Tiongkok
( 205 )Produksi Industri China Meningkat
Produksi atau output industri di China saat ini tengah mengalami percepatan paling tinggi dalam delapan bulan terakhir di bulan Agustus 2020. Sejalan hal tersebut, penjualan ritel tumbuh untuk pertama kalinya di tahun 2020.
Melansir artikel yang dimuat Reuters, Selasa (15/9) penurunan tahunan dalam investasi aset tetap (fixed-asset) selama periode Januari-Agustus juga berkurang berkat stimulus yang diperluas oleh Pemerintah.
Sementara itu, output industri tercatat tumbuh sebesar 5,6% di bulan Agustus 2020 secara year on year (yoy), tercepat dalam delapan bulan terakhir menurut Data Biro Statistik Nasional. Pencapaian itu praktis melampaui prediksi ekonom Reuters yang meramal kenaikan 5,1% di bulan Agustus 2020.
Penjualan ritel juga memutarbalikkan perkiraan analis dengan kenaikan 0,5% per tahun. Menghentikan penurunan selama tujuh bulan dan meningkatkan ekspektasi untuk pertumbuhan nol (zero growth). Di bulan Juli 2020, penjualan ritel memang turun tipis 1,1%. Tercatat penjualan mobil naik 11,8% pada Agustus 2020 secara tahunan. Sementara penjualan produk telekomunikasi melonjak 25,1%.
Di sisi lain, penurunan investasi aset tetap melambat. Hanya melorot 0,3% di periode Januari-Agustus ketimbang tahun sebelumnya. Walaupun begitu, penurunan ini lebih baik dari perkiraan sebesar 0,4% dan 1,6% pada bulan Juli 2020. Investasi aset tetap di sektor swasta, telah menyumbang 60% dari total investasi, turun tipis sebesar 2,8% pada Januari-Agustus. Penurunan itu jauh lebih rendah ketimbang penurunan 5,7% dalam tujuh bulan pertama 2020. Mayoritas ditopang oleh peningkatan investasi di sektor properti.
Diplomasi Vaksin
Saat ini ada lebih dari 150 calon vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh berbagai lembaga dari sejumlah negara. Dari jumlah itu, ada sembilan yang sudah memasuki fase uji klinis tahap III untuk mengetahui aspek keamanan dan efikasinya. Dari sembilan calon vaksin di fase uji klinis tahap III berasal dari China.
Kesembilan calon vaksin itu dikembangkan Moderna-National Institutes of Health (Amerika Serikat), BioNTech-Pfizer-Fosun Pharma (Jerman/AS/China), CanSino Biologics (China), Gamaleya Research Institute (Rusia), AstraZeneca-University of Oxford (Inggris-Swedia/ Inggris). Kemudian Sinovac Biotech (China), Wuhan Institute of Biological Products/ Sinopharm (China), Beijing Institute of Biological Products/ Sinopharm (China), Murdoch Children’s Research Institute (Australia).
Sekretaris Perusahaan PT Bio Farma Bambang Hariyanto pernah menyebutkan bahwa pilihannya untuk bekerja sama dengan Sinovac karena selama ini Bio Farma sudah terbiasa bekerja sama dengan perusahaan China itu. Selain itu, teknologi pembuata vaksin yang dipakai oleh Sinovac sudah dikuasai dan ada klausul alih teknologi dalam perjanjian kerja sama mereka.
Akan tetapi, upaya China memperluas pengaruhnya melalui ”diplomasi vaksin” ini bisa saja tidak berjalan mulus. Jennifer Bouey, peneliti kebijakan senior di RAND Corporation, menyebutkan, meski memiliki kapasitas produksi yang besar, industri vaksin China belum lama lolos prakualifikasi WHO.
Sejauh ini, kurang dari 40 produsen vaksin di China yang memenuhi standar praktik produksi yang baik (GMP) dan hanya segelintir vaksin buatan China yang telah memenuhi prakualifikasi WHO sebagai syarat pengadaan oleh badan-badan dunia, seperti WHO atau Unicef.
Sembilan calon vaksin Covid-19 yang kini sudah masuk COVAX Facility adalah calon vaksin dari Inovio, Moderna, CureVac, Institut Pasteur/Merck/Themis, AstraZeneca/University of Oxford, University of Hong Kong, Novavax, Clover Biopharmaceuticals, dan University of Queensland/CSL.
Virus Korona : Pariwisata Indonesia Bisa Kena Dampak
Industri pariwisata Indonesia bisa terkena dampak virus korona baru yang merebak di China. Ini karena wisatawan mancanegara asal China merupakan nomor dua terbanyak melancong ke Indonesia setelah Malaysia.
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Hariyadi B Sukamdani mengatakan, dampaknya tidak hanya pada kunjungan wisman tetapi juga berpotensi menganggu perdagangan barang. Imbauan agar WNI hati-hati ke China sudah tepat.
Ponsel China Dominasi Pasar Lokal
Vendor asal
Tiongkok mendominasi pasar ponsel dalam negeri lantaran harga yang miring dan
spesifikasi yang lumayan. Empat dari lima merek ponsel teratas berasal dari
China, yakni Oppo, Xiaomi, Vivo, Realme. Berdasarkan data riset Canalys, Oppo
nangkring di posisi pertama menggusur Samsung. Oppo menguasai 26% pangsa
pasar ponsel domestik dengan pertumbuhan 54% year on
year. Sedangkan Samsung menguasai market share 24% dengan
pertumbuhan 10% y.o.y. Ekspansi di ritel dan produk menjadi kunci keberhasilan merek
China. Selain itu, pengembangan produk baru yang memiliki diferensiasi juga
mendukung keberhasilan ponsel China.
Bom Waktu Utang China
Profesor keuangan di Universitas Peking, Michael Pettis, memperingatkan utang besar yang membebani perekonomian Tiongkok. Pemerintah China harus cepat melakukan reformasi ekonomi domestik karena masalah utang ini sangat serius, seperti bom waktu. Kendati memberi lampu kuning, ia yakin China bisa meredam krisis ini.
Currency War China-AS Kian Panas
AS menuding People Bank of China (PBOC) sebagai manipulator mata uang. Tudingan terjadi setelah PBOC pada Senin (5/8) lalu mematok nilai tukar yuan menembus level psikologis di bawah 6,9 untuk kali pertama dalam satu dekade terakhir. Amerika menetapkan tiga kriteria untuk mengidentifikasi terjadinya manipulasi mata uang. Yakni terkait neraca berjalan global, neraca berjalan kepada Amerika, dan adanya intervensi secara terus menerus kepada satu mata uang. Pemerintah China menyebut tudingan tersebut berpotensi merusak kestabilan keuangan internasional sekaligus pasar keuangan global.
Hubungan AS-China, Perang Tarif Memanas Lagi
Donald Trump kembali menebar ancaman. Kali ini, orang nomor satu di Amerika Serikat itu akan menetapkan tarif sebesar 10% terhadap produk asal China senilai US$300 miliar. Produk yang menjadi target tarif baru ini mencakup telepon pintar, komputer, dan pakaian. Adapun pengenaan tarif ini akan berlaku per 1 September mendatang. Trump menambahkan, tarif itu berpeluang untuk naik menjadi 25% jika China masih berbelit pada saat perundingan. Dengan ancaman tarif tersebut, Trump seolah siap mengambil risiko jika nantinya akan menggoyahkan ekonomi dan konsumen Amerika Serikat (AS). China telah berulang kali mengecam taktik tekanan semacam itu, yang berarti akan memperpanjang kebuntuan jika Beijing merespons ancaman dengan memilih mundur dari meja perundingan. China menegaskan bahwa mereka akan memberikan sanksi balasan terhadap ancaman tarif tambahan dari Trump.
Relasi Taiwan-China Semakin Panas
Tensi
geopolitik China dan Taiwan naik. Hal ini setelah Taiwan memperkuat
militernya dengan membeli senjata dari Amerika Serikat. China menilia aksi
ini sebagai bagian pemberontakan. Sementara itu, Taiwan dan AS kini kian
mesra.
Perang Dagang Hanya Menghasilkan Kerugian
Gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah. Peribahasa itu cocok menggambarkan perang dagang AS-China yang memakan korban perusahaan asal kedua negara. Sebut saja Huawei yang memproyeksikan bakal kehilangan pendapatan dari aksi Presiden AS, Donald Trump. Huawei masuk daftar hitam barang yang dilarang masuk Amerika.
Serupa, perusahaan AS juga semakin khawatir dampak perang dagang ini. Makanya, 600 perusahaan Amerika, diantaranya Wallmart Inc dan Target Corp, melayangkan surat untuk mendesak Presiden Trump segera menyelesaikan perseteruan dengan China. Alasannya, perusahaan AS yang justru akan menanggung peningkatan tarif ekspor barang-barang China ke Amerika. Hasilnya, perusahaan dan konsumen Amerika yang justru akan menanggung. Dalam surat tersebut, 600 perusahaan menyebut kenaikan 25% tarif untuk setiap ekspor China senilai US$ 300 juta berpotensi menghilangkan lebih dari 2 juta pekerjaan di AS.
AS Membujuk Korea Selatan Ikut Memboikot Huawei
AS mencoba terus mencari sekutu dalam memusuhi Huawei Technologies Inc. Setelah gagal di banyak negara Eropa, AS tampaknya mencoba mendekati Korea Selatan agar ikut menghentikan penggunaan produk-produk dari Huawei. Kantor resmi AS sudah meminta LG Uplus, perusahaan manufaktur di Korea Selatan, agar menghentikan pasokan dari Huawei. Namun, meskipun menjadi sekutu AS, kemungkinan Korea Selatan menolak produk Huawei sulit terwujud. Soalnya hampir 25% ekspor Korea Selatan pada empat bulan awal tahun 2019 menuju ke China.
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022









