Ekonomi Internasional
( 635 )Transformasi Ekonomi Kunci Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Resmi gandeng Taiheiyo Cement, Semen Indonesia Masuk Pasar AS
Setelah resmi menjalin kemitraan strategis dengan Taiheiyo Cement Corporation (TCC) asal Jepang, PT Semen Tbk, (SMGR) berpeluang besar mengekspor sebanyak 500 ribu ton semen per tahun ke pasar Amerika Serikat (AS). Direktur Strategis Bisnis&Pengembangan Usaha Semen Indonesia Fadjar Judisiawan mengatakan, setelah meraih peluang besar semen ke pasar AS, perseruan juga akan menggarap peluang ekspor ke pasar lainnya. Bahkan pada Agustus ini, perseroan juga sudah mulai masuk ke pasar Philipina.
“Untuk pasar AS kemungkinan bisa berkembang menjadi 1 juta ton per tahun. Filipina mulai Agustus sampai akhir tahun bisa 200 ribu ton. Pasar lain seperti di Afrika juga lagi kami jajaki dengan Taibeiyo Cement, begitu juga dengan Australia untuk pasar semen dan klinker,” Kata dia (4/8)
Direktur Utama Semen Indonesia Hendi Prio Santoso menyatakan, kerja sama ini merupakan tonggak bersejarah bagi Semen Indonesia Group yang mampu menjalin kerja sama strategis dengan perusahaan berkualitas dunia. “Pemerintah dalam hal ini sangat mendukung bahkan mendorong penciptaan peluang-peluang investasi lainnya, dan kerja sama yang saling menguntungkan untuk mengembangkan untuk meningkatkan standar, kualitas, daya saing sektor, industri. Agar sanggup menjawab tantangan persiangan usaha, berkontribusi pada pembangaunan negara, serta menjadi bagian dari solusi permasalahn global,” papar Menteri BUMN Erick Thohir secara terpisah. (YTD)
Ekonomi China Membaik
Perekonomian China membaik di tengah pandemi Covid-19. Hal ini ditandai dengan meningkatnya ekspor dan impor walau belum drastis.Meskipun demikian, para pakar ekonomi di dalam dan di luar negeri tetap mewanti-wanti agar Pemerintah China jangan berpuas diri. Situasi masih belum menentu. Kasus penularan masih tinggi di banyak negara.
Pengumuman tentang perkembangan ekonomi itu disampaikan juru bicara Bea dan Cukai Pemerintah China, Li Kuiwen, Selasa (13/7/2021), melalui berbagai media utama negara tersebut. Ia mengatakan, faktor semakin masifnya proses imunisasi Covid-19 secara global membuat banyak negara mulai melonggarkan pembatasan sosial. Ini berpengaruh positif pada perdagangan China.
Ekspor China pada Juni 2021 naik 32,2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu menjadi 281,4 miliar dollar AS. Ini lebih tinggi dari kenaikan ekspor sebesar 28 persen pada Mei 2021 dibandingkan dengan Mei 2020. Impor juga tumbuh 36,7 persen pada Juni 2021 menjadi 229,9 miliar dollar AS meskipun turun dibandingkan dengan kenaikan 51 persen pada Mei 2021 dari Mei 2020. Namun, hal ini tetap dipandang positif. Impor minyak pada semester pertama 2021 turun 3 persen dari periode serupa 2020. Ini penurunan semesteran pertama sejak 2013. Namun, impor gas alam, bijih besi, dan kedelai naik.
Virus Covid-19 pertama kali muncul di China pada akhir 2019. Pembatasan ketat mampu menurunkan penularan dan virus bisa dikendalikan. Langkah itu membuat China menjadi satu-satunya negara dengan perekonomian besar yang bisa berkembang sepanjang 2020. Selama pandemi, mitra dagang terbesar China adalah negara-negara anggota ASEAN. Secara kumulatif, jumlah ekspor dan impor China-ASEAN relatif seimbang dibandingkan dengan negara ataupun kawasan lain. Ekspor China ke ASEAN naik 33,1 persen pada semester pertama 2021 dibandingkan dengan periode serupa tahun lalu. Impor China dari ASEAN juga naik 33,69 persen. Uni Eropa merupakan mitra dagang terbesar kedua China. Ekspor China ke UE naik 27,2 persen dan impornya naik 34,1 persen. Peringkat ketiga sebagai mitra dagang terbesar China diduduki Amerika Serikat. Hubungan dagang kedua negara memang lebih kompleks karena Presiden AS periode 2017-2021, Donald Trump, menerapkan tarif yang tinggi terhadap produk-produk impor dari China. Secara keseluruhan, China mencatatkan surplus perdagangan sebesar 51,53 miliar dollar AS pada Juni 2021.Tekanan Ekonomi dari Dua Sisi
Perekonomian Indonesia semester II tahun 2021 menghadapi ujian yang tidak ringan. Optimisme yang terbangun sejak dimulainya program vaksinasi pertengahan Januari lalu dihadapkan pada pemburukan kasus Covid-19 sepanjang Juni ini. Selain kabar dari The Fed, bank sentral Amerika Serikat, pertengahan Juni lalu, turut memberi alarm Indonesia harus bersiap dengan dampak AS menaikkan suku bunga acuannya lebih cepat.
Tekanan bagi pemulihan ekonomi datang dari dua sisi, dalam dan luar negeri. Pemulihan ekonomi Indonesia dari pukulan pandemi Covid-19 sudah mulai tampak sejak kuartal I-2021. Tren pemulihan ekonomi terus berlanjut meski pertumbuhan masih minus. Setelah mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi yang dalam pada kuartal II-2020, yaitu -5,32 persen, kuartal selanjutnya pertumbuhan bergerak menjadi -3,49 persen. Pada kuartal terakhir 2020, pertumbuhan naik lagi menjadi -2,19 persen. Pertumbuhan ekonomi secara tahunan pada 2020 hanya minus 2,07 persen.
Pemulihan kembali diindikasikan oleh pertumbuhan ekonomi yang tercatat -0,74 persen pada kuartal I-2021. Dengan tren seperti itu, pemerintah optimistis akan mencapai pertumbuhan 5 persen pada 2021. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto bahkan menyebutkan pertumbuhan 6,9-7,8 persen bisa tercapai pada triwulan II-2021.
Meski demikian, skenario pemerintah harus dievaluasi seiring dengan pemburukan kasus Covid-19. Penambahan kasus baru Covid-19 secara harian di Indonesia menunjukkan tren naik sejak awal Juni 2021. Tren kenaikan ini bertolak belakang dengan kondisi global yang mulai melandai. Rekor tertinggi penambahan kasus Covid-19 harian di Indonesia terjadi pada 27 Juni 2021 yang mencapai 21.342 kasus. Sementara itu, program vaksinasi hingga 28 Juni 2021 baru mencapai 27,7 juta orang yang menerima dosis pertama dan 13,2 juta orang yang sudah divaksin lengkap. Artinya, penduduk yang sudah divaksin lengkap masih kurang dari 10 persen dari target 181,5 juta penduduk. Masih jauh untuk mencapai kekebalan komunal.
Saat menghadapi situasi lonjakan kasus Covid-19, alarm peringatan datang dari Amerika Serikat. Dalam pertemuan Komite Pasar Terbuka The Fed (Federal Open Market Committee) pada 15-16 Juni lalu, The Fed mengisyaratkan kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2023 untuk mengetatkan kebijakan moneternya. Kenaikan itu bisa terjadi sebanyak dua kali. Padahal, sebelumnya di bulan Maret The Fed menyatakan tidak akan menaikkan suku bunga sampai tahun 2024. Namun, ekonom M Chatib Basri sudah mengingatkan bahwa kebijakan tersebut terbuka untuk ditinjau kembali jika pemulihan ekonomi AS menyebabkan konsumsi naik. Konsumsi yang tinggi akan meningkatkan inflasi.
Rencana kenaikan suku bunga tersebut mempertimbangkan pemulihan ekonomi AS yang terjadi lebih cepat setelah berhasil menahan laju penyebaran virus korona baru dengan vaksinasi. Pertumbuhan ekonomi AS kuartal I-2021 tercatat 6,4 persen. Terkait vaksinasi, sampai dengan 24 Juni 2021, data dari Centers for Desease Control and Prevention menyebutkan bahwa di AS sudah didistribusikan sebanyak 379,2 juta dosis vaksin dan 84 persen di antaranya sudah digunakan. Sekurangnya 178.331.677 orang atau 54 persen dari total penduduk AS telah mendapatkan vaksin dosis pertama. Secara keseluruhan, ada 151.252.034 orang atau 48 persen dari total penduduk yang telah mendapatkan vaksin dosis lengkap.
Agar perekonomian pulih secepatnya sesuai target, prioritas upaya harus ditujukan untuk mempercepat vaksinasi bagi masyarakat. Menargetkan vaksinasi 1 juta dosis per hari merupakan langkah tepat untuk mencapai kekebalan komunal. Sebagai langkah percepatan untuk mewujudkan vaksinasi 1 juta dosis per hari, pemerintah menyediakan pos atau tempat pelayanan vaksinasi bekerja sama dengan berbagai pihak, yaitu TNI; Polri; organisasi kemasyarakatan; unit pelaksana teknis vertikal Kementerian Kesehatan, yaitu kantor kesehatan pelabuhan; RS vertikal, poltekkes, dan dunia usaha.Vaksinasi Topang Ekspor
Prospek kinerja ekspor Indonesia akan sangat bergantung pada perkembangan vaksinasi di negara mitra dagang utama. Selain ekspor ke China dan Amerika Serikat yang perekonomiannya membaik seiring penanganan Covid-19 dan vaksinasi yang cepat, Indonesia bisa mendapat momentum dari kondisi India yang tengah bergumul dengan penanganan pandemi.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi dalam kunjungannya ke Kompas, Rabu (28/4/2021), menyatakan, perkembangan penanganan Covid-19 dan laju vaksinasi di negara-negara mitra dagang utama akan menentukan kinerja perdagangan dan prospek ekonomi RI ke depan.
Terkait hal itu, China dan Amerika Serikat (AS) terbilang cepat di antara 10 negara utama tujuan ekspor Indonesia. Berdasarkan data Bloomberg dan Dana Moneter Internasional (IMF) yang diolah Kementerian Perdagangan, per 24 April 2021, China sudah memvaksin 28 persen populasinya, sementara AS telah memvaksin 50 persen populasinya.
Menurut Lutfi, pada Mei 2021, AS bahkan diprediksi sudah bisa menuntaskan vaksinasinya hingga 100 persen. Pertumbuhan produk domestik bruto AS diprediksi mencapai 5,1 persen pada 2021. Adapun nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2020 mencapai 18,62 miliar dollar AS. Sementara ekonomi China diproyeksikan tumbuh 8,4 persen tahun ini. Nilai ekspor Indonesia ke China tahun 2020 mencapai 31,78 miliar dollar AS.
Akan tetapi, lepas dari kondisi China dan AS, Indonesia patut mewaspadai lonjakan kasus Covid-19 di India. Kementerian Perdagangan mencatat, meski Indonesia masih mengalami surplus perdagangan dengan India, ada pelemahan ekspor ke India pada dua bulan pertama tahun 2021. Surplus RI dengan India tercatat turun dari 1,4 miliar dollar AS pada Januari-Februari 2020 menjadi 790 juta dollar AS pada Januari dan Februari 2021.
Lutfi menambahkan, ada beberapa produk unggulan yang akan diandalkan untuk ekspor tahun ini. Pertama, besi dan baja yang pangsa pasar terbesarnya adalah China (69 persen), minyak kelapa sawit dengan pangsa pasar terbesar China (17 persen) dan India (15 persen), serta perhiasan dengan pangsa pasar terbesarnya Singapura (36 persen).
Produk unggulan lainnya adalah produk otomotif dan suku cadangnya dengan pangsa pasar terbesar Filipina (24 persen) serta produk elektronik dengan pangsa pasar terbesar AS (20 persen) dan Singapura (17 persen). Periode super siklus atau kenaikan harga sejumlah komoditas unggulan yang saat ini terjadi ikut menguntungkan RI.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economy Indonesia Mohammad Faisal berpendapat, meski ekspor ke India dapat terganggu, prospek ekspor ke AS dan China masih jauh lebih besar. ”Jadi, terlepas dari kondisi India saat ini, potensi ekspor RI setahun ini masih tinggi karena negara-negara lain permintaannya masih tinggi,” ujarnya.
IMF akan Revisi Target Ekonomi Global
KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Dana Moneter Internasional (IMF) melihat telah muncul tanda-tanda pemulihan ekonomi global yang lebih kuat. Namun, di saat yang sama, lembaga ini mengingatkan bahwa risiko ekonomi juga masih besar, termasuk munculnya mutasi virus Covid-19.
Dengan adanya tanda-tanda tersebut, IMF akan memperbaharui perkiraan pertumbuhan global pada awal April mendatang, dari perkiraan terakhir di Januari lalu sebesar 5,5%.
Meski begitu, prospek pemulihan ekonomi di banyak negara dan banyak sektor berbeda. Seberapa cepatnya akan sangat bergantung terhadap progres vaksinasi. Bila program vaksinasi tidak secepat itu dan bahkan terbukti tidak mempan untuk menahan laju virus juga mutasi virus ini, maka dunia perlu mengubah vaksin saat ini.
(Oleh - HR1)
Bitcoin, Mata Uang DIgital yang Mengancam Bank Sentral
Mata uang digital Bitcoin (BTC) yang diciptakan oleh individu / komunitas yang menamakan diri Satoshi Nakamoto' pada tahun 2009.
Berdasarkan paper berjudul “Bitcoin A Peer-to-Peer Electeonic Caah System” yang ditulis Satoshi Nakamoto, Ia merupakan versi peer-to-peer dari uang elektronik yang memungkinkan pembayaran online dilakukan secara langsung dari satu pihak ke pihak lain tanpa melalui institusi keuangan.
Secara teknis, Bitcoin memanfaatkan Blockchain. Blockchain mendesentrallsasikan basis data ke seluruh jaringan yang tergabung dengannya. Data yang disebarkan, telah terlebih dahulu dienkripsi. Ketika data baru ditambah, seluruh komputer yang terlibat dalam jaringan berkewajiban memverifikasi data. Secera sederhana Blockchain adalah antitesa dari model database Clien-Server.
Bitcoin melawan praktik dominasi institusi keuangan konvensional, berikut perusahaan pihak ketiganya, atas transaksi online. Institusi keuangan yang jadi penengah tersebut dianggap Nakamoto meningkatkan biaya transaksi yang harus ditanggung oleh nasabah.
Kembali ke Level Pra-Pandemi pada 2021
Laporan OECD menunjukkan bahwa produksi dunia pada tahun ini
mengalami penurunan 4,2% karena terdampak aturan karantina (lockdown)
yang diterapkan selama berbulan-bulan. Aturan tersebut memperlambat
penyebaran virus corona, tetapi telah
menganggu perekonomian global.
OECD memprediksi ekonomi dunia
pulih dengan tingkat pertumbuhan
4,2% pada 2021.
Dia mengatakan bahwa dukungan
akan membuahkan hasil yang baik
dalam beberapa bulan mendatang.
Tiongkok kemungkinan menjadi satu-satunya negara
dengan kekuatan ekonomi terbesar
kedua di dunia yang lolos dari kontraksi tahun ini Negeri Tirai Bambu itu
membukukan pertumbuhan ekonomi
sebesar 1,8% dan diperkirakan melonjak 8,0% pada 2021. Di sisi lain, ekonomi Amerika Serikat (AS) pada tahun ini akan berkontraksi sebesar 3,7% dan hanya tumbuh
3,2% pada 2021.
Sementara itu, zona euro akan mengurangi kerugiannya setelah sempat
kontraksi 7,5% pada 2020 dan diprediksi tumbuh 3,6% pada 2021.
Jepang diperkirakan mengalami hal
yang sama yakni kontraksi 5,3% pada
2020, kemudian diikuti dengan kenaikan 2,3% pada 2021.
OECD pun mendesak pemerintah
untuk memfokuskan upaya-upayanya
pada barang dan jasa penting, seperti
pendidikan, kesehatan, infrastruktur
fisik dan digital sebagai dasar untuk
pertumbuhan. Mereka juga menyerukan tindakan tegas untuk membalikkan peningkatan kemiskinan dan
ketidaksetaraan pendapatan dan kembali ke kerja sama internasional
RCEP Perketat Persaingan
Indonesia bersama 14 negara menandatangani perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau RCEP. Negara yang turut menandatangani RCEP terdiri dari 10 negara anggota ASEAN, Selandia Baru, China, Korea Selatan, Jepang, dan Australia. Pakta yang setebal 14.367 halaman ini diteken di akhir Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) RCEP ke-4, rangkaian KTT ASEAN ke-37 di Hanoi, Vietnam, Minggu (15/11/2020).
Ruang lingkup RCEP itu mencakup perdagangan barang dan jasa, investasi, kerja sama ekonomi dan teknis, kekayaan intelektual, persaingan, penyelesaian sengketa, e-dagang, serta usaha kecil dan menengah (UKM).
Publikasi Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) “World Trade Statistical Review 2020”, China, Korea Selatan, dan Vietnam tergolong dalam 10 negara eksportir tekstil terbesar dunia sepanjang 2019 dengan porsi secara berturut-tutut sebesar 39,2 persen, 3 persen, dan 2,9 persen. Sebaliknya, Indonesia tergolong dalam 10 negara importir tekstil tertinggi dunia dengan porsi 2,1 persen.
Laporan yang sama menyebutkan, negara-negara anggota RCEP yang masuk dalam 10 eksportir produk otomotif dunia terbesar sepanjang 2019 adalah Jepang, Korea Selatan, China, dan Thailand. Secara berturut-turut, porsi masing-masing negara itu sebesar 13,7 persen, 5 persen, 2,6 persen, dan 1,7 persen. Di sektor jasa telekomunikasi, China dan Singapura masuk dalam daftar 10 negara eksportir teratas dunia. Pada 2018, porsi ekspor setiap negara itu sebesar 3 persen dan 2,2 persen.
Oleh sebab itu, Indonesia akan memasang strategi ofensif, baik di dalam maupun luar negeri. Indonesia mesti unggul di pasar domestik yang kini turut menjadi pasar internasional. Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan, sebelum diimplementasikan, RCEP mesti diratifikasi. Selama 90 hari ke depan, Kemendag akan mempersiapkan proses ratifikasi.
Kerja Sama Ekonomi RI-Korsel Makin Erat dan Kuat
Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) menyepakati
untuk menjaga serta meningkatkan kerja sama ekonomi dan bisnis. Ini dilakukan
karena kedua negara menyadari bahwa kolaborasi
adalah strategi kunci untuk bersama-sama mengatasi dampak ekonomi akibat
pandemi Covid-19. Bahlil menyampaikan di tengah kondisi pandemi Covid-19 ini,
upaya percepatan dalam menjaga dan menarik investor justru semakin diperlukan.
Pemerintah Indonesia juga terus mendorong investasi strategis dan berkualitas
masuk ke Indonesia.
Keduanya juga membahas perbaikan iklim usaha untuk perusahaan-perusahaan Korsel yang berinvestasi di Indonesia, seperti di Industri baja, kimia, mobil, dan tekstil. Jika merujuk pada peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EoDB) yang dikeluarkan oleh Bank Dunia, saat ini Indonesia berada di peringkat 73 Dari 11 Indikator yang menjadi kajian dalam EoDB.
Indonesia dan Korea Selatan telah membuat Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) pada November tahun lalu dan saat ini sedang menunggu tindak lanjut Implementasinya. Melalui CEPA ini, diharapkan hubungan Indonesia dan Korea Selatan dapat terus terjalin dan memberikan dampak ekonomi yang positif bagi kedua negara.
Pilihan Editor
-
Industri Sepeda, Penjualan Mulai Melambat
08 Jun 2021









