Digital Ekonomi umum
( 1150 )Ditjen Pajak Mengincar Pajak Transaksi Kripto
Siap-siap, semarak transaksi uang kripto (cryptocurrency) mulai masuk radar aparat pajak. Kini, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak tengah mengkaji penerapan pajak transaksi kripto.
Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo mengungkapkan, Ditjen Pajak membahas model bisnis kripto, sebelum menetapkan jenis pajak yang dikenakan atas transaksi mata uang kripto. Dia menyatakan, kripto bisa dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) jika masuk kategori barang atau jasa. "Pertanyaannya, apakah kripto sama seperti itu?" kata Suryo, Senin (10/5). Kripto juga bisa dikenakan pajak penghasilan (PPh) bila dilihat dari sudut pandang investasi. Sebab, kini aset kripto diperdagangkan seperti pasar saham. Mengacu pada hal tersebut, pemerintah bisa memungut PPh atas capital gain. "Misal pemain kripto investasi Rp 1 juta, lalu duitnya bertambah jadi Rp 3 juta, ada keuntungan sebesar Rp 2 juta, bisa dipotong di sana, " ujar Suryo. Suryo belum memastikan jenis pajak pada kripto maupun waktu penerapannya. "Kami baru mendiskusikan sepotong model, " kata dia.
Pelaku pasar cryptocurrency menyatakan siap mengikuti aturan pajak dari pemerintah. Menurut Duwi Sudarto Putra, CEO Digital Exchange Indonesia, pajak kripto akan berdampak positif bagi ekosistem. "Artinya ekosistem kripto berkontribusi terhadap negara dan mengisyaratkan aset kripto sudah diakui pemerintah, " kata dia. Tapi Duwi berharap, penerapan pajak kripto perlu hati-hati agar tidak menghambat perkembangan industri. Saran dia, pengenaan pajak kripto ini dapat dibagi dua bagian.
Pertama, jika transaksi kripto terjadi di Indonesia dikenakan pajak final seperti transaksi saham ataupun reksadana sebesar 0,1% atau lebih rendah. Alasannya, aset kripto adalah instrumen investasi baru dan butuh relaksasi pajak. "Tujuannya agar menarik minat investor, " kata Duwi. Kedua, bila transaksi kripto terjadi di luar Indonesia, bisa dikenai pajak capital gain. Perbedaan metode tersebut membuat ekosistem aset di Indonesia lebih matang. Harapannya cara ini juga menarik investor luar negeri.
Muhammad Luthfi : Kami Perbaiki Pengaturan Aset Kripto dan E-dagang
Perdagangan mata uang kripto dan keadilan berusaha di ranah perdagangan digital atau e-dagang saat ini menjadi perbincangan hangat. Meroketnya nilai mata uang kripto mendongkrak minat publik untuk berinvestasi. Namun, infrastruktur perdagangan mata uang digital belum tersedia. Keamanan dan keadilan bertransaksi pun belum terpenuhi. Upaya mengurai kedua persoalan itu menjadi wilayah tugas Kementerian Perdagangan. Dalam wawancara khusus dengan Kompas, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjawab sejumlah pertanyaan terkait kedua topik ini.
Bagaimana perihal aset kripto ini akan diatur? “Pertama, saya akan memperkuat sumber daya manusia di internal Bappebti, terutama untuk menangani mata uang kripto. Persoalan ini akan kami benahi pelan-pelan, tidak tertutup kemungkinan juga untuk mengadopsi dan memperkenalkan regulatory sandbox atau program uji coba sistem dan model bisnis para pedagang kripto dalam rentang waktu tertentu. Kami bisa belajar dan bekerja sama dengan BI dan OJK yang program regulatory sandbox-nya telah berjalan baik dan menciptakan keadilan usaha. Untuk mengantisipasi penipuan atau potensi kaburnya pedagang mata uang kripto, kami tengah mematangkan pentingnya underlying asset milik pedagang kripto sebagai jaminan. Ada sebagian asetnya nanti yang akan disimpan sebagai deposit. Untuk menjaga keamanan penggunanya, aset kripto mereka harus disimpan dalam wadah digital yang aman, misalnya crypto cold storage (penyimpanan aset kripto yang bisa dijalankan secara daring dan luring). Tujuannya untuk meminimalkan risiko kehilangan yang disebabkan karena pencurian melalui jaringan internet atau penipuan. Sekali lagi, ini masih akan kami bicarakan dahulu dengan pemangku kepentingan terkait sembari berjalan. Intinya, kami akan menyiapkan ekosistemnya, saling terbuka dan berkoordinasi, serta tidak boleh ada ego sektoral.”
Terkait penataan kembali e-dagang, langkah-langkah apa yang telah dilakukan Kementerian Perdagangan? “Kemunculan e-dagang yang mendisrupsi sektor perdagangan luring dan daring serta pasar dalam negeri tidak bisa terelakkan. Dalam kajian Forum Ekonomi Dunia (WEF), dibahas pula mengenai produk-produk impor berkualitas rendah dengan harga murah menghancurkan industri di dalam negeri sejumlah negara."Mata Uang Kripto Masih Paling Cuan
Bitcoin menorehkan performa paling baik di antara berbagai instrumen investasi di empat bulan pertama tahun ini. Harga bitcoin naik 99,13% secara year to date (ytd) hingga April.
Selain bitcoin, mata uang kripto lain juga mencetak kenaikan harga luar biasa selama empat bulan pertama tahun ini. Dogecoin misalnya, naik hingga 7.111%.
Mata uang kripto memang mendapat banyak sentimen di empat bulan pertama tahun ini. Selain ada aksi pompom dari sejumlah pesohor, termasuk Elon Musk, investor kripto merespons positif masuknya dana institusi ke mata uang kripto dan rencana pembentukan exchange traded fund berbasis duit kripto.
Gabriel memprediksi harga bitcoin mampu menembus US$ 100 per BTC jika rencana pembentukan ETF bitcoin disetujui tahun ini. "Persentase kemungkinan ETF bitcoin disetujui oleh SEC sangat tinggi di tahun ini, " kata dia.
Tiga Grup Platform Digital RI Miliki Valuasi US$ 240 Miliar
JAKARTA – Tiga grup raksasa ekonomi digital
Indonesia memiliki valuasi sebesar US$ 240 miliar
atau ekuivalen seperempat Produk Domestik
Bruto (PDB) Indonesia. Fakta ini merupakan salah
satu indikator bahwa Indonesia merupakan pasar
ekonomi digital paling penting dan berpengaruh
di Asean.
Hal itu diungkapkan Co-Founder
& Executive Chairman Triputra
Agro Persada Group, Arif P Rachmat
dalam silaturahmi dengan pemimpin
redaksi media massa secara virtual,
Selasa (27/4/2021). Arif lantas memaparkan tiga
ekosistem atau grup pelaku ekonomi digital yang disebutnya
memiliki valuasi sekitar US$
240 miliar tersebut. Per tama,
platform e-commerce terbesar
Shopee yang memiliki kapitalisasi
pasar sebesar US$ 140 miliar dan
sudah listed di bursa Amerika
Serikat. Shopee bahkan menjadi
perusahaan e-commerce terbesar
di Asean. “Shopee di Indonesia
menguasai 40% volume pasar. Itu
membuktikan betapa pentingnya
Indonesia,” kata dia.
Kedua, platform digital Grab
juga berniat listing di AS dengan
valuasi US$ 40 miliar. Grab yang
berada dalam satu grup platform
pembayaran OVO akan berpartisipasi dalam rights issue PT Elang
Mahkota Teknologi Tbk (Emtek)
yang memiliki dompet digital Dana.
Emtek sendiri memiliki valuasi US$
10 miliar. “Jadi, kalau Emtek dengan
valuasi US$ 10 miliar digabung Grab
US$ 40 miliar, bernilai total US$ 50
miliar,” kata Arif.
Ketiga, sinergi Grup Triputra,
Tokopedia, Gojek, dan Bank Jago.
Triputra menekuni bisnis e-commerce berawal dari pendirian PT
Anteraja. Menurut dia, ekonomi
digital tidak terlepas dari tiga hal,
yakni platform e-commerce, e-payment dan logistik.
Grup Triputra bermitra
dengan Bank Jago yang sudah
mendeklarasikan sebagai bank
digital. Triputra sebagai pemegang
saham, meskipun kecil. Triputra
juga menggandeng platform e-commerce Tokopedia. Seiring dengan
itu, Gojek bermerger dengan Tokopedia menjadi GoTo.
Arif Rachmat menyatakan, GoTo
dengan valuasi US$ 18 miliar
diyakini akan tumbuh ke level US$
40 miliar. Jika GoTo bersinergi Bank
Jago dengan valuasi US$ 10 miliar,
nilainya keduanya bakal menembus
US$ 50 miliar.
Untuk mengakselerasi PDB per
kapita, kata Arif, salah satunya
adalah harus banyak mencetak
enterprenur, termasuk dalam bisnis
ekonomi digital. “Apa yang dilakukan Aldi Haryopratomo dengan
membangun Mapan kemudian masuk ke GoPay dan Gibran Huzaifah
di eFishery itu luar biasa. Mereka
benar-benar leading the way,” kata
Arif.
Selain itu, dalam pandangan Arif,
e-commerce jangan hanya bersifat
konsumtif. “E-commerce ini harus
mampu meningkatkan produktivitas terutama dari sisi supply chainnya. Harus membantu UMKM,
petani, nelayan, dan sebagainya,”
kata Arif.
Optimistis
Di lain sisi, Arif Rachmat menyatakan bahwa dia dan para koleganya
yang memimpin grup usaha besar
di Indonesia sama-sama optimistis
tentang prospek perekonomian
nasional ke depan. Dia baru saja
berbicara dengan petinggi di Grup
BCA dan Grup Wing tentang ekonomi Indonesia, mereka menilai tanda
kebangkitan semakin jelas.
Sedangkan Aldi Haryopratomo,
komisaris eFishery yang juga mantan CEO GoPay menyatakan pengalaman mendirikan startup Mapan
pada 2009. Mapan kemudian dibeli
Gojek menjadi GoPay pada 2017.
Dia menceritakan, saat mendirikan Mapan, secara ekosistem baik
funding maupun mentorship masih
sangat kurang. Beda dengan di AS
tempat dia menimba ilmu, mentorship begitu berlimpah, terutama
di Silicon Valley. “Di Indonesia
belum ada, karena tech-entrepreneur bukan sesuatu yang bergengsi,”
kata dia.
(Oleh - HR1)
Korporasi Lokal Suntik Lagi Perusahaan Teknologi
Perputaran dana investasi di perusahaan teknologi semakin kencang. Bukan hanya pemain global, konglomerasi nasional juga berlomba membenamkan investasinya di perusahaan aplikasi super (super app).
Kabar terbaru, PT Telkomsel (anak usaha Grup Telkom), mengkaji opsi menambah investasi di Gojek. Telkomsel masih memiliki ruang untuk berinvestasi hingga US$ 300 juta atau Rp 4,37 triliun pada perusahaan ride-hailing dan pembayaran digital itu.
Direktur Utama Telkomsel, Setyanto Hantoro menjelaskan, pihaknya memiliki opsi untuk berinvestasi di Gojek hingga USS 450 juta dalam waktu satu tahun sejak investasi pertama dilakukan. Adapun investasi pertama Telkomsel ke PT
Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) pada November 2020 senilai USD 150 juta atau Rp 2,16 triliun. "Kami sedang mengkaji opsi USS 300 juta agar bisa dilakukan lebih cepat setelah melihat hasil positif dari kolaborasi yang sudah dijalankan sejak awal tahun 2021," kata Setyanto.
Selain Grup Telkom, Gojek juga diguyur dana dari Grup Astra. Sejak awal investasi tahun 2018 hingga kini, ASII sudah menyuntikkan US$ 250 juta di Gojek.
Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda menilai, investasi Telkomsel di Gojek akan memanaskan kompetisi ekonomi digital di Indonesia. Selain Grab yang dikabarkan akan IPO, Shopee kian ekspansif dengan masuk bisnis layanan pesan antar makanan.
Presiden Komisaris SEA Group Indonesia yang menaungi Shopee, Pandu Sjahrir menyebutkan, perusahaan teknologi akan terus berkembang di Indonesia sehingga membutuhkan pendanaan jumbo. Pria yang juga menjabat Komisaris
Potensi pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia masih cukup besar. Menurut Pandu, secara umum porsi e-commerce di Indonesia masih kecil dibanding bisnis konvensional (off-commerce). "Kita paling hanya 3%-4% dari off-commerce. Di AS, porsi e-commerce 20%-25%, di China 20%. Jadi masih ada potensi tumbuh lima kali lipat dari sekarang, " ungkap dia.
AstraPay Bakal Dorong Kinerja ASII
Keputusan PT Astra International Tbk terjun ke bisnis pembayaran digital menambah daya tariknya sebagai emiten Bursa Efek Indonesia (BEI). Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy, mengatakan layanan pembayaran AstraPay dinilai mampu mendongkrak kinerja perusahaan.
Secara konsolidasi, pendapatan bersih emiten berkode ASII ini turun 4 persen menjadi Rp 51,7 triliun. Laba bersih anjlok 22 persen menjadi Rp 3,7 triliun, dipicu oleh penurunan kinerja semua segmen bisnis yang belum pulih. Laba dari bisnis otomotif, sebagai contoh, menyusut 26 persen.
Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera, Janson Nasrial, mengatakan kinerja Astra International berpotensi membaik hingga akhir tahun, dan layanan pembayaran digital ini bisa dikombinasikan dengan Sayurbox dan Halodoc, dua start-up digital yang didanai Astra
ASII menjadi investor utama di Sayurbox dan Halodoc sejak Maret lalu. Astra menyuntikkan dana US$ 5 juta di Sayurbox, yang bergerak di sektor e-commerce hasil pertanian, dan Rp 35 juta kepada Halodoc, platform kesehatan online.
E-Commerce Merajai Platform Utama Ekonomi Digital
Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sister
Pembayaran Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta mengatakan, e-commerce
menjadi platform utama ekonomi digital. Volume transaksi e-commerce
secara kuartalan pada Maret 2021 mencapai 548 juta transaksi. Angka ini naik
99% year on year (yoy). Adapun secara nominal capai Rp 88 triliun, tumbuh 52%
yoy.
Digital banking yang terdiri dari internet banking, SMS banking, dan mobile banking juga meningkat kuartal l-2021 dengan kenaikan volume 28% menjadi 1.493 jutransaksi dan secara nominal tumbuh 23% yoy jadi Rp 8.233 triliun. Uang elektronik bank dan non bank juga berkembang pesat dengan volume transaksi 1.162 kali dengan nilai Rp 61,4 triliun kuartal l-2021. Secara nominal tumbuh 33%.
Sedangkan secara volume turun 10% yoy karena ada pembatasan aktivitas. Sehingga penggunaan uang elektronik di jalan tol menurun. Uang elektronik untuk transaksi di e-commerce sudah lebih dari 40%. Sehingga secara nominal tumbuh tinggi, tutur Filianingsih, dalam webinar Indonesia Banking School, Jumat (23/4).
Nilai transaksi mobile banking PT Bank Central Asia Tbk (BCA) naik 37,1% menjadi Rp 852 triliun pada Maret 2021. Secara volume, transaksi lewat aplikasi BCA mobile tumbuh 62% yoy menjadi 2,08 miliar kali.
Head of Communications OVO Harumi Supit bilang, setahun pandemi merchant OVO meningkat lebih dari dua kali. Saat ini, ada lebih dari 1,5 juta merchant. Total payment value (TPV) online merchant meningkat 238% sejak awal pandemi sampai akhir 2020, jelas Harumi.
Berdasarkan laporan Sea Group kuartal IV 2020, dompet digital SeaMoney, induk ShopeePay, mencatat lebih dari 10 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia.
Musim Semi Aset Digital
Popularitas aset digital kripto atau cryptocurrency di pasar Indonesia terus menanjak. Ketenaran Bitcoin cs yang dielu-elukan di pasar global membuat investor mulai melirik instrumen kripto dan beralih dari instrumen investasi konvensional.
Associate Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengungkapkan, “Banyak investor yang melihat dan meyakini kripto bisa meningkatkan keuntungan jauh lebih tinggi dari instrumen saham, surat utang, apalagi deposito perbankan, “ ujarnya kepada Tempo, kemarin.
Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sidharta Utama mengungkapkan, hingga Februari 2021, total investor aset kripto di Indonesia mencapai 4,2 juta investor. Jumlah tersebut hampir menyalip investor di bursa saham yang jumlahnya mencapai 4,5 juta investor pada periode yang sama.
Kementerian Perdagangan selaku regulator mendorong pembentukan bursa kripto pertama di Indonesia, Digital Future Exchange (DFX), di bawah naungan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) serta dalam pengawasan Bappebti.
Inggris Jajaki Penerbitan Pound Digital
Inggris menjadi negara terbaru yang ikut dalam perlombaan untuk menjajaki penerbitan mata uang digitalnya oleh bank sentral. Pemerintah Inggris sendiri belum memutuskan apakah akan memperkenalkan versi digital mata uang pound Inggris. Tetapi menyatakan bakal mengeksplorasi tujuan, kasus penggunaan, peluang, dan risiko mungkin timbul. beberapa bank sentral ememang sedang berlomba-lomba mencari tahu strategi mereka sendiri untuk mata uang digital bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC). Kemunculan bitcoin dan mata uang kripto lainnya telah memberikan dorongan baru untuk inisiatif tersebut, diiringi tren penurunan penggunaan uang tunai yang lebih luas.
Lonjakan nilai mata uang dogecoin yang terinspirasi meme telah menyebabkan kekhawatiran akan potensi gelembung (bubble) di pasar mata uang kripto. Alhasil, bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 56.740 atau naik 3% dalam 24 jam terakhir. Adapun faktor lain yang mendorong bank-bank sentral mengerjakan CBDC, adalah proyek stablecoin swasta, seperti Diem Association yang didukung Facebook dan mata uang kontroversial yang dikenal sebagai tether. Mata uang semacam itu berusaha mematok nilai pasarnya ke beberapa referensi eksternal, seperti dolar AS, guna menghindari perubahan harga yang tidak stabil yang umum terjadi di sebagian besar mata uang kripto.
(Oleh - IDS)
Persaingan Ekonomi Digital Berpusat di Tiga Poros
Pamor ekonomi digital semakin berkibar. Kabar teranyar, Grab Holdings Inc yang berbasis di Singapura berencana go public di Amerika Serikat. Tiga konglomerasi asal Indonesia: Grup Djarum, Sinarmas dan Emtek, ikut berpartisipasi dalam aksi korporasi Grab di pasar AS.
Masuknya tiga konglomerasi Indonesia (Djarum, keluarga Sariaatmadja/Grup Emtek, dan Sinarmas) akan membuat persaingan bisnis digital di Tanah Air semakin sengit. Sebab, ketiganya juga memiliki portofolio investasi dalam ekonomi digital.
Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda menilai, aksi tersebut dapat membuat kompetisi ekonomi digital di Indonesia mengerucut pada tiga poros utama.
Pertama, Gojek dan Tokopedia yang dikabarkan segera merger dan menyusul untuk menggelar IPO. Kedua, Grup Grab dengan dana segar dari IPO dan sokongan ekosistem bisnis dari para investornya. Ketiga, Shopee dengan dukungan SEA Grup.
Di luar tiga poros raksasa itu, pemain baru akan kian sulit bersaing. Oleh sebab itu, merger dan akuisisi menjadi opsi bertahan dan mengembangkan lini bisnis. jika tidak, platform ekonomi digital lainnya bisa merger dan membentuk ekosistem baru, asalkan bisa menggaet investor dengan pendanaan kuat.
Pilihan Editor
-
Ekspor Pertanian Rp 451 T
09 Feb 2021 -
Warga Asing Bisa Punya Hak Milik Apartemen
08 Oct 2020









