Digital Ekonomi umum
( 1150 )Mempertanyakan Pembayaran Digital melalui Aplikasi Peduli Lindungi
Pemerintah semestinya lebih memprioritaskan pembenahan kualitas dan keamanan data pada sistem aplikasi PeduliLindungi agar pemanfaatannya jauh lebih optimal. Bukan malah menambah fungsi sebagai dompet digital dalam aplikasi tersebut.Wacana menjadikan aplikasi PeduliLindungi berfungsi juga sebagai alat pembayaran digital menuai banyak pertanyaan. Langkah ini dinilai berbelok dari tujuan semestinya untuk penanganan Covid-19. Pemerintah semestinya lebih memprioritaskan pembenahan kualitas dan keamanan data pada sistem aplikasi agar pemanfaatannya jauh lebih optimal. Sambutan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan dalam forum virtual bertajuk Pembukaan Puncak Karya Kreatif Indonesia 2021 oleh Bank Indonesia lalu seketika menjadi perbincangan banyak pihak, Sabtu (23/9/2021).
Salah satunya soal pernyataan Luhut soal sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang akan dikembangkan pada aplikasi digital PeduliLindungi. Rencana pengembangan aplikasi PeduliLindungi untuk juga dapat memiliki fungsi sebagai alat pembayaran sontak menimbulkan banyak pertanyaan. Terlebih, selama ini publik mengetahui bahwa digital aplikasi itu digunakan sebagai alat pendataan untuk penanganan pandemi Covid-19.
Masa Depan Data Center, Pusat Data Mengarah Ke Energi Hijau
Asosiasi Penyelenggara Data center Indonesia memproyeksikan pembangunan pusat data bakal mengarah pada pemanfaatan energy alternatif, menyusul besarnya kebutuhan energi untuk bisnis tersebut. Sekjen Asosiasi Penyelenggara data Center Indonesia (IDPRO) Teddy Sukardi mengatakan pusat data sebagai infrastruktur penyimpanan data dengan mesin pendingin yang besar, beroperasi dengan tenaga yang besar. Menurutnya, pusat data berpotensi menjadi kontributor penggunaan energi berbasis fosil terbesar kedepannya. Peralihan pergerakan manusia akan membuat penggunaan energi berpusat pada infrastruktur digital, temasuk pusat data, jika tidak dikembalikan.
Teddy mengatakan bahwa perubahan iklim yang menjadi isu dunia, juga berperan besar dalam mendorong kebutuhan terhadap pusat data yang ramah lingkungan. Beberapa perusahaan penyewa kapasitas pusat data, menurutnya, akan melihat sumber energi yang digunakan oleh penyedia pusat data sebelum memutuskan untuk menyewa kapasitas. Menurutnya, penyedia pusat data tidak mengeluarkan dana untuk mendapatkan listrik dari PLN. Selain itu efisiensi juga hadir dalam management pusat data yang lebih ketat terhadap konsumsi energi.
Teddy juga memperkirakan era perang harga di industri pusat data sudah berlangsung saat ini. Teddy mengatakan resiko perang harga yang muncul kerena banyaknya jumlah pemain pusat data tidak dapat dihindari. Beberapa indikasi, ujarnya, telah muncul dimana penyedia pusat data menawarkan penyimpanan data seumur hidup, dengan hanya membayar beberapa dollar AS didepan. "Apa benar cara seperti itu? kalau 100 tahun atau tidak, itu juga mengundang pertanyaan." kata Teddy. Meski terjadi perang harga, kata Teddy, pusat data di Indonesia tidak akan berlebih suplai seperti perkantoran di Indonesia. (yetede)
Menuju Raja Kawasan Ekonomi Digital
Pergeseran perilaku konsumen dalam mengakses layanan digital mengharuskan perubahan dalam lanskap bisnis bank. Dengan demikian, digitalisasi di sektor ini diyakini akan membuat bank menjadi lebih efisien. Sejumlah nasabah saat ini tidak perlu lagi membawa dompet, kartu ATM, atau buku tabungan untuk menikmati layanan perbankan. Cukup dengan membawa gawai serta memastikan adanya koneksi internet, produk perbankan bisa diakses dalam genggaman. Alhasil, masyarakat pun semakin jarang ke kantor cabang. Nasabah menjadi lebih menghemat waktu dan tidak terpaku pada jam buka kantor cabang. Pergeseran ini yang membuat lanskap bisnis bank diproyeksikan bermuara menuju digital banking.
Selain itu, kehadiran bank digital ini membuat verifikasi nasabah atau calon debitur dapat dilakukan lewat video call. Bunga kredit dan bunga deposito juga dibuat kompetitif karena rasio antara total beban operasional dan total pendapatan operasional (BOPO) dapat ditekan. Dan, bagi OJK, kehadiran bank digital sangat diharapkan membuat ekonomi digital nasional tumbuh dan dapat menjadi yang terbesar dikawasan Asia Tenggara pada 2025. Hal inilah yang dibidik oleh COO Digital Business PT Bank MNC Internasional Tbk. Teddy Tee, dia mengatakan MotionBanking akan fokus menyalurkan kredit dengan menggandeng sejumlah pemain finansial teknologi atau fintek.
Ekonom senior Institute for Development on Economics and Finance (Inder) Aviliani menjelaskan kehadiran ekosistem yang kuat memiliki sejumlah pengaruh terhadap keberhasilan bisnis bank digital. Perluasan ekosistem dilakukan baik melalui kemitraan strategis maupun akuisisi. Lewat strategi ini, bank digital akan mendapatkan basis data secara luas, yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis, seperti penyaluran kredit dan layanan lainnya. Dengan demikian, teknologi dan kesiapan, suatu bank perlu berjalan seimbang agar infrastruktur bisa melayani pembayaran secara digital. Pemilihan teknologi yang tepat akan menjadi kunci perubahan di dalam lanskap bisnis bank supaya lebih efisien. (yetede)
Akhir 2021, Indonesia Miliki 165 Juta Konsumen Digital
Facebook dan Bain & Company, menerbitkan laporan bertajuk SYNC Southeast Asia untuk mendalami tren ekonomi digital dan e-commerce di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pada akhir 2021, Indonesia disebut akan punya 165 juta konsumen digital, bertumbuh 14,58% dibandingkan 144 juta akhir tahun lalu. Menurut Facebook, Bain & Company, pertumbuhan konsumen digital di Asia Tenggara diperkirakan akan mencapai 12,9% dibandingkan pada akhir 2020 sekitar 310 juta. Artinya, hampir 80% konsumen Asia Tenggara akan beralih ke ranah digital pada akhir tahun ini. Sementara itu, ada 165 juga konsumen digital di Indonesia pada akhir tahun ini, naik 14,58% dibandingkan 144 juta pada akhir tahun.
Country Director Facebook Indonesia Pieter Lydian mengatakan, melihat perjalanan belanja online konsumen di Indonesia dan gaya hidup digital yang semakin berkembang, sangatlah penting bagi pengelola platform dan pemilik merek untuk mengatur kembali strategi guna berinteraksi dengan konsumen. "Langkah ini akan menghadirkan peluang bisnis untuk membangun merek dan terhubung dengan konsumen. Di Facebook, kami menghadirkan solusi bagi bisnis untuk membantu orang dengan mudah menemukan dan membeli hal-hal yang disukai," ujar Pieter, dalam pernyataannya, Kamis (16/9). Selain itu, mereka membeli lebih banyak kategori secara online. Responden yang disurvei mengaku kini membeli secara online dengan rata-rata 8,8 katagori, 70% lebih tinggi dari rata-rata 5,1 yang terlihat pada 2020.
Di sisi lain, Facebook, Bain & Company juga memaparkan bahwa gaya hidup home-centric semakin mengakar di Indonesia. Laporan ini memprediksi bahwa sekitar 85% waktu yang dihabiskan untuk makan di rumah dari jasa antar makan tetap berlanjut pasca pandemi Covid-19. Media sosial juga diakui tetap menjadi saluran teratas untuk fase pencarian produk di Indonesia, terutama untuk produk di Indonesia, terutama untuk video di media sosial (19%). Facebook juga berharap dapat berperan positif dalam mendukung bisnis di Indonesia untuk bereksperimen dengan fitur jual- beli seperti shops.
Laporan menunjukkan bahwa disrupsi lebih terlihat pada sektor kesehatan dan pendidikan. Karena, kedua sektor tersebut berkembang pesat untuk beradaptasi dengan kebiasaan konsumsi konsumen di rumah, seperti kegiatan belajar-mengajar dan telemedice. "Nilai transaksi bruto (GMV) e-commerce tumbuh lebih dari 60% setiap tahun dan harapannya akan lebih banyak ruang untuk pertumbuhan ritel digital seiring dengan semakin banyak konsumen yang berbelanja online," pungkas Partner dari Bain & Company Edi Widjaya. (yetede)
Pasar Tenaga Kerja Digital
“Thou aimest high, Master Lee. Consider Thou what the invention could do to my poor subjects. It would assuredly bring to them ruin by depriving them of employment, thus making them beggar.” Kutipan di atas adalah perkataan Ratu Elizabeth I kepada William Lee, penemu mesin rajut otomatis pada Abad ke-16. Ratu Elizabeth saat itu justru khawatir teknologi yang diciptakan oleh Lee akan menghilangkan lapangan pekerjaan dan menciptakan kemiskinan. Tanggapan Ratu Elizabeth sangat jamak terjadi ketika kemunculan teknologi baru. Teknologi tersebut terkadang dipandang menjadi sebuah ancaman, terutama bagi ketenagakerjaan. Disrupsi teknologi menimbul kan kekhawatiran akan hilangnya pekerjaan.
Estimasi Mckinsey (2017) menunjukkan bahwa 60% pekerjaan yang
ada saat ini dapat diotomasi, di mana
diperkirakan untuk kasus Indonesia
angka tersebut mencapai 12%.
Perlu dipahami bahwa “hantu” disrupsi tersebut tidak hanya berpotensi
menghilangkan lapangan pekerjaan,
tetapi juga menciptakan pekerjaan
baru. Disrupsi teknologi menciptakan
apa yang disebut pasar tenaga kerja
digital.
Secara definisi, pasar tenaga kerja digital adalah pasar tenaga kerja di mana transaksi antara pemberi kerja dan pencari kerja dilakukan secara online. Secara umum, digital labour market dibagi ke dalam dua kategori: online labour market (OLM) dan mobile labour market (MLM). Online labour market didefinisikan sebagai pasar tenaga kerja di mana baik proses pencarian tenaga kerja (matching), administrasi dan pekerjaan dikerjakan secara online, contohnya adalah Amazon Mechanical Turk. Sedangkan MLM didefinisikan sebagai pasar tenaga kerja di mana proses pencarian dan administrasi dilakukan secara online, akan tetapi pekerjaan dilaksanakan secara fisik (langsung). Contohnya adalah Gojek dan Grab (Codagnone, Abadie&Biagi, 2016).
Secara global, diperkirakan terdapat
777 platform tenaga kerja, di mana 383
di antaranya adalah delivery-based platform atau platform yang memfasilitasi
pekerjaan jasa pengantaran. Pesatnya
perkembangan platform ini didukung
oleh besarnya investasi kepada platform tenaga kerja, yang diperkirakan
secara global mencapai US$ 119 miliar,
dengan keuntungan secara global
mencapai US$ 52 miliar (ILO, 2020).
Pada pasar ini terdapat tiga pihak
yang saling berinteraksi melalui platform, yaitu pekerja, pemberi kerja,
dan konsumen. Bagi pemberi kerja,
kehadiran tenaga kerja digital ini dapat
mendorong efektivitas dan efisiensi.
Contohnya, pemberi kerja dapat melakukan outsourcing pekerja dengan
cepat, yaitu antara 2-4 hari, jauh lebih
cepat dari melalui agen tradisional yang
mencapai 6-8 minggu dan mendapatkan
akses talenta (ILO, 2020).
Tren Konglomerat Emtek, Salim hingga Djarum Perkuat Ekosistem Unicorn
Konglomerat seperti Elang Mahkota Teknologi (Emtek), Djarum, Salim Group, dan Sinar Mas sudah berinvestasi di startup dalam beberapa tahun terakhir. Namun kini mereka mulai memperkuat ekosistem lewat integrasi layanan dengan para unicorn dan decacorn seperti Grab, Bukalapak, Gojek, Tokopedia.
Co-Founder sekaligus Managing Partner di Ideosource dan Gayo Capital Edward Ismawan Chamdani menyampaikan, setiap konglomerasi mempunyai potensi layanan yang bisa disinergikan. Tren kedepan, sinergi demand dan supply melalui masing-masing platform.
Menurut Kepala Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nainul Huda, masuknya Emtek, Sinar Mas, dan Djarum dalam penawaran PIPE IPO Grab menunjukkan kepercayaan terhadap bisnis decacorn, khususnya di Indonesia.
Itu juga menguntungkan konglomerasi. Sebab, perusahaan yang bersedia membeli saham publik Grab melalui PIPE akan mendapatkan harga yang lebih rendah dari harga jual perdana di bursa saham.
Keuntungan bagi Grab yakni kepastian penjualan saham dari Djarum dan Sinar Mas. Sedangkan konglomerasi mendapatkan saham Grab dengan harga yang lebih murah.
IPO Usaha Rintisan Dorong Pertumbuhan Ekosistem Digital
Komisaris PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Pandu Sjahrir, ”Di mata global, startup dari India, Indonesia, dan Amerika Latin dianggap punya potensi besar. Dari segi pasar, pasar di tiga negara ini sangat potensial. Dia lantas mencontohkan kasus Bukalapak yang akan resmi IPO pada 6 Agustus 2021. Hingga sekarang, jumlah orang yang mendaftar untuk membeli saham Bukalapak telah mendekati 1 juta orang. Diminati belasan hingga puluhan ribu investor ritel.
Pengacara teknologi di firma hukum global ”Withers”, Joel Shen, menambahkan, pertumbuhan pesat ekonomi digital di Indonesia dan Asia Tenggara telah melahirkan startup bervaluasi 1 miliar dollar AS atau unicorn generasi pertama. Nama-nama besar, seperti Gojek, Tokopedia, Ovo, Traveloka,dan Bukalapak, didirikan oleh generasi wirausaha bidang teknologi yang merupakan penentu transformasi digital di Indonesia
Senada dengan Pandu, Joel menilai, investor perusahaan modal ventura yang melakukan exit strategy sepanjang 2021 akan mempunyai modal baru guna ditempatkan kembali ke startup. Pada akhirnya, itu semua akan menggairahkan ekonomi digital.”Mantan pendiri dan eksekutif senior kemungkinan akan mencari petualangan baru, dan mungkin mendirikan bisnis baru,” katanya.Sejumlah perusahaan modal ventura di Singapura didirikan investor Indonesia, seperti East Ventures, Alpha JWC, Intudo Ventures, AC Ventures, dan Venturra Capital. Mereka berkontribusi terhadap lahirnya sejumlah startup baru.Ekonomi digital Indonesia yang hanya bernilai 8 miliar dollar AS pada 2015 meningkat lima kali lipat menjadi 44 miliar dollar AS pada 2020. Laporan”SEA E-Economy 2020” yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Co memprediksi ekonomi digital di Indonesia tumbuh tiga kali lipat menjadi 124 miliar dollar AS pada 2025.Golden Gate Ventures dalam laporan Southeast Asia Startup Ecosystem 2.0 memperkirakan total 468 perusahaan modal ventura melakukan exit strategy pada kurun 2020-2022. Jumlah ini lebih besar dibandingkan dengan proyeksi yang ada di laporan edisi 2019.
Peta Persaingan E-Wallet Semakin Panas
Pangsa pasar di Indonesia yang gurih membuat para perusahaan teknologi terus mengembangkan ekosistem digitalnya. Awal pekan ini, Grab dan PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek) menjalin kerjasama bisnis di bidang digitalisasi Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Grab punya saham di dompet digital Ovo. Sementara Emtek punya saham di dompet digital Dana dan di e-commerce Bukalapak.
CEO sekaligus co-founder Dana, Vince Iswara hanya bilang, Ovo dan Dana merupakan inisiasi positif yang bisa membangkitkan kembali perekonomian tanah air khususnya di sektor UMKM. Sementara Head of Corporate Communication OVO, Harumi Supit mengatakan, Ovo juga sudah lama berkolaborasi dengan Bukalapak. "Kerjasama ini sejalan dengan prioritas kami mendukung UMKM melalui peningkatan akses terhadap layanan kredit yang masih sulit dijangkau lebih dari 60% UMKM, ujar Harumi. Bisnis dompet digital memang menggiurkan, terlebih pada masa pandemi seperti sekarang. Pada separuh pertama 2021 rata-rata transaksi di Dana melonjak dari 3 juta menjadi 5 juta transaksi per hari. Dana berhasil menjaring 250.000 UMKM untuk bergabung dalam fitur Dana Bisnis, dengan peningkatan transaksi 35% sejak awal 2021.
LinkAja juga siap menghadapi persaingan disokong perbankan pelat merah, kinerja LinkAja selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mampu menambah 1 juta pengguna. Dibandingkan tahun lalu pada periode yang sama, volume transaksi meningkat hampir 2 kali lipat di 2021, ujar Direktur Utama LinkAja Haryawati Lawidjaja.
ShopeePay juga gencar memperluas akses jaringan dengan menggandeng Google Play, Indomaret dan merchant lain. Jangan lupakan GoPay yang berada di dalam hasil merger Gojek-Tokopedia yang melahirkan GoTo. "Fitur ShopeePay agar membantu mengakomodasi kebutuhan para merchant dan pengguna kami," kata Head of Campaigns and Growth Marketing ShopeePay, Rabu (28/7). Transaksi paling banyak dari pembayaran antar makanan, jasa berbelanja di supermarket dan telemedice.Transaksi Uang Elektronik Terus Naik
Di saat banyak bisnis akibat kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat, transaksi e-commerce dan uang elektronik malahan melejit. Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai transaksi e-commerce pada semester satu 2021 meningkat sebesar 63,36% yoy menjadi Rp 186,75 triliun. BI juga memproyeksikan, sampai akhir tahun transaksi tersebut meningkat 48,4% yoy mencapai Rp 395 triliun.
Pertumbuhan ini seiring meningkatnya akseptasi dan preferensi masyarakat untuk berbelanja daring, perluasan dan kemudahan sistem pembayaran digital, serta akselerasi digital banking, ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/7). Lalu untuk nilai transaksi uang elektronik di periode yang sama juga melonjak 41,01% yoy atau senilai Rp 132,03 triliun dan diproyeksikan tumbuh 35,7% yoy mencapai Rp 278 triliun untuk keseluruhan tahun 2021. BI terus mempercepat implementasi kebijakan sistem pembayaran sesuai BSPI 2025 dalam rangka mendorong akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan yang inklusif dan efisien, ujarnya.Kripto : Harga Doge Koin Masih Sulit untuk Bangkit Kembali
Sempat menjadi salah satu aset kripto paling populer, kini nasib dogecoin (doge) justru tersungkur. Bahkan, kinerjanya diperkirakan sulit bangkit lagi. Merujuk coinmarketcap.com, harga doge Jumat (16/7) pada 17.15 WIB berada di level US$ 0,18 atau turun 7,09% dalam 24 jam terakhir. Sementara jika dihitung dalam sepekan, penurunannya sudah mencapai 18,33%.
Co-founder Cryptowatch dan pengelola kanal Duit Pintar Christopher Tahir melihat, prospek doge ke depan masih belum jelas. Sedari awal, mata uang kripto ini memang dibuat tanpa dasar apapun. Bahkan pembuatnya sudah dengan jelas menyatakan, doge dibuat untuk eksperimen dan iseng belaka. "Memang cukup sulit untuk melihat potensi doge, karena penggunaannya hanya sebatas pada spekulasi," kata Christopher, Jumat (16/7). Christopher menilai, Jika masih ada yang mendengungkan doge bisa menuju US$ 1, dalam jangka pendek-menengah itu adalah hal yang hampir tidak mungkin. "Kecuali, Elon berkicau ataupun harga bitcoin menguat tajam, sehingga doge dan koin lainnya mengekor," kata dia.Pilihan Editor
-
Bantuan Donatur Diduga Disalahgunakan
18 Feb 2021 -
Cerutu Jatim Kian Diminati Pasar Luar Negeri
17 Feb 2021 -
Ciputra Ekspansi di Puncak Tidar Malang
16 Feb 2021









