e-commerce
( 474 )Harbolnas Menjadi Penopang Kinerja E-commerce
Penurunan Daya Beli membayangi Bisnis E-dagang
Tidak semua subsektor di dalam e-dagang memiliki prospek pasar yang semakin bagus. Layanan belanja daring kebutuhan sehari-hari atau e-groceries, misalnya. Daya beli masyarakat pun sedang menurun. Hal itu mengemuka dalam laporan riset ”e-Conomy SEA 2024” yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company. Laporan riset ini bersifat tahunan. Tahun 2024 adalah tahun kesembilan laporan riset dipublikasikan. Sesuai laporan ”e-Conomy SEA 2024”, Country Director Google Indonesia Veronica Utami mengatakan, sektor e-dagang masih menjadi kontributor terbesar terhadap total ekonomi internet di Indonesia pada 2024. Total ekonomi internet sampai akhir tahun 2024 diproyeksikan 90 miliar USD, sedang nilai e-dagang mencapai 65 miliar USD.
”Situasi itu seiring dengan terus berinovasinya platform lokapasar besar yang menawarkan fitur-fitur baru, seperti video commerce, untuk meningkatkan pengalaman pengguna dalam berbelanja daring. Indonesia merupakan pasar pertumbuhan tercepat kedua terkait jumlah video yang diunggah oleh kreator dengan rata-rata peningkatan per tahun 16 % dari 2022 hingga 2024,” ujar Veronica dalam media briefing laporan ”e-Conomy SEA 2024”, Rabu (13/11) di Jakarta. Menurut Direktur Program Pusat Ekonomi Digital dan UKM Institute for Development of Economics and Finance Eisha Maghfiruha Rachbini, daya beli masyarakat sedang turun sehingga konsumsi melambat. akibatnya, ada pos pengeluaran masyarakat yang dikurangi. ”Porsi pengeluaran gaya hidup dikurangi sehingga berdampak pada belanja daring,” ujarnya. (Yoga)
Festival belanja Singles’ Day atau 11.11
Festival belanja Singles’ Day atau 11.11 menjadi periode promosi belanja daring di dunia sejak Alibaba menginisiasi peluncuran festival itu pada 11 November 2008. Principal Analyst Forrester (firma riset dan consulting berbasis di AS) Xiaofeng Wang dalam artikel di blog Forrester yang dikutip Kompas, Senin (11/11) menyebutkan tiga tren dalam Singles’ Day 2024. Tren pertama adalah promosi masih besar dan durasi promo dimulai lebih awal. Alibaba, JD.com, dan Pinduoduo mulai menyelenggarakan promosi pada 14 Oktober 2024. Alibaba memulai promosi senilai 142 juta USD, membebaskan biaya pengiriman untuk pesanan Taobao di Hong Kong, meningkatkan program keanggotaan berbayar di Taobao dan Tmall, dan mendistribusikan angpao di Taobao Live.
Sementara JD.com menyelenggarakan Super Days dengan penjualan kilat, pengiriman gratis, dan diskon eksklusif untuk anggota JD PLUS. Pinduoduo menawarkan harga yang dinamis dan diskon yang dipersonalisasi, memperluas penawaran kepada pelanggan internasional melalui layanan penjualan global lintas batasnya. Di Indonesia, Lazada menawarkan kampanye promo bertajuk ”11.11 Diskon Terbesar di Lazada” yang mencakup kupon bonus, jaminan harga terendah, dan gratis ongkos kirim ke seluruh Indonesia. Promo ini dimulai sehari sebelum Singles’ Day 2024 dimulai, yakni dari 10 November pukul 20.00 hingga berakhir pada 15 November 2024. Tren kedua adalah merek global premium terlibat dalam perang harga.
Di China, tempat awal perayaan promo Singles’ Day, Apple menawarkan diskon besar untuk produknya agar bisa bersaing dengan Huawei dan Xiaomi, mencakup kupon senilai 70 USD untuk semua model iPhone 16 dan subsidi tukar tambah hingga 154 USD sehingga total penghematan belanja menjadi 225 USD. Tren ketiga, platform lokapasar ramai-ramai memanfaatkan kecerdasan buatan generatif untuk meningkatkan kinerja penjualan pada Singles’ Day 2024. Perangkat pemasaran digital berbasis kecerdasan buatan milik Alibaba, yakni Quanzhantui, mendukung lebih dari 250.000 pedagang dan 1,3 juta produk sehingga mampu mengoptimalkan strategi penjualan dan menghasilkan peningkatan total transaksi sebesar 66 %.
Di Indonesia, penerapan kecerdasan buatan untuk meningkatkan pemasaran digital juga dilakukan sejumlah lokapasar. Lazada dengan fitur AI Lazzie, misalnya. Fitur yang didukung teknologi Alibaba ini membuat belanja daring lebih personal, interaktif, dan efisien dalam membantu pelanggan 24/7. Berdasarkan riset Kantar dan Lazada yang diumumkan Kamis (7/11), 54 % dari 1.001 responden Indonesia memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendapat rekomendasi belanja yang lebih personal, 53 % dari 1.001 responden Indonesia menilai penggunaan teknologi kecerdasan buatan di dalam lokapasar mempermudah proses belanja, dengan fitur yang paling digemari adalah robot percakapan. (Yoga)
Hartono Bersaudara di Balik Sepak Terjang Aplikasi BliBli
E-commerce Tetap Tumbuh Positif di Tengah Melemahnya Daya Beli Masyarakat
Sektor e-Commerce Tumbuh Positif
Dagang Elektronik: Pengawasan Pemerintah Diperketat
Pemerintah Indonesia memastikan untuk menghalangi masuknya platform dagang online asal China, Temu, ke Tanah Air demi melindungi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) nasional. Fiki Satari, Staf Khusus Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif, menjelaskan bahwa kehadiran Temu bisa mengancam UMKM karena platform ini memungkinkan transaksi langsung antara pabrik di China dan konsumen, tanpa melibatkan perantara seperti seller atau reseller.
Temu, yang didirikan oleh Colin Huang, mantan insinyur Google, menawarkan produk dengan harga sangat murah berkat subsidi dari platform tersebut. Fiki menekankan pentingnya kolaborasi antara Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk mencegah masuknya aplikasi ini. Sejak September 2022, Temu telah mencoba mendaftarkan merek di Indonesia, tetapi gagal karena ada perusahaan lokal dengan nama serupa.
Temu telah berhasil berekspansi ke 48 negara, termasuk Thailand dan Malaysia, dengan prestasi terbesar di AS, di mana 9% populasi berbelanja di platform tersebut dalam setahun terakhir. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga pelaku UMKM dalam negeri agar tetap berdaya saing di pasar yang semakin kompetitif.
Mencari Pasar untuk Sepatu Lokal
Pramuniaga terlihat sedang menawarkan produk sepatu lokal merek PVN melalui siaran langsung media sosial di gerainya yang berada di pusat perbelanjaan kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (3/9/2024). Sepatu yang menyasar pelajar itu dijual dengan harga Rp 99.000 hingga Rp 169.000 per pasang. Penjualan secara langsung di gerai, media sosial, hingga lokapasar menjadi upaya jenama lokal untuk mendapatkan pasar dan pembeli di dalam negeri. (Yoga)
Penurunan Penjualan E-Dagang
Pemilik usaha kecil menengah yang berjualan di platform perdagangan secara elektronik atau e-dagang mulai mengeluhkan pengurangan pesanan. Mereka menduga hal itu ada kaitannya dengan penurunan daya beli. Pemilik platform e-dagang Thenblank, UKM bidang pakaian jadi, Mutiara Kamila Athiyya, yang ditemui di sela Festival Beli Lokal di Plaza Timur Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (24/8) menceritakan, penurunan pesanan terasa tahun 2024, sampai 20 %. ”Mei 2024 sudah terasa penurunan pesanan. Lalu, Juni 2024, tim internal kami melakukan clearance stok. Selanjutnya, Juli, juga masih terasa penurunan pesanan, tapi Agustus yang masih berjalan sejauh ini mulai ada perbaikan keadaan,” ucapnya.Festival Beli Lokal diselenggarakan dalam rangka peringatan ulang tahun ke-15 Tokopedia.
Lebih dari 100 mitra UKM ikut serta dalam festival ini. Mutiara berharap penurunan pesanan disebabkan memang ada pengaruh faktor musiman tengah tahun yang biasanya konsumen banyak pengeluaran lain, seperti biaya sekolah anak. Meski demikian, di sisi lain, Thenblank juga berusaha mengencangkan konten-konten produk di Tiktok, termasuk konsisten menjalankan live shopping dan menggelar aneka promo. Mengikuti festival belanja, baik daring maupun luring, menurut dia, sangat membantu. Thenblank juga rajin berkomunikasi dengan platform lokapasar, seperti Tokopedia, untuk mengupayakan berbagai inisiatif supaya konsumen tetap tertarik berbelanja daring.
”Memang harus tetap melakukan promo,” katanya. Saat ini, porsi penjualan produk Thenblank 70 % dari saluran daring dan 30 % luring. Sesuai data BPS, dari sisi pengeluaran, ada tren perlambatan konsumsi rumah tangga. Selama tiga triwulan terakhir, konsumsi masyarakat tumbuh di bawah level 5 %. Chief Marketing Officer Kintakun (produsen seprai dan selimut) Vincent Saputra mengungkap, sekarang ada realitas sejumlah konsumen yang lebih sensitif terhadap harga barang. Di lokapasar pun kenyataan itu juga terjadi. ”Ada segmen pasar yang lebih memilih mencari harga rendah. Untuk menghadapi situasi ini, kami upayakan mencari bahan-bahan kain yang baik, tetapi harga produk jadinya lebih murah,” ucap Vincent. (Yoga)
”E-groceries” Merambah Pasar Tradisional
Pasar e-groceries ngeri-ngeri sedap. Sejumlah pemain penyedia platform tumbang. Namun, peluang pasarnya masih terbuka lebar. Mereka yang masih berikhtiar terus memperluas jaringan mitra-mitranya. Salah satunya dengan pedagang-pedagang di pasar tradisional. E-groceries adalah layanan belanja barang kebutuhan sehari-hari secara daring, meliputi pemesanan, pengiriman, sekaligus pembayarannya. Titipku, misalnya, tengah menargetkan bisa masuk ke 1.000 pasar tradisional dalam jangka waktu lima tahun. Target itu akan menyasar pasar-pasar di kota besar luar Jabodetabek, seperti Bandung, Palembang, dan Pontianak.
”Potensi pasar grocery di Indonesia itu sesuai riset BPS dan Euromonitor sekitar 150 miliar USD dan 70 % di antaranya ada di pasar tra disional,” kata CEO Titipku Henri Suhardja saat peluncuran Impact Report 2024 di Jakarta, Senin (19/8). Henri optimistis popularitas pasar tradisional sebagai tujuan berbelanja masih tinggi di kalangan masyarakat. Sejak masuk ke Jakarta pada 2020 hingga 31 Juli 2024, Titipku sudah bermitra dengan 150 pasar di Jabodetabek dengan total pedagang mencapai 10.000 pedagang. Henri mengatakan, pada awal Titipku diperkenalkan, tidak mudah bagi pedagang pasar tradisional segera percaya pada jasa yang dikembangkan Titipku.
Yaitu menghubungkan secara daring antara konsumen yang suka titip belanja di pasar tradisional dan orang-orang yang suka belanja dan mau bekerja sebagai yang membelanjakan. Sejak 2021, Titipku membukukan nilai transaksi bruto (gross transaction value/GTV) tahunan yang naik 12 kali lipat. Pendapatan tahunan naik 40 kali lipat. Perbandingan pendapatan dan GTV meningkat empat kali lipat. Henri mengklaim, pedagang pasar yang bergabung dalam ekosistem Titipku meraup kenaikan omzet 3-7 kali lipat. Dengan pencapaian ini, Henri optimistis, nasib pasar tradisional tidak akan mati. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









