PHK, dan di awal tahun baru 2024 Lazada pun dikabarkan akan melakukan PHK. JDID tutup per 31 Maret 2023 setelah beroperasi November 2015. Blanja.com, milik Grup Telkom dan e-Bay, tutup 1 September 2020, lalu Elevenia juga tutup per 1 Desember 2022 setelah ber­operasi 9 tahun.

Salah satu wujud inovasi itu adalah tren belanja langsung via aplikasi (live shopping) yang ditawarkan TikTok Shop. Maka hadirnya kembali TikTok Shop Indonesia sejak 12 Desember 2023 dengan menggandeng Tokopedia bisa jadi merupakan game changer yang mungkin bisa membawa wajah baru di lanskap e-commerce Indonesia, lantaran mereka berhasil berinovasi via konten video pendek dan fitur live shopping yang dimanfaatkan lebih dari 6 juta pebisnis lokal dan hampir 7 juta kreator affiliate. Ketika TikTok Shop menghentikan operasi per 4 Oktober 2023 menyusul terbitnya Permendag No. 31/2023, para pengguna termasuk UMKM pun berdampak karena telah memanfaatkan layanan sejak pertama kali hadir di April 2021. Apa yang dilakukan TikTok-Tokopedia memicu per­ubahan lanskap persaing­an e-commerce nasional ke depan. Persaingan antara Shopee dengan Tokopedia-TikTok bakal makin sengit, sementara Lazada, Blibli, apalagi Bukalapak punya pekerjaan rumah mengejar para kompetitor yang didukung ekosistem yang besar dan modal kuat. Namun, yang wajib sama-sama dilakukan semua e-commerce dalam persaingan yang sehat ini adalah: bagaimana membuat transaksi lintas negara (cross border selling) tidak membunuh UMKM, mencegah predatory pricing (jual rugi di bawah harga pasar), dan bagaimana menempatkan produk lokal menjadi jawara di negeri sendiri. Inovasi melalui live shopping tak bisa dibendung, yang perlu dilakukan pemerintah dan sudah tepat adalah membuat regulasi: Permendag 31/2023, yang memisahkan marketplace (boleh transaksi) dan social commerce (hanya etalase, tak boleh transaksi).

Di sektor telekomunikasi, integrasi bisa memakan waktu hingga setahun lebih, bahkan sinergi data pemerintahan yakni Indonesia Satu Data, butuh bertahun-tahun. Dengan begitu, tinggal bagaimana TikTok-Tokopedia memenuhi ketentuan 4 bulan itu agar mematuhi regulasi. Kepatuhan tak hanya soal sistem backend yang mesti terpisah di belakang layar, tapi juga harus dipastikan pertukaran data TikTok dan Tokopedia harus sesuai dengan UU Perlindungan Data Pribadi yang mengutamakan persetujuan pengguna. Jangan lupa, pemerintahan Presiden Joko Widodo masih punya pekerjaan rumah besar buat UMKM. Target 30 juta UMKM onboarding digital mesti tercapai di 2024. Di Oktober 2022, ada 20,2 juta UMKM onboarding digital, artinya 67% dari target. Jadi, selayaknya pemerintah dan para pemangku kepentingan bisa mendukung apa pun langkah strategis dan positif demi kemajuan ekonomi nasional dan kemajuan UMKM. TikTok-Tokopedia bisa dibilang menjadi salah satu katalis positif untuk mencapai target itu. 

E-Commerce GOTO Menatap Profit

HR1 08 Jan 2024 Kontan
PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) bakal mendapat cuan dari kolaborasi Tiktok Shop dan Tokopedia. Yakni lewat biaya layanan e-commerce. Head Investor Relation GOTO, Reggy Susanto menyatakan, manfaat terbesar atas investasi Tiktok adalah membuat unit bisnis e-commerce menjadi profit. Lantas  Grup GoTo meraup e-commerce services fee. "Tidak ada kesepakatan besaran persentase e-commerce services fee per kuartal, tapi kami punya formulanya," katanya saat ditemui KONTAN, Jumat (5/1). Sebagai gambaran, pada kuartal III-2023 GMV inti Tokopedia US$ 2,9 miliar. Dus, GOTO diperkirakan  meraup biaya layanan senilai US$ 11,4 juta. Reggy bilang, dengan segmen konsumen yang berbeda, kolaborasi Tokopedia dan Tiktok Shop dapat melengkapi satu sama lain. Ujungnya bisa  memperkuat pangsa pasar di industri e-commerce. Reggy menuturkan kebanyakan pelanggan TikTok Shop masih menggunakan sistem cash on delivery (COD) sebagai metode pembayaran. Selain itu, Tiktok Shop sudah tidak punya buy now, pay later. "Ini bisa menjadi peluang GoPay Later." ucap dia. Di samping itu, Tokopedia dan Tiktok Indonesia mengejar target untuk menyelesaikan transisi untuk melakukan perpindahan seluruh transaksi TikTok Shop ke Tokopedia. Billy Djaya, Research Analyst Shinhan Sekuritas Indonesia memproyeksikan, Tiktok Shop dan Tokopedia bisa menjadi penguasa pasar. Equity Analyst OCBC Sekuritas, Kevin Jonathan memproyeksi GMV inti GOTO akan meningkat 25% dalam tiga tahun depan yang didukung oleh pertumbuhan penetrasi live dan social commerce TikTok. 

Manuver Raksasa Dikte E-Dagang Asia Tenggara

KT3 04 Jan 2024 Kompas

Manuver dan pertarungan antara para raksasa teknologi dari China dan Singapura akan menentukan tren e-dagang Asia Tenggara pada 2024. Persaingan ketat para raksasa teknologi itu dalam memperebutkan pasar e-dagang Asia Tenggara yang besar akan membentuk lanskap dan dinamika e-dagang kawasan. Perusahaan analisis mahadata pasar e-dagang Cube Asia, dalam Cube Pulse Report 2023, yang dirilis akhir Desember 2023, menyebutkan, konvergensi layanan bermedia social dan e-dagang dalam satu platform menjadi satu dari lima tren e-dagang yang diprediksi semakin berkembang pada 2024 dan seterusnya di Asia Tenggara.

Dalam laporannya, Cube Asia menyebutkan, 25 % e-dagang di Asia Tenggara sekarang dikaitkan dengan perdagangan sosial (social commerce). Pemain lokapasar, seperti Shopee dan Lazada, mengintensifkan upaya streaming penjualan. Kemunculan Tiktok Shop mendorong merek global membuat konten komersial untuk penjualan langsung dan menjadikan perdagangan sosial sebagai aspek penting dalam menjaga hubungan dengan konsumen pada 2024. Tiktok Shop berbasis di China. Tren lain yang masih berkaitan adalah kelanjutan pengumuman penggabungan Tiktok Shop ke Tokopedia. Jika sinergi keduanya berjalan lancar berarti akan terjadi sinergi kekuatan konten Tiktok dan infrastruktur yang sudah Tokopedia miliki, seperti pembayaran dan logistik. Keduanya layak dicemati karena akan membentuk lanskap pasar e-dagang baru di Indonesia pada 2024.

Tren kedua adalah bagaimana Shopee, perusahaan yang berbasis di Singapura, menyeimbangkan antara pertumbuhan dan profitabilitas. Setelah hampir satu dekade merugi, tahun 2023 menandai tonggak penting bagi Shopee dan perusahaan induknya, Sea Ltd, karena membukukan pendapatan bersih. Masing-masing membukukan 87 juta USD dan 331 juta USD selama dua triwulan berturut-turut. Akan tetapi, mulai triwulan III-2023, Shopee diduga memilih mengorbankan profitabilitas karena memprioritaskan tumbuh dan mengamankan pangsa pasarnya dari pesaing, seperti Tiktok Shop. Akibatnya, Shopee merugi 144 juta USD pada triwulan III-2023. Cube Asia memperkirakan lokapasar tersebut akan tetap berjuang menyeimbangkan cara meraih untung dan pertumbuhan. (Yoga)

Tiktok Shop-Tokopedia: Siapa Untung, Siapa Buntung?

HR1 21 Dec 2023 Bisnis Indonesia

“Investor didorong untuk bekerja sama, berpartner dengan pengusaha-pengusaha nasional, pengusaha daerah, seberapa besarpun sahamnya yang penting pengusaha nasional ada” Arahan Presiden Joko Widodo yang disampaikan pada Peresmian Pembukaan Rakornas Investasi 2023 tersebut dirasa sangat relevan dengan apa yang terjadi pada lanskap ekonomi digital baru-baru ini. Di mana raksasa digital Tiktok berinvestasi ke raksasa e-commerce lokal, Tokopedia. Tak berlebihan memang, ketika pemerintahan di sebuah negara berusaha keras untuk mengembangkan dan membesarkan “local champion” sebagai motor pertumbuhan ekonomi, pencipta lapangan kerja dan tentu saja kebanggaan bangsa. Komitmen kuat pemerintah dalam melindungi industri dalam negeri sangat bisa dirasakan dengan berbagai kebijakan yang bertujuan untuk penghiliran di berbagai sektor. Termasuk di antaranya melindungi UMKM dalam negeri. Adapun di sektor UMKM, visi besar pemerintah dalam hal ini melalui Kementerian Koperasi dan UMKM diwujudkan dalam tiga komitmen besar, yakni melindungi UMKM dalam negeri, melindungi konsumen dalam negeri, dan melindungi e-commerce dalam negeri. Kehadiran Tiktok Shop yang menjadi perhatian publik beberapa bulan lalu direspons dengan sangat cepat dan tepat oleh pemerintah. Permendag Nomor 31 berhasil menata Tiktok Shop & para pemain e-commerce lainnya untuk mempromosikan produk lokal, membuka kesempatan pada pelaku usaha kecil dan menghentikan praktik predatory pricing. Mengutip data dari berbagai sumber, saat ini Shopee memegang sekitar 40% market share, dan secara agresif terus meningkatkan pengeluaran untuk mengembangkan pangsa pasarnya. Shopee merupakan e-commerce asing yang 100% sahamnya dimiliki Sea Ltd. Sedangkan Sea adalah perusahaan publik yang tercatat di NYSE di mana salah satu pemegang saham terbesarnya adalah Tencent, China.   

Lalu bagaimana dengan Tokopedia? Sebagai local champion kebanggaan bangsa, Tokopedia harus fokus pada growth yang menguntungkan di saat persaingan pasar yang sangat menantang dengan keterbatasan modal jika dibandingkan dengan para pesaingnya. Di sisi lain, Tiktok shop merupakan pendatang baru dengan pertumbuhan yang sangat pesat. Sang induk perusahaan menghasilkan pendapatan lebih dari US$ 85 miliar serta EBITDA pada FY22 senilai US$25 miliar. Ditambah cadangan cash pada kuartal II/ 2023 senilai US$51 miliar, menjadi pesaing yang sangat berat bagi Shopee, perusahaan yang sepenuhnya dimiliki asing yang telah bertahun-tahun meraup cuan dari pasar Indonesia. Menteri Perdagangan, Zulkifli Hasan, memahami betul proses bersatunya Tiktok Shop-Tokopedia memerlukan integrasi sistem teknologi yang tidaklah mudah. Belum lagi, upaya keduanya untuk tetap patuh pada aturan yang berlaku di Indonesia memerlukan waktu penyesuaian. Zulkifli Hasan mengatakan pemerintah akan memberikan masa percobaan selama 3—4 bulan untuk penggabungan TikTok Shop dengan Tokopedia. Siapa (B)Untung?. Berpartner dengan perusahaan lokal, menjadi pilihan Tiktok shop untuk kembali mengembangkan bisnis UMKM dalam negeri dan memberikan kemudahan kepada para konsumen di Indonesia. Pemilihan Tokopedia sebagai local partner juga tepat setelah sebelumnya tiktok menjalin komunikasi dengan sejumlah pemain e-commerce dalam negeri. Selain itu, untuk masuk ke industri e-commerce yang sudah perang promo atau diskon seperti sekarang, hampir mustahil bisa meningkatkan pangsa pasar atau market share. Maka, Tiktok Shop bergabung ke Tokopedia merupakan solusi lebih murah dan realistis. TikTok punya keunggulan dalam live sales-nya. Sementara Tokopedia memiliki market share yang besar, bisa digabungkan expertise masing-masing platform. Ini win win solution.

Bom Waktu Bernama TikTok Shop

KT1 18 Dec 2023 Tempo
KEMBALI beroperasinya TikTok Shop menunjukkan inkonsistensi pemerintah dalam menegakkan aturan yang mereka tetapkan sendiri. Gembar-gembor pemerintah melarang social commerce demi melindungi usaha kecil dan menengah dalam negeri kian jauh panggang dari api.  Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 yang terbit pada akhir September lalu melarang penggunaan media sosial sebagai tempat berjualan. Namun TikTok Shop kembali beroperasi dua bulan kemudian, setelah TikTok, anak perusahaan ByteDance Ltd dari Cina, mengakuisisi 75,01 persen saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dengan nilai Rp 23,42 triliun pada 12 Desember lalu.

Setelah TikTok Shop kembali buka, tak ada perubahan signifikan dalam praktik jual-beli di social commerce tersebut dibanding sebelum penutupan pada 4 Oktober lalu. TikTok masih menggunakan skema lama: platform TikTok Shop sebagai tempat berjualan sekaligus bertransaksi. Hanya ada logo Tokopedia di pojok kanan atasnya.  TikTok Shop mengklaim membutuhkan waktu untuk melakukan uji coba dan transisi layanan jual-belinya ke mitra lokal, Tokopedia. Anehnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan malah langsung mengizinkan TikTok Shop kembali beroperasi, meski dengan embel-embel “proses transisi” selama empat bulan. (yetede)

Tech Winter Terus Memakan Korban

HR1 16 Dec 2023 Kontan (H)
Selamat datang tech winter, fase dimana banyak perusahaan rintisan atau startup berbasis teknologi gugur satu per satu. Banyak yang kesulitan pendanaan hingga tak cakap mengelola sumber daya manusia. Baru-baru ini, perusahaan teknologi Pegi Pegi tutup setelah 12 tahun beroperasi di Indonesia. Sebelum itu, ada lagi startup yang tutup, yakni Rumah.com, CoHive, Fabelio, JD ID, Airy Rooms, dan banyak lagi. Nailul Huda, Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) mengutip riset Google, Baik & Company, Tenasek, proyeksi gross merchandise value (GMV) alias nilai barang dagangan ekonomi digital Indonesia turun pada 2025, dari US$ 130 miliar menjadi US$ 109 miliar. Kondisi ini patut dicermati startup di berbagai bidang. Penurunan proyeksi GMV tak lepas dari investasi ke sektor digital yang turun. Pengamat Ekonomi Digital, Heru Sutadi bilang, Indonesia telah memiliki unicorn maupun decacorn seperti Tokopedia, Gojek, Traveloka, Bukalapak, Kopi Kenangan, Xendit dan lainnya. "Start up kita banyak, tapi beberapa gulung tikar. Salah satu faktor dari pendanaan," jelas dia, (15/12). Tapi, ia melihat ada sektor yang berpotensi besar untuk berkembang yakni big data analytics, artificial intelligence (AI), Internet of Things, pertanian dan peternakan, serta kesehatan. Pebisnis e-commerce seperti Tokopedia berbagi strategi di bisnis ini. Aditia Grasio Nelwan, Head of Communication Tokopedia bilang, Tokopedia sudah bertransformasi jadi super ekosistem untuk mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Tokopedia memiliki lebih dari 14 juta penjual dan hampir 100% penjual adalah pelaku UMKM. Mereka memasarkan lebih dari 1,8 miliar produk di 99% kecamatan di Indonesia lewat Tokopedia, ujar Aditia, (15/12). Corporate Affairs Manager Kenangan Brands, Ruth Davina bilang, Kenangan Brands punya sejumlah fokus bisnis dan strategi mempertahankan eksistensi produk.

Belum Pantas TikTok Shop Kembali

KT1 16 Dec 2023 Tempo
ARTINI Ratri semringah ketika membuka notifikasi pada akun toko hijab miliknya di platform TikTok Shop pada 11 Desember lalu. Notifikasi itu berisi informasi kembalinya layanan TikTok Shop bertepatan dengan tanggal kembar 12.12 atau Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas). “Para seller diminta bersiap kembali live menjual dagangannya,” ujarnya kepada Tempo, kemarin. Sejak Oktober lalu, Artini termasuk yang merasakan penurunan omzet penjualan akibat penutupan sementara social commerce tersebut. Dengan adanya pemberitahuan itu, ia senang karena bisa kembali berjualan secara siaran langsung. Maklum, selama ini TikTok Shop menjadi tempat berjualan andalannya. 

Keesokan harinya, ia langsung bersiap berjualan kembali. Perempuan 33 tahun ini menyadari ada satu perbedaan mencolok yang terpampang di layar dasbor seller TikTok yang biasa dia gunakan: logo platform e-commerce Tokopedia di pojok kanan atas. Tapi, selebihnya, hampir tak ada yang berubah. Proses dan tahapan jual-beli benar-benar mirip dengan saat sebelum TikTok Shop ditutup. “Semuanya berjalan normal seperti dulu untuk memantau penjualan, pembayaran, dan pengiriman tetap dapat dilakukan di aplikasi TikTok.”

Tak hanya dari sisi penjual atau seller, pengalaman serupa dirasakan Devina Widya, 22 tahun, yang gemar berbelanja di platform ini. Mahasiswi sebuah universitas swasta di Jakarta itu mengatakan tak ada perubahan berarti saat TikTok Shop kembali beroperasi. Ia tetap dengan mudah mengetuk ikon keranjang kuning pada layar ponselnya untuk memesan barang. “Saya kira setelah mengklik keranjang untuk checkout akan pindah ke aplikasi atau laman Tokopedia, ternyata tidak," ujarnya. Proses transaksi pun tetap dilakukan di platform yang sama. (Yetede)

Dominasi Investor Cina di Lokapasar Dalam Negeri

KT1 16 Dec 2023 Tempo
JAKARTA — Kongsi antara PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk dan TikTok Pte Ltd (Singapura) bakal kian menegaskan dominasi investor Cina di industri e-commerce Indonesia. TikTok, anak perusahaan ByteDance Ltd yang bermarkas di Beijing, akan berdiri di jajaran raksasa teknologi dan investasi asal Cina yang menguasai layanan lokapasar dalam negeri, seperti Tencent Holding Ltd yang memiliki sebagian saham Shopee serta Alibaba Group Holding Limited di Lazada. 

Sebagaimana diketahui, GoTo dan TikTok menyepakati perjanjian pengambilan saham PT Tokopedia pada 10 Desember lalu. GoTo akan melepas 75,01 persen saham Tokopedia kepada TikTok senilai US$ 840 juta atau setara dengan Rp 13,18 triliun. Selain itu, Tokopedia akan menerima promissory note senilai US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 15,7 triliun untuk modal kerja di masa mendatang. Rencana tersebut diikuti pengalihan kepemilikan dan hak operasi TikTok Shop di Indonesia kepada Tokopedia. Nilai kontraknya mencapai US$ 340 juta atau sekitar Rp 5,33 triliun.

Masuknya TikTok ke Tokopedia membuat investasi perusahaan Cina di anak usaha GoTo tersebut membesar. Sebelum dilebur dengan GoJek menjadi GoTo, Tokopedia sudah mendapat suntikan dana dari beberapa perusahaan asal Negeri Tirai Bambu, seperti Alibaba Group, JD.com, dan Tencent. Merger dengan Gojek membuat hampir seluruh saham Tokopedia dimiliki GoTo. Setelah GoTo tercatat di Bursa Efek Indonesia, kepemilikan Alibaba di grup ini tercatat 8,72 persen melalui Taobao China Holding Limited. (Yetede)