Farmasi
( 107 )Kalbe Farma Perkuat Pasar Regional dengan Strategi Penjualan
PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) sedang fokus memperluas pasar di kawasan Asia Tenggara melalui penambahan produk baru dan kemitraan strategis. Hari Nugroho, Corporate External Communication PT Kalbe Farma, menyebut bahwa Kalbe berupaya memperkuat ekspor, termasuk ke negara seperti Thailand, Sri Lanka, Timur Tengah, dan Afrika. Saat ini, ekspor berkontribusi sekitar 5%–6% dari total penjualan Kalbe.
Maria Teresa Fabiola, Corporate Secretary KLBF, menambahkan bahwa produk Kalbe telah tersedia di lebih dari 40 negara, menjadikan perusahaan ini kompetitif di pasar internasional. Pertumbuhan laba bersih Kalbe pada semester pertama mencapai 18,4%, didukung oleh kinerja yang kuat di seluruh segmen bisnis, pengelolaan biaya operasional yang baik, dan kemitraan strategis, termasuk dengan perusahaan dari Thailand dan China untuk pengembangan bahan baku obat.
Ekspansi ke Pasar Ekspor
Emiten farmasi PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) terus melebarkan sayap ke pasar ekspor. Kali ini, KLBF tengah menyasar Afrika dan Timur Tengah, sembari tetap memperkuat kehadirannya di pasar Asia Tenggara. Direktur Kalbe Farma, Kartika Setiabudy mengatakan, sebagai langkah awal, KLBF perlu mendapatkan persetujuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di masing-masing negara. KLBF juga gencar memperkuat posisi di Asia Tenggara. Khususnya di Filipina, Myanmar dan Malaysia. Ketiga negara ini memberikan pertumbuhan yang baik terhadap penjualan KLBF di kawasan ASEAN. Untuk pasar ASEAN, KLBF mulai memperkuat posisi di Thailand. Pada pertengahan 2024, KLBF melalui anak usahanya Kalbe International Pt Ltd. telah mengakuisisi 49% saham Alliance Pharma Co Ltd.
Dengan aksi korporasi itu, peluang melakukan penetrasi pasar di Negeri Gajah Putih telah terbuka lebar. Kartika mengatakan, pasar Thailand khususnya obat resep sangat positif, khususnya obat-obatan khusus, onkologi dan kanker.
Demi menjaga margin, KLBF juga berupaya melepas ketergantungan dari bahan baku impor yang rentan dipengaruhi fluktuasi rupiah. KLBF pun berupaya meningkatkan kemampuan untuk memproduksi bahan baku obat sendiri. Terbaru, KLBF telah menjalin kerja sama dengan Livzon Pharmaceutical Group Inc dengan mendirikan perusahaan patungan untuk memproduksi bahan baku obat yang akan dimanfaatkan untuk pasar dalam dan luar negeri.
Equity Research
BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, segmen obat
speciality
KLBF seperti onkologi dan biosimilar akan meningkat secara bertahap di masa mendatang. Natalia mempertahankan rekomendasi beli KLBF dengan target harga di Rp 1.800 per saham.
Obat Generik dan Obat Paten Berkualitas Sama
Industri Mandiri dan Sehat
Industri kesehatan menjadi bagian penting untuk mengiringi Indonesia meraih cita-cita menuju Indonesia Emas. Industri farmasi sebagai bagian dari industri kesehatan, memainkan peran kunci dalam memastikan ketersediaan dan aksebilitas obat-obat bagi seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan kapasitas produksi dan inovasi yang didukung oleh SDM mumpuni serta ditopang regulasi pemerintah menjadi bagian penting untuk mencapai kemandirian dalam industri farmasi nasional.
Tercatat nilai pasar farmasi Indonesia pada 2022 mencapai Rp 127 triliun hingga Rp 130 triliun. Namun, dari 10 produk biologi dengan konsumsi terbesar, hanya empat produk yang dapat diproduksi di dalam negeri. Mengutip data Badan Pusat Statistik, kontribusi sektor farmasi terhadap PDB meningkat setiap tahunnya, mencapai 1,6% pada tahun 2020. Sementara data, Kementerian Perindustrian menyebut sektor farmasi menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja langsung pada tahun 2022, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5%. (Yetede)
Ironi Industri Farmasi
Ketergantungan Impor Tinggi, Harga Obat Sulit Turun
DAYA SAING MANUFAKTUR : Industri Farmasi Butuh Kendali Harga
Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Biofarmasi dan Bahan Baku Obat Irfat Hista mengatakan pemerintah selama ini hanya mengendalikan harga obat melalui e-Katalog yang akan disebar ke puskesmas dan rumah sakit. Padahal, cukup banyak obat yang dijual di apotek tanpa pengendalian harga, tetapi dibutuhkan masyarakat. “Kuncinya adalah pengendalian harga. Bukan cuma di obat generik, tapi juga di obat non-generik, obat paten. Apalagi, obat paten ini yang diimpor tanpa melalui proses produksi di Indonesia,” katanya dikutip Kamis (11/7). Menurutnya, Indonesia baru bisa memproduksi obat generik atau obat berbahan dasar zat aktif untuk memasok kebutuhan nasional. Obat generik merupakan obat yang telah habis masa patennya, sehingga bisa diproduksi oleh perusahaan manapun, seperti paracetamol, omeprazole, amoxicillin, hingga amlodipine. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam kesempatan terpisah membeberkan, pemerintah sedang berupaya menurunkan harga alat kesehatan dan obat-obatan di dalam negeri, salah satunya dengan memberikan relaksasi perpajakan kepada sektor tersebut.
Harga Obat Turun, Emiten Bisa Meriang
Jajaran manajemen emiten di sektor industri kesehatan di Tanah Air pusing tujuh keliling. Saat ini pemerintah sedang mematangkan konsep kebijakan untuk menekan biaya kesehatan di dalam negeri lewat penurunan harga obat-obatan dan alat kesehatan.
Pemerintah berharap, dengan adanya kebijakan tersebut, masyarakat bisa mendapatkan pelayanan kesehatan baik, dengan harga murah. Persoalannya, pendapatan rumah sakit akan turun.
"Harga obat dan alat kesehatan akan turun jika porsi impor berkurang. Kami juga harus pandai menurunkan biaya operasional," kata Direktur Utama PT Mendikaloka Hermina (HEAL), Hasmoro kepada KONTAN, Minggu (7/7).
Direktur PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) Kartika Setiabudy mengatakan, emiten ini berkomitmen meningkatkan efisiensi biaya kesehatan. Salah satunya terus memproduksi obat generik untuk BPJS Kesehatan. Cuma, Kartika mengingatkan, sampai saat ini sebagian besar bahan baku obat masih impor.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo melihat, rencana pemerintah menurunkan biaya kesehatan bisa memangkas margin emiten. Terlebih, harga bahan baku obat lokal masih lebih mahal dibanding impor.
Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia, Budi Frensidy melihat, kebijakan pemerintah menekan harga obat dan alat kesehatan sulit diterapkan. "Karena, selama ini pendapatan dokter juga cukup besar dari industri obat," kata Budi.
Bisnis KLBF Bakal Semakin Sehat
Emiten farmasi, PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) menargetkan pendapatannya di tahun ini tumbuh di kisaran 6% -7% jika dibandingkan dengan pendapatan tahun lalu. Sementara laba bersih juga di harapkan tumbuh 13%-15% di sepanjang 2024. Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjongtius mengatakan, prospek bisnis farmasi masih menjanjikan di tahun ini. Ia menyebut, kebutuhan produk obat-obatan dan layanan kesehatan di dalam negeri masih tetap tinggi. Selain itu, target kinerja ini juga didorong dari realisasi kinerja KLBF di kuartal I-2024 yang cukup memuaskan. Untuk mencapai target itu, KLBF akan meluncurkan beberapa produk baru tahun ini. Dalam catatan KONTAN, KLBF juga telah menyiapkan anggaran belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 700 miliar hingga Rp 1 triliun untuk tahun ini.
Dalam laporan keuangannya, penjualan KLBF didominasi penjualan domestik, terutama obat resep senilai Rp 2,04 triliun, produk kesehatan Rp 1,08 triliun, nutrisi Rp 2,07 triliun, dan distribusi logistik Rp 2,77 triliun. Alhasil, KLBF membukukan laba tahun berjalan sebesar Rp 957,5 miliar di kuartal I-2024. Laba ini naik 15,6% dari sebelumnya Rp 855,7 miliar di kuartal I-2023. Adapun, baru-baru ini Kalbe merilis obat untuk lini pertama kanker paru-paru sel kecil stadium ekstensif (extensive stage small cell lung cancer/ES-SCLC) bernama Serplulimab. Sie Djohan, Direktur Kalbe menyatakan, ketersediaan Serplulimab merupakan bukti komitmen Kalbe dalam memperluas akses layanan kesehatan bagi pasien kanker paru.
INDUSTRI FARMASI : Bahan Baku Obat Lokal Masih Kalah Saing
Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Elfiano Rizaldi mengatakan, harga bahan baku obat domestik masih lebih mahal dibandingkan dengan produk luar negeri, meski rupiah sedang mengalami pelemahan nilai tukar terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Alasannya, produsen di luar negeri telah mampu memproduksi bahan baku obat dalam skala industri, sehingga keekonomiannya lebih kompetitif. Alhasil, harganya lebih murah dari bahan baku obat yang diproduksi di Tanah Air. Orientasi produsen bahan baku obat di Tanah Air yang hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri saja, membuat keekonomiannya tidak lebih baik dibandingkan dengan produsen yang fokus menggarap pasar global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2023 impor farmasi mencapai US$1,27 miliar, naik tipis dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang senilai US$1,24 miliar. Adapun, dari sisi volume impor pada 2023 sebesar 29,5 juta kilogram, turun dari 2022 yang sebanyak 35,7 juta kilogram. Kementerian Perindustrian pun mencatat, saat ini industri bahan baku obat nasional sudah dapat memproduksi delapan dari 10 bahan baku obat yang paling banyak digunakan di Indonesia, yaitu parasetamol, omeprazole, atorvastatin, clopidogrel, amlodipin, candesartan, bisoprolol, dan azitromisin.
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









