Ekonomi Internasional
( 642 )Vaksinasi Topang Ekspor
Prospek kinerja ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada perkembangan vaksinasi di negara mitra dagang utama. Selain ekspor ke China dan Amerika Serikat yang perekonomiannya membaik seiring penanganan Covid-19 dan vaksinasi yang cepat, Indonesia bisa mendapat momentum dari kondisi India yang tengah bergumul dengan penanganan pandemi.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam kunjungannya ke Kompas, Rabu (28/4/2021), menyatakan, perkembangan penanganan Covid-19 dan laju vaksinasi di negara-negara mitra dagang utama akan menentukan kinerja perdagangan dan prospek ekonomi RI ke depan.
Terkait hal itu, China dan Amerika Serikat (AS) terbilang cepat di antara 10 negara utama tujuan ekspor Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang diolah Kementerian Perdagangan, per 24 April 2021, China sudah memvaksin 28 persen populasinya, sementara AS telah memvaksin 50 persen populasinya.
Menurut Lutfi, pada Mei 2021, AS bahkan diprediksi sudah bisa menuntaskan vaksinasinya hingga 100 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto AS diprediksi mencapai 5,1 persen pada 2021. Adapun nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2020 mencapai 18,62 miliar dollar AS. Sementara ekonomi China diproyeksikan tumbuh 8,4 persen tahun ini. Nilai ekspor Indonesia ke China tahun 2020 mencapai 31,78 miliar dollar AS.
Akan tetapi, lepas dari kondisi China dan AS, Indonesia patut mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 di India. Kementerian Perdagangan mencatat, meski Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan India, ada pelemahan ekspor ke India pada dua bulan pertama tahun 2021. Surplus RI dengan India tercatat turun dari 1,4 miliar dollar AS pada Januari-Februari 2020 menjadi 790 juta dollar AS pada Januari dan Februari 2021.
Lutfi menambahkan, ada beberapa produk unggulan yang akan diandalkan untuk ekspor tahun ini. Pertama, besi dan baja yang pangsa pasar terbesarnya adalah China (69 persen), minyak kelapa sawit dengan pangsa pasar terbesar China (17 persen) dan India (15 persen), serta perhiasan dengan pangsa pasar terbesarnya Singapura (36 persen).
Produk unggulan lainnya adalah produk otomotif dan suku cadangnya dengan pangsa pasar terbesar Filipina (24 persen) serta produk elektronik dengan pangsa pasar terbesar AS (20 persen) dan Singapura (17 persen). Periode super siklus atau kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan yang saat ini terjadi ikut menguntungkan RI.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economy Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, meski ekspor ke India dapat terganggu, prospek ekspor ke AS dan China masih jauh lebih besar. ”Jadi, terlepas dari kondisi India saat ini, potensi ekspor RI setahun ini masih tinggi karena negara-negara lain permintaannya masih tinggi,” ujarnya.
IMF akan Revisi Target Ekonomi Global
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dana Moneter Internasional (IMF) melihat telah muncul tanda-tanda pemulihan ekonomi global yang lebih kuat. Namun, di saat yang sama, lembaga ini mengingatkan bahwa risiko ekonomi juga masih besar, termasuk munculnya mutasi virus Covid-19.
Dengan adanya tanda-tanda tersebut, IMF akan memperbaharui perkiraan pertumbuhan global pada awal April mendatang, dari perkiraan terakhir di Januari lalu sebesar 5,5%.
Meski begitu, prospek pemulihan ekonomi di banyak negara dan banyak sektor berbeda. Seberapa cepatnya akan sangat bergantung terhadap progres vaksinasi. Bila program vaksinasi tidak secepat itu dan bahkan terbukti tidak mempan untuk menahan laju virus juga mutasi virus ini, maka dunia perlu mengubah vaksin saat ini.
(Oleh - HR1)
Bitcoin, Mata Uang DIgital yang Mengancam Bank Sentral
Mata uang digital Bitcoin (BTC) yang diciptakan oleh individu / komunitas yang menamakan diri Satoshi Nakamoto' pada tahun 2009.
Berdasarkan paper berjudul “Bitcoin A Peer-to-Peer Electeonic Caah System” yang ditulis Satoshi Nakamoto, Ia merupakan versi peer-to-peer dari uang elektronik yang memungkinkan pembayaran online dilakukan secara langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui institusi keuangan.
Secara teknis, Bitcoin memanfaatkan Blockchain. Blockchain mendesentrallsasikan basis data ke seluruh jaringan yang tergabung dengannya. Data yang disebarkan, telah terlebih dahulu dienkripsi. Ketika data baru ditambah, seluruh komputer yang terlibat dalam jaringan berkewajiban memverifikasi data. Secera sederhana Blockchain adalah antitesa dari model database Clien-Server.
Bitcoin melawan praktik dominasi institusi keuangan konvensional, berikut perusahaan pihak ketiganya, atas transaksi online. Institusi keuangan yang jadi penengah tersebut dianggap Nakamoto meningkatkan biaya transaksi yang harus ditanggung oleh nasabah.
Kembali ke Level Pra-Pandemi pada 2021
Laporan OECD menunjukkan bahwa produksi dunia pada tahun ini
mengalami penurunan 4,2% karena terdampak aturan karantina (lockdown)
yang diterapkan selama berbulan-bulan. Aturan tersebut memperlambat
penyebaran virus corona, tetapi telah
menganggu perekonomian global.
OECD memprediksi ekonomi dunia
pulih dengan tingkat pertumbuhan
4,2% pada 2021.
Dia mengatakan bahwa dukungan
akan membuahkan hasil yang baik
dalam beberapa bulan mendatang.
Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya negara
dengan kekuatan ekonomi terbesar
kedua di dunia yang lolos dari kontraksi tahun ini Negeri Tirai Bambu itu
membukukan pertumbuhan ekonomi
sebesar 1,8% dan diperkirakan melonjak 8,0% pada 2021. Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akan berkontraksi sebesar 3,7% dan hanya tumbuh
3,2% pada 2021.
Sementara itu, zona euro akan mengurangi kerugiannya setelah sempat
kontraksi 7,5% pada 2020 dan diprediksi tumbuh 3,6% pada 2021.
Jepang diperkirakan mengalami hal
yang sama yakni kontraksi 5,3% pada
2020, kemudian diikuti dengan kenaikan 2,3% pada 2021.
OECD pun mendesak pemerintah
untuk memfokuskan upaya-upayanya
pada barang dan jasa penting, seperti
pendidikan, kesehatan, infrastruktur
fisik dan digital sebagai dasar untuk
pertumbuhan. Mereka juga menyerukan tindakan tegas untuk membalikkan peningkatan kemiskinan dan
ketidaksetaraan pendapatan dan kembali ke kerja sama internasional
RCEP Perketat Persaingan
Indonesia bersama 14 negara menandatangani perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP. Negara yang turut menandatangani RCEP terdiri dari 10 negara anggota ASEAN, Selandia Baru, China, Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Pakta yang setebal 14.367 halaman ini diteken di akhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP ke-4, rangkaian KTT ASEAN ke-37 di Hanoi, Vietnam, Minggu (15/11/2020).
Ruang lingkup RCEP itu mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi, kerja sama ekonomi dan teknis, kekayaan intelektual, persaingan, penyelesaian sengketa, e-dagang, serta usaha kecil dan menengah (UKM).
Publikasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) “World Trade Statistical Review 2020”, China, Korea Selatan, dan Vietnam tergolong dalam 10 negara eksportir tekstil terbesar dunia sepanjang 2019 dengan porsi secara berturut-tutut sebesar 39,2 persen, 3 persen, dan 2,9 persen. Sebaliknya, Indonesia tergolong dalam 10 negara importir tekstil tertinggi dunia dengan porsi 2,1 persen.
Laporan yang sama menyebutkan, negara-negara anggota RCEP yang masuk dalam 10 eksportir produk otomotif dunia terbesar sepanjang 2019 adalah Jepang, Korea Selatan, China, dan Thailand. Secara berturut-turut, porsi masing-masing negara itu sebesar 13,7 persen, 5 persen, 2,6 persen, dan 1,7 persen. Di sektor jasa telekomunikasi, China dan Singapura masuk dalam daftar 10 negara eksportir teratas dunia. Pada 2018, porsi ekspor setiap negara itu sebesar 3 persen dan 2,2 persen.
Oleh sebab itu, Indonesia akan memasang strategi ofensif, baik di dalam maupun luar negeri. Indonesia mesti unggul di pasar domestik yang kini turut menjadi pasar internasional. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, sebelum diimplementasikan, RCEP mesti diratifikasi. Selama 90 hari ke depan, Kemendag akan mempersiapkan proses ratifikasi.
Kerja Sama Ekonomi RI-Korsel Makin Erat dan Kuat
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) menyepakati
untuk menjaga serta meningkatkan kerja sama ekonomi dan bisnis. Ini dilakukan
karena kedua negara menyadari bahwa kolaborasi
adalah strategi kunci untuk bersama-sama mengatasi dampak ekonomi akibat
pandemi Covid-19. Bahlil menyampaikan di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini,
upaya percepatan dalam menjaga dan menarik investor justru semakin diperlukan.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong investasi strategis dan berkualitas
masuk ke Indonesia.
Keduanya juga membahas perbaikan iklim usaha untuk perusahaan-perusahaan Korsel yang berinvestasi di Indonesia, seperti di Industri baja, kimia, mobil, dan tekstil. Jika merujuk pada peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EoDB) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, saat ini Indonesia berada di peringkat 73 Dari 11 Indikator yang menjadi kajian dalam EoDB.
Indonesia dan Korea Selatan telah membuat Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) pada November tahun lalu dan saat ini sedang menunggu tindak lanjut Implementasinya. Melalui CEPA ini, diharapkan hubungan Indonesia dan Korea Selatan dapat terus terjalin dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi kedua negara.
Ekonomi China Terus Bertumbuh
Data Biro Statistik Nasional (NBS) China yang dirilis pada Senin (19/10/2020) menunjukkan, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 4,9 persen pada periode Juli-September, dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya. Angka itu lebih lambat dari perkiraan 5,2 persen oleh analis dalam jajak pendapat Reuters. Namun, capaian itu lebih tinggi dari pertumbuhan 3,2 persen di triwulan II-2020. Sepanjang sembilan bulan ini ekonomi China tumbuh 0,7 persen.
Pada periode tiga bulan pertama tahun ini, ekonomi China mengalami kontraksi atau pertumbuhan negatif sebesar 6,8 persen. Kondisi pada triwulan I-2020 itu adalah yang terburuk bagi China, setidaknya sejak pertengahan era 1960-an.
Penjualan ritel dilaporkan tumbuh 3,3 persen pada September dari capaian tahun sebelumnya. Pertumbuhan ritel di China pada September adalah yang tercepat sejak Desember tahun lalu, sekaligus melanjutkan pertumbuhan 0,5 persen dari Agustus lalu. Adapun output industri yang tum-buh 6,9 persen setelah mencatat kenaikan 5,6 persen pada Agustus menunjukkan pemulihan aktivitas manufaktur China meraih momentumnya.
Investasi aset tetap China naik 0,8 persen dalam sembilan bulan pertama dari tahun sebelumnya. Data itu menunjukkan sektor itu kembali ke pertumbuhan untuk pertama kalinya tahun ini dilihat dari waktu tahun berjalan. Pertumbuhan juga terdata di sektor properti dengan kenaikan 12 persen secara tahunan.
Pemerintah China memang telah meluncurkan serangkaian langkah termasuk lebih banyak pengeluaran fiskal, keringanan pajak, dan pemotongan suku bunga pinjaman. Beijing juga mengatur ulang persyaratan cadangan bank untuk menghidupkan kembali ekonomi yang dilanda pandemi dan juga guna mendukung lapangan kerja.
Ekspor bersih menyumbang 0,6 poin persentase ke ekspansi PDB China, Juli-September 2020. Pada basis antar-triwulanan, PDB China naik 2,7 persen pada triwulan terakhir. Pada triwulan kedua tahun ini PDB China naik 11,5 persen daripada triwulan sebelumnya.
Data NBS menunjukkan rincian PDB bahwa konsumsi akhir menyumbang pertumbuhan 1,7 poin persentase terhadap PDB. Adapun pembentukan modal menyumbang 2,6 poin persentase dan ekspor bersih menyumbang 0,6 poin persentase.
“Satu-satunya hal terpenting bagi ekonomi China dalam beberapa bulan mendatang adalah apakah konsumsi jasa dapat mengatasi ketertinggalannya,” kata Larry Hu, kepala ekonomi China di lembaga Macquarie Capital di Hong Kong.
Mengapa Unicorn Minim di Jepang?
Jepang tertinggal jauh dari Amerika Serikat dan China dalam “memproduksi” unicorn. Merujuk pada daftar terbaru yang disusun platform analitik asal AS, CB Insights, dan dikutip pada Selasa (13/10/2020), dari 100 unicorn hanya ada empat perusahaan rintisan asal Jepang yang nilai kapitalisasinya lebih dari 1 miliar dollar AS. Total terdapat 490 perusahaan unicorn di dunia saat ini dengan total valuasi mencapai 1.550 miliar dollar AS.
Di barisan lima terbesar unicorn, dua terbesar adalah perusahaan asal China dan menyusul tiga di bawahnya asal AS. Perusahaan rintisan Jepang yang masuk dalam daftar itu adalah Preferred Networks dengan kapitalisasi pasar 2 miliar dollar AS, lalu SmartNews (1,2 miliar dollar AS), dan dua lainnya adalah Liquid dan Playco dengan valuasi masing-masing 1 miliar dollar AS.
Untuk perbandingan, ada lima perusahaan Indonesia masuk daftar itu, yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, Ovo, dan Bukalapak. Nilai valuasi unicorn-unicorn Indonesia juga di atas unicorn Jepang. Valuasi masing-masing dari lima unicorn asal Indonesia berada dalam rentang 2,5-10 miliar dollar AS.
Nilai pasar modal ventura Jepang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan AS dan China. Sejumlah penelitian menunjukkan, besaran pasar modal ventura AS mencapai 137 miliar dollar AS. Adapun nilai pasar modal ventura China adalah 52 miliar dollar AS.
Kurangnya modal swasta untuk ekspansi dapat memaksa perusahaan baru Jepang untuk go public lebih cepat daripada perusahaan-perusahaan sejenis di negara lain. “Namun, jika go public (dengan ukuran) terlalu kecil, Anda tidak akan pernah bisa tumbuh,” kata Isayama.
Standar perusahaan tercatat juga menjadi sorotan. “ Di Jepang, standar pencatatan sangat rendah. Jadi, ada banyak perusahaan kecil dan banyak dari mereka puas dengan kondisi itu,” kata Takeshi Aida, pendiri dan CEO RevComm, perusahaan rintisan AI yang berbasis di Tokyo dan berharap dapat segera diluncurkan di Asia Tenggara.
Para pelaku industri juga merujuk pada faktor budaya di Negeri Sakura. Sistem pendidikan Jepang dinilai masih dirancang untuk menghasilkan calon pekerjaan yang stabil di perusahaan besar. “Dibutuhkan banyak nyali untuk mematahkan kebiasaan dalam masyarakat yang terkenal akan konformitasnya,” kata Isayama.
Jalan Tengah Redam Pandemi
Kepala ekonom Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) Laurence Boone menyatakan bahwa dunia sedang menghadapi perlambatan ekonomi paling dramatis sejak Perang Dunia II. Dalam prospek ekonomi terbaru, OECD memperkirakan ekonomi dunia akan terkontraksi sebesar 4,5 persen pada tahun ini.
Joe Hassel, peneliti pada Our World in Data, memetakan penurunan PDB di 38 negara pada kuartal kedua (April-Juni) 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, kemudian menyandingkannya dengan angka kematian akibat Covid-19.
Penurunan PDB di beberapa negara memang sangat ekstrem, seperti di Spanyol, Inggris, dan Tunisia yang mengalami penurunan PDB minimal 20 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Bahkan, penurunan yang dialami Peru mencapai 30 persen.
Sementara di negara lain, seperti Taiwan, Finlandia, Lituania, dan Korea Selatan, dampak ekonomi pandemi terasa lebih ringan. Di Taiwan, penurunan PDB tahunan pada kuartal kedua 2020 kurang dari 1 persen. Penurunan PDB di Finlandia, Lituania, dan Korea Selatan sekitar 5 persen.
OECD menggarisbawahi bahwa kesuksesan ekonomi berjalan seiring dengan keberhasilan negara-negara dalam meredam pandemi. Korea Selatan sejauh ini dapat dijadikan acuan. Saat Amerika Serikat (AS) masih berjuang menangani pandemi dan pelambatan ekonomi, Korsel tampaknya telah menemukan resep untuk berhasil di kedua sisi itu.
Ketika kluster baru penularan Covid-19 bermunculan di metropolitan Seoul dan mencapai puncaknya 27 Agustus dengan 441 kasus sehari, otoritas Korsel kembali menerapkan pembatasan sosial yang ketat. Hasilnya, laju infeksi kembali turun hingga di bawah 130 kasus sehari.
Setelah relatif terkendali, kebijakan pembatasan kembali dilonggarkan sampai akhir September ini saat libur hari raya Chuseok. Saat itulah pembatasan ketat akan diterapkan lagi. Strategi ”gas-rem” Korsel ini sejalan dengan studi pemodelan matematika oleh ilmuwan Harvard University yang dipublikasikan pada jurnal Science, 14 April 2020.
Hasil riset itu menyatakan, pembatasan sosial yang hanya dilakukan sekali tak akan mampu menghambat penyebaran Covid-19. Pembatasan sosial perlu dilakukan berulang atau selang-seling dengan didukung oleh tes yang luas, terapi yang efektif, dan kapasitas layanan kesehatan yang baik.
Pada 13 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pernah memperingatkan negara-negara bahwa melonggarkan kebijakan pembatasan sosial, karantina wilayah, penutupan wilayah, atau apa pun namanya tidak bisa dilakukan sekaligus. Setiap negara harus tetap waspada akan munculnya lonjakan kasus dan menerapkan protokol kesehatan di semua aspek.
Bayang-Bayang Perubahan
Dinamika di dalam negeri Jepang akan berimbas pada dinamika kawasan ataupun internasional. Dengan aras dampak setinggi itu, kini mata dunia tertuju pada pemilihan ketua umum Partai Demokrasi Liberal (LDP). Shinzo Abe, Ketua Umum LDP sejak 2012, mendadak mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Bagi Indonesia, yang menempatkan Jepang di peringkat ketiga, baik dalam daftar tujuan ekspor maupun asal investasi, dinamika politik Jepang juga bisa berdampak.
Kepala Jurusan Ilmu Hubungan Internasional pada Universitas Jenderal Soedirman Agus Haryanto mengatakan, Jepang cenderung menunjukkan kebijakan yang stabil. Sebab, meski PM kerap mudah berganti, Jepang dikuasai LDP selama puluhan tahun. ”Kebijakan umumnya cenderung sama, seperti dalam isu China, Semenanjung Korea, termasuk pada Asia Tenggara dan Indonesia. Pemegang kendalinya masih tetap LDP,” ujarnya.
Bahkan, peluang kesamaan semakin besar jika Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga terpilih menjadi pengganti Abe. Sebab, Suga secara terbuka menyatakan akan meneruskan kebijakan-kebijakan Abe. ”Pasar juga percaya kepada Suga. Selama bertahun-tahun, dia menjadi tangan kanan Abe sehingga sangat paham dengan kebijakan Abe,” kata Agus
Masalahnya, Indonesia pernah memberi kesan kurang menyenangkan kepada Suga. Ia marah dan kecewa kala Indonesia memutuskan menggandeng China dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Pilihan Editor
-
China : Cuci Uang dengan Kripto
21 Jun 2021 -
Kapal Tangkap Ikan Indonesia Ditertibkan
17 Jun 2021 -
Biaya Tarik Tunai ATM Link Dibatalkan
17 Jun 2021 -
Setoran Dividen BUMN Bisa Rp 35 Triliun
16 Jun 2021









