Korporasi
( 1584 )Per Oktober, Pegadaian Gaet 198 Ribu Nasabah
PT Pegadaian mencatat penambahan 199 ribu nasabah baru per Oktober 2022. Jumlah ini meningkat 70% dibandingkan periode sama tahun lalu sebanyak 117 ribu nasabah. Sekretaris Perusahaan Pegadaian Yudi menjelaskan, isu resesi tahun 2023 mulai marak diperbincangkan khalayak. Bahkan, para pengamat ekonomi memprediksi resesi ekonomi di beberapa negara maju akan terjadi pada tahun depan. Fenomena itu, ungkap Yudi, direspons masyarakat salah satunya dengan menabung atau investasi emas sebagai bantalan menghadapi goncangan krisis. Pasalnya, instrumen investasi emas masih sangat menjanjikan dan masih diburu oleh masyarakat sebagai alat lindung nilai (hedging). “Alhamdulillah sampai dengan saat ini tren penjualan emas di Pegadaian mengalami kenaikan, terbukti jumlah nasabah Pegadaian naik per Oktober naik hingga 70%, dari 117 ribu pada Oktober 2021 menjadi 199 ribu per Oktober 2022,” jelas Yudi dalam keterangan pers, Senin (7/11). Sedangkan nilai pembiayaan tercatat naik 87% secara year on year (yoy) dari Rp 742 miliar menjadi Rp 1,38 triliun per Oktober 2022.
Tak hanya pertumbuhan jumlah nasabah dan pembiayaan, masyarakat yang sudah mengakses Tabungan Emas Pegadaian juga terus tumbuh lebih dari 5,5 juta orang. “Ini artinya, masyarakat sudah mulai aware terhadap emas, karena emas dapat menjadi perisai ketika terjadi serangan krisis. Selain harga emas tidak akan termakan inflasi, emas itu bersifat likuid atau bisa dicairkan kapan saja,” terang Yudi. Dia mengungkapkan, Pegadaian memberikan kemudahan berinvestasi bagi masyarakat dalam beberapa produk yang dimiliki Pegadaian. Pertama yaitu Tabungan Emas Pegadaian, mulai dari 10 ribu, masyarakat sudah bisa memiliki emas berkadar 99,99% dalam bentuk digital yang dapat diakses atau dibeli melalui aplikasi Pegadaian Digital. Selain itu ada Cicil Emas. Melalui produk atau layanan ini masyarakat yang belum ataupun sudah berpenghasilan tetap bisa merencanakan keuangan dengan menyisihkan dana untuk uang muka yang sudah dikunci, sehingga harganya tidak akan berubah. (Yoga)
Prospek Landai Emiten Rokok
Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai hasil tembakau rata-rata 10% pada 2023 dan 2024 bakal kian menekan kinerja laba emiten rokok. Tahun ini saja, laba sejumlah produsen rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia sudah anjlok lebih dari 30% secara agregat. Seperti diketahui, usai rapat bersama Presiden Joko Widodo di Istana Bogor pekan lalu, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengumumkan keputusan presiden untuk menaikkan tarif rata-rata tertimbang cukai hasil tembakau. Penaikan tarif cukai pun ditetapkan berbeda untuk setiap golongan rokok. Tarif cukai untuk sigaret kretek mesin I dan II naik rata-rata antara 11,5%—11,75%. Adapun, tarif cukai untuk sigaret putih mesin I dan II naik sekitar 11%, serta sigaret kretek tangan rata-rata naik hingga 5%. Terlebih, kinerja emiten rokok tahun ini pun tengah melesu. Hingga kuartal III/2022, dua raksasa emiten rokok yakni PT HM Sampoerna Tbk. (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk. mencatatkan penurunan laba yang relatif tajam. Dalam laporan keuangan perusahaan, laba bersih HMSP tercatat senilai Rp4,9 triliun per 30 September 2022 atau anjlok 11,75% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp5,5 triliun. Sementara itu, nasib yang lebih buruk melanda GGRM. Produsen rokok yang berbasis di Kediri Jawa Timur itu membukukan penurunan laba bersih sampai dengan 63,77% hingga kuartal ketiga tahun ini. Laba bersih perusahaan hanya mencapai Rp1,49 triliun, padahal tahun lalu di periode yang sama mampu menghimpun Rp4,13 triliun.
ULASAN SEKTORAL : EMITEN KESEHATAN JAGA ‘KEBUGARAN’
Sejumlah emiten sektor kesehatan mampu mengamankan laba bersih lebih tinggi pada 9 bulan 2022 dibandingkan dengan periode yang sama sebelum pandemi Covid-19. Inovasi produk, perluasan jaringan distribusi, pengendalian biaya, dan ruang penyesuaian harga menjadi siasat untuk menjaga tingkat margin keuntungan. Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, delapan dari 12 emiten kesehatan yang telah menyampaikan laporan keuangan per September 2022 mengalami penurunan laba bersih dibandingkan dengan periode yang sama 2021. Bahkan, dua emiten tercatat berbalik rugi. Meski begitu, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dan PT Phapros Tbk. (PEHA) menjadi dua perusahaan sektor kesehatan yang masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan dan laba dalam 9 bulan 2022. Bahkan, laba bersih KLBF konsisten bertumbuh sejak periode yang sama 2019. Chief Financial Officer Kalbe Farma Bernadus Karmin Winata memaparkan pertumbuhan pendapatan dan laba tak terlepas dari langkah perseroan terus memperhatikan pentingnya pengelolaan atas peningkatan biaya bahan baku melalui kebijakan kenaikan harga, pengelolaan portofolio, dan pengelolaan efisiensi biaya operasional. Pada 2022, KLBF mempertahankan target penjualan dan laba bersih tumbuh sekitar 11% hingga 15%.
Kendati mayoritas emiten mengalami koreksi secara tahunan, sebagian besar masih mampu mencetak keuntungan yang lebih tinggi dari 9 bulan 2019 atau prapandemi. Beberapa di antaranya, ialah PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) Rp245,52 miliar pada 9 bulan 2022 dari Rp210,05 miliar pada 9 bulan 2019. Selain HEAL, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga mengelola rumah sakit membukukan laba bersih Rp744,18 miliar pada 9 bulan 2022 atau lebih tinggi dari realisasi laba bersih Rp531,79 miliar pada 9 bulan 2019. Analis Henan Putihrai Sekuritas Jono Syafei mengatakan saat ini pergerakan saham sektor rumah sakit memang terkoreksi. Hal ini berbanding terbalik dari tahun lalu saat lonjakan pandemi dengan kapasitas rumah sakit yang masih lebih terbatas dibanding sekarang.
Terkikis Laba Akibat Harga Saham GoTo
Investasi PT Telekomunikasi Seluler atau Telkomsel di PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk menambah beban induk perusahaannya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. Aksi korporasi tersebut berkontribusi mengikis laba usaha konsolidasi Telkom pada kuartal III 2022. Telkom mencatat laba usaha konsolidasi senilai Rp 31,5 triliun pada kuartal III tahun ini. Dibanding laba pada periode yang sama tahun lalu, nilainya turun dari Rp 36,3 triliun. Komponen biaya dan beban perusahaan tak banyak berbeda dalam dua periode waktu tersebut, kecuali pada bagian perolehan hasil investasi pada ekuitas. Telkom mencatat kerugian yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar atas investasi sebesar Rp 3,08 triliun pada sembilan bulan pertama tahun ini. Angka itu berasal dari investasi saham di berbagai perusahaan startup yang bergerak di bidang informasi dan teknologi. Salah satunya berasal dari aksi korporasi Telkomsel di GoTo dengan kerugian sebesar Rp 3,06 triliun.
Dalam laporan keuangannya, Telkom menjelaskan bahwa kerugian tersebut dihitung menggunakan nilai pasar saham GoTo sebesar Rp 246 per saham. Kepemilikan saham Telkomsel saat ini sebanyak 23,7 miliar lembar. Jumlah kerugian ini tercatat paling besar sepanjang 2022, lantaran harga saham GoTo terus turun. Pada kuartal pertama, Telkom mencatat kerugian yang belum direalisasi dari investasi di GoTo senilai Rp 881 miliar karena harga saham emiten ini Rp 338 per lembar. Sedangkan pada kuartal berikutnya, Telkom mencatat keuntungan yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar investasi di GoTo. Jumlahnya Rp 305 miliar, dihitung dengan nilai pasar saham GoTo sebesar Rp 388 per saham. Meski laba usaha terkikis, Dirut Telkom Ririek Adriansyah menyatakan kinerja perusahaan dan entitas anaknya masih positif. (Yoga)
Daley Capital Jual 600 Juta Saham Bakrie Brothers
Daley Capital Limited menjual 600 juta saham PT Bakrie and Brothers Tbk (BNBR). Sehingga, kepemilikan Daley Capital di perusahaan Grup Bakrie tersebut berkurang dari 9,68% menjadi 6,85%. Corporate Secretary Bakrie & Brothers Christofer Alexander Uktolseja mengungkapkan, penjualan saham BNBR dilakukan Daley Capital dalam dua tahap. Pada tahap pertama, Daley Capital menjual 300 juta saham, sehinggga kepemilikannya berkurang dari 2.048.748.461 saham atau 9,68% menjadi 1.748.461 saham atau 8,26%. Selanjutnya, Daley Capital kembali menjual 300 juta saham BNBR sehingga mengurangi kepemilikan sahamnya menjadi 1.448.748.461 saham atau 6,85%.
“Perseroan tidak mengetahui harga transaksi, tanggal transaksi, dan tujuan transaksi,” kata Christofer dalam keterangan resminya, akhir pekan lalu. Christofer menegaskan, pihaknya tidak mengetahui harga transaksi, tanggal transaksi, maupun tujuan transaksi tersebut. Pada perdagangan Jumat (4/11/2022), saham BNBR ditutup melemah Rp 2 atau 2,86% ke posisi Rp 68. Saham tersebut ditransaksikan sebanyak 3.899 kali dengan nilai Rp 19,65 miliar dan kapitalisasi pasar (market cap) senilai Rp 1,44 triliun. Sejak awal tahun ini hingga penutupan perdagangan kemarin, saham BNBR telah menguat 36%. (Yoga)
BNI-EMIRATES TRAVEL FAIR
Direktur Consumer Banking PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Corina Leyla Karnalies, General Manager Card Business Division Grace Situmeang, SVP Commercial Operations Far East Emirates Airlines Orhan Abbas, dan Country Manager Indonesia Mohammad Al-Attar, berbincang seusai pembukaan BNI-Emirates Travel Fair di Jakarta, Kamis (3/11). Pameran perja-lanan hasil kerja sama BNI dengan Emirates Airlines tersebut merupakan komitmen perusahaan untuk terus memberikan penawaran terbaik bagi pemegang kartu BNI yang ingin bepergian ke berbagai destinasi favorit mancanegara.
Dapat Investor Strategis, PDPP Optimistis IPO Bakal Laris
Aksi korporasi penawaran perdana saham atau initial public offering (IPO) PT Primadaya Plastisindo Tbk (PDPP) terus bergulir. Mengutip laman e-IPO, Kamis (3/11), PDPP mematok harga penawaran IPO Rp 200 per saham.
Angka ini merupakan batas atas dari harga penawaran yang dipasang PDPP dalam periode bookbuilding di rentang Rp 195-Rp 200 per saham.
Pada IPO ini, PDPP melepas sebanyaknya 500 juta saham. Ini setara 20% dari total modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Alhasil, potensi dana yang bisa diraup PDPP dari IPO Rp 100 miliar.
Kennie Angesty, Direktur Utama Primadaya Plastisindo, menegaskan, saat ini PDPP telah selesai melakukan masa penawaran awal dan mendapatkan izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk melanjutkan proses IPO.
Terlebih, lanjut Kennie, pihaknya telah mendapatkan investor strategis, yakni Sugianto Kusuma, pendiri Agung Sedayu Group. Adanya investor strategis ini menambah keyakinan PDPP untuk terus tumbuh ke depannya.
INOVASI BISNIS, Korporasi di Tengah Keterbelahan Politik
Sisa perpecahan akibat pemilihan presiden beberapa tahun lalu masih membekas hingga sekarang. Sebuah istilah muncul akibat keterbelahan, yaitu cebong dan kampret, untuk menunjukkan kubu yang berseteru. Di tengah masalah ini, banyak perusahaan yang bingung memosisikan diri. Apalagi, Indonesia harus kembali bersiap menghadapi ajang politik 2024. Dalam artikel Fast Company disebutkan, para CEO harus bisa menangani berbagai hal, visi yang diperlukan para pengambil keputusan di perusahaan menghadapi situasi ini seperti diungkapkan William A Galston dan Elaine Kamarck dari Brookings Institution. Mereka menulis, supremasi hukum dan demokrasi sangat penting bagi pasar.
Para ahli menyebutkan, saat ini merupakan kenyataan yang genting dalam politik di mana para CEO perlu melakukan penyeimbangan yang makin sulit, tak sekadar menjalankan bisnis, tetapi juga paham politik dan melakukan langkah yang memadai. Di AS, dampak yang lebih jauh adalah persepsi publik. Saran lain yang diberikan adalah para pemimpin perusahaan bertemu secara internal untuk memastikan semua orang punya pemahaman yang sama tentang pemberian dukungan finansial bagi para politisi dan memasang pagar pembatas untuk memastikan mereka tidak mendukung orang yang salah.
Di Indonesia, masalah yang sering muncul adalah ketakutan para pengambil keputusan bila terlibat dalam urusan politik, maka bisnis mereka akan terdampak. Salah satu yang mungkin diubah dari pandangan ini adalah langkah politik tidak berarti turun ke jalan dan berteriak-teriak mendukung salah satu calon. Mereka bisa bersikap untuk tidak memperkeruh keadaan, juga bisa mengajak karyawan untuk tidak membuat polarisasi di lingkungan perusahaan dan sekitarnya. Mereka perlu mengajak karyawan untuk toleran dan menghargai perbedaan. Saatnya para pemimpin perusahaan ikut mendinginkan suasana menjelang tahun politik yang bakal panas. (Yoga)
KRISIS CIP : AUTO Amankan Pasokan Semikonduktor
PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) berhasil mengamankan pasokan semikonduktor untuk komponen otomotif yang diproduksi perusahaan hingga tahun depan. Presiden Direktur Astra Otoparts Tbk. Hamdani Dzulkarnaen Salim mengatakan bahwa saat ini pihaknya telah mendapat tambahan pasokan cip semikonduktor dari perusahaan baru. Sebelumnya, perusahaan memiliki dua pemasok cip semikonduktor, kini jumlah tersebut bertambah menjadi empat supplier. “Cara kami untuk mengamankan adalah mencari sumber baru ke beberapa perusahaan. Kalau dulu cuma satu atau dua , sekarang kami tambah jadi tiga atau empat perusahaan,” katanya di Bogor, Rabu (2/11).
Melonjak 473% Laba Bersih Bumi Resources Capai US$ 365,4 Juta
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menorehkan kinerja meyakinkan sepanjang periode Januari-September 2022. Emiten batu bara ini mencetak laba periode berjalan (belum termasuk konsolidasi KPC dan Arutmin) yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar US$ 365,4 juta atau Rp 5,7 triliun, melejit 473% dari perolehan laba bersih periode sama tahun lalu US$ 63,7 juta atau Rp 996,7 miliar. Penguatan di sisi bottom line tersebut bersumber dari meroketnya pendapatan perseroan. Berdasarkan pengumuman laporan keuangan konsolidasian, Rabu (2/11) emiten tambang ini meraup pendapatan US$ 1,39 miliar atau Rp 21,8 triliun. Capaian itu naik 109% dari pendapatan kuartal III-2021 sebesar Rp 666,1 miliar.
Presdir PT Bumi Resources Tbk Adika Nuraga Bakrie, dalam surat pernyataan direksi, merinci bahwa pertumbuhan pendapatan perseroan selama sembilan bulan terakhir mayoritas dihasilkan dari peningkatan ekspor batu bara sebesar 120% dari US$ 328 juta menjadi US$ 724,4 juta dan penjualan batu bara dalam negeri yang melonjak 101% menjadi US$ 662 juta dari US$ 329 juta. Pendapatan perseroan pada kuartal III-2022 juga dikontribusikan dari penjualan emas di domestik US$ 7,2 juta, tumbuh 281% dibandingkan penjualan emas pada periode sama tahun lalu sebesar US$ 5,6 juta. Tak kalah dengan kontribusi penjualan batu bara dan emas, pendapatan BUMI di segmen pelanggan yang bertransaksi lebih dari 10% juga memperlihatkan performa yang mengesankan. (Yoga)









