;
Tags

Digital Ekonomi umum

( 1150 )

Ditjen Pajak Mengincar Pajak Transaksi Kripto

Sajili 11 May 2021 Kontan

Siap-siap, semarak transaksi uang kripto (cryptocurrency) mulai masuk radar aparat pajak. Kini, Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak tengah mengkaji penerapan pajak transaksi kripto.

Direktur Jenderal Pajak Suryo Utomo mengungkapkan, Ditjen Pajak membahas model bisnis kripto, sebelum menetapkan jenis pajak yang dikenakan atas transaksi mata uang kripto. Dia menyatakan, kripto bisa dikenakan pajak pertambahan nilai (PPN) jika masuk kategori barang atau jasa. "Pertanyaannya, apakah kripto sama seperti itu?" kata Suryo, Senin (10/5). Kripto juga bisa dikenakan pajak penghasilan (PPh) bila dilihat dari sudut pandang investasi. Sebab, kini aset kripto diperdagangkan seperti pasar saham. Mengacu pada hal tersebut, pemerintah bisa memungut PPh atas capital gain. "Misal pemain kripto investasi Rp 1 juta, lalu duitnya bertambah jadi Rp 3 juta, ada keuntungan sebesar Rp 2 juta, bisa dipotong di sana, " ujar Suryo. Suryo belum memastikan jenis pajak pada kripto maupun waktu penerapannya. "Kami baru mendiskusikan sepotong model, " kata dia.

Pelaku pasar cryptocurrency menyatakan siap mengikuti aturan pajak dari pemerintah. Menurut Duwi Sudarto Putra, CEO Digital Exchange Indonesia, pajak kripto akan berdampak positif bagi ekosistem. "Artinya ekosistem kripto berkontribusi terhadap negara dan mengisyaratkan aset kripto sudah diakui pemerintah, " kata dia. Tapi Duwi berharap, penerapan pajak kripto perlu hati-hati agar tidak menghambat perkembangan industri. Saran dia, pengenaan pajak kripto ini dapat dibagi dua bagian.

Pertama, jika transaksi kripto terjadi di Indonesia dikenakan pajak final seperti transaksi saham ataupun reksadana sebesar 0,1% atau lebih rendah. Alasannya, aset kripto adalah instrumen investasi baru dan butuh relaksasi pajak. "Tujuannya agar menarik minat investor, " kata Duwi. Kedua, bila transaksi kripto terjadi di luar Indonesia, bisa dikenai pajak capital gain. Perbedaan metode tersebut membuat ekosistem aset di Indonesia lebih matang. Harapannya cara ini juga menarik investor luar negeri.

Muhammad Luthfi : Kami Perbaiki Pengaturan Aset Kripto dan E-dagang

Sajili 10 May 2021 Kompas

Perdagangan mata uang kripto dan keadilan berusaha di ranah perdagangan digital atau e-dagang saat ini menjadi perbincangan hangat. Meroketnya nilai mata uang kripto mendongkrak minat publik untuk berinvestasi. Namun, infrastruktur perdagangan mata uang digital belum tersedia. Keamanan dan keadilan bertransaksi pun belum terpenuhi. Upaya mengurai kedua persoalan itu menjadi wilayah tugas Kementerian Perdagangan. Dalam wawancara khusus dengan Kompas, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menjawab sejumlah pertanyaan terkait kedua topik ini.

Bagaimana perihal aset kripto ini akan diatur? “Pertama, saya akan memperkuat sumber daya manusia di internal Bappebti, terutama untuk menangani mata uang kripto. Persoalan ini akan kami benahi pelan-pelan, tidak tertutup kemungkinan juga untuk mengadopsi dan memperkenalkan regulatory sandbox atau program uji coba sistem dan model bisnis para pedagang kripto dalam rentang waktu tertentu. Kami bisa belajar dan bekerja sama dengan BI dan OJK yang program regulatory sandbox-nya telah berjalan baik dan menciptakan keadilan usaha. Untuk mengantisipasi penipuan atau potensi kaburnya pedagang mata uang kripto, kami tengah mematangkan pentingnya underlying asset milik pedagang kripto sebagai jaminan. Ada sebagian asetnya nanti yang akan disimpan sebagai deposit. Untuk menjaga keamanan penggunanya, aset kripto mereka harus disimpan dalam wadah digital yang aman, misalnya crypto cold storage (penyimpanan aset kripto yang bisa dijalankan secara daring dan luring). Tujuannya untuk meminimalkan risiko kehilangan yang disebabkan karena pencurian melalui jaringan internet atau penipuan. Sekali lagi, ini masih akan kami bicarakan dahulu dengan pemangku kepentingan terkait sembari berjalan. Intinya, kami akan menyiapkan ekosistemnya, saling terbuka dan berkoordinasi, serta tidak boleh ada ego sektoral.”

Terkait penataan kembali e-dagang, langkah-langkah apa yang telah dilakukan Kementerian Perdagangan? “Kemunculan e-dagang yang mendisrupsi sektor perdagangan luring dan daring serta pasar dalam negeri tidak bisa terelakkan. Dalam kajian Forum Ekonomi Dunia (WEF), dibahas pula mengenai produk-produk impor berkualitas rendah dengan harga murah menghancurkan industri di dalam negeri sejumlah negara."

"Dalam konteks Indonesia, mereka membuat kajian tentang usaha konfeksi hijab di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Produksi hijab dalam negeri di Pasar Tanah Abang sebelumnya laku keras dengan rata-rata pertumbuhan 30 persen per tahun. Tiba-tiba datang e-dagang lintas negara yang mewadahi penjualan hijab dengan harga lebih murah. Mereka memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam produksi dengan membaca selera konsumen hijab di Indonesia. Diproduksi mesin berkecepatan tinggi dalam jumlah besar. Mereka menjual hijab-hijab itu ke Indonesia dan hanya membayar pajak rata-rata 40.000 dollar AS per tahun. Ini tidak sebanding dengan industri kecil hijab yang membayar pekerja konfeksinya 640.000 dollar AS per tahun. Praktik perdagangan yang tidak adil ini tidak hanya menyebabkan ketimpangan antara pedagang daring dan konvensional atau pedagang daring asing dan domestik. Namun, data konsumen atau pembeli Indonesia, seperti selera, cara atau sistem pembayaran, dan identitas pembeli, ”terbang” semua ke luar negeri. Mestinya jangan begitu. Kami akan atur lokapasar domestik dengan lokapasar asing, keseimbangan perdagangan daring dan luring, pelaku domestik dengan internasional, serta semua pilar perdagangan yang menerapkan persaingan sehat dan kesetaraan pedagang-penjual untuk menciptakan perdagangan adil dan bermanfaat." 

"Kami telah merevisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 50 Tahun 2020 tentang Ketentuan Perizinan Usaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik. Salah satu cantolannya adalah Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Sistem Elektronik. Kami berencana meluncurkan permendag baru itu pada Mei 2021. Dalam aturan ini, lokapasar harus menjaga tingkat persaingan usaha antarpedagang. Mereka juga wajib menjaga harga barang atau jasa dalam sistem e-dagangnya bebas dari praktik manipulasi harga, baik langsung maupun tidak langsung. Kami akan perjelas identitas lokapasar dan pedagang dalam negeri dengan luar negeri. Lokapasar internasional harus memperjelas identitas pedagang dari luar negeri. Pedagang luar negeri wajib mendaftarkan nomor, nama, dan instansi penerbit negara asal yang masih berlaku.”

Mata Uang Kripto Masih Paling Cuan

Sajili 03 May 2021 Kontan

Bitcoin menorehkan performa paling baik di antara berbagai instrumen investasi di empat bulan pertama tahun ini. Harga bitcoin naik 99,13% secara year to date (ytd) hingga April.

Selain bitcoin, mata uang kripto lain juga mencetak kenaikan harga luar biasa selama empat bulan pertama tahun ini. Dogecoin misalnya, naik hingga 7.111%.

Mata uang kripto memang mendapat banyak sentimen di empat bulan pertama tahun ini. Selain ada aksi pompom dari sejumlah pesohor, termasuk Elon Musk, investor kripto merespons positif masuknya dana institusi ke mata uang kripto dan rencana pembentukan exchange traded fund berbasis duit kripto.

Gabriel memprediksi harga bitcoin mampu menembus US$ 100 per BTC jika rencana pembentukan ETF bitcoin disetujui tahun ini. "Persentase kemungkinan ETF bitcoin disetujui oleh SEC sangat tinggi di tahun ini, " kata dia.

Tiga Grup Platform Digital RI Miliki Valuasi US$ 240 Miliar

Ayutyas 28 Apr 2021 Investor Daily, 28 April 2021

JAKARTA – Tiga grup raksasa ekonomi digital Indonesia memiliki valuasi sebesar US$ 240 miliar atau ekuivalen seperempat Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Fakta ini merupakan salah satu indikator bahwa Indonesia merupakan pasar ekonomi digital paling penting dan berpengaruh di Asean.

Hal itu diungkapkan Co-Founder & Executive Chairman Triputra Agro Persada Group, Arif P Rachmat dalam silaturahmi dengan pemimpin redaksi media massa secara virtual, Selasa (27/4/2021). Arif lantas memaparkan tiga ekosistem atau grup pelaku ekonomi digital yang disebutnya memiliki valuasi sekitar US$ 240 miliar tersebut. Per tama, platform e-commerce terbesar Shopee yang memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$ 140 miliar dan sudah listed di bursa Amerika Serikat. Shopee bahkan menjadi perusahaan e-commerce terbesar di Asean. “Shopee di Indonesia menguasai 40% volume pasar. Itu membuktikan betapa pentingnya Indonesia,” kata dia. Kedua, platform digital Grab juga berniat listing di AS dengan valuasi US$ 40 miliar. Grab yang berada dalam satu grup platform pembayaran OVO akan berpartisipasi dalam rights issue PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (Emtek) yang memiliki dompet digital Dana. Emtek sendiri memiliki valuasi US$ 10 miliar. “Jadi, kalau Emtek dengan valuasi US$ 10 miliar digabung Grab  US$ 40 miliar, bernilai total US$ 50 miliar,” kata Arif. Ketiga, sinergi Grup Triputra, Tokopedia, Gojek, dan Bank Jago. Triputra menekuni bisnis e-commerce berawal dari pendirian PT Anteraja. Menurut dia, ekonomi digital tidak terlepas dari tiga hal, yakni platform e-commerce, e-payment dan logistik. Grup Triputra bermitra dengan Bank Jago yang sudah mendeklarasikan sebagai bank digital. Triputra sebagai pemegang saham, meskipun kecil. Triputra juga menggandeng platform e-commerce Tokopedia. Seiring dengan itu, Gojek bermerger dengan Tokopedia menjadi GoTo. Arif Rachmat menyatakan, GoTo dengan valuasi US$ 18 miliar diyakini akan tumbuh ke level US$ 40 miliar. Jika GoTo bersinergi Bank Jago dengan valuasi US$ 10 miliar, nilainya keduanya bakal menembus US$ 50 miliar.

Untuk mengakselerasi PDB per kapita, kata Arif, salah satunya adalah harus banyak mencetak enterprenur, termasuk dalam bisnis ekonomi digital. “Apa yang dilakukan Aldi Haryopratomo dengan membangun Mapan kemudian masuk ke GoPay dan Gibran Huzaifah di eFishery itu luar biasa. Mereka benar-benar leading the way,” kata Arif. Selain itu, dalam pandangan Arif, e-commerce jangan hanya bersifat konsumtif. “E-commerce ini harus mampu meningkatkan produktivitas terutama dari sisi supply chainnya. Harus membantu UMKM, petani, nelayan, dan sebagainya,” kata Arif. Optimistis Di lain sisi, Arif Rachmat menyatakan bahwa dia dan para koleganya yang memimpin grup usaha besar di Indonesia sama-sama optimistis tentang prospek perekonomian nasional ke depan. Dia baru saja berbicara dengan petinggi di Grup BCA dan Grup Wing tentang ekonomi Indonesia, mereka menilai tanda kebangkitan semakin jelas.

Sedangkan Aldi Haryopratomo, komisaris eFishery yang juga mantan CEO GoPay menyatakan pengalaman mendirikan startup Mapan pada 2009. Mapan kemudian dibeli Gojek menjadi GoPay pada 2017. Dia menceritakan, saat mendirikan Mapan, secara ekosistem baik funding maupun mentorship masih sangat kurang. Beda dengan di AS tempat dia menimba ilmu, mentorship begitu berlimpah, terutama di Silicon Valley. “Di Indonesia belum ada, karena tech-entrepreneur bukan sesuatu yang bergengsi,” kata dia.

(Oleh - HR1)

Korporasi Lokal Suntik Lagi Perusahaan Teknologi

Sajili 26 Apr 2021 Kontan

Perputaran dana investasi di perusahaan teknologi semakin kencang. Bukan hanya pemain global, konglomerasi nasional juga berlomba membenamkan investasinya di perusahaan aplikasi super (super app).

Kabar terbaru, PT Telkomsel (anak usaha Grup Telkom), mengkaji opsi menambah investasi di Gojek. Telkomsel masih memiliki ruang untuk berinvestasi hingga US$ 300 juta atau Rp 4,37 triliun pada perusahaan ride-hailing dan pembayaran digital itu.

Direktur Utama Telkomsel, Setyanto Hantoro menjelaskan, pihaknya memiliki opsi untuk berinvestasi di Gojek hingga USS 450 juta dalam waktu satu tahun sejak investasi pertama dilakukan. Adapun investasi pertama Telkomsel ke PT

Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) pada November 2020 senilai USD 150 juta atau Rp 2,16 triliun. "Kami sedang mengkaji opsi USS 300 juta agar bisa dilakukan lebih cepat setelah melihat hasil positif dari kolaborasi yang sudah dijalankan sejak awal tahun 2021," kata Setyanto.

Selain Grup Telkom, Gojek juga diguyur dana dari Grup Astra. Sejak awal investasi tahun 2018 hingga kini, ASII sudah menyuntikkan US$ 250 juta di Gojek.

Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef Nailul Huda menilai, investasi Telkomsel di Gojek akan memanaskan kompetisi ekonomi digital di Indonesia. Selain Grab yang dikabarkan akan IPO, Shopee kian ekspansif dengan masuk bisnis layanan pesan antar makanan.

Presiden Komisaris SEA Group Indonesia yang menaungi Shopee, Pandu Sjahrir menyebutkan, perusahaan teknologi akan terus berkembang di Indonesia sehingga membutuhkan pendanaan jumbo. Pria yang juga menjabat Komisaris

Potensi pertumbuhan bisnis e-commerce di Indonesia masih cukup besar. Menurut Pandu, secara umum porsi e-commerce di Indonesia masih kecil dibanding bisnis konvensional (off-commerce). "Kita paling hanya 3%-4% dari off-commerce. Di AS, porsi e-commerce 20%-25%, di China 20%. Jadi masih ada potensi tumbuh lima kali lipat dari sekarang, " ungkap dia.


AstraPay Bakal Dorong Kinerja ASII

Sajili 26 Apr 2021 Koran Tempo

Keputusan PT Astra International Tbk terjun ke bisnis pembayaran digital menambah daya tariknya sebagai emiten Bursa Efek Indonesia (BEI). Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas, Robertus Yanuar Hardy, mengatakan layanan pembayaran AstraPay dinilai mampu mendongkrak kinerja perusahaan.

Secara konsolidasi, pendapatan bersih emiten berkode ASII ini turun 4 persen menjadi Rp 51,7 triliun. Laba bersih anjlok 22 persen menjadi Rp 3,7 triliun, dipicu oleh penurunan kinerja semua segmen bisnis yang belum pulih. Laba dari bisnis otomotif, sebagai contoh, menyusut 26 persen.

Senior Vice President Research PT Kanaka Hita Solvera, Janson Nasrial, mengatakan kinerja Astra International berpotensi membaik hingga akhir tahun, dan layanan pembayaran digital ini bisa dikombinasikan dengan Sayurbox dan Halodoc, dua start-up digital yang didanai Astra

ASII menjadi investor utama di Sayurbox dan Halodoc sejak Maret lalu. Astra menyuntikkan dana US$ 5 juta di Sayurbox, yang bergerak di sektor e-commerce hasil pertanian, dan Rp 35 juta kepada Halodoc, platform kesehatan online.

 


E-Commerce Merajai Platform Utama Ekonomi Digital

Sajili 24 Apr 2021 Kontan

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sister Pembayaran Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta mengatakan, e-commerce menjadi platform utama ekonomi digital. Volume transaksi e-commerce secara kuartalan pada Maret 2021 mencapai 548 juta transaksi. Angka ini naik 99% year on year (yoy). Adapun secara nominal capai Rp 88 triliun, tumbuh 52% yoy.

Digital banking yang terdiri dari internet banking, SMS banking, dan mobile banking juga meningkat kuartal l-2021 dengan kenaikan volume 28% menjadi 1.493 jutransaksi dan secara nominal tumbuh 23% yoy jadi Rp 8.233 triliun. Uang elektronik bank dan non bank juga berkembang pesat dengan volume transaksi 1.162 kali dengan nilai Rp 61,4 triliun kuartal l-2021. Secara nominal tumbuh 33%.

Sedangkan secara volume turun 10% yoy karena ada pembatasan aktivitas. Sehingga penggunaan uang elektronik di jalan tol menurun. Uang elektronik untuk transaksi di e-commerce sudah lebih dari 40%. Sehingga secara nominal tumbuh tinggi, tutur Filianingsih, dalam webinar Indonesia Banking School, Jumat (23/4).

Nilai transaksi mobile banking PT Bank Central Asia Tbk (BCA) naik 37,1% menjadi Rp 852 triliun pada Maret 2021. Secara volume, transaksi lewat aplikasi BCA mobile tumbuh 62% yoy menjadi 2,08 miliar kali.

Head of Communications OVO Harumi Supit bilang, setahun pandemi merchant OVO meningkat lebih dari dua kali. Saat ini, ada lebih dari 1,5 juta merchant. Total payment value (TPV) online merchant meningkat 238% sejak awal pandemi sampai akhir 2020, jelas Harumi.

Berdasarkan laporan Sea Group kuartal IV 2020, dompet digital SeaMoney, induk ShopeePay, mencatat lebih dari 10 juta pengguna aktif bulanan di Indonesia.


Musim Semi Aset Digital

Sajili 22 Apr 2021 Koran Tempo

Popularitas aset digital kripto atau cryptocurrency di pasar Indonesia terus menanjak. Ketenaran Bitcoin cs yang dielu-elukan di pasar global membuat investor mulai melirik instrumen kripto dan beralih dari instrumen investasi konvensional.

Associate Center of Innovation and Digital Economy Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, mengungkapkan, “Banyak investor yang melihat dan meyakini kripto bisa meningkatkan keuntungan jauh lebih tinggi dari instrumen saham, surat utang, apalagi deposito perbankan, “ ujarnya kepada Tempo, kemarin.

Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Sidharta Utama mengungkapkan, hingga Februari 2021, total investor aset kripto di Indonesia mencapai 4,2 juta investor. Jumlah tersebut hampir menyalip investor di bursa saham yang jumlahnya mencapai 4,5 juta investor pada periode yang sama.

Kementerian Perdagangan selaku regulator mendorong pembentukan bursa kripto pertama di Indonesia, Digital Future Exchange (DFX), di bawah naungan PT Bursa Berjangka Jakarta (BBJ) atau Jakarta Future Exchange (JFX) serta dalam pengawasan Bappebti.


Inggris Jajaki Penerbitan Pound Digital

Ayutyas 20 Apr 2021 Investor Daily, 20 April 2021

Inggris menjadi negara terbaru yang ikut dalam perlombaan untuk menjajaki penerbitan mata uang digitalnya oleh bank sentral. Pemerintah Inggris sendiri belum memutuskan apakah akan memperkenalkan versi digital mata uang pound Inggris. Tetapi menyatakan bakal mengeksplorasi tujuan, kasus penggunaan, peluang, dan risiko mungkin timbul. beberapa bank sentral ememang sedang berlomba-lomba mencari tahu strategi mereka sendiri untuk mata uang digital bank sentral atau central bank digital currencies (CBDC). Kemunculan bitcoin dan mata uang kripto lainnya telah memberikan dorongan baru untuk inisiatif tersebut, diiringi tren penurunan penggunaan uang tunai yang lebih luas. 

Lonjakan nilai mata uang dogecoin yang terinspirasi meme telah menyebabkan kekhawatiran akan potensi gelembung (bubble) di pasar mata uang kripto. Alhasil, bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 56.740 atau naik 3% dalam 24 jam terakhir. Adapun faktor lain yang mendorong bank-bank sentral mengerjakan CBDC, adalah proyek stablecoin swasta, seperti Diem Association yang didukung Facebook dan mata uang kontroversial yang dikenal sebagai tether. Mata uang semacam itu berusaha mematok nilai pasarnya ke beberapa referensi eksternal, seperti dolar AS, guna menghindari perubahan harga yang tidak stabil yang umum terjadi di sebagian besar mata uang kripto.

(Oleh - IDS)

Persaingan Ekonomi Digital Berpusat di Tiga Poros

Sajili 16 Apr 2021 Kontan

Pamor ekonomi digital semakin berkibar. Kabar teranyar, Grab Holdings Inc yang berbasis di Singapura berencana go public di Amerika Serikat. Tiga konglomerasi asal Indonesia: Grup Djarum, Sinarmas dan Emtek, ikut berpartisipasi dalam aksi korporasi Grab di pasar AS.

Masuknya tiga konglomerasi Indonesia (Djarum, keluarga Sariaatmadja/Grup Emtek, dan Sinarmas) akan membuat persaingan bisnis digital di Tanah Air semakin sengit. Sebab, ketiganya juga memiliki portofolio investasi dalam ekonomi digital.

Peneliti Center of Innovation and Digital Economy Indef, Nailul Huda menilai, aksi tersebut dapat membuat kompetisi ekonomi digital di Indonesia mengerucut pada tiga poros utama.

Pertama, Gojek dan Tokopedia yang dikabarkan segera merger dan menyusul untuk menggelar IPO. Kedua, Grup Grab dengan dana segar dari IPO dan sokongan ekosistem bisnis dari para investornya. Ketiga, Shopee dengan dukungan SEA Grup.

Di luar tiga poros raksasa itu, pemain baru akan kian sulit bersaing. Oleh sebab itu, merger dan akuisisi menjadi opsi bertahan dan mengembangkan lini bisnis. jika tidak, platform ekonomi digital lainnya bisa merger dan membentuk ekosistem baru, asalkan bisa menggaet investor dengan pendanaan kuat.