e-commerce
( 474 )Kurir Memikul Beban Belanja Daring
Pesat pertumbuhan nilai bisnis daring di Indonesia salah satunya terekam dari data transaksi ritel e-dagang yang dicatat lembaga CEIC. Jika pada 2014 nilai bisnis e-dagang baru 1,9 miliar dollarAS, jumlahnya terus meningkat menjadi 7,1 miliar dollar AS pada 2017 dan 10,4 miliar dollar AS pada 2019. Di masa pandemi naik signifikan menjadi 12,3 miliar dollar AS (2020). Tren meningkatnya kebiasaan publik untuk belanja daring sudah terlihat sejak tahun lalu ketika pandemi Covid-19 melanda dan pembatasan sosial diberlakukan.
Berkaca pada hasil jajak pendapat Kompas setahun lalu (16-23 Mei 2020), ditemukan bahwa ada peningkatan pada pengeluaran uang oleh publik untuk membeli produk atau jasa setelah kebijakan pembatasan sosial diberlakukan. Peningkatan belanja daring terlihat dari responden yang mulai mencoba belanja barang elektronik atau kebutuhan sehari-hari secara daring. Sebanyak 31,5 persen responden membeli TV pintar (smartTV), laptop, dan gawai baru, serta mengeluarkan uang untuk memasang jaringan baru internet. Sebanyak 16,3 persen responden berbelanja kebutuhan sehari-hari secara daring.
Hal ini sejalan dengan laporan survei McKinsey & Company pada April 2020 berjudul ”Implication of Covid-19 for Retail and Consumer Goods in Indonesia”. Hasilnya, terdapat 36 persen responden menyatakan bakal lebih banyak menggunakan aplikasi untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Selain itu, sebanyak 40 persen responden menyatakan akan memanfaatkan e-dagang. Kebiasaan berbelanja kebutuhan sehari-hari ini rupanya terus berlanjut meskipun beberapa bulan kemarin pusat-pusat perbelanjaan dan toko fisik mulai didatangi konsumen. Survei selanjutnya pada November 2020 menyatakan, 9 dari 10 orang Indonesia telah mencoba perilaku belanja baru, yaitu lewat daring.
Ada sejumlah faktor penunjang bagi pesatnya perkembangan lokapasar (marketplace) dan jasa pengiriman di Indonesia saat ini. Keduanya ialah kemudahan mendirikan usaha di kategori perdagangan dan kinerja serta infrastruktur pengiriman logistik. Berdasarkan laporan Logistics Performance Index 2018 dari Bank Dunia, Indonesia berada di urutan ke-46 dari 160 negara. Secara lebih spesifik, Indonesia ada di peringkat ke-44 untuk kompetensi logistik dan ke-54 dalam hal infrastruktur. Sementara itu, dalam Indeks Kemudahan Berusaha 2020 yang juga dirilis Bank Dunia, Indonesia bahkan menempati peringkat ke-116 dari 190 negara untuk kategori perdagangan lintas batas.
Sayangnya, perhatian pemerintah selama ini hanya tertuju pada pengembangan perusahaan-perusahaan penyedia layanan pasar daring. Platform jasa pengiriman juga menuai apresiasi yang sama. Misalnya, laporan dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) yang menjelaskan besarnya kontribusi Gojek dan Grab pada perekonomian Indonesia. Di balik itu semua, nasib para kurir yang berada di garis depan kerap diabaikan. Misalnya soal regulasi yang mengandalkan istilah ”sistem kemitraan” perlu dievaluasi kembali karena faktanya perusahaan dapat sewaktu-waktu menurunkan tarif dan insentif secara sepihak. Padahal, para kurir ini menanggung beban citra perusahaan yang mempekerjakannya sekaligus beban kemajuan ekonomi digital. Hanya saja, nasib para kurir ini kurang diperhatikan, baik oleh pemerintah maupun perusahaan lokapasar dan jasa pengiriman tempatnya bekerja. Pangkal masalahnya, para pengemudi dan kurir daring tidak masuk dalam cakupan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan karena mereka berstatus mitra, bukan karyawan.
Lagi pula belum ada regulasi yang mengatur skema perhitungan tarif minimum bagi para kurir online. Dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 12 Tahun 2019 yang diatur hanyalah formula perhitungan biaya jasa untuk mitra pengemudi yang mengangkut penumpang, bukan barang. Begitu juga dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 1 Tahun 2012 pun menyebutkan bahwa besaran tarif dan standar layanan pos komersial tidak diatur pemerintah. Oleh karena itu, perusahaan bisa dengan leluasa mengatur kebijakan tarif bagi para kurir daring tanpa khawatir melanggar hukum,termasuk pula memberhentikan kemitraan secara sepihak dengan alasan efisiensi perusahaan.
Penjualan Online MPPA Naik Dua Kali Lipat di Masa Pandemi
JAKARTA - PT Matahari Putra Prima Tbk
(MPPA), pengelola pusat belanja ritel dan grosir
Hypermart, mencatatkan pertumbuhan penjualan
dua kali lipat melalui platform online di masa
pandemi Covid-19. Penjualan online meningkat
drastis, khususnya satu minggu terakhir ini, yakni
mencapai 8% dari total penjualan.
“Pada minggu terakhir Juni mencapai 10%. Angka tersebut meningkat
signifikan jika dibandingkan dengan
bulan sebelumnya, yakni 5% atas
penjualan online,” kata Corporate Secretary MPPA Danny Kojongian dalam
keterangan resmi, Rabu (30/6).
Danny menerangkan, Hypermart
merupakan hipermarket ritel modern
di Indonesia untuk keluarga kelas
menengah yang berkembang pesat.
Banyak pilihan produk yang ditawarkan, mulai dari groseri, produk segar,
dan barang-barang elektronik.
“Penjualan online melalui platform
Tokopedia memberikan kinerja yang
sangat baik, kami telah mencapai
lebih dari 1.600 order penjualan
dalam beberapa hari terakhir dengan
tertinggi 1.900 order penjualan dalam
satu hari,” ungkap Danny.
Untuk menggenjot penjualan di
platform online, menurut Danny, saat
ini Hypermart dalam tahap integrasi untuk melakukan penjualan online melalui platform GoMart. “Sudah
ada 30 store (toko) yang terintegrasi. Ke depan, akan ada sekitar
76 store kami yang akan terintegrasi
dengan GoMart,” tegas dia.
(Oleh - HR1)
Singapura Mau Jadi Pusat E-commerce
Singapura berkeinginan untuk menjadi pusat kegiatan (hub) e-commerce terkemuka di Asia, walau harus menghadapi tantangan-tantangan di depannya. Hal ini seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi digital.Pandemi Covid-19 telah membentuk ulang perilaku konsumen di seluruh dunia sehingga semakin banyak orang di kawasan ini yang berbelanja daring (online). Ekonomi digital Asia Tenggara pun telah mengalami pertumbuhan yang signifikan.“E-commerce di Asia Tenggara mengalami lonjakan. Namun yang membedakan di Singapura adalah kebijakan, dan inisiatifnya yang membantu menumbuhkan lingkungan bagi industri digital dan ekonomi digital untuk berkembang. Tetapi, negara kota itu juga menghadapi kekurangan keterampilan dalam hal talenta digital. Padahal itu sangat penting untuk ambisinya menjadi pemain e-commerce global,” ujar Country Director Google Singapura Ben King kepada Christine Tan dari CNBC.
Kepala ekonom OCBC Bank di Singapura, Selena Ling mengungkapkan agar Singapura dapat memanfaatkan tren ini. Ada beberapa faktor perlu disatukan untuk mendorong pertumbuhan itu.“Anda harus memiliki populasi yang cukup paham internet, penetrasi seluler yang tinggi (dan) konektivitas internet yang baik dan terjangkau. Banyak penawaran baik dari segi barang maupun jasa juga penting,” tambah Ling.Sebagai bagian dari strategi e-commerce Singapura, pemerintah berencana meluncurkan dua jaringan 5G di seluruh negara kota pada 2025. Jaringan 5G, adalah generasi berikutnya dari konektivitas internet seluler yang menjanjikan kecepatan lebih cepat.
(Oleh - HR1)Transaksi Produk Lokal di Tokopedia Naik 6 Kali Lipat
Jakarta - Kampanye Hari Bangga Buatan Indonesia (BBI) mendapatkan antusiasme sangat tinggi dari masyarakat. Kampanye yang didukung oleh 72 platform e-commerce di Indonesia tersebut pun mendongkrak transaksi produk lokal di Tokopedia hingga enam kali lipat. Kategori produk makanan dan minuman masih tetap menjadi kategori favorit masyarakat. Hal ini bisa dilihat dari peningkatan transaksi sebanyak lebih dari dua kali lipat selama kampanye belangsung dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya
Selanjutnya, transaksi pada kategori produk ibu dan bayi juga meningkat lebih dari dua kali lipat. Pada kategori ini, makanan dan susu bayi, produk perawatan bayi, serta makanan dan susu ibu hamil, menjadi produk paling diincar selama kampanye berjalan. Pada kategori kesehatan, perlengkapan kebersihan, masker dan obat-obatan, menjadi tiga produk paling dicari konsumen selama kampanye hari BBI berlangsung. Antusiasme masyarakat terhadap produk elektronik buatan lokal pun meningkat berkat kampanye Hari BBI 2021. Ada kenaikan hingga lebih dari enam kali lipat pada kategori elektronik lokal selama kampanye. Produk elektronik seperti audio, lampu, dan elektronik kantor, menjadi produk terpopuler.
(Oleh - IDS)
BEI: Proposal IPO Perusahaan e-Commerce Sudah Masuk
JAKARTA, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menerima proposal penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham dari satu perusahaan e-commerce. Perusahaan itu diyakini adalah Bukalapak. Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna menjelaskan, sudah terdapat satu e-commerce yang telah menyampaikan dokumen IPO. Namun, dia tidak bersedia menyebutkan namanya hingga OJK menyetujui penerbitan prospektus awal kepada publik sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK No IX.A.2. Adapun perusahaan e-commerce ini masuk dalam sektor teknologi. Berdasarkan pipeline, terdapat dua perusahaan dari sektor teknologi yang akan melakukan IPO saham. Secara total, BEI mencatat terdapat 21 perusahaan yang telah melakukan pendaftaran pencatatan saham yang saat ini sedang dievaluasi. Dari 21 perusahaan tersebut, sebanyak 3 perusahaan merupakan perusahaan beraset kecil, yakni di bawah Rp 50 miliar. Lalu, sebanyak 8 perusahaan merupakan perusahaan skala aset menengah dengan aset antara Rp 50-250 miliar dan 10 perusahan beraset besar atau di atas Rp 250 miliar.
Sementara itu, dalam wawancara dengan Bloomberg, Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak Rachmat Kaimuddin mengungkapkan, sebagai sebuah perusahaan yang sudah berjalan lebih dari 10 tahun, penting bagi Bukalapak untuk memilih akses terhadap permodalan. Hal ini juga termasuk untuk menjadi perusahaan terbuka, karena bisa meningkatkan transparansi usaha. Karena itu, sejauh ini perusahaan terus mempersiapkan diri untuk menjadi perusahaan terbuka. Namun, Bukalapak belum bisa membeberkan lebih lanjut mengenai rencana tersebut. Bukalapak sebelumnya sempat mengkaji rencana untuk mencatatkan sahamnya di bursa saham Amerika Serikat (AS) melalui skema special purpose acquisition company (SPAC). Aksi Bukalapak menggabungkan usaha (merger) dengan SPAC diperkirakan menghasilkan valuasi sekitar US$ 4-5 miliar.
(Oleh - HR1)Membuka Kanal Online hingga Mobil Toko
Jakarta - Tekanan bisnis selama masa pandemi Covid-19 memaksa pengusaha retail menjalankan berbagai strategi. Pemilik bisnis retail mulai menggandeng e-commerce dan berjualan dengan skema multikanal atau omnichannel. Selama beberapa tahun terakhir, pengelola department store dan jenis toko lainnya membangun toko online untuk bersaing dengan marketplace e-commerce.
Penyedia retail harus tetap memperhitungkan pengeluaran yang dipakai untuk strategi kolaborasi itu karena efisiensi masih berjalan. Selain perampingan tenaga kerja, efisiensi mencakup biaya listrik, distribusi, dan manajemen gudang. Prospek kerjasama antara e-commerce dan perusahaan retail semakin meningkat tahun ini. Pandemi menjadi momentum untuk inovasi bisnis retail agar tak gulung tikar. Sebelum Covid-19 muncul pun penjualan retail modern mulai kalah oleh bisnis e-commerce yang terus menjamur.
(Oleh - IDS)
Persaingan Keuangan Digital Semakin Ketat
Persaingan bisnis keuangan digital bakal semakin ketat setelah kelahiran GoTo, hasil merger Tokopedia dan Gojek. Maklum, keduanya merupakan raksasa digital yang memiliki ekosistem komplet, termasuk di bidang keuangan digital. GoTo diprediksikan tidak akan kesulitan merangsek layanan keuangan digital di Tanah Air.
Patrick Cao, Presiden GoTo, mengungkapkan, perusahaan hasil merger akan memanfaatkan keunggulan dari masing-masing platform. Gojek, ujar Patrick, memiliki platform transaksi dengan volume dan frekuensi yang tinggi. Sementara Tokopedia, sebagai e-commerce merupakan platform yang memiliki frekuensi medium, namun nilai transaksinya tinggi. "Grup GoTo berkontribusi lebih dari 2% terhadap total PDB Indonesia, " ujar Patrick dalam keteragan tertulisnya, kemarin. Untuk meretas jalan sebagai pemain keuangan digital terbesar di negeri ini, GoTo sudah memiliki Egopay maupun sejumlah layanan keuangan digital lainnya. Dengan berkutat di ekosistem Gojek saja, GoPay mampu menjadi pemain terbesar dalam layanan pembayaran digital. Jumlah penggunanya ditaksir 110 juta.
Pembentukan GoTo membuka peluang bagi GoPay untuk memperluas layanannya. Sebab GoPay juga akan masuk menjadi dompet digital resmi di ekosistem milik Tokopedia. Kehadiran Gojek di Tokopedia tentu mengetatkan peta persaingan bisnis pembayaran digital. Selama ini, Tokopedia menggandeng Ovo sebagai salah satu mitra dalam transaksi pembayaran.
William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. menyatakan, Ovo tetap akan menjadi salah satu dompet digital yang melayani transaksi pembayaran di e-commerce itu. Apalagi, Tokopedia saat ini juga memiliki saham minoritas di Ovo. "Namun karena minoritas, jadi tidak ikut dikonsolidasi di GoTo, " ungkap William ke KONTAN, kemarin. Sebagai pemain dompet digital, jasa Ovo juga dipakai sejumlah e-commerce lain. Dalam catatan KONTAN, layanan pembayaran digital Ovo juga ada di platform belanja daring Blibli, Bhinneka, HappyFresh, Lazada dan Zalora. Platform pembayaran Ovo juga digunakan oleh layanan transportasi online Grab, yang merupakan pesaing utama Gojek di negeri ini. Ovo juga memiliki 60.000 lebih outlet yang menggunakan layanan pembayaran mereka.
Head of Corporate Communication Ovo, Harumi Supit, menyatakan, belum ada perubahan dari sistem pembayaran perusahaannya di Tokopedia setelah GoTo terbentuk. "Ovo berkomitmen menjalankan strategi ekosistem terbuka yang mengedepankan kolaborasi, " ujar dia. Lini bisnis lain yang dikembangkan Ovo sekarang adalah Ovo Invest. "Fitur Ovo Invest sudah berhasil mendapatkan 450.000 pengguna, " ujar dia.
Membahas peta persaingan pemain keuangan digital dalam negeri tidak akan lengkap tanpa menyebut Shopee Pay. Kendati umur kiprahnya masih terbilang pendek, Shopee Pay mampu masuk ke daftar lima besar pemain keuangan digital di Indonesia. Bahkan, beberapa survei konsumen menempatkan Shopee Pay sebagai pemimpin pasar. Keberhasilan Shopee Pay untuk berlari kencang tidak terlepas dari popularitas e-commerce Shopee dan layanan antar makanan Shopee Food. Dengan dukungan Sea Group, holding investasi asal Singapura yang berlinpah uang, Grup Shopee punya stamina menjadi pemain besar di Indonesia. Tapi, sampai berita ini diturunkan, KONTAN belum mendapatkan komentar dari Shopee Pay.
Perlindungan Konsumen Masuk Aturan Baru E-Commerce
Kementrian Perdagangan (Kemendag) akan menambahkan aturan terkait perlindungan konsumen dalam perubahan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 50 Tahun 2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik (e-commerce). Tujuannya untuk menyeimbangkan perlakuan pemerintah terhadap pedagang offline dan online.
Pemerintah akan segera membuat aturan perubahan untuk memastikan konsumen e-commerce terlindungi. Di tengah pandemi Covid-19, e-commerce menjadi salah satu pendorong perekonomian nasional. Selain melindungi konsumen, pemerintah juga bekerja sama dengan platform e-commerce untuk mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berdagang secara online. Pemerintah melalui Kemendag juga masih melakukan perhitungan terhadap besaran transaksi masyarakat dalam e-commerce selama Ramadan dan Lebaran. Dalam waktu dekat, Kemendag akan bertemu dengan sekitar 72 platform e-commerce di Indonesia untuk menghitung nilai transaksi tersebut.
(Oleh - IDS)
Shopee Batasi 13 Kategori Produk Luar Negeri
Pengelola platform e-dagang, Shopee Indonesia, menyatakan komitmennya untuk membatasi masuknya 13 kategori produk luar negeri di pasar Tanah Air. Komitmen itu diharapkan membuka peluang pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah Indonesia. Terkait dengan komitmen tersebut, Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki menyampaikan apresiasinya kepada Direktur Eksekutif Shopee Indonesia Handhika Jahja, selaku perwakilan Shopee, dalam telekonferensi pers, Selasa (18/5/2021).
Ke-13 kategori produk yang dibatasi meliputi hijab, busana atasan dan bawahan muslim wanita ataupun pria, outerwear muslim, mukena, pakaian muslim anak, peralatan shalat, batik, dan kebaya. Proses identifikasi masih berjalan. Menurut Teten, potensi penyelamatan atas fenomena pedagang luar negeri mencapai sekitar Rp 300 triliun per tahun. Pembatasan akses produk impor itu diyakini membuat permintaan terhadap produk lokal semakin bergairah.
Hal itu sejalan dengan keinginan pemerintah melindungi pasar produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal di tengah persaingan yang sangat ketat dan pandemi Covid-19. Usaha menggarap pasar lokal menjadi salah satu solusi yang diharapkan mempercepat pemulihan ekonomi nasional. ”Kolaborasi ini bukan paksaan, melainkan kesepahaman untuk sama-sama memajukan dan melindungi UMKM. Langkah ini diharapkan (juga) dilakukan oleh marketplace (lokapasar) lain,” kata Teten. Menurut Teten, pemerintah mendorong pemasaran produk dalam negeri Bangga Buatan Indonesia. Gencarnya kampanye ini diharapkan menggerakkan konsumen Indonesia untuk membeli produk-produk lokal.
Terkait dengan pembatasan 13 kategori produk itu, Shopee menyatakan, produk-produk yang dibatasi berasal dari sejumlah negara. Shopee tengah memproses toko-toko yang akan dibatasi aksesnya. Shopee menyatakan telah menjalankan program yang membantu UMKM Go Ekspor. Bersama Kementerian Koperasi dan UKM serta Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Shopee menargetkan 500.000 UMKM Go Ekspor.Marwah Gojek dan Tokopedia Jangan Hilang Gara-gara Merger
JAKARTA – Langkah merger raksasa unicorn Tokopedia
dan decacorn Gojek (PT Aplikasi Karya Anak Bangsa)
diharapkan jangan sampai membuat kedua entitas
tersebut kehilangan marwah, atau kehormatan diri.
Merger itu diharapkan tidak sekadar memenuhi target
para investor penyandang dana, tapi harus mampu
memberikan dampak lebih besar ke ekonomi dan sosial.
Founder & CEO Digital Enterprise Indonesia Bari Arijono menyatakan bahwa
mega-merger Gojek dan Tokopedia dan
langkah IPO dapat dipandang dari tiga sisi,
atau aspek. Pertama, merger dan IPO ini
akan sangat menguntungkan investor penyandang dana. IPO yang akan melibatkan
special purpose acquisition company (SPAC)
asing untuk bisa menembus bursa Wall
Street ini merupakan kepentingan investor.
“Hal itu dikhawatirkan kurang memberikan manfaat bagi ekonomi digital di Indonesia dan kurang memberikan dampaknya
ke masyarakat. Strategi meraih dana global
dengan menggandeng SPAC ini biasanya
sukses dijalankan di Amerika Serikat,
Hong Kong, Jepang, dan Tiongkok,” kata
Bari kepada Investor Daily, Minggu (9/5).
Aspek kedua, merger bukan dalam
rangka meningkatkan skala ekonomi
perusahaan. Ketiga, merger cenderung
menghilangkan kesempatan bagi milenial untuk berinovasi. Visi-misi awal yang
diusung Gojek dan Tokopedia bisa jadi
kehilangan arah dan marwahnya, karena
disetir oleh investor.
Dukungan Pemerintah
Sementara itu, Bari Arijono juga mempersoalkan sejumlah target pemerintah,
misalnya munculnya 150 start-up baru yang
berkualitas dan berdaya saing hingga 2024.
Menurut dia, diperlukan setidaknya tidak
syarat untuk mewujudkan target tersebut.
Pertama, pemerintah harus mendukung
dari sisi regulasi dan aspek finansial. Ini
yang banyak dilakukan oleh negara lain.
Kedua, tercipta perusahaan digital sebanyak mingkin. Ketiga, tercipta inovasi baru
yang mengubah cara hidup masyarakat.
“Kalau tiga syarat itu tidak terpenuhi,
akan sulit menciptakan lebih banyak
anak muda yang memiliki inovasi. Gojek
yang merupakan kreasi dan brand anak
bangsa mestinya diberikan support finansial oleh pemerintah,” kata Bari.
(Oleh - HR1)
Pilihan Editor
-
Instruksi Pusat Untuk Rencana Penambangan
21 Feb 2022 -
Separuh Investor Tak Wajib Bayar Bea Meterai
22 Feb 2022 -
Menakar Prospek Usaha Sang Sultan Andara
22 Feb 2022









