;
Tags

Ekonomi Makro

( 699 )

Segala Upaya untuk Genjot Pertumbuhan

KT3 22 Mar 2024 Kompas

Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka yang baru saja resmi diumumkan sebagai presiden dan wakil presiden terpilih versi hasil hitung riil saat ini dihadapkan pada satu pertanyaan penting: bagaimana cara mendanai janji-janji kampanye mereka yang ambisius saat pemilu, mengerek pertumbuhan ekonomi hingga 6-7 %, di atas tren pertumbuhan satu dekade terakhir yang stagnan di 5 %. Saat berpidato di Mandiri Investment Forum, 5 Maret 2024, Prabowo bahkan optimistis ekonomi masih bisa dikerek hingga tumbuh 8 % dalam 4-5 tahun ke depan.

Ketua Dewan Pakar PAN Dradjad Wibowo mengatakan, ”Sejumlah cara akan ditempuh untuk menggenjot pertumbuhan. Jadi, gas-nya yang akan dikencangkan, sesuai lagu (saat kampanye) saja. Gas pol, oke gas, oke gas,” kata Dradjad saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/3). Secara umum, ujarnya, Prabowo-Gibran akan melanjutkan kebijakan ekonomi pemerintahan Jokowi. Namun, arah kebijakan itu tidak sepenuhnya sama. Meski demikian, ia menjamin, tingkat rasio utang dan defisit fiskal negara akan tetap dijaga di batas aman. Apalagi, Indonesia sedang dalam proses aksesi menjadi anggota”Klub Negara Maju” atau Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD).

Dalam proses aksesi itu, defisit fiskal Indonesia dipantau ketat agar tetap di batas aman sebagai syarat menjadi anggota. Menurut dia, alih-alih menambah utang, Prabowo akan menggenjot penerimaan pajak lewat berbagai cara, dari membenahi sistem, menutup celah kebocoran pajak, hingga memajaki aktivitas ekonomi ilegal atau ekonomi bawah ta nah. Salah satunya dengan membentuk Badan Penerimaan Negara (BPN) yang terpisah dari Kemenkeu. Kalau penerimaan pajak kuat, pemerintah tidak perlu berutang untuk membiayai kebijakannya. Upaya mendongkrak penerimaan pajak itu diupayakan tidak membebani masyarakat. (Yoga) 

RISIKO ANOMALI EKONOMI RAMADAN

HR1 14 Mar 2024 Bisnis Indonesia (H)

Geliat konsumsi pada Ramadan tahun ini diprediksi penuh dengan tantangan. Bulan yang biasanya diiringi dengan melonjaknya permintaan, kali ini dibayangi oleh perubahan pola konsumsi. Bukannya tanpa alasan konsumen menunda belanja pada periode krusial ini. Besarnya pengeluaran untuk belanja pokok dan antisipasi membengkaknya pengeluaran pada mudik Lebaran sedikit mengerem konsumsi Ramadan. Ada dua faktor yang menjadi pemberat konsumsi masyarakat pada bulan ini. Pertama, mahalnya harga beras yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Bahkan, pemerintah baru-baru ini menaikkan harga eceran tertinggi (HET) beras premium dari Rp13.900—Rp14.800 per kilogram (kg) menjadi Rp14.900—Rp15.800 per kg berdasarkan zonasi. Kedua, naiknya tarif sejumlah ruas jalan tol yakni Jalan Tol Jakarta—Cikampek (Japek), Jalan Tol Serpong—Cinere, Jalan Tol Jombang—Mojokerto, hingga Jalan Tol Surabaya—Gresik. Tentu keduanya akan memberatkan masyarakat sehingga konsumsi pada bulan ini diestimasi tertahan. Terlebih, sebelum memasuki Ramadan ada aksi menahan pengeluaran dari konsumen. Hal itu tecermin dalam Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) yang mencatat proporsi pengeluaran konsumsi terhadap pendapatan turun dari 74,6% pada Januari 2024 menjadi 73% pada Februari 2024. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat, tecermin dari IKK Februari 2024 yang berada pada level 123,1. "IKE juga tetap terjaga didukung oleh optimisme pada semua komponen pembentuknya," katanya, Rabu (13/3). Pemerintah pun menyiapkan berbagai cara untuk menjaga stabilitas harga pada bulan puasa sehingga konsumsi yang menjadi mesin utama produk domestik bruto (PDB) mampu tumbuh maksimal. Persoalannya, terjadi ketidaksinkronan aksi dalam mengelola infl asi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah (Pemda). 

Mengacu pada data Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), per kemarin ada 250 daerah yang belum melakukan operasi pasar sebagai upaya untuk menjaga stabilitas harga. Irjen Kemendagri Tomsi Tohir, dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Infl asi kemarin mengatakan ada banyak daerah yang tidak melaksanakan operasi pasar meski memiliki stok beras melimpah. Optimisme senada juga disampaikan Kementerian Perindustrian, yang juga berkomitmen untuk melakukan berbagai upaya bersama pemerintah terkait dalam rangka menjaga daya beli masyarakat. Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian Merrijantji Punguan Pintaria, mengatakan momentum Ramadan cukup potensial untuk mendongkrak kinerja industri. Sementara itu, kalangan pelaku usaha menyadari adanya perubahan pola konsumsi karena besarnya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pangan dan antisipasi membengkaknya biaya mudik. Ketua Umum Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo, mengatakan pengusaha akan mengerahkan sejumlah strategi seperti meningkatkan keterjangkauan produk, produksi minuman rendah kalori, hingga menjamin ketersediaan pasokan. Pelaku usaha pun memandang urgensi untuk menguatkan proteksi konsumsi sangat tinggi. Sebab menurutnya, tahun ini merupakan waktu yang tepat bagi industri minuman ringan untuk reboundpasca Covid-19 yang menurunkan penjualan hingga 40%—50%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan pemerintah harus mulai mendesain kebijakan untuk membantu kelas menengah yang selama ini belum tersentuh bantuan sosial. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, menambahkan tantangan ekonomi yang masih muncul dari harga pangan yang masih tinggi akibat El-Nino. "Ini tentu cukup signifi kan dampaknya terhadap daya beli masyarakat," katanya.

Perputaran Uang Tertahan Gejolak Harga Pangan

HR1 29 Feb 2024 Kontan
Momentum bulan puasa dan Lebaran diperkirakan mengerek perputaran uang di dalam negeri. Namun, pertumbuhannya bisa jadi melandai lantaran dipengaruhi sejumlah kondisi terkini di tingkat nasional dan global, mulai dari ketidakpastian pasar hingga eskalasi harga sejumlah bahan pangan. Salah satu indikasi perputaran uang tecermin dari kenaikan jumlah uang tunai yang disiapkan Bank Indonesia (BI). Untuk momentum Ramadan dan Idulfitri 2024, bank sentral menyiapkan uang tunai senilai Rp 197,6 triliun, tumbuh 4,55% periode Ramadan dan Idulfitri 2023 yang sekitar Rp 189 triliun. Meski demikian, pertumbuhan itu melambat ketimbang tahun lalu yang sebesar 4,88% year on year (yoy). 

Deputi Gubernur BI Doni P. Joewono belum lama ini mengatakan, melambatnya pertumbuhan uang tunai Ramadan dan Idulfitri tahun ini seiring akseptasi digital yang juga meningkat di masyarakat. Selain semakin banyaknya transaksi digital, Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita melihat, ada potensi perputaran uang periode puasa dan Lebaran tahun ini melandai lantaran harga sejumlah kebutuhan pokok masih meroket. Namun, dia tak bisa memproyeksikan besaran perputaran uang itu. Namun, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menghitung, potensi kenaikan perputaran uang selama bulan puasa tahun ini bisa mencapai dua digit. Meski di tengah meningkatkan akseptasi digital yang mendorong transaksi cashless, David melihat penarikan uang tunai tetap akan meningkat pada periode tersebut. Menurut dia, apapun jenis uangnya, yang terpenting adalah uang tersebut berputar atau digunakan untuk berbagai transaksi ekonomi. 

Jika perputaran uang makin kencang, maka jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) juga bakal meningkat. Muaranya, kenaikan pertumbuhan ekonomi. Sebagai gambaran, uang beredar pada Ramadan tahun lalu yang jatuh pada bulan Maret, tercatat sebesar Rp 8.293,6 triliun. Jumlah ini tumbuh 6,2% yoy. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertepatan dengan adanya dua momentum tersebut tepatnya pada kuartal II-2023, tercatat sebesar 5,17% yoy, melanjutkan historis selama ini bahwa Ramadan dan Idulfitri mengerek pertumbuhan ekonomi ke level puncaknya di sepanjang tahun berjalan.

Uji Daya Tahan Lawan Resesi Global

HR1 20 Feb 2024 Kontan

Selain efek pemilihan umum (Pemilu) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024, investor juga perlu mencermati ketidakpastian ekonomi global. Apalagi usai Jepang dan Inggris tumbang ke jurang resesi. Pasar juga dihadapkan pada bayang-bayang perlambatan ekonomi dua negara adikuasa, Amerika Serikat (AS) dan China. Founder & CEO Finvesol Consulting, Fendi Susiyanto memandang, resesi dan perlambatan ekonomi di sejumlah negara maju sudah diprediksi cukup lama. Fendi optimistis, ketahanan ekonomi Indonesia masih bisa meredam dampak situasi tersebut. Meski kontribusi ekspor terpangkas, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa stabil di 5% dengan dorongan konsumsi dalam negeri. Begitu pula terhadap pasar modal Indonesia, Fendi meyakini daya tariknya masih memikat investor asing. "Justru flow of fund kalau terjadi resesi global, masuk ke Indonesia. Yield of return Indonesia masih sangat atraktif dari kacamata investor asing," kata Fendi, Senin (19/2). CEO Pinnacle Persada Investama, Guntur Putra menimpali, banyak faktor yang mempengaruhi prospek bursa saham Indonesia. Jika resesi dan perlambatan ekonomi global berkepanjangan, apalagi di mitra dagang Indonesia, membawa sentimen negatif. Emiten berorientasi ekspor yang rentan terdampak antara lain di sektor industri dan komoditas seperti manufaktur, tambang dan energi. Komoditas energi seperti batubara dan minyak mentah bisa tertekan.

Sedangkan komoditas pertanian seperti kelapa sawit berpeluang stabil. Emiten non-tambang yang mengandalkan ekspor kayu, makanan dan barang konsumsi lain bisa turut terimbas penurunan permintaan. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas menyarankan tetap waspada terhadap saham-saham komoditas tambang dan energi. Terutama yang berfundamental lemah dan eksposur tingggi terhadap volatilitas harga komoditas. Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari menambahkan, umumnya karakteristik bisnis emiten di Indonesia cenderung di pasar domestik. Sehingga, penting menilik lebih dalam mengenai ketahanan daya beli di dalam negeri. Di sisi yang lain, Rizki memandang resesi global bisa meningkatkan probabilitas bank sentral memangkas tingkat suku bunga. Hal ini dapat membawa katalis positif terhadap emiten yang sensitif terhadap penurunan tingkat suku bunga seperti properti, teknologi, perbankan, menara telekomunikasi, dan jalan tol. Investment Consultant Reliance SekuritasIndonesia, Reza Priyambada sepakat dengan dibayangi potensi resesi, bank sentral dapat menurunkan suku bunga. Dengan sentimen resesi dan perlambatan ekonomi global, Reza menyarankan mewaspadai atauwait and see saham tambang energi dan mineral seperti INDY, ITMG, ADRO dan BRMS.

Ekonomi Masih Dibayangi Ketidakpastian Politik

KT3 17 Feb 2024 Kompas

Kendati pemilihan umum sudah berakhir, iklim investasi sepanjang semester I tahun 2024 ini diperkirakan masih lesu. Investor masih bersikap wait and see, menunggu hasil akhir penghi-tungan suara serta adanya potensi sanggahan hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi. Ekonomi global yang masih tak tentu ikut pula menambah ketidakpastian. Berdasarkan hasil hitung cepat Litbang Kompas per Jumat (16/2) pukul 13.08, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka unggul dengan perolehan suara 58,45 %, disusul Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar di 25,23 % dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD sebesar 16,32 %. Data sampel yang masuk sudah 99,7 %. Sementara, berdasarkan hasil hitung akhir (real count) oleh KPU, per Jumat pukul 14.00 WIB, Prabowo-Gibran memperoleh suara 57 %, Anies-Muhaimin 24,98 %, dan Ganjar-Mahfud 18,03 %.

Data sampel yang masuk sudah 54,91 % dari total 823.236 tempat pemungutan suara (TPS). Meski demikian, ketidakpastian masih menyelimuti seusai ditemukannya kesalahan penghitungan suara di sejumlah TPS. Ada perbedaan jumlah suara antara formulir C Hasil Plano dan angka yang terbaca di Sistem Informasi Rekapitulasi (Sirekap). Menyusul temuan itu, legitimasi pemilu mulai dipertanyakan. Dua kandidat pasangan calon lain pun berencana menggugat hasil pemilu ke MK dan Bawaslu. Melihat situasi politik terkini yang belum stabil itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, arus investasi riil pada awal tahun 2024 kemungkinan besar belum akan kembali pulih seperti semula, khususnya dari investor asing.

”Investor asing masih akan wait and see sesuai dengan karakteristik mereka yang cenderung sangat melihat regulasi. Mereka akan memilih melihat hasil resmi, yakni hasil real count KPU, dan apakah ada sanggahan terhadap hasil pemilu di MK,” kata Josua saat dihubungi di Jakarta, Jumat. Stabilitas politik di dalam negeri dinilai belum cukup aman untuk menarik investor sepanjang semester I-2024. Hal itu akan berdampak pada arah pertumbuhan ekonomi di awal tahun ini mengingat investasi adalah motor utama pertumbuhan ekonomi RI setelah konsumsi rumah tangga. (Yoga) 

Airlangga Hartarto: Pemilu Tingkatkan Konsumsi masyarakat

KT1 15 Feb 2024 Investor Daily (H)
Menteri Koordintaor Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa pelaksanaan Pemilu 2024 memperkuat konsumsi, sehingga meningkatkan pengeluaran masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi. "Tingkat konsumsi kita kuat dan Alhamdulillah dengan pemilu pengeluaran masyarakat jadi meningkat," ujar Airlangga. Selain itu, Arilangga mengatakan bahwa stabilitas politik yang baik dapat menjaga stabilitas ekonomi. Menurut dia, pelaksanaan pemilu yang rutin merupakan tanda politik di negara tersebut berada dalam situasi yang stabil. "Justru stabilitas ekonomi terjadi karena adanya pemilu, jadi stabilitas politik mempengaruhi stabilitas ekonomi dan stabilitas politik  diterjemahkan dengan adanya pemilu yang rutin setiap lima tahun, jadi situasi di indonesia salah satu yang predictable karena setiap lima tahun ada pemilu," ujar dia. (yetede)

Efek Pemilu, Konsumen Masih Mengerem Belanja

HR1 14 Feb 2024 Kontan
Denyut perekonomian nasional belum berdetak kencang di tahun politik. Sejumlah indikator, seperti indeks keyakinan konsumen dan indeks ekspektasi konsumen menunjukkan kenaikan tipis pada Januari 2024. Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) menunjukkan, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Januari 2024 sebesar 125,0, naik tipis dari posisi Desember 2023 di level 123,8. Keyakinan konsumen tersebut didorong oleh menguatnya Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Demikian pula dengan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja dan Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (enam bulan mendatang), yang juga meningkat. Hanya saja, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, data terbaru yang dirilis BI masih menyisakan sejumlah catatan. Dia berpendapat, meski konsumen cukup optimistis dengan kondisi perekonomian saat ini, jika dilihat berdasarkan proporsi pengeluaran responden, maka terjadi peningkatan proporsi konsumsi dan tabungan. Adapun porsi cicilan pinjaman cenderung menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Dengan kata lain, sekalipun keyakinan konsumen meningkat, hanya kategori konsumen dengan pengeluaran kurang dari Rp 2 juta yang mengalami peningkatan keyakinan. Oleh karena itu, menurut Josua, dalam jangka pendek ini pemerintah perlu menjaga stabilitas harga pangan, karena tren harga pangan terutama beras di pasar domestik cenderung meningkat, di sisi lain stok beras nasional menipis. Dalam setahun terakhir, harga rata-rata beras premium dan medium sudah menanjak masing-masing di atas 15%. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyebutkan perekonomian saat ini masih ditopang konsumsi domestik. Salah satunya adanya momentum belanja Pemilu 2024. "Peningkatan kepercayaan konsumen lebih dipengaruhi aktivitas ekonomi yang cukup tinggi menjelang pemilu dan libur," ujar dia.

Indonesia Melaksanakan Pesta Demokrasi!

HR1 14 Feb 2024 Kontan (H)
Indonesia pada hari ini (14/2) menggelar hajatan besar nan strategis: Pemilihan Umum (Pemilu) 2024. Lebih dari 204 juta penduduk tercatat dalam daftar pemilih tetap (DPT) yang tersebar di 38 provinsi di Indonesia, termasuk pemilih di luar negeri. Pasangan calon presiden - calon wakil presiden (capres - cawapres) nomor urut 1 Anis Baswedan - Muhaimin Iskandar; pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka; serta pasangan nomor urut 3 Ganjar Pranowo - Mahfud MD akan berlaga menuju kursi kepemimpinan nasional selama lima tahun ke depan. Selain pemilihan presiden (pilpres), masyarakat juga akan menggunakan hak pilihnya untuk menentukan wakilnya yang kelak duduk di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Dewan Perwakilan Daerah (DPD), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi serta Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten/Kota. Masyarakat berharap Pemilu 2024 berlangsung jujur, adil dan transparan. Dengan begitu, hasil pemilu bisa diterima semua pihak dan menghasilkan kepemimpinan Indonesia dengan legitimasi kuat. Selamat memilih!

Isu Global Berimbas ke Bahan Baku

HR1 14 Feb 2024 Kontan
Laju saham di sektor barang baku (basic materials) masih tertinggal. Indeks barang baku, Selasa (13/2), minus 2,01%. Ini menjadikan indeks sektoral dengan penurunan paling dalam. Research Analyst Phintraco Sekuritas, Ade Muchlis Ilyasa memandang laju saham di sektor barang baku masih kena adang sejumlah kendala, terutama eksternal. Ade menyoroti ketidakstabilan geopolitik akibat konflik di Ukraina ditambah Timur Tengah. Prospek terhadap kinerja bisnis emiten dan sentimen pada pergerakan sahamnya juga akan terpengaruh oleh kondisi ekonomi global. Dus, aktivitas ekonomi di negara maju yang memerlukan pasokan barang baku turut menjadi penentu. Dalam hal ini, Ade melihat perlambatan ekonomi China menjadi salah satu pemberat bagi sektor barang baku. Apalagi China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Investment Consultant Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menimpali, kinerja emiten dan pergerakan saham di sektor barang baku akan dipengaruhi oleh perkembangan industri utama. Dia mencontohkan ketika industri properti melonjak, akan mengangkat kinerja sektor barang baku seperti baja,  semen dan kayu. Sementara itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menyoroti program hilirisasi tambang yang juga menjadi katalis krusial bagi sektor barang baku. Terutama untuk nikel, dimana pemerintah telah menggenjot hilirisasi pada komoditas ini. Menurut Nico, masih perlu kebijakan lebih lanjut untuk mendorong akselerasi program hilirisasi. Termasuk pada komoditas lainnya, seperti peningkatan nilai tambah batubara. "Masih ada sektor lain yang akan lebih ciamik. Untuk memilih, perhatikan durasi investasi serta profil risiko yang dimiliki," saran Nico. Reza juga menyarankan untuk tetap fokus mencermati kondisi fundamental dan likuiditas sejumlah  saham di sektor barang baku. Sementara ini Reza melihat saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) dan PT Barito Pacific Tbk (BRPT) layak mendapat perhatian.

Menyelamatkan Industri Padat Karya

HR1 06 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2023 sebesar 5,05%. Pertumbuhan ekonomi secara komulatif itu melambat bila dibandingkan dengan realisasi 2022 sebesar 5,31%. Secara target, realisasi pertumbuhan ekonomi pada 2023 meleset. Pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memproyeksikan ekonomi tumbuh sebesar 5,3%. Pencapaian ini menambah deret panjang proyeksi pertumbuhan ekonomi yang meleset. Dalam 5 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi yang digadang-dagang Presiden Joko Widodo belum pernah mencapai target. Apalagi mimpi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 7%, seperti yang dijanjikan Jokowi saat kampanye pemilihan presiden. Padahal kurva belanja dan utang pemerintah terus melaju dalam setiap tahunnya. Dalam 9 tahun terakhir, apabila dirata-rata pertumbuhan ekonomi era Jokowi hanya di kisaran 4,5%—5%. Hal itu kontras bila dibandingkan dengan era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mencapai 5,5% hingga 6%. Era SBY pernah mencatatkan pertumbuhan ekonomi 6,9% pada 2007. Struktur ekonomi Indonesia pun kian menjauh dari sektor padat karya. Sektor konsumsi masih menjadi penopang pertumbuhan karena adanya doping dari bantuan sosial (bansos) jelang pilpres.

 Adapun realisasi konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama ekonomi Indonesia tercatat melambat pada 2023 menjadi 4,82%, dari 2022 sebesar 4,94%. Pelambatan ini terjadi karena konsumsi masyarakat kelas menengah. Angka itu tecermin dari sejumlah indikator, seperti realisasi pajak penjualan bawang mewah melambat, jumlah penumpang angkutan udara turun, dan penjualan mobil penumpang tidak sebesar 2022. Kabar kurang baik dari sisi produksi. Kinerja industri pengolahan nonmigas tercatat mengalami penyusutan secara kumulatif, tumbuh 4,69% pada 2023, melambat dari realisasi tahun sebelumnya 5,01%. Pertumbuhan industri pengolahan nonmigas ditopang oleh sektor logam dasar yang naik 14,17%, barang galian bukan logam tumbuh 14,11%. Disusul industri barang logam; komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik tumbuh 13,67%, industri alat angkutan yang tumbuh 7,63% dan industri pengolahan tembakau 4,8%. Menurut harian ini, sektor industri padat karya perlu diperhatikan pemerintah, karena tren kinerja yang terus merosot. Hal itu membuat pemutusan hubungan kerja (PHK) makin meningkat pada sektor tekstil, industri sepatu, dan lainnya.