Tiongkok
( 205 )PBoC Bergerak untuk Memacu Pertumbuhan Ekonomi
Bank sentral Tiongkok atau PBoC pada Senin (2021) memangkas suku bunga pinjaman utama untuk pertama kalinya dalam hampir dua tahun. PBoC bergerak untuk memacu pertumbuhan ekonomi, yang lajunya tersendat karena terdampak krisis real estate serta pandemi Covid-19. PBoC mengumumkan telah menurunkan suku bunga pinjaman (LPR) menjadi 3,8% dari 3,85% pada November 2021. Ekonom Jeffrey Halley dari OANDA mengatakan pemerintah Tiongkok menghadapi perlambatan pertumbuhan tahun depan. "Jauh lebih banyak pinjaman didasarkan pada LPR satu tahun dari pada lima tahun, jadi langkah itu merupakan sinyal konkrit bahwa Tiongkok bergerak kedalam kebijakan moneter yang mendukung, tambahnya. (Yetede)
Tiongkok-Laos Resmikan Jalur Kereta Cepat
Tiongkok dan Laos resmi membuka jalur kereta api (KA) berkecepatan tinggi dengan nilai invesasi US$ 6 miliar pada Jumat (3/12). Jalur kereta api yang menghubungkan Negeri Tirai Bambu dengan negara tetangganya di Asia Tenggara itu merupakan tonggak bersejarah dalam perencanaan infrastruktur Tiongkok, yakni Belt and Road Initiative.
Upacara peresmian tersebut digelar secara virtual serta dihadiri oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dan presiden Laos Thongloun Sisoulith, guna menandai perjalanan perdana di jalur yang membentang dari kota Kunning di barat daya Tiongkok hingga ibu kota Laos, Vientiane.
"Tiongkok bersedia memperkuat komunikasi strategis dengan Laos, mempromosikan pengembangan Belt and Road Initiative yang berkualitas tinggi, dan terus membangun komunitas Tiongkok-Laos yang tidak dapat dipatahkan dalam masa depan bersama." katanya dalam komentar yang diterbitkan oleh lembaga Penyiaran Tiongkok, CCTV yang dilansir Reutres. (Yetede)
Xi Ingatkan Asia-Pasifik Tidak Kembali ke Masa Perang Dingin
Presiden Tiongkok Xi Jinping mengingatkan pada Kamis (11/11) agar Asia Pasifik tidak kembali ke masa perpecahan Perang Dingin. Hal ini disampaikan menyusul meningkatnya ketegangan atas keamanan Taiwan. Menjelang pertemuan puncak virtual dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada awal pekan depan, Xi mengungkapkan bahwa negara-negara di kawasan harus bekerja sama dalam menghadapi tantangan bersama.
"Upaya untuk menarik garis ideologi atau membentuk lingkaran kecil dengan alasan geopolitik pasti akan gagal. Alasan Asia-pasifik tidak dapat dan tidak boleh terulang kembali kedalam konfrontasi dan perpecahan era Perancis Dingin." Ujarnya dalam konferensi bisnis virtual. "KIta semua dapat memulai jalur pembangunan berkelanjutan yang hijau dan rendah karbon. Bersama-sama kita, mengantarkan masa depan pembangunan hijau," katanya tanpa menyebutkan kesepakatan AS secara langsung.
Disisi lain, kendati pemerintah Biden telah mengidentifikasikan iklim sebagai bidang utama untuk potensi kerja sama dengan Tiongkok, tetapi ada lonjakan ketegangan akibat visi rival mereka dikawasan Asia-Pasifik, terutama Taiwan-sebuah negara demokrasi yang memiliki pemerintahan sendiri, namun masih di klaim sebagai bagian dari Tiongkok. Bahkan Republik Rakyat Tiongkok telah meningkatkan kegiatan militer di dekat Taiwan, dengan memerintahkan pesawat menyeberang ke zona identifikasi pertahanan udara pulau itu pada awal Oktober. (Yetede)
PBoC: Tiongkok akan Memacu Pengembangan Yuan Digital
Pemerintah Tingkok mengumumkan akan terus memajukan pengembangan mata uang digital dari bank sentral dan meningkatkan desainnya. Hal ini dikatakan Gubernur Bank Sentral Tiongkok (PBoC) Yi Ging pada Selasa (9/11). Tiongkok adalah yang terdepan dalam perlombaan global dalam peluncuran mata uang digital bank sentral (CBDC) dan sedang menguji yuan digital dengan kode eCNY. Uji coba dilakukan di kota-kota besar termasuk Shenzhen, Beijing dan Shanghai. Tetapi belum menetapkan jadwal peluncurannya. "Ke depan, kami akan terus memajukan penelitian dan pengembangan eCNY, meningkat desain dan penggunaannya," jelas Yi dalam sebuah video yang ditayangkan di acara bank central Finlandia, Selasa (9/11)
Yi juga mengatakan eCNY bertujuan untuk memenuhi kebutuhan pembayaran ritel domestik, karena pembayaran digital lintas batas melibatkan masalah yang lebih rumit seperti anti pencucian uang. Menurut laporan China Times, PBoC telah menunjukkan mesin yang mengubah mata uang asing menjadi yuan digital. Meski disiapkan sebelum Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, ketika CBDC dijadwalkan diperkenalkan keseluruh dunia.CBDC telah digunakan dalam transaksi senilai 62 miliar yuan (US$ 9,7 miliar) dan lebih dari 140 juta penduduk Tiongkok telah menggunakannya. Kepala Lembaga Penelitian Mata Uang Digital PBoC Mu Changchun mengatakan ini minggu lalu.
Menurutnya, penggunaan uang digital tersebut telah menghilangkan kekhawatiran yang meningkat atas privasi pengguna. Dari 140 juta dompet e-CNY, kata dia, sebanyak 10 juta digunakan untuk korporat. Salah satu masalah terbesar dengan uang digital ini adalah privasi. Pemerintah Tiongkok sebelumnya telah dituduh menggunakan langkah-langkah teknologi ekstrim untuk mengawasi orang-orangnya. Yuan digital bisa memberikan alat pengawasan massal yang terbaik, menurut peringatan beberapa ahli. Changchun mengatasi masalah ini, dengan menyatakan bahwa bank sentral mengizinkan transaksi untuk mereka yang tidak memindahkan dananya dalam jumlah besar.(Yetede)
Impor Batu Bara Tiongkok Naik 2 Kali Lipat
Data bea cukai yang dirilis Minggu (7/11) menunjukkan bahwa Tiongkok pada bulan lalu telah mengimpor batu bara hampir dua kali lebih banyak dibandingkan Oktober tahun lalu. Padahal tanda-tanda krisis listrik di Negeri Tirai Bambu itu mulai berkurang. Menurut data yang diakses melalui Wind Information, catatan pembelian batu bara mencapai 26,9 juta ton pada September menjadi 18,2%. Pihak berwenang Tiongkok sendiri disebut-sebut telah bergegas untuk mengatasi kekurangan batu bara di negara itu, sejak akhir September pasca banyak pabrik yang terpaksa memangkas produksi.
Commonwealth Bank of Australi melaporkan, pada pertengahan Oktober, jumlah provinsi Tiongkok yang mengalami krisis listrik yang signifikan mengalami penurunan menjadi dua provinsi, turun dari 18 provinsi pada awal bulan. Pada Minggu, perusahaan listrik Tiongkok State Gird mengatakan bahwa pasokan dan permintaan listrik pelat merah itu tetap memperingatkan tantangan yang bakal dibulan-bulan musim dingin mendatang. Disisi lain, Amerika Serikat (AS) masih menjadi mitra dagang terbesar Tiongkok dengan basis satu negara. Tapi impor dari AS melambat tajam menjadi sekitar 4,6% year-on-year (yoy) pada Oktober.
Data bea cukai lebih lanjut menunjukkan, catatan impor dari Australia. yang pernah menjadi sumber batu bara terbesar Tiongkok- merosot ketingkat pertumbuhan 24,3% yoy pada Oktober , sementara ekspor ke AS masih mempertahankan laju pertumbuhan tinggi hampir 22,7%. Demikian menurut data bea cukai Tiongkok.Ekspornya juga hanya tumbuh sebesar 22,3% atau turun sedikit dari 23,8% pada September. Menurut kantor berita Reuters ,impor keseluruhan Tiongkok tumbuh sebesar 20%, pada Oktober atau meleset dari ekspektasi pertumbuhan 25%, ekspor Tiongkok juga naik 27,1% melampaui prediksi Reuters 24%-24,5% (Yetede)
Perdagangan Luar Negeri Tiongkok Naik Sembilan Kali Lipat
Pemerintah Tiongkok telah meningkatkan laju perdagangan luar negerinya hingga sembilan kali lipat dalam 20 tahun, sejak bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Negara dengan kekuatan ekonomi kedua di dunia itu berusaha melampaui Amerika Serikat (AS) untuk menjadi pemain utama. Namun kemajuan yang dicapainya masih sedikit untuk mereformasi badan-badan usaha yang dikelola negara. Berbekal tenaga kerja murah, Tiongkok terus meningkatkan ekspor dengan mengambil peran sebagai pabrik dunia sejak bergabung dengan WTO pada Desember 2001. Tiongkok juga meningkatkan impor dengan menurunkan tarif secara bertahap.
Alhasil, menurut Konferensi Perdagangan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dilansir Nikeri pada Minggu (7/11), ekspornya melonjak 870% dan impor melonjak 740% dari 2001 hingga 2020. Total nilai perdagangan dilaporkan melonjak 810% untuk perdagangan global secara keseluruhan. "Tiongkok telah sepenuhnya memenuhi komitmen aksesinya. Tingkat tarif keseluruhannya telah diturunkan dari 15,3% menjadi 7,4%,lebih rendah dari komitmen aksesi 9,8%," kata Xi yang dikutip Nikeri.
Menurut laporan tepat setelah bergabung dengan WTO, produk-produk padat karya, seperti pakaian, menyumbang sebagian besar ekspor Tiongkok. Namun dalam beberapa tahun terakhir, negara tersebut telah meningkatkan pengiriman barang barang berteknologi tinggi seperti komputer-komputer pribadi, dan ponsel pintar. Sementara itu pemerintah Tiongkok mengajukan permohonan keanggotaan dalam CPTPP yang menuntut tingkat liberalisasi yang jauh lebih tinggi dari pada RECP. Pemerintah Tiongkok tampak ingin memosisikan dirinya lebih baik dalam persaingan untuk supremasi dunia dengan AS. (Yetede)
Aktivitas Pabrik di Tiongkok Terus Turun
Aktivitas pabrik di Tiongkok merosot hingga melebihi ekspektasi pada Oktober 2021. Hal ini menunjukkan bahwa sektor-sektor indutrial di Tiongkok terdampak masalah kekurangan pasokan listrik dan lonjakan biaya bahan baku. Biro Statistik Nasional Tiongkok dan NBS dalam laporannya, Minggu, (31/10) menunukkan bahwa PMI turun menjadi 49,2 pada Oktober dibandingkan 49,6 pada September. Angka indeks ini menandai dua bulan berturu-turut berada dibawah 50, yang menjadi pembatas antara ekspansi dan kontraksi.
"Di Oktober, karena faktor-faktor seperti kekurangan pasokan listrik dan tingginya biaya beberapa bahan baku, PMI manufaktur turun," kata NBS. Zhao Qinghe dari NBS mengatakan, indeks produksi dan pemintaan baru mengalami kontraksi. Yang mana hal ini menunjukkan pelemahan di sisi pasokan dan pemintaan. Sementara indeks harga terus naik. Yang mencerminkan harga pembelian bahan baku seperti batu bara dan minyak. Begitu pula dengan biaya-biaya penjualan, angka indeks produksi di Tiongkok berarti turun di level terendah sejak 2005 sehingga dikhawatirkan memicu stagflasi.
Tommy Xie dari OCBC Bank mengatakan, dampak kekuarangan pasokan listrik paling dirasakan oleh perusahaan-perusahaan kecil. Hal ini menandakan perlunya dukungan kebijakan lebih besar. "Situasi riilnya dapat memburuk. Hasil survei ini belum mencerminkan dampak eskalasi langkah-langkah antivirus diakhir Oktober. Kami perkirakan akan ada putaran baru pemangkasan proyeksi pertumbuhan," Ujar Lu Ting, Kepala ekonom Nomura. (Yetede)
Tiga Kota Dikarantina Sebelum Olimpiade Musim Dingin
Pemerintah Tiongkok menempatkan satu kota lagi dalam kebijakan karantina pada Kamis (28/10) untuk mengatasi peningkatan jumlah kasus Covid-19. Yang berarti saat ini sekitar enam juta orang diperintahkan untuk tinggal di rumah karena pemerintah Tiongkok mengejar nol kasus sebelum Olimpiade Musim Dingin mendatang. Negara ini telah mengambil pendekatan tanpa toleransi terhadap virus sejak pertama kali muncul di Tiongkok bagian tengah pada 2019. Pihaknya membasmi setiap gejolak yang muncul dengan penutupan perbatasan, karantina terbatas, dan karantina yang ketat. Meskipun langkah-langkah garis keras telah membuat jumlah kasus baru jauh lebih rendah dari pada kebanyakan negara, negara terpadat di dunia tersebut saat ini bergulat dengan wabah kecil setidaknya di sebelas provinsi.
Gelombang baru tersebut mendorong para pejabat pekan ini untuk mengunci Lanzhou, kota berpopulasi lebih dari empat juta orang dan Ejin di wilayah Mongolia Dalam. Setelah mengkonfirmasi satu masalah baru, pihak berwenang di Heihe, provinsi di Heilongjang mengikuti langkah penguncian pada Kamis. Menurut pernyataan pemerintah setempat, pemerintah meminta warganya untuk tinggal di rumah dan melarang penduduk meninggalkan kota jauh di utara tersebut, kecuali untuk keadaan darurat. Pejabat kota yang perbatasan dengan Rusia di utara itu juga telah mulai melakukan tes virus pada 1,6 juta penduduk dan melacak kontak debat dari orang yang terinfeksi, kata pernyataan itu. (Yetede)
Walau Krisis Listrik, Tiongkok akan Menepis Batu Bara Australia
Pemerintah Tingkok sedang menghadapi krisis listrik terburuk dalam beberapa tahun karena kekurangan baru bara. Sementara Australia memiliki batu bara yang dibutuhkan Negeri Tirai Bambu. Tetapi menurut para analis, negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia itu tidak akan mungkin membatalkan larangan tidak resmi atas impor batu bara dalam waktu dekat. Kendati ada laporan media baru-baru ini yang menyebutkan bahwa Tiongkok membebaskan sejumlah kecil batu bara Australia yang tertahan, di pelabuhan Tingkok selama berbulan-bulan terkait larangan tersebut.
"Laporan bahwa sejumlah kecil batu bara Australia telah dizinkan melewati bea cukai di Tiongkok mendorong spekulasi yang meningkat bahwa pihak berwenang Tiongkok bakal berupaya untuk melonggarkan larangan impor batu bara Australia. Kami tidak berpikir pihak berwenang Tiongkok akan melonggarkan larangannya terhadap batu bara Australia di musim dingin ini," ujar Vivek Dhar, analis komoditas pertambangan dan energi di Commonwealth Bank of Australia, kepada CNBC, Senin (25/10). Akhir tahun lalu, Tiongkok berhenti membeli batu bara Australia menyusul lonjakan ketegangan perdagangan antara kedua negara.
Disamping itu, Tiongkok mungkin akan mengalihkan sasaran ke negara lain untuk memperoleh batu bara lebih banyak. "Tiongkok kemungkinan akan lebih banyak mendorong pemasok batu bara Indonesia, namun mereka hampir mencapai kapasitas puncaknya. Tiongkok juga telah berusaha mendapatkan lebih banyak dari Mongolia dan Rusia, namum, ada beberapa tekanan kompetitif pada batu bara Rusia dari pembeli Eropa. Kami juga melihat Tiongkok membeli lebih banyak dari pemasok di Atlantik seperti AS dan Kolombia," papar Abbinav Guppta, analis riset kargo kering dan Breamar ACM, kepada CNBC belum lama ini. (Yetede)
PBoC Tidak Akan Berhenti Menindak Tekfin
Otoritas Tiongkok berjanji akan memperkuat pengawasan terhadap industri pembayaran daring dan melanjutkan tindakan keras anti- monopoli. Gubernur bank sentral Tiongkok (PBoC) Yi Gang menyatakan. Pihaknya akan terus menindak keras perusahaan-perusahaan raksasa teknologi lewat regulasi. Selama sekitar setahun pihak berwenang telah menargetkan berbagai raksasa teknologi lokal. Diantaranya raksasa e-commerce Alibaba, layanan tranportasi raksasa Didi Chuxing, dan raksasa pengiriman makanan Meituan, atas dugaan praktik monopoli dan permainan data konsumen secara agresif.
Tindakan tersebut merupakan bagian dari kebijakan yang lebih luas oleh pemerintah untuk memperketat cengkramannya pada ekonomi nomor dua dunia itu, termasuk menargetkan perusahaan pendidikan swasta, properti dan kasino. "Kami akan terus bekerja sama dengan otoritas anti-monopoli untuk mengekang monopoli dan secara aktif menangani diskriminasi algoritme dan bentuk baru lainnya dari perilaku anti persaingan," kata Yi Gang, Senin (8/10). Ia menyampaikan hal ini dalam pidato utama di konferensi Bank for Internasional Sattlements (BIS) tentang pengaturan atas sektor tersebut.
Regulator Tiongkok pada September 2021 memerintahkan perusahaan besar-besaran pada aplikasi pembayaran terbesar di negara itu, Alipay. Sementara partai komunis yang berkuasa mencoba mengendalikan pertumbuhan yang tidak terkendali dari raksasa teknologi. Alipay diminta untuk memecah unit usaha pinjaman mikro yang menguntungkan. Adapun perusahaan sistem pembayaran pihak ketiga tersebut telah mencatat dari satu milyar pengguna di Tiongkok dan negara-negara Asia lainnya. (yetede)
Pilihan Editor
-
Paradoks Ekonomi Biru
09 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









