;
Tags

Farmasi

( 107 )

BAHAN BAKU OBAT : PEMERINTAH TEGAS TEKAN IMPOR

HR1 03 Jun 2022 Bisnis Indonesia

Pemerintah semakin serius memutus ketergantungan industri farmasi dalam negeri dari bahan baku impor dengan mengancam akan membekukan izin obat yang tidak menggunakan produk dalam negeri. Ancaman tersebut disampaikan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin yang menyebut hingga kini masih ada perusahaan farmasi yang tidak mengikuti arahan pemerintah terkait penggunaan bahan baku obat dalam negeri. Padahal, pemerintah telah mengupayakan transformasi layanan kesehatan dengan membangun pabrik bahan baku obat di dalam negeri untuk memutus ketergantungan terhadap barang impor yang selama ini mencapai 90%.“Ada yang tidak menurut? Ada. Dia masih mau impor [bahan baku obat]. Yang seperti itu nanti kami akan panggil, dan kalau tidak datang juga, kami freeze obat-obatan dari farmasi tersebut,” katanya, Kamis (2/6). Budi mengatakan, pemerintah tidak akan segan untuk melakukan audit terhadap perusahaan farmasi untuk mengetahui apakah masih ada yang mengimpor bahan baku obat yang saat ini sudah diproduksi di dalam negeri.

Dia pun menyebut selama ini industri farmasi nasional banyak mengimpor bahan baku obat dari China dan India dengan nilai hingga ratusan triliun rupiah. Untuk itu, pemerintah menargetkan setidaknya bisa mengambil alih 10% bahan baku obat impor dengan memproduksinya di dalam negeri. Meski begitu, Budi juga mengakui pihaknya masih mendapat laporan terkait rumitnya regulasi dan perizinan untuk mengandalkan pasokan bahan baku obat lokal. Untuk itu, dirinya menjanjikan Kementerian Kesehatan akan memfasilitasi perusahaan farmasi untuk memperoleh bahan baku obat.

Bahan Baku Obat: Kelit Farmasi Hadapi Kelangkaan

HR1 07 Apr 2022 Bisnis Indonesia

Industri farmasi dalam negeri menyiapkan sejumlah langkah strategis untuk mengantisipasi kemacetan rantai pasok akibat penutupan wilayah atau lockdown yang makin meluas di China. Penutupan sejumlah wilayah di China memunculkan kekhawatiran terganggunya rantai pasok dunia, termasuk bagi industri bahan baku obat. Apalagi, selama ini China bersama India masih menjadi sumber utama bahan baku obat (BBO) Indonesia.Pamian Siregar, Presiden Direktur PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia (KFSP) mengatakan bahwa industri farmasi enggan kecolongan saat China melakukan lockdown di sejumlah wilayahnya kali ini. “Antisipasi industri farmasi dan KFSP di industri BBO saat ini berkembang lebih baik. Kami melakukan perubahan kebijakan supply chain management dan inventory management,” kata Pamian kepada Bisnis, Rabu (6/4).Untuk diketahui, kemacetan rantai pasok selama masa pandemi Covid-19 sempat terjadi dua kali, yakni pada 2020 ketika lockdown ketat diberlakukan di China, menyusul kemudian India ketika mengalami lonjakan kasus yang tinggi.

Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, dari konsumsi 10 molekul bahan baku obat terbesar dalam negeri, baru empat yang mampu diproduksi mandiri, yakni paracetamol, clopidogrel, omeprazole, dan atorvastatin. Sementara itu, cefixime, amlodipine, candesartan cilexetil, bisoprolol, lansoprazole, dan ceftriaxone belum dapat diproduksi di dalam negeri. Langkah antisipatif juga dilakukan oleh produsen farmasi PT Phapros Tbk. (PEHA) yang diketahui banyak mengimpor BBO dari China, India, dan Eropa.Sekretaris Perusahaan Phapros Zahmilia Akbar mengatakan, sejak kemacetan suplai bahan baku menimpa industri farmasi domestik pada 2020, perseroan telah mengambil strategi tidak hanya berfokus pada satu sumber bahan baku.

Terkerek Produk Herbal dan Suplemen

HR1 08 Feb 2022 Kontan

PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk membukukan kinerja positif sepanjang tahun 2021. Emiten berkode saham SIDO ini mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba bersih hingga dua digit. Kenaikan penjualan turut mengerek laba bersih SIDO hingga 35% secara tahunan jadi Rp 1,26 triliun. Sementara pada tahun sebelumnya, laba SIDO tercatat sebesar Rp 934,01 miliar. Sementara itu, penjualan jamu herbal dan suplemen meningkat hingga Rp 21,27% yoy menjadi Rp 2,69 triliun dari Rp 2,22 triliun. Capaian ini menjadikan jamu herbal dan suplemen berkontribusi paling tinggi terhadap penjualan SIDO di tahun lalu. Lalu, penjualan makanan dan minuman juga tumbuh 18,34% yoy menjadi Rp 1,19 triliun dari sebelumnya Rp 1 triliun. 

Halodoc Bantu Tangani 12% Pasien Covid-19

KT1 30 Dec 2021 Investor Daily

Halodoc, salah satu perusahaan telemedicine (telehealth) terdepan di Indonesia, telah menghadirkan berbagai inovasi dan pembaharuan produk untuk mempermudah masyarakat dalam mendapatkan akses pelayanan kesehatan jarak jauh. CEO & Co-Founder Halodoc Jonathan Sudharta meniatkan, pada awalnya, tidak satupun negara, perusahaan, maupun perorangan yang memiliki cukup bekal  pengetahuan maupun kesiapan dalam menghadapi pandemi Covid-19. "Sebagai telehealth dengan misi menyederhanakan akses layanan kesehatan, Halodoc senantiasa berupaya untuk selalu berada di garis depan dan mengulurkan tangan agar  dapat membantu sebanyak-banyaknya masyarakat yang membutuhkan," ungkap Jonathan, dalam pernyataannya, Rabu (29/12). Secara keseluruhan, terdapat 12% pasien positif COVID-19 di Indonesia yang terbantu dan memanfaatkan layanan kesehatan digital dari Halodoc. Sementara itu, salah seorang karyawan swasta di Jakarta yang terkonfirmasi positif Covid-19 pada gelombang kedua lalu, Bambang Sigid, telah merasakan kemudahan  dari penggunaan aplikasi Halodoc. (Yetede)

Pandemi Covid-19 Kerek Pendapatan BUMN Farmasi

HR1 28 Sep 2021 Kontan

Wabah Covid-19 menyehatkan pendapatan produsen farmasi pelat merah. Semester I-2021, pendapatan Holding BUMN Farmasi melejit 164% secara tahunan atau year-on-year (yoy) menjadi Rp 15,26 triliun. Pencapaian tersebu tak lepas dari penugasan pemerintah terhadap BUMN Farmasi dalam penanganan Covid-19 sejak tahun lalu. Tugas itu antara lain penyediaan vaksin Covid-19, obat-obatan, multivitamin, serta alat kesehatan. Holding BUMN Farmasi meliputi PT Bio Farma, PT Kimia Farma Tbk (KAEF) dan PT Indofarma Tbk (INAF). 

Kinerja Semester I/2021, Emiten Healthcare Kian Tokcer

HR1 02 Aug 2021 Bisnis Indonesia

Emiten farmasi dan pengelola rumah sakit membukukan pertumbuhan pendapatan dan profitabilitas yang lebih baik pada semester I/2021. Lonjakan kebutuhan fasilitas kesehatan dan obat-obatan untuk pasien Covid-19 serta kenaikan konsumsi vitamin dan suplemen menjadi faktor pendorong utama.Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, tiga perusahaan farmasi telah menyampaikan laporan keuangan per 30 Juni 2021, yakni PT Indofarma Tbk. (INAF), PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO), dan PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF).Pendapatan INAF pada 6 bulan pertama 2021 berlari kencang dengan kenaikan 89,88% year on year (yoy) dari Rp447,29 miliar menjadi Rp849,32 miliar pada semester I/2021.Di sisi profit, laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk SIDO naik paling tinggi 21,32% yoy menjadi Rp502 miliar. Kendati demikian, KLBF mengantongi nilai laba bersih paling besar Rp1,49 triliun pada semester I/2021.Kinerja ciamik juga dibukukan oleh emiten pengelola rumah sakit (RS) yang kompak mengantongi pendapatan lebih tebal dengan tingkat pertumbuhan 51%—103% secara tahunan. Sementara itu, laba bersih PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) melesat 422,5% yoy menjadi Rp544,65 miliar.Senada, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME) dan PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) bernasib sama dengan membalik posisi rugi pada semester I/2020 menjadi laba per akhir Juni 2021.

(Oleh - HR1)

Pertumbuhan Sektoral, Industri Farmasi Fokus Penanganan Covid-19

HR1 29 Jul 2021 Bisnis Indonesia

Sektor farmasi akan fokus pada produksi obat terkait Covid-19 ketimbang mengejar pertumbuhan secara industri pada tahun ini.Tahun lalu, pertumbuhan industri farmasi hanya didorong oleh produk berkaitan dengan imunomodulator, sedangkan serapan obat di luar Covid-19 tercatat minus hingga 11%.Alhasil, sulit mengejar pertumbuhan dari produk yang tak berkaitan dengan penanganan Covid-19.Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Farmasi Indonesia (GPFI) Andreas Bayu Aji mengatakan dengan lonjakan kasus Covid-19 saat ini, fokus industri membantu masyarakat dan pemerintah dari sisi penyediaan obat.Sementara itu, berbeda dengan keluhan industri, data pemerintah dan Badan Pusat Statistik (BPS) justru mengelompokkan industri kimia dan farmasi pada sektor yang bertumbuh paling baik.Direktur Industri Kimia Hilir dan Farmasi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Muhammad Taufiq mengatakan saat ini industri farmasi telah menjadi industri prioritas pemerintah yang terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19.

(Oleh - HR1)

Vaksin Sinovac : Antibodi Menurun Setelah Enam Bulan

Sajili 29 Jul 2021 Kompas

Studi terbaru menunjukkan, pada sebagian besar penerimanya, antibodi yang dipicu oleh vaksin Covid-19 buatan Sinovac Biotech turun di bawah ambang batas sekitar enam bulan setelah dosis kedua. Selain pentingnya mempersiapkan suntikan ketiga, temuan ini menekankan pentingnya monitoring penularan dan keparahan Covid-19 setelah vaksinasi. Di Indonesia, vaksin Sinovac digunakan pada awal-awal vaksinasi pertama pada pertengahan Januari 2021 hingga kini.

Temuan tentang penurunan antibodi dari vaksin Sinovac ini dilaporkan peneliti China dalam sebuah makalah yang diterbitkan di medRxiv pada hari Minggu (25/7/2021), yang belum ditinjau oleh rekan sejawat. Menjadi penulis pertama makalah tersebut adalah Hongxing Pan, peneliti dari Vaccine Evaluation Institute, Jiangsu Provincial Center for Disease Control and Prevention, China. Dalam kajian ini, peneliti meneliti antibodi dari orang yang menerima dua dosis vaksin Sinovac, dua atau empat minggu terpisah. Hasilnya, hanya 16,9 persen dan 35,2 persen masing-masing masih memiliki antibodi penetralisir di atas apa yang peneliti anggap sebagai tingkat ambang batas terdeteksi pada enam bulan setelah suntikan kedua. Analisis dilakukan terhadap dua kelompok yang melibatkan masing-masing 50 peserta dan mereka juga memberikan dosis ketiga vaksin atau plasebo kepada total 540 peserta.

Para peneliti tidak menjelaskan bagaimana dampak penurunan antibodi ini pada efek proteksinya terhadap Covid-19. Hal ini karena para ilmuwan belum mengetahui secara tepat ambang batas tingkat antibodi untuk vaksin agar dapat mencegah penyakit ini. Namun, terlepas dari antibodi yang tahan lama, komponen lain dalam sistem kekebalan manusia, seperti sel T dan memori sel B, yang ditimbulkan oleh vaksin juga dapat berkontribusi pada perlindungan. Dalam kajian ini, orang yang menerima dosis ketiga suntikan Sinovac sekitar enam bulan setelah yang kedua menunjukkan peningkatan 3-5 kali lipat tingkat antibodi setelah 28 hari. Kadar antibodi ini setara dengan tingkat yang terlihat empat minggu setelah suntikan kedua.

Hasil Antigen Palsu di Merak

Sajili 28 Jul 2021 Kompas

Lima orang, salah satunya dokter klinik di Cilegon, Banten, memalsukan surat hasil tes usap antigen bagi pelaku perjalanan penyeberangan dari Pelabuhan Merak menuju Pelabuhan Bakauheni di Lampung. Puluhan surat hasil negatif antigen tanpa tes mereka buat setiap harinya sejak Mei 2021.

Jika komplotan ini membuat 20 surat hasil negatif tanpa tes setiap hari sejak Mei lalu, hingga menjelang akhir Juli ini diperkirakan sedikitnya 1.700 surat hasil negatif antigen tanpa tes telah beredar. Mereka menawarkan surat itu kepada pengguna jasa kapal penyeberangan dari Pelabuhan Merak, Banten, menuju Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Tidak ada pemeriksaan antigen sebagaimana mestinya. Mereka langsung membuat surat palsu. Jumlahnya bisa puluhan setiap hari dengan harga Rp 100.000 per orang. Keuntungan dari kejahatan ini sampai puluhan juta rupiah.

Atas tindakan melanggar hukum tersebut, Kepolisian Daerah Banten menangkap RO (28), YT (20), RS (20), DSI (43), dan RF (31) di Cilegon. Masing-masing di antara mereka berperan mulai dari mencari calon penumpang hingga membuat surat palsu hasil tes usap antigen. Kelimanya diancam pidana penjara maksimal 10 tahun penjara. Kami akan sidak guna memastikan tidak terulang hal serupa.


Tambahan Vaksin Sinovac

Sajili 28 Jul 2021 Kontan

Di tengah isu internasional menyoal efikasi vaksin Sinovac, pemerintah Indonesia kembali mendatangkan bahan baku Sinovac sebanyak 21,2 juta dosis, Selasa kemarin (27/7). Langkah ini sebagai upaya persiapan pasokan program vaksinasi bulan depan. Selain Sinovac, pemerintah juga terus berupaya mengimpor vaksin jadi dari produsen lain melalui berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan vaksin dalam negeri.

Belum lama berselang, Indonesia sudah mendapatkan 3 juta dosis vaksin Moderna dari pemerintah Amerika Serikat. "Pemerintah memastikan keamanan, kualitas dan khasiat atau efikasi untuk seluruh jenis vaksin yang diperoleh," ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat konferensi pers, Selasa (27/7). Tambahan pasokan vaksin penting. Sebab, Indonesia membutuhkan 208 juta orang yang divaksin untuk mencapai ketahanan komunal atau herd immunity. Sejauh ini, Indonesia sudah mendatangkan vaksin korona sebanyak 122,73 juta dosis dalam bentuk jadi dan bahan baku.