;
Tags

Digital Ekonomi umum

( 1150 )

Mastel dan iDEA akan Kawal Pengesahan UU Data Pribadi

Ayutyas 22 Jun 2021 Investor Daily, 22 Juni 2021

JAKARTA - Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) dan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) berkolaborasi dalam penguatan ekosistem ekonomi digital di Indonesia dengan melindungi data pribadi konsumen. Salah satunya dilakukan dengan mengawal pengesahan Rancangan UndangUndang tentang Pelindungan Data Pribadi (RUU PDP) menjadi UU. Kedua asosiasi tersebut sepakat bahwa pengawalan bersama proses pembahasan RUU PDP hingga pengesahan menjadi UU sebagai instrumen legislasi yang fundamental dalam perdagangan secara elektronik berbasis platform loka pasar (market place) sebagai pilar pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia. Ketua Umum Mastel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, kompetisi global telah menjadikan isu pelindungan data pribadi (data protection) sebagai standar yang absolut dan perlu disikapi dengan lebih bijak oleh pelaku usaha di Tanah Air. “Karena itu, Mastel dan idEA berkolaborasi untuk mengidentifikasi permasalahan sekaligus mencari solusi yang aplikatif dalam pelindungan data pribadi di Indonesia,” ungkap Sarwoto, dalam pernyataannya, dikutip Senin (21/6). 

Mengutip Laporan Ernst & Young tahun 2020, Sarwoto menyampaikan bahwa pasar perdagangan secara elektronik (e-commerce) dunia telah tumbuh lebih dari 100% setahunnya selama lima tahun terakhir. Sementara itu, Indonesia bersama India, Meksiko, dan Tiongkok, menjadi negara dengan pertumbuhan tercepat di dunia. Ketua Umum idEA Bima Laga menambahkan, interaksi masyarakat melalui e-commerce pada faktanya telah menjadi salah satu fasilitator dan dinamisator hidup (living enabler) sektor telematika di Tanah Air. “Karena itu, pelindungan terhadap data pribadi konsumen, merchant, sekaligus penyelenggara loka pasar melalui kebijakan swaregulasi perlu diperkuat dan ditingkatkan menjadi legislasi melalui UU PDP,” tutur Bima.

(Oleh - HR1)

Menantikan Bank Digital

Ayutyas 07 Jun 2021 Investor Daily, 7 Juni 2021

Gelombang digitalisasi yang melanda di hampir semua negara saat ini telah memberikan pengaruh dan dampak yang luar biasa terhadap proses bisnis, mekanisme kerja, dan perilaku manusia. Ketergantungan proses bisnis dan mekanisme terhadap teknologi digital bukan lagi sekadar tren ataupun gengsi semata-mata, melainkan sudah menjadi kebutuhan untuk meningkatkan efisiensi maupun daya saing. Demikian halnya dengan perilaku digital manusia yang sudah bertransformasi menjadi suatu kebiasaan baru, yang menginginkan semua aktivitas yang menjadi pendukung kegiatan manusia dapat dilakukan dengan cepat, mudah diakses dan berbiaya murah. Oleh karena itu, hampir semua sektor pendukung kehidupan manusia berlomba- lomba melakukan transformasi digital untuk merespons perubahan perilaku manusia tersebut. Industri jasa keuangan sangat berkepentingan sekali dengan kehadiran teknologi digital dan menjadi salah satu sektor terdepan dalam melakukan transformasi digital.

Pertama, transaksi keuangan membutuhkan kecepatan serta keakuratan yang tinggi, dan teknologi digital mampu menyediakan teknologi yang dibutuhkan oleh industri keuangan tersebut. Kedua, kompetisi di industri jasa keuangan sangat ketat sehingga para pemainnya berlomba-lomba memberikan produk dan layanan yang terbaik untuk konsumen. Upaya tersebut salah satunya di lakukan dengan melakukan adopsi teknologi digital dalam proses bisnis mereka. Di sini bank juga dituntut untuk melek digital agar mereka tidak ditinggalkan oleh nasabahnya. Ketiga, semakin bertambahnya pengguna internet menyebabkan demand terhadap transaksi keuangan berbasis digital yang semakin besar. Pandemi Covid-19 menjadi momentum masyarakat untuk beralih ke teknologi digital, sehingga ketergantungan terhadap teknologi digital menjadi tidak terbendung lagi.

(Oleh - HR1)

Bank Digital Buru Dana

Ayutyas 04 Jun 2021 Bisnis Indonesia

Di tengah euforia transformasi menuju bank digital, sejumlah bank papan menengah kecil masih berjuang dalam mencukupi kebutuhan dana pihak ketiga. Padahal, kondisi likuiditas perbankan saat ini sangat melimpah. Keadaan tersebut membuat terjadinya segmentasi penempatan dana masyarakat di sektor perbankan. Hal ini terlihat bahwa selama pandemi, nasabah memilih untuk meletakkan uangnya di bank-bank skala besar. Akibatnya, bank skala menengah kecil kini beradu strategi untuk menggaet dari dana masyarakat itu.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Januari-Maret 2021, simpanan dana masyarakat atau dana pihak ketiga (DPK) terkonsentrasi di kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 4 dengan nilai mencapai Rp4.065,2 triliun. Sementara itu, simpanan di bank BUKU 3 senilai Rp1.736,29 triliun. Dana masyarakat di bank BUKU 2 hanya Rp683,88 triliun. Adapun, tingkat rata-rata bunga produk simpanan deposito pada Maret 2021 di kelompok bank BUKU 2, dengan rentang 12 bulan, mencapai 6,15% di atas rata-rata bunga deposito di bank BUKU 3 dan BUKU 4, untuk jangka sama yang masing-masing 5,42% dan 4,61%. Salah satu strategi mereka adalah menawarkan tingkat suku bunga simpanan yang relatif tinggi untuk menarik minat calon nasabah dan memberikan sejumlah program cashback kepada nasabahnya. Dengan program ini, bank digital juga berharap akan ada nasabah di bank-bank papan atas yang memindahkan dananya, meski tak mudah.

Sekretaris Perusahaan Bank MNC Internasional Heru Sulistiadhi mengklaim layanan digital yang dikembangkan perseroan via aplikasi Motion menjadi andalan mendulang DPK. Dia menyatakan nasabah bisa mendapat promo seperti cashback yang berlipat dari program simpanan yang ditawarkan. “Sinergi dengan Motion Pay yang juga di-rebranding merupakan tonggak awal upaya mengonversi user base MNC Group yang berjumlah ratusan juta,” katanya, Kamis (3/6). Executive Chairman MNC Group Hary Tanoesoedibjo menyebutkan MNC Group memiliki user base yang sangat besar termasuk di antaranya lebih dari 9 juta pelanggan TV berbayar yang telah terdaftar. Jumlah itu diklaim terus tumbuh 3 juta—4 juta pelanggan baru setiap tahun.

(Oleh - HR1)

Tiongkok Uji Coba Penggunaan Yuan Digital

Ayutyas 03 Jun 2021 Investor Daily, 3 Juni 2021

GUANGZHOU, Pemerintah Tiongkok akan membagikan mata uang digitalnya sebanyak 40 juta renminbi atau yuan (US$ 6,2 juta) kepada warga di Beijing melalui sebuah undian. Langkah ini merupakan bagian dari kegiatan uji coba penggunaan yuan digital. Menurut Biro Pengawasan dan Administrasi Keuangan Lokal (Local Financial Supervision and Administration Bureau) di Beijing, penduduk setempat nantinya dapat menggunakan dua aplikasi perbankan untuk mengajukan permohonan memenangkan satu dari 200.000 paket merah, sebagai bagian dari undian. Setiap amplop tersebut berisi mata uang digital senilai 200 yuan (sekitar US$ 31) yang dapat digunakan kepada para pedagang (merchants) tertentu. Sedangkan batas waktu untuk mendaftar adalah tengah malam pada 7 Juni mendatang. 

Pada April, Wakil Gubernur People’s Bank of China (PBoC) Li Bo telah mengatakan bahwa bank sentral Tiongkok bakal memperluas cakupan proyek percontohannya dan bahkan dapat mengizinkan para pengunjung asing di ajang Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022 untuk menggunakannya. Sebelumnya pada Februari, kota Chengdu di barat daya Tiongkok telah membagikan 40,2 juta yuan mata uang digital. Selain itu pada tahun lalu, kota-kota lain seperti di pusat teknologi Tiongkok, di Shenzhen pun telah menggelar undian mereka sendiri. Sebagai informasi, yuan digital bukanlah jenis mata uang kripto (cryptocurrency) seperti bitcoin. Yang membedakannya adalah, satu dikeluarkan oleh otoritas pusat – dalam hal ini PBoC – sementara bitcoin tidak dan karenanya menjadi terdesentralisasi.

(Oleh - HR1)

Perputaran Kripto Picu Lonjakan Miliader Muda Baru

Sajili 31 May 2021 Kontan

Kehadiran mata uang kripto (cryptocurrency) masih ramai menuai pro dan kontra dari berbagai penjuru dunia. Namun seiring pamor yang makin naik, faktanya makin banyak orang, termasuk anak muda, menjadi milliarder dari uang digital ini. Vitalik Buterin, misalnya, kini tercatat menjadi miliarder termuda dari kripto. la pendiri salah satu mata uang kripto, ethereum (ETH). Programmer berusia 27 tahun itu memiliki sekitar 334.000 ETH. Pukul 21.45 WIB, Minggu (30/5), ETH ditransaksikan di harga US$ 2.349,47 per ETH. Alhasil, nilai ETH milik Buterin sekitar USS 784,72 juta. Aset ETH Buterin bahkan sempat mencapai US$ 1,14 miliar atau Rp 16,3 triliun, manakala harga ETH mencapai US$ 3.415 per unit pada Rabu (26/5). Anak muda berdarah Rusia-Kanada ini melahirkan ethereum tahun 2013 ketika ia berusia 19 tahun. Melansir Bloomberg, dia merupakan co-founder Bitcoin Magazine, co-founder Ethereum Foundation, dan General Partner di Fenbushi Capital. la mendirikan Bitcoin Magazine, platform pullikasi yang mencakup bitcoin dan kripto lainnya pada tahun 2012. Tahun 2014, ia terpilih menjadi bagian dari Thiel Fellowship, program beasiswa yang dibuat miliarder Peter Thiel dengan memberikan dana US$ 100.000 kepada kaum muda untuk berinovasi.

Pamor bitcoin semakin moncer seiring perusahaan besar ikut mencemplungkan dana mereka ke mata uang digital ini, termasuk Square dan Tesla. Ketika bitcoin tumbuh, para investor awal, pembangun infrastruktur, dan pendiri uang kripto pun mendulang lonjakan pundi-pundi kekayaan. Forbes mencatat, sejumlah anak muda mampu memanfaatkan ekosistem kripto hingga menjadi miliarder. 

Cameron Winklevoss dan Tyler Winklevoss, misalnya, tercatat memiliki aset bersih masing-masing USS 3 miliar. Duo saudara kembar ini adalah investor awal bitcoin di tahun 2012. Kedua pria yang berusia 39 tahun itu juga meluncurkan pertukaran kripto (exchanger) Gemini dan membeli platform lelang seni digital bernama Nifty Gateway. Ada pula Sam Bankman. Pria berusia 29 tahun ini mendirikan perusahaan perdagangan kuantitatif Alameda Research dan bursa derivatif populer FTX. Lulusan MIT itu memiliki kekayaan bersih senilai US$ 8,7 miliar dari meriahnya transaksi kripto.

Brian Armstrong, CEO dan salah satu pendiri Coinbase, juga meraup peningkatan kekayaan hingga enam kali lipat setahun terakhir. Kekayaan bersih pria berusia 38 tahun ini US$ 6,5 miliar. Coinbase tercatat sebagai exchanger di Amerika yang dominan. Coinbase menghasilkan pendapatan lebih dari USS 1 miliar tahun lalu dan baru-baru ini mengajukan diri untuk go public.

Persaingan Keuangan Digital Semakin Ketat

Sajili 21 May 2021 Kontan

Persaingan bisnis keuangan digital bakal semakin ketat setelah kelahiran GoTo, hasil merger Tokopedia dan Gojek. Maklum, keduanya merupakan raksasa digital yang memiliki ekosistem komplet, termasuk di bidang keuangan digital. GoTo diprediksikan tidak akan kesulitan merangsek layanan keuangan digital di Tanah Air. 

Patrick Cao, Presiden GoTo, mengungkapkan, perusahaan hasil merger akan memanfaatkan keunggulan dari masing-masing platform. Gojek, ujar Patrick, memiliki platform transaksi dengan volume dan frekuensi yang tinggi. Sementara Tokopedia, sebagai e-commerce merupakan platform yang memiliki frekuensi medium, namun nilai transaksinya tinggi. "Grup GoTo berkontribusi lebih dari 2% terhadap total PDB Indonesia, " ujar Patrick dalam keteragan tertulisnya, kemarin. Untuk meretas jalan sebagai pemain keuangan digital terbesar di negeri ini, GoTo sudah memiliki Egopay maupun sejumlah layanan keuangan digital lainnya. Dengan berkutat di ekosistem Gojek saja, GoPay mampu menjadi pemain terbesar dalam layanan pembayaran digital. Jumlah penggunanya ditaksir 110 juta.

Pembentukan GoTo membuka peluang bagi GoPay untuk memperluas layanannya. Sebab GoPay juga akan masuk menjadi dompet digital resmi di ekosistem milik Tokopedia. Kehadiran Gojek di Tokopedia tentu mengetatkan peta persaingan bisnis pembayaran digital. Selama ini, Tokopedia menggandeng Ovo sebagai salah satu mitra dalam transaksi pembayaran.

William Tanuwijaya, CEO Tokopedia. menyatakan, Ovo tetap akan menjadi salah satu dompet digital yang melayani transaksi pembayaran di e-commerce itu. Apalagi, Tokopedia saat ini juga memiliki saham minoritas di Ovo. "Namun karena minoritas, jadi tidak ikut dikonsolidasi di GoTo, " ungkap William ke KONTAN, kemarin. Sebagai pemain dompet digital, jasa Ovo juga dipakai sejumlah e-commerce lain. Dalam catatan KONTAN, layanan pembayaran digital Ovo juga ada di platform belanja daring Blibli, Bhinneka, HappyFresh, Lazada dan Zalora. Platform pembayaran Ovo juga digunakan oleh layanan transportasi online Grab, yang merupakan pesaing utama Gojek di negeri ini. Ovo juga memiliki 60.000 lebih outlet yang menggunakan layanan pembayaran mereka.

Head of Corporate Communication Ovo, Harumi Supit, menyatakan, belum ada perubahan dari sistem pembayaran perusahaannya di Tokopedia setelah GoTo terbentuk. "Ovo berkomitmen menjalankan strategi ekosistem terbuka yang mengedepankan kolaborasi, " ujar dia. Lini bisnis lain yang dikembangkan Ovo sekarang adalah Ovo Invest. "Fitur Ovo Invest sudah berhasil mendapatkan 450.000 pengguna, " ujar dia.

Membahas peta persaingan pemain keuangan digital dalam negeri tidak akan lengkap tanpa menyebut Shopee Pay. Kendati umur kiprahnya masih terbilang pendek, Shopee Pay mampu masuk ke daftar lima besar pemain keuangan digital di Indonesia. Bahkan, beberapa survei konsumen menempatkan Shopee Pay sebagai pemimpin pasar. Keberhasilan Shopee Pay untuk berlari kencang tidak terlepas dari popularitas e-commerce Shopee dan layanan antar makanan Shopee Food. Dengan dukungan Sea Group, holding investasi asal Singapura yang berlinpah uang, Grup Shopee punya stamina menjadi pemain besar di Indonesia. Tapi, sampai berita ini diturunkan, KONTAN belum mendapatkan komentar dari Shopee Pay.


Aset Kripto : Menyiapkan Para Calon Investor

Sajili 19 May 2021 Kompas

Regulasi atas perdagangan aset kripto merupakan keniscayaan. Transaksi yang sudah mencapai triliunan rupiah per hari dan jumlah investor pun sudah mencapai 4,5 juta orang, lebih banyak dari investor saham. Perlu campur tangan pemerintah untuk menciptakan ekosistem perdagangan aset kripto yang wajar dan aman bagi para investornya.

Selain membentuk pasar aset kripto yang wajar dan aman, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan dan Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) berencana membuat bursa kripto. Berbagai persiapan dilakukan, seperti mempersiapkan kliring dan kustodian sebagai pelengkap bursa. Kerja sama dengan lembaga lain, seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia pun, perlu makin kuat dijalin.

Selain menyiapkan perangkat dan wadah perdagangan, persiapan lain yang juga tidak kalah penting adalah menyiapkan para calon investor. Statistik para investor pada pasar aset kripto belum dapat diketahui dengan pasti layaknya investor di pasar saham yang telah memiliki single investor identification (SID) dan data yang rapi di Kustodian Sentral Efek Indonesia. Tetapi, dapat diperkirakan, profil investor pada aset kripto serupa dengan profil investor di pasar modal, yaitu didominasi oleh investor muda dan pemula.

Bisa jadi juga, secara umum karakternya pun serupa dengan karakter investor di pasar saham. Mau untung cepat, tetapi malas belajar dan abai terhadap pengelolaan risiko. Setelah pasar saham melonjak seusai terkoreksi pada Maret 2020, tidak sedikit investor pemula yang masuk ke pasar saham tanpa memiliki bekal keterampilan dan pengetahuan memadai. Tidak sedikit di antara mereka hanya ikut-ikutan dan takut ketinggalan (fear of missing out). Akibatnya, karena tergiur kenaikan harga saham, banyak yang menggunakan dana yang seharusnya tidak dibelanjakan untuk investasi saham. Misalnya, menggunakan kebutuhan sehari-hari, uang kuliah, bahkan dana pinjaman berbunga tinggi. Ada pula yang terjebak memasukkan dana untuk menitip investasi abal-abal hingga uangnya lenyap dalam sekejap.

Regulator perlu terus mengingatkan kepada para calon investor, bahwa berinvestasi pada aset kripto berisiko sangat tinggi dengan fluktuasi yang melebihi pasar saham. Mendorong para calon investor untuk menerapkan 3M, yaitu mind (psikologi pasar), method (strategi bertransaksi), dan money management (manajemen modal untuk manajemen risiko) dapat menjadi topik-topik dasar mempersiapkan para calon investor bertransaksi di pasar aset kripto. Ekosistem perdagangan aset kripto tidak hanya terdiri atas regulator, bursa, kliring, dan penjamin, tetapi juga para investor yang paham betul apa dan bagaimana instrumen investasi yang dipilihnya. Pada akhirnya, semua pihak dapat memetik manfaat dari aset yang disebut-sebut sebagai pilihan aset di masa depan ini.


Raksasa Digital Asia Tenggara Siap Masuk Bursa

Sajili 18 May 2021 Kontan

Bisnis teknologi digital di Tanah Air memasuki babak baru. Dua perusahaan teknologi yang berbasis di Indonesia, Gojek dan Tokopedia, resmi merger dan mengusung nama baru: GoTo. Pasca merger, valuasi Grup GoTo disebut-sebut mencapai USS 17 miliar atau Rp 198,80 triliun (kurs Rp 14.200 per dollar AS). Dengan valuasi ini, GoTo menjadi raksasa teknologi dengan valuasi terbesar di kawasan Asia Tenggara mengungguli Grab.

Platform market intelligence global CB Insights pada April 2021 mencatat, valuasi Grab sebesar USS 14 miliar. Pada saat yang sama, GoTo menjadi startup dengan valuasi terbesar ke-12 di dunia. "Kehadiran Grup GoTo memungkinkan kami semakin mendorong inklusi keuangan di Indonesia dan Asia Tenggara, ungkap Andre Soelistyo, CEO GoTo, dalam pernyataan resminya, kemarin.

Aksi merger Gojek dan Tokopedia kian menegaskan grup konglomerasi global dan nasional masih menguasai bisnis teknologi digital di Tanah Air. Sederet investor blue-chip Grup GoTo antara lain Alibaba Group, Astra International, BlackRock, Capital Group, DST, Facebook, Google, JD. com, KR, Northstar, PayPal, Provident, Sequoia Capital, SoftBank, Telkomsel, Temasek, Tencent, Visa serta Warburg Pincus.

Rencana IPO Gojek dan Tokopedia sempat dilontarkan Pandu Sjahrir, Presiden Komisaris SEA Group Indonesia yang menaungi Shopee, akhir April lalu. Pria yang menjabat Komisaris BEI dan juga board member Gojek ini juga menyebut, konsolidasi terjadi dalam waktu dekat. Pandu bilang, GoTo akan listing dulu di Indonesia semester kedua tahun ini, menyusul kemudian ke Wall Street.

Merintis Ekosistem Digital Rupiah

Ayutyas 18 May 2021 Investor Daily, 18 Mei 2021

Kepopuleran mata uang kripto (cryptocurrency) belakangan ini agaknya belum cukup kuat untuk mengubah pendirian Bank Indonesia (BI). Hingga kini, BI masih dalam posisi terus mengkaji manfaat dari penerbitan uang digital rupiah atau yang lebih dikenal dengan sebutan central bank digital currency (CBDC). 

Dalam pandangan BI, penerbitan CBDC di Indonesia belum terlalu urgen. Secara yuridis, uang kripto (bitcoin, misalnya) tidak bisa digunakan sebagai alat tukar. Undang-Undang Mata Uang tegas mengamanatkan transaksi di seluruh wilayah Republik Indonesia wajib menggunakan rupiah sebagai medianya. Dengan alasan yuridis ini pula, uang kripto agaknya ‘dilokalisasi’ menjadi aset finansial. Aset kripto telah resmi terdaftar di Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Tahun lalu sudah ada 226 jenis uang kripto yang diperdagangkan dengan nilai transaksi Rp 70 triliun. Upaya memosisikan uang kripto sebagai produk investasi agaknya terjustifikasi dari otoritas lain. Kementerian Perdagangan berencana akan mendirikan bursa khusus aset kripto. Bahkan Kementerian Keuangan hendak memungut PPh (pajak penghasilan) atas perolehan capital gain dari transaksi aset kripto.

Alhasil, BI lebih condong mengembangkan uang elektronik (e-money) dan QRIS (Quick Response Indonesia Standard) terlebih dahulu sebagai prakondisi dalam merilis CBDC. Di satu sisi, kedua versi ‘uang digital’ tersebut masuk dalam wilayah sistem pembayaran dan merupakan kewajiban lembaga penerbit terhadap peme gangnya. Di sisi lain, CBDC diterbitkan oleh BI dan menjadi bagian dari kewajiban moneternya.Artinya, CBDC tetap menjalankan fungsi sebagaimana uang kartal (uang kertas dan uang logam). Oleh karenanya, CBDC merupakan representasi digital dari mata uang dan menjadi simbol kedaulatan negara (sovereign currency).

(Oleh - HR1)

Setoran Pajak Digital Tembus Rp 1,89 Triliun

Sajili 17 May 2021 Kontan

Langkah pemerintah menarik pajak konsumsi barang dan jasa via perdagangan melalui sistem elektronik (PMSE) berbuah manis. Sejak awal tahun hingga 30 April 2021, setoran pajak pertambahan nilai (PPN) yang dibayar para pelanggan platform digital seperti Netflix, Spotify, dan Zoom mencapai Rp 1,89 triliun. "Setoran tersebut berasal dari 48 pemungut pajak yang sebelumnya ditetapkan pemerintah sebagai objek pajak, kata Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Ditjen Pajak Kemkeu) Neilmaldrin Noor, Senin (10/5).

Melihat hasil tersebut, Neilmaldrin pastikan Ditjen Pajak akan terus mengoptimalkan penerimaan pajak dari konsumen digital dengan memperbanyak jumlah pemungut PPN barang atau jasa digital di tahun ini. Adapun hingga saat ini otoritas pajak telah menunjuk 67 perusahaan digital yang akan memungut PPN PMSE. Selain itu, Ditjen Pajak akan terus mengidentifikasi dan menjalin komunikasi dengan sejumlah perusahaan lain yang menjual produk digital luar negeri ke Indonesia.

Teranyar, pada bulan Mei ini otoritas pajak kembali menunjuk delapan perusahaan sebagai Pemungut PPN PMSE mulai 1 Mei 2021. Delapan perusahaan yang ditunjuk antara lain, Epic Games International S. r.I., Bertrange, Root Branch, Expedia Lodging Partner Services Srl, Hotels. com, L.P, BEX Travel Asia Pte Ltd, dan Travelscape, LLC. Tiga lainnya adalah TeamViewer Germany GmbH, Scribd, Inc, dan Nexway Sasu.