Korporasi
( 1557 )Okupansi Kamar Masih Terjaga, Eastparc Revisi Target Kinerja
Emiten perhotelan PT Eastparc Hotel Tbk merevisi naik target kinerja tahun 2022. Emiten dengan kode saham EAST ini percaya diri mampu mencetak pendapatan Rp 78 miliar-Rp 88 miliar, naik dari target sebelumnya Rp 75 miliar-Rp 85 miliar.
Optimisme itu bercermin pada kinerja perseroan hingga September 2022. Berdasarkan laporan keuangan yang dirilis EAST pada Senin (10/10), Eastparc sudah meraih pendapatan Rp 60,39 miliar pada periode Januari-September 2022. Nilai ini melesat 98,91% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 30,36 miliar.
Wahyudi Eko Sutoro, Direktur Pemasaran Eastparc Hotel bilang, kenaikan kinerja hingga kuartal ketiga tahun ini sejalan dengan rampungnya pembangunan wahana baru.
Alhasil, okupansi kamar EAST terdongkrak dan memicu kenaikan harga. "Okupansi rata-rata mencapai 88,55% sampai September 2022. Ini naik 34,59% secara tahunan," ujar Wahyudi kepada Kontan, Selasa (11/10).
Grup Axiata Kuasai 96% Saham Link
Axiata Group Berhad telah merampungkan penawaran tender wajib alias
mandatory tender offer
atas saham PT Link Net Tbk (LINK).
Penawaran tender ini menyusul rampungnya akuisisi 63,45% saham LINK oleh Axiata Investments (Indonesia) dan PT XL Axiata Tbk (EXCL) dari tangan Grup Lippo dan CVC Capital Partners pada 22 Juni lalu senilai Rp 8,72 triliun.
Usai
tender offer, Axiata Investments kini menguasai 76,42% saham LINK. Ditambah dengan kepemilikan XL Axiata, Grup Axiata kini menguasai 95,64% saham LINK sementara publik mengempit 0,46%.
Garuda Menanti Right Issue dan PMN
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mencatatkan kinerja keuangan positif pada semester I-2022 ini. Berbekal itu pula, Garuda Indonesia optimistis bisa meraih kinerja keuangan maupun operasional solid hingga akhir tahun.
Mengacu laporan keuangan yang dirilis melalui
website. Bursa Efek Indonesia, GIAA membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 3,76 miliar di semester I-2022. Pada semester I-2021, Garuda menderita rugi bersih US$ 898,65 juta.
Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk, Irfan Setiaputra menyebutkan, pencapaian laba bersih dipengaruhi oleh rampungnya proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) melalui putusan homologasi Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat.
Setelah rampungnya proses PKPU, Garuda kini mempercepat berbagai upaya strategis untuk memaksimalkan proses restrukturisasi yang mulai bergulir. Misalnya, implementasi rencana
rights issue
sebagai tindak lanjut persetujuan proposal perdamaian PKPU, serta rencana penambahan struktur permodalan melalui Penyertaan Modal Negara (PMN).
RENCANA UJI COBA TRANSAKSI NIRSENTUH
Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) menargetkan memulai uji coba teknologi sistem transaksi tol non-tunai nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF) pada akhir tahun ini. PT Roatex Indonesia Toll System (PT RITS) yang ditunjuk sebagai pelaksana sistem MLFF siap menginvestasikan dana sebesar Rp4,4 triliun untuk proyek tersebut.
OneMed Incar Dana Ipo Rp 1,25 triliun
PT Jayamas
Medica Industri Tbk (OMED)
atau OneMed
bersiap menggelar penawaran
umum perdana (IPO) sebanyak-banyaknya
4.058.850.000 saham dengan nilai
nominal Rp 25 per saham. Dari
aksi korporasi ini, perusahaan alat
kesehatan tersebut mengincar dana
segar hingga Rp 1,25 triliun.
Dalam prospektus awal
perseroan yang dipublikasi Kamis
(6/10) dijelaskan, jumlah
saham yang ditawarkan setara
15% modal ditempatkan dan
disetor penuh perseroan setelah
penawaran umum perdana saham,
dengan harga penawaran berkisar
Rp 204 hingga Rp 310 per saham.
Dengan demikian, perseroan berpotensi meraih dana IPO Rp 828 miliar hingga Rp 1,25
triliun.
Dana yang diperoleh dari IPO
saham ini setelah dikurangi seluruh
biaya-biaya emisi saham, akan
dialokasikan 72,19% untuk
pengembangan usaha dalam bentuk
belanja modal (capital expenditure)
dan modal kerja (working capital),
lalu 22,87% diberikan kepada perusahaan anak, yaitu PT
Intisumber Hasil Sempurna Global
(IHSG) untuk belanja modal dan
modal kerja, 4,94%
diberikan kepada IHSG dalam
bentuk setoran modal, kemudian IHSG akan memberikan kepada anak usaha PT Inti Medicom
Retailindo (IMR) dalam bentuk
setoran modal untuk belanja modal
dan modal kerja. (Yoga)
DIVIDEN INTERIM BANJIRI BURSA
Kucuran dividen interim dari sejumlah emiten berkantong tebal bakal meramaikan pasar saham menjelang akhir tahun ini. Aksi korporasi itu diyakini bakal menjadi daya tarik bagi investor sekaligus katalis positif terhadap prospek saham emiten di lantai bursa. Pada bulan ini, sedikitnya ada tujuh emiten yang bersiap menebar dividen interim kepada para pemegang sahamnya. Teranyar, dua entitas Grup Astra bakal menempuh aksi serupa. PT Astra International Tbk. (ASII) mengumumkan nilai dividen interim tahun buku 2022 sebesar Rp3,56 triliun atau Rp88 per saham. Total dividen interim itu setara dengan 19,56% dari laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ASII pada semester I/2022 yang mencapai Rp18,17 triliun. Sebesar 50,11% dari dividen interim emiten otomotif itu bakal masuk ke kantong Jardine Cycle & Carriage Limited yang tercatat sebagai pemegang saham pengendali ASII. Dengan porsi saham tersebut, Jardine yang melantai di bursa efek Singapura itu berpotensi mengantongi dividen interim sekitar Rp1,78 triliun. Selain ASII, PT Astra Agro Lestari Tbk. (AALI) bakal membagikan dividen interim tunai sebesar Rp85 per saham atau senilai total Rp163,59 miliar. Dividen itu setara dengan 20,21% dari laba bersih AALI senilai Rp809,31 miliar pada paruh pertama tahun ini.
KEMBANG KEMPIS PAJAK KORPORASI
Penerimaan pajak sedang moncer. Realisasi sepanjang tahun berjalan 2022 yang berakhir Agustus tembus 78% dari target yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 Perubahan. Malah secara historis, capaian tersebut melampaui torehan penerimaan pajak selama prapandemi Covid-19, yang rata-rata di kisaran 50%—60% dari target selama periode Januari—Agustus. Akan tetapi, pemerintah perlu mewaspadai adanya batu ganjalan yang mengadang langkah menuju puncak penerimaan negara, yakni setoran Pajak Penghasilan (PPh) Badan alias pajak korporasi yang melandai belakangan ini. Padahal, setoran korporasi memiliki kontribusi terbesar dalam struktur pajak di Tanah Air, yakni hingga 22%. Tren perlambatan pertumbuhan penerimaan pajak korporasi terjadi tepat saat ekonomi nasional memasuki kuartal III/2022, yang beriringan dengan kenaikan inflasi, baik di dalam maupun luar negeri. Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani, menjelaskan pembengkakan biaya bagi pelaku usaha mendorong adanya kenaikan harga pokok produksi.
Senada, Ketua Bidang Keuangan dan Perbankan Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Mudah Indonesia (Hipmi) Anggawira, menambahkan ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang belum tuntas juga menekan pelaku usaha. Hal itu pula yang kemudian menyebabkan distribusi barang lintas negara terhambat sehingga menambah tekanan pada inflasi. “Ada pengaruh perang, kemudian inflasi, dan daya beli masyarakat,” ujarnya. Secara umum, kalangan pebisnis cukup optimistis pemerintah dapat mencapai target penerimaan pajak yang ditetapkan senilai Rp1.485 triliun dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 98/2022 tentang Perubahan Atas Perpres No. 104/2021 tentang Rincian APBN Tahun Anggaran 2022.
Waskita Karya Jual Saham Tol Semarang-Batang Rp. 3.8 Triliun
PT Waskita Karya b(Persero) tbk (WSKT) melalui anak usahanya, PT Waskita Toll Road (WTR) menjual kepemilikan saham di PT Jasa Marga Semarang-Batang (JSB) kepada King Bless Limited (KBL) senilai Rp 3,8 triliun. JSB merupakan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang mengelola ruas Tol Semarang Batang sepanjang 75 km. Sedangkan KBL adalah anak usaha Road King Infrastructure Ltd, asal Hongkong. Aksi divestasi atau recycling asset ini ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Bersyarat (PPJB) antara WTR dan KBL. Dirut WTR Rudi Purnomo mengatakan. Penandatanganan tersebut merupakan strategi WTR mendukung komitmen penyehatan keuangan Waskita selaku induk usaha. (Yoga)
Efek Suku Bunga Lebih Mini, Obligasi Korporasi Lebih Atraktif
Pasar obligasi dalam negeri goyang diguncang kenaikan tingkat suku bunga acuan, baik yang dilakukan Bank Indonesia (BI) maupun bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed). Tengok saja, yield obligasi negara kembali naik menembus 7,3%. Kemarin, yield obligasi negara acuan tenor 10 tahun berada di level 7,39%, sementara harganya ada di bawah par, tepatnya 93,13%. Sebelum pengumuman kenaikan suku bunga, yield SUN tersebut masih ada di 7,09% dengan harga 95,06% (13/9).Pasar obligasi korporasi juga terpengaruh sentimen kenaikan suku bunga tersebut. Harga obligasi korporasi di pasar sekunder cenderung turun. Kendati begitu, penurunan di obligasi korporasi tidak parah-parah amat.
Laba BTPN Triwulan II-2022 Tumbuh Tipis
Laba bersih PT BTPN Tbk triwulan II-2022 sebesar Rp 1,67 triliun, tumbuh 2 % dibandingkan periode yang sama pada 2021 yang sebesar Rp 1,64 triliun. Penyaluran kredit BTPN triwulan II-2022 tumbuh 10 % secara tahunan menjadi Rp 149,25 triliun. Direktur Utama BTPN Henoch Munandar, Kamis (29/9/), menjelaskan, seiring pemulihan ekonomi, permintaan kredit turut meningkat. (Yoga)









